Ada 2(dua) kampung tua yg berumur sekitar 300an th yang lalu, yaitu kampung Ange dan Mentasan. Seorang perempuan yang bernama Oko Bulat yang menceritakan sejarah ini kepada pak Ka'a(narasumber yg sempat tinggal di rumah betang panjang Ange).
Pemimpin rumah betang yang pertama bernama Kombing, lalu digantikan oleh Pak Lasun, setelah itu Buring anak Lasun, lalu Bahat, berikutnya Purang, lalu kemudian Korek. Pada saat kepemimpinan Lasun awal terjadinya peristiwa yang membuat resah penduduk rumah Betang Ange, yaitu banyak orang yang sakit. Padahal pada saat kepemimpinan Purang dan Korek rumah Betang Ange paling ramai penghuninya. Kurang lebih 40 bujang lelaki dan 40 bujang perempuan.
Awal mula peristiwa ini pada saat kepemimpinan Lasun, datang seorang pemuda tidak tau dari mana asalnya, dan tinggal selama beberapa bulan di situ. Lalu pada saat diadakan pesta Nyakai yaitu prosesi adat penyembuhan orang sakit. Pada saat acara adat itu tingkah pemuda pendatang ini sangat tidak bagus terhadap para anak gadis di Betang Ange ini. Karena perilakunya yang tidak sopan, sebagian besar pemuda di Betang tidak senang. Lalu mereka meminta ijin kepada Pak Lasun untuk membunuh orang tersebut. Namun pak Lasun melarang mereka, cukup diberi pelajaran saja. Lalu dikeroyoklah orng tersebut oleh pemuda-pemuda Betang Ange. Sehingga hari berikutnya orang tersebut pergi dari kampung itu dan berpesan, "Terakhirlah saya tinggalkan kampung ini berjaya". Lalu dibuatnya lah jin yang dimasukkannya ke dalam patung dan ditanam di bawah rumah betang itu. Mulai saat itulah satu persatu penduduk rumah betang tiba-tiba sakit lalu meninggal secara beruntun. Dalam satu hari bisa 2 orang sekaligus. Yg pertama meninggal masih dipakaikan peti, selanjutnya hanya memakai kulit kayu dan karena terlalu sering dan banyak yang meninggal para orang tua yang masih selamat segera lari dari kampung itu membawa serta anak-anak mereka.
Ada 25 KK yang lari dari kampung Ange (termasuk narasumber yg waktu itu masih kanak-kanak). Awalnya ada 50 an KK, setelah itu berkurang jadi 30 KK hingga akhirnya hanya 25 KK yang berhasil menyelamatkan diri. Beberapa orang dari mereka yaitu Pak Korek, Pak Purang, Pak Kahau, Pak Seleman, Pak Mehkong. Mereka lari kehilir sungai dan membuat beberapa perdukuhan.
Dan di hilir sungai sudah ada Pak Kebat yang berasal dari kampung Mentasan yang lebih dulu membuat dukuh di situ. Setelah itu bergabunglah mereka yang dari kampung Ange tadi dan membuat sebuah kampung. Lalu berdatangan juga lah penduduk yang berasal dari kampung Mentasan, Mering dan Pahangan bergabung di kampung ini. |