Desa Ulak pauk terletek dipinggiran sungai tamambaloh penduduk aslinya adalah suku dayak Tamambaloh yang merupakan salah satu dari sub etnis dayak di kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat yang telah tinggal menetap dipesisir sungai tamambaloh,hidup dari generasi kegenerasi.Adapun desa ulak pauk awalnya diberi nama banua lagan.dalam bahasa asli orang Tamambaloh banua lagan ini diberi nama atau timang sebagai berikut : Dipanimpan bolong ,diparapat ilautang,sao tutukan bide,tutukan tali lansang,kaitan tali bide tutukana dilaut.Manaul uwe tali tutukanan dilaut panyao baranina ipolimin dai batawi uwatan kapal asap. Dipanimpan Bolong diparapat ilautang kaungan manirona iNandung Katian sao siring andunge,isiring andunge sawang. Dipanimpan bolong ,iNandung Katian diparapat ilautang.Yang artinya secara garis besar adalah perkampungan suku dayak tamambaloh yang ada dipinggiran sungai tamambaloh yang paling hilir ( penghabisan suku tamambaloh)adalah kampong ulak pao’. Dulu kampong ulak pao’ adalah persinggahan perahu-perahu dagang. Para pendatang yang datang dari daerah lain pasti singah di banua ulak pao.Dan yang masuk untuk berdagang jaman itu adalah orang-orang cina(tiongkok). Adapun banua lagan/ulak pao saat itu saat itu masih tinggal di sao langke/ rumah betang pertama dipimpin oleh baki Jarob/baki Nandung . Lalu tidak tau persisnya banua lagan pindah lagi kedaerah karato yang sekarang ini disebut belean sao’ dan membangun rumah betang kedua. Belean sao tersebut sekarang di kenal dengan kampung bua( kebun buah). Seki tahun 30an tidak ada yang tau persis penyebabnya, sao langke kedua pindah lagi kedaerah yang disebut ulak baringin dan tatang ae’ didaerah ini dibangun kembali rumah betang/sao’ langke ketiga .Sao langke ini dipimpin oleh baki Fidelis Reang anak dari baki Jarob. Saat itu rumah betang terbagi dua rumah betang bagian hilir di ketuai oleh Baki F.Reang dan bagian hulu satu rumah betang lagi yang dihuni oleh beberapa keluarga pemimpin rumah betang ini dibagi 3 pintu bagian hulu dipimpin oleh baki Tajak,bagian tengah dipimpin oleh baki Maring dan bagian hilir dipimpin oleh baki Bangau. Namun walaupun rumah betang itu terbagi yang menjadi dua ,tapi kepala kampung saat itu hanya satu yaitu Baki F.Reang dan dibantu oleh mentrinya yaitu baki Sintan. Dikampung Ulak Pao’ jaman itu walaupun sudah ada rumah betang,namun penduduk jarang sekali mendiaminya,masyarakat banyak yang tinggal dipondok ladang (mambut) .Sao langke yang telah dibangun tidak pernah didiami akhirnya rumah betang ketiga dikampung ulak pauk banyak yang rusak,bocor. Saat itu rumah betang tersebut tidak layak untuk dihuni lagi.Akhirnya waktu penduduk kembali keperkampungan mereka membuat rumah sementara yang disebut sao ilas (rumah sementara) ini sekitar tahun 1946. Dan sekitar tahun 1950 an masyarakat kembali sepakat untuk membuat rumah betang yang baru pembuatan rumah betang yang baru itupun diprakarsai oleh Baki Laurensius Jaring dan kawan-kawan.Akhirnya masyarakat kembali menbangun sao’ langke yang keempat yang panjangnya 46 pintu dan sao langke ini diberi nama sao langke Ulak pao. Sao langke ini masih dibawah pimpinan Baki F.Reang dan mentrinya telah diganti dengan baki Sa’ang.
Pada tahun 1962 rumah betang/sao langke ulak pao’mengalami musibah kebakaran, sao langke serta harta benda penduduk ludes terbakar hanya sebagian kecil saja dari harta penduduk yang dapat diselamatkan.Karena saat kebakaran terjadi banyak penduduk yang pergi keladang sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan harta benda yang ada di rumah mereka. Sejak kebakaran tersebut masyarakat menjadi trauma untuk membuat rumah betang/sao langke.Masyarakat mulai membangun rumah sendiri-sendiri di bekas lokasi rumah betang yang telah terbakar. Sampai sekarang kampong ulak pao’ tidak memiliki rumah betang /sao langke lagi.Sekitar tahun 1930 an Pemerintahan mulai masuk kekampung ulak Pao namun saat itu masih pemerintahan belanda dan pimpinan nya mulai disebut dengan kepala kampong komplek maksudnya kepala kepala kampung komplek ini adalah orang yang menjabat sebagai kepala adat dan juga sekaligus menjadi kepala kampung . Adapun yang menjabat sebagai kepala kampung komplek pertama dikampung Ulak Pao’ yaitu Baki Fidelis Reang Samagat Tutu sekitar Tahun 1930 – 1964. Setelah itu kepala kampung komplek diganti oleh bapak Yohanes Upak ( 1965 - 1967 ). Pemerintahan Indonesia mulai masuk sekitar tahun 1948.
Setelah itu kepala kampong komplek diganti dengan kepala kampong adapun yang menjadi kepala kampong adalah:
1. Pius Rantap 1968 - 1972
2. F.D.Saba 1973- 1974
3. Yoskokoan Apat 1974 -1977
4. Laurensius Jaring 1978 -1983
Dan sekitar tahun1983 pimpinan desa digantikan namanya dengan kepala desa.Kepala desa pertama adalah:
1. Pius Rantap 1990-1999
2. Martoyo 1999 - 2002
3. Marselus Nambong 2002 - 2006
4. Nikodemus 2006 - 2012
5. Agustinus 2012 -sampai sekarang)
Pembangunan pemerintah mulai masuk kedesa ulak pao’ sekitar tahun 1973 dengan didirikannya sekolah Dasar pertama (SD Negeri No.I Ulak Pauk) yang diprakarsai oleh Bapak A.G.Syalang saat itu menjadi ketua POM(Persatuan orang tua murid). Tahun 80an pemerintah mulai membangun balai desa dan kantor desa serta puskesmas pembantu yang ditugaskan adalah seorang mantri.Untuk infrastuktur transportasi pada tahun 60 - 90 an hanya ada akses jalan tembok menuju kekecamatan dan belum ada kendaraan selain perahu/speed dan berjalan kaki.Demikian juga untuk tranportasi kekabupaten belum ada jalan darat,satu-satunya akses jalan menggunakan sungai dan harus naik perahu/speed dan motor klotok yang lama perjalananya sekitar 28 jam. Sekitar tahun 1998 baru ada jalan darat kekabupaten.
Tahun 1999 di kampong ulak Pao’ baru memperoleh pasokan listrik (PLN) yang pusat PLN tersebut lansung di desa Ulak Pao’.
|