Masyarakat adat yang sekarang mendiami Kampung Cenayan menyebut dirinya Masyarakat Adat Suku Dayak Koman, yang merupakan salah satu kelompok masyarakat adat yang tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Koman yang hilirnya bermuara di Sungai Sekadau, Kecamatan Nanga Mahap.
Berdasarkan cerita lisan yang masih diyakini oleh mereka di Kampung Cenayan, bahwa mereka berasal dari Tampun Juah yang terletak di hulu sungai Sekayam Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau, dekat perbatasan Indonesia-Sarawak, Malaysia. Proses migrasi mereka dari Tampun Juah karena terjadinya perang antara manusia Dayak Bidayuh dengan roh halus. Perang ini dikenal mereka dengan peristiwa “perang taikâ€, yakni roh halus mengubah makanan manusia menjadi taik (tinja/kotoran manusia). Salah satu kelompok masyarakat Dayak Bidayuh yang terlibat perang tersebut kemudian menyebut dirinya Dayak Koman. Kelompok sub suku ini dulunya masih membaur dengan beberapa sub suku Dayak yang lain di kabupaten Sanggau (Lihat Tesis Hermanto: Non Government Organization, Negara dan Masyarakat Adat, UGM 2008 hal.39).
Ketika pecah perang taik ini kelompok masyarakat yang kemudian menyebut dirinya Dayak Koman tersebut pernah tinggal di Bale’ Angin atau Belangin, yang terletak di pinggir sungai Kapuas sebelah kiri kurang lebih 3 km ke arah hilir dari Ibu Kota Sanggau, tepatnya diseberang Kampung Jeranae dan Kampung Sekuang Kedesaan Lintang Kapuas. Ketika menetap di Bale’ Angin ternyata Orang Dayak Koman masih merasa tidak aman, kemudian mereka pindah lagi milir menelusuri Sungai Kapuas dan bermukim di Labay Laway. Setelah menetap cukup lama di wilayah Labay Laway, ketika pecah perang antara VOC dengan Kerajaan Tayan, maka Orang Koman yang dipimpin Paruci pindah untuk menyelamatkan diri dengan mudik Sungai Kapuas, yang kemudian mudik Sungai Sekadau dan masuk muara Sungai Koman.
Sewaktu Paruci dan rombongannya mudik menyusuri Sungai Koman, dimana muara Sungai Koman masih berbentuk goa, yaitu air sungainya mengalir dari bawah tanah masuk ke Sungai Sekadau. Untuk memperlancar hubungan trasnportasi, oleh Paruci muara Sungai Koman tadi digali/dikeruk sehingga menjadi besar seperti muara sungai pada umumnya. Paruci mudik ke Sungai Koman lalu membangun pedango (pemukiman) pertama di kampung Baa sekarang ini.
Karena untuk mencari tanah yang subur sebagai tempat berladang, Paruci selalu berpindah-pindah membangun pedango. Setiap mendapatkan tanah yang subur sebagai tempat berladang dan bercocok tanam, Paruci tetap membangun pedango sebagai tempat tinggal untuk menjaga ladang dan tanam lainnya. Dengan Pola kehidupan meramu, berladang dan berburu seperti itu mengharuskan Paruci selalu pindah-pindah mencari tempat baru yang masih subur dan banyak potensi sumber daya alamnya.
Setelah beberapa waktu menetap di Kampung Baa (kini sebuah kampung), Paruci pindah dan mudik sungai Koman. Perjalanan menyusuri sungai Koman penuh dengan rintangan di antaranya melewati Riam Belapar , mereka hanya menggunakan suar dari batang tebu bukan dari batang bambu, sehingga setiap menancapkan suarnya selalu patah. Atas saran Bomang Negara, akhirnya mereka mampu melewati Riam Belapar dan membangun tempat baru di Keranji. Setelah beberapa lama di Keranji mereka pindah lagi ke suatu tempat bernama Nanga Mampok, Paruci menanam pohikng (sejenis bambu), kemudian pindah lagi ke Landau Seduyoh dihilir Kampung Cenayan dan pindah lagi ke Muara Sungai Kemiatn, disinilah Paruci kemudian menanam pohon tengkawang di sepanjang sungai Kemiatn.
Keturunan Orang Dayak Koman yang pertama berasal dari Domong Paruci. Selanjutnya Domong Paruci menurunkan anaknya bernama Beringin dan Patah Lingah (tidak mempunyai keturunan). Beringin menurunkan Bungko Aor dan Pano (tidak mempunyai keturunan). Bungko Aor menurunkan Linteh dan Sugeh. Untuk keturunan orang Koman yang menjadi Dayak Koman sekarang ini adalah dari keturunan Sugeh. Keturunan Sugeh adalah Inyan dan Semen. Selanjutnya Inyan menurunkan Ingat dan Pa’i yang mendiami Kampung Piansa sekarang dan Pa’i menurunkan Cayau yang mendiami kampung Cenayan sekarang ini. Semen menurunkan Onok dan Laman tetap tinggal di Kampung Tamang. Laman menurunkan Libon, Namong, Albinus Iboh, Aloh, Amih, Acoi, Noku, Cumi dan Ajim. Mereka merupakan keturunan ke tujuh dari nenek moyang mereka, Paruci. |