Masa kejayaan Rumah Betang Kayu Bayatn dibawah kepemimpinan Temenggung Dom rupanya tidak berlangsung lama. Masa ini berakhir ketika terjadi suatu petaka besar yang menimpa rumah betang kayu bayatn yang dikenal dengan petaka Batu Lebur. Ini bermula pada musim kemarau yang panjang. Di mana, pada musim kemarau, biasanya para perempuan Sekujam baik tua maupun muda mencari ikan atau udang di sungai-sungai. Musim inipun tidak disia-siakan oleh dua orang gadis bernama Dawo dan Kumang yang merupakan petunggal (kakak beradik sepupu).
Pada suatu hari, kedua gadis yang sudah mempunyai tunangan ini berangkat menaggok (menangkap ikan mengunakan sejenis keranjang yang dibuat dari anyaman rotan) ikan di Sungai Segarik. Hasil tangkapan merekapun cukup banyak.
Keranjang untuk membawa hasil tangkapan pun dipenuhi oleh udang, ikan dan kepiting. Ketika hari sudah semakin sore, Kumang mendapatkan banyak udang di tanggoknya. Udang yang ada ditanggok Kumang pun melompat-lompat hendak melepaskan diri. Dengan sabar Kumang memungut satu- persatu udang yang ada ditanggoknya. Tapi, ada satu udang yang melompat agak tinggi dan menjepit payudara Kumang. Sehingga Kumang terkejut dibuatnya. Sebelum melepaskannya, Kumang memberitahukan kepada Dawo. Dawo yang melihat udang tersebut menjepit payudara kumang, menjadi tertawa terbahak-bahak. Dalam perjalanan pulan, Kumang dan Dawo terus-menerus tertawa mengingat kejadian di sungai tadi.
Sesampainya di rumah, Dawo dan Kumang menceritakan kembali kejadian itu kepada semua penduduk di rumah betang. Seisi rumah betangpun tertawa mendengarkan cerita mereka berdua. Menjelang malam, ketika orang-orang masih mentertawakan kejadian yang dialami oleh kumang, tampa disadari, langitpun mulai mendung disertai petir yang menyamar-nyamar menimbulkan suara guntur yang mengelegar memekakkan telinga. Tak lama berselang, datanglah hujan aneh dari bawah lantai rumah betang dan secara tiba-tiba membuat seluruh Rumah betang beserta isinya menjadi batu. Hanya orang yang tidur di Langkau (pondok ladang) sajalah yang selamat dari malapetaka yang dikenal dengan Batu Lebur tersebut.
Berselang enam hari setelah kejadian yang membuat seluruh rumah betang Kayu Bayatn dan penghuninya berubah menjadi batu datanglah dua orang pemuda yang bernama Berabai dan Mio kerumah betang untuk melihat tunangan mereka Kumang dan Dawo. Karena takut untuk mendekat, Berabai dan Mio menuju pohon Langsat yang berada tidak jauh dari rumah betang tersebut. Untuk melihat dari tempat yang lebih tinggi, berabai kemudian memanjat pohon langsat tersebut. Sedangkan Mio menunggu dibawah. Namun, sesampainya dipuncak pohon, secara tiba-tiba Berabai yang berada di atasnya menjadi batu. Mio yang walaupun berada dibawah turut pula menjadi batu. Hingga kini, pohon langsat yang dinaiki oleh berabai itu, disebut Pohon Langsat Berabai.
Adalah Kacung beserta anak dan istrinya yang selamat dari kejadian itu karena sedang berada di ladang, segera mengumpulkan orang-orang sekujam yang juga selamat untuk mengungsi dari tempat tersebut. Mereka mengilir sungai kapuas hingga kemuaranya dan menetap di Daerah yang bernama Pinang Kayu. Namun orang yang berkuasa di Daerah tersebut, tidak mau daerahnya ditempati oleh orang lain dan mengusir rombongan orang sekujam yang dipimpin oleh Kacung untuk pindah ke hulu Sekadau. Akhirnya, Kacung beserta rombongannya kembali mudik kapuas. Walaupun sudah bertahun-tahun dan singgah dimana-mana, tetap saja rombongan ini kembali tidak jauh dari daerah batu lebur yakni Tapang Gendang.
Di Tapang Gendang orang-orang sekujam kembali membuat perkampunagan untuk memulai kehidupan yang baru. Mereka mencari tempat berladang, berburu, menagkap ikan, dan lain-lain ditempat yang baru tersebut. Ada sebagian orang sekujam yang membuat ladang ditempat yang jauh. Sehingga, mereka sering bemalam dan bahkan sampai memutuskan untuk tinggal dan membuat perkampungan baru ditempat tersebut. Ini menyebabkan perkampungan-perkampungan orang Sekujam Kayu Bayatn mulai menyebar diberbagai tempat. Perkampungan orang sekujam tidak pernah jauh dari lokasi batu lebur. Bekas lokasi batu lebur tersebut dinamakan Tembawang Engkersik. Dan nama Tembawang Engkersik tersebut dijadikan nama Desa Engkersik sampai sekarang.
|