Nama kampung atau Dusun Kelayam di Desa Menua Sadap, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, berasal dari kata Kelayang (bahasa Iban) artinya Penyeberangan, Ngelayang yang berarti menyeberang. Dalam perubahan waktu, kata kelayang atau ngelayang berubah sebutannya menjadi Kelayam. Kata Kelayam yang berasal dari kata Kelayang dimana tempat penyeberangan pada sungai yang sering dilewati ketika zaman dulu bagi yang datang dari sebelah barat kampung menuju ke wilayah timur. Wilayah yang dimaksud dengan Kelayang atau Kelayam di zaman dulu adalah wilayah yang dimulai dari muara sungai Kelayang/Kelayam sampai ke hulu/uncaknya. Sungai Kelayang atau Kelayam sendiri adalah anak dari Sungai Embaloh. Sementara Muara Sungai Kelayam bermuara di seberang Kampung Pinjawan.
Dulu kala, pada zaman pengayauan, para pengayau sering melewati jalur Sungai Kayau dan Sungai Kelayang, kedua sungai ini pada awal ceritanya disebut hanya sebatas tempat lewat saja, namun karena para pasukan pengayau seringkali melewati wilayah ini dengan pasukan Kayaunya dan sering juga mereka dikejar-kejar oleh pasukan musuh, sehingga lama-kelamaan nama sungai kayau dan Sungai Kelayang diubah namanya menjadi Sungai Kanyau dan Sungai Kelayam.
Orang yang pertama diberikan kuasa atas wilayah Kelayam adalah seorang bernama Demang dengan gelar Guntur. Iya diberi kuasa oleh semagat (pimpinan suku Dayak Tamambaloh) dari suku Tamambaloh yang ada di Sungai Embaloh untuk menguasai wilayah Kelayam. Permukiman pertama kali yang dIbangun di Kelayam adalah pada Tembawai (tembawang) Dampak Kara yang dIbangun sekitar tahun 1902-1905. Pemukiman ini dIbangun untuk bersifat sementara, sebelum mendirikan rumah panjang yang permanen. Karena Guntur adalah orang yang menjadi salah satunya pemimpin yang dipilih, maka dia langsung diangkat pula menjadi pemimpin masyarakat yang disebut Tuai Rumah (pimpinan rumah dalam bahasa Iban). Sementara sebagai pemimpin kampung, mereka mengangkat Langkop, anak dari Damung Guntur menjadi kepala kampung pertama Kampoeng Kelayam tahun 1903.
Selang beberapa tahun setelah bermukim di Tembawai Dampak Kara, mereka kemudian membangun rumah betang pertama yang memiliki sejarah pertama di Kelayam sebagai rumah betang tugu peringatan atas wilayah yang diserahkan oleh Samagat suku Tamambaloh kepada pemimpin yang berjasa atas kemenangan Pulau Kajang dalam menumpaskan pasukan panembah. Permukiman kedua orang kelayam adalah Tembawai Kenyalang. Pemukiman kedua yang permanen ini adalah sebagai tanda sejarah bagi Kelayam. Di rumah betang inilah pernah di lakukan ritual gawai besar pertama Dayak Iban yang disebut Gawai Kenyalang yang berlangsung selama 7 hari tujuh malam. Gawai kenyalang di rumah panjang Tembawai Kenyalang yang dIbangun sekitar tahun 1905-1912 diadakan diantaranya dalam rangka pengangkatan Guntur sebagai tuai rumah dengan nama gelarnya Guntur Dalam.
Mengingat semakin bertambah ramainya jumlah penduduk, mereka kemudian pindah membuat pemukiman baru di Dampak Nanga Saka yang dIbangun sekitar tahun 1912-1916. Pimpin rumah panjang/tuai rumah pemukiman baru ini masih dibawah kekuasaan Guntur dan Kepala Kampungnya masih Langkop. Namun pada pemukiman baru ini terdapat beberapa rumah panjang. Ada yang dIbangun di bagian hulu dan bagian hilir dari pemukiman sebelumnya. Selang beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1916-1919, mereka kembali membuat pemukiman baru ke tiga di Tembawai Angat dengan Tuai Rumah masih Guntur, walaupun usianya sudah cukup tua tetap dipercayai dan Kepala Kampungnya masih dijabat oleh Langkop. Salah satu peristiwa penting pada pemukiman ketiga ini adalah Idok isteri dari Guntur meninggal karna usia yang cukup tua. Peristiwa lainnya juga, pada tempat ini, terdapat banyak warga yang meninggal dunia, akibatnya sekitar 2 tahun di tempati ini mereka kemudian pindah lagi membuat pemukiman baru di seberang sungai kelayang dimana temawai Angat yang disebut Tembawai Rerak. Mereka menempati pemukiman keempat ini sekitar dari tahun 1919-1923. Pada pemukiman yang tiang kayu bulatnya ditancap terbalik persis pada bilik Tuai Rumah Guntur, beliau meninggal dunia pada usia yang cukup tua, yakni sekitar 100 tahun. Namun kepala kampungnya masih dijabat oleh Langkop, anak dari Guntur.
Setelah dari Tembawai Rerak, mereka kemudian pindah ke Tembawai Sawah yang ditempati sekitar dari tahun 1923-1934. Sementara tuai rumah baru, pasca meninggalnya Guntur adalah Entigu menjadi tuai rumah kedua dan kepala kampungnya masih dijabat oleh Langkop. Kondisi kesehatan warga diawal pada pemukiman Rumah Sawah ini cukup sehat, selang beberapa tahun kemudian terjadi peristiwa sakit-penyakit yang membuat banyak warga yang meninggal dunia. Pada awal mulanya mereka nyaman tinggal di Tembawai Sawah, tiba-tiba saudara Langkop yang berasal dari daerah manggau tinggal di sebelah hilir, sedangkan Langkop berdiam di hulu. Dalam Aturan Suku Iban, terdapat pantangan bahwa tidak boleh kakak beradik berada di hilir dan hulu. Oleh karena itu terjadi beberapa musibah sehingga tembawai menjadi angat.
Dengan kondisi ini, warga memilih keluar dari rumah panjang dan membuat rumah-rumah sementara yang posisinya agak ke hilir. Kondisi ini membuat warga menjadi berkelompok - kelompok sambil menunggu keadaan membaik. Sementara Tuai rumah Entigu pindah ke Ngenalik/Kanyau diikuti oleh beberapa kepala keluarga.Yang lainnya masih bertahan walaupun dalam keadaan kelang kabut.
Setelah hidup di pondok beberapa bulan, akhirnya masyarakat sepakat memilih pemimpin baru dan membangun rumah betang baru di Nanga Saka. Tembawai Nanga Saka yang kedua kalinya dIbangun sekitar tahun 1934 – 1950, dipimpin Tuai rumah ke-3 bernama Belili dengan Kepala Kampung dijabat oleh Langkop. Kemudian permukiman Tembawai Dampak Long DIbangun antara tahun 1950 – 1954 dipimpin Tuai rumah Belili Kepala Kampung Langkop, Patih Entalang, Temenggung Iban masih Bigam asal Kampoeng Kerangan Bunut. Tamanggung Embaloh sudah berganti yaitu Y. Kayan Mantri/assisten Kasso. Ketika Mantri Kasso turun ke kampung-kampung, seperti kampung Luwao/matu dan dampak long saka kelayam, maka mantri Kasso meminta supaya warga yang berada jauh di pedalaman supaya turun agak lebih mendekat, supaya lebih mudah dan lebih dekat dengan sekolah, balai kesehatan dll. Pemimpin masyarakat Kelayam menyambut baik saran dan nasehat mantri tersebut. Pada Dampak Long ini juga, kelayam didatangi oleh beberapa keluarga Iban dari daerah entebuluh hulu mensiau dengan maksud kedatangannya adalah minta daerah untuk pindah ke Kelayam. Atas persetujuan Mantri dan Tamanggung ketika itu, maka sejumlah keluarga dari daerah entebuluh tersebut diterima untuk menetap di Kelayam. Beberapa Kepala Keluarga asal entebuluh tersebut adalah keluarga Budak, keluarga Lembang, keluarga Nuang, keluarga Lilek, keluarga Gai dan keluarga Aboh, total sebanyak 6 KK. Warga Entebuluh tersebut diterima atas arahan dan perkenan dari penguasa Tamanggung B. Rajang (Temenggung tamambalo) dan Mantri L. Kasso. Warga Entebuluh yang baru tiba diwilayah Kelayam akhirnya diberi wilayah baru melewati batas lama, yaitu mulai dari Tinting Madau keluar menuju Pohon Sanggau/Pohon Langaja, Suan, Menyaling dan terus ke Nanga SungaiSseluang kemudian bertemu dengan batas lama, jalan Belaweng terus ke jalan belanda sampai Munggu’ Ban.
Sebagai Bukti Pemberian Wilayah Baru akhirnya banyak kegiatan orang Kelayam melewati batas lama dengan alasan berladang dan berimba sendiri. Nanga seluang/sungai kecil dijadikan sebagai titik patok Batas lisan. Tanah Tamanggung B. Rajang dimuara sungai seluang dihibahkan langsung kepada Pateh Entalang oleh Tamanggung B. Rajang. Pateh Entalang diberi Azimat perang sebagai tanda kehormatan dari seorang Tamanggung Tamambaloh masih disimpan oleh keluarga Pateh Entalang sampai hari ini.
Sebagai langkah masyarakat Kelayam untuk turun dari pemukiman di hulu saka, maka masyarakat dikerahkan untuk membuat pondok sementara(dampak) sebelum membuat rumah yang megah. Rumah Betang yang pertama di bangun di wilayah baru diberi nama Rumah Bekilong. Tembawai Bekilong inilah yang menjadi sejarah dan bukti pelebaran kuasa seorang Pateh dan tuai rumah yang dipercayai dan dihormati pada era tersebut.
Tembawai Bekilong berdiri tahun 1954 – 1962, pada Era inilah dibuat Kesepakatan antara masyarakat Iban Kelayam dengan – masyarakat Embaloh tentang wilayah baru di Kelayam. Hal ini adaterdapat kaitannya dengan penduduk baru warga Entebuluh sebanyak 6 yang pindah ke Kelayam. Masyarakat Embaloh menyambut baik sekali dengan keberadaan orang kelayam yang turun mendekat. Pada saat ini Tuai rumah masyarakat Iban Kelayam adalah Kakek Belili, Kepala Kampungnya adalah Kakek Reman, Patihnya adalah Kakek Entalang. Kemudian mereka berpindah ke Dampak Malai yang dibangun untuk sementara waktu sebelum membuat rumah betang yang lebih bagus dan kuat sekitar tahun 1962. Posisi Dampak Malai berseberangan dengan Tembawai Bekilong dan tidak bersambung satu dengan yang lain. Kemudian Tembawai Landai Berdiri tahun 1962-1975. Betang panjang ini terdiri dari 36 pintu/rumah, masih gaya lama, tiangnya tinggi, tempat lokasi Betang yang ditempati sekarang Rumah Landai ini adalah betang yang kedua setelah ada kesepakatan baru yang disetujui oleh Tokoh-tokoh Semagat. Tuai rumahnya adalah Kakek Belili, Kepala Kampungnya adalah Kakek Surik. Kemudian Tembawai Renjan Berdiri pada tahun 1975-1981, dipimpin Tuai rumah Belili, Kepala Kampung Reman. Rumah renjan tidak lama ditempati karena banyak warga yang meninggal dunia akibat kesalahan atau pantang-larang. Kemudian Tembawai Rumah Isu DIbangun tahun 1981 – 1990 Tuai rumah masih Belili, walaupun dalam usia sudah cukup berumur namun beliau masih diharapkan oleh warga untuk menjadi pemimpin. Beliau meninggal dunia pada tahun 1988, dan untuk mengisi kekosongan jabatan maka tugas diserahkan sementara kepada menantunya Pak Manca sampai dibangungnya betang baru sehingga bisa terpilihnya tuai rumah yang baru. Kemudian Dampak Kelayam Landai DIbangun pada tahun 1990 – 2003 Dampak ini dibuat karena ingin membangun Rumah Betang yang kokoh pada lokasi lama yang sudah sering dipakai untuk lokasi pemukiman. Tuai rumah pada saat ini adalah Jalin anak Ajang atau cucu Guntur.
Setelah Belili meninggal meninggal rumah betang tersebut, tinggal Dampak tinggal sekitar 5 tahun kemudian membangun rumah betang saat ini sampai sekarang. Saat itu tuai rumahnya digantikan oleh Jalin selanjutnya digantikan Novi Irwandi dari tahun 2010 – sekarang.
Pembentukan Desa terjadi pada tahun 1983 pada rumah ini juga, Desa yang dibentuk bernama Desa Toba dan berkedudukan di sadap, Desa Toba diambil dari nama danau Toba, atas prakarsai camat yang berasal dari Sumatera ketika itu. Kepala Desanya yang pertama ialah F.M.Tigang. Kepala Dusun Kelayam yang pertama ialah Umin. Temenggung Menua Sadap ialah F.M.Tigang Pada era ini Bapak F.M.Tigang merangkap jabatan Tamanggung Tamambaloh ialah Pius Onyang, ST. (mulai-1984).
Kepala Dusun kedua adalah Novi Irwandi Lagi atau cicit Guntur. Kepala Desanya F.M.Tigang, kemudian pada periode berikutnya terpilihlah Novi Irwandi Lagi sebagai Kades Desa Gaya Baru, karena waktu itu tidak ada yang menjabat sebagai Kadus, maka ia sendiri langsung mengambil alih merangkap sebagai Kadus Kelayam. Kepala Desa Menua Sadap ialah Novi Irwadi Lagi, sedangkan Temenggung Iban Menua Sadap ialah F.M.Tigang. Kemudian permukiman rumah panjang Dusun Kelayam sekarang ditempati sejak tahun 2003 hingga kini. Masa jabatan Kades Menua Sadap, Novi Irwandi Lagi berakhir sampai tahun 2011. Terpilihnya Kades Baru ialah Husen pada tahun 2012, Kadus Kelayam ialah Bonifasius Bansing yang menjabat sejak tahun 2007 – 2016. Temenggung Menua Sadap F.M.Tigang yang menjabat sejak tahun 1976, meninggal dunia tahun 2014. Ketika Temenggung Tigang meninggal dunia, maka Lawrensius Jantan adalah yang sebelumnya menjadi Patih, menjabat menjadi Temenggung Iban Menua Sadap sementara. Lokasi Betang Kelayam Tembawai Landai ini sudah didiami/ditempati dari tahun 1963 – sekarang.
Agama mayoritas katolik 1939 dibawa oleh misionaris belanda yang bernama Herman. Sedangkan kedatangan Belanda mengajarkan menanam tanaman karet dan bersawah. |