Masyarakat Hukum Adat Dayak Tamambaloh Banua Paat-Banua Nanga Sunge Ketemenggungan Tamambaloh adalah salah satu komunitas adat Dayak Tamambaloh yang berdiam di Aliran sungai Tamambaloh. Banua Saujung Giling Manik merupakan salah satu komunitas adat yang masih menerapkan hukum adat dan sistem pengelolaan sumber daya alam (hutan) berdasarkan sistem kearifan lokal secara turun temurun. Komunitas Masyarakat adat ini bermukim di Dusun Paat dan Dusun Nanga Sunge Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat. Etnis dominan di komunitas adat ini adalah Dayak Tamambaloh, bahasa yang digunakan di komunitas ini adalah bahasa Dayak Tamambaloh (Jarum Banuaka).
Saujung Giling Manik memiliki arti yaitu Saujung yang arttinya tanah ujung atau tanah yang subur, Giling yang berati bergeser atau pindah (perpindahan ketempat baru) dan Manik yang berarti kata kiasan dari buah padi yang berisi tidak ada hampanya, ibarat seperti manik-manik yang di anyam menjadi suatu perhiasan. Saujung Giling Manik yang berarti Perpindahan Ke tanah yang Subur yang hasil pertanianya berlimpah.
Banua saujung Giling Manik Terdiri dari dua Dusun yaitu:
1.Dusun Paat
2.Dusun Nanga Sunge
Arti Paat adalah Empat yang dulunya menurut sejarah nenek moyang terdapat Empat buah rumah betang. Urutan Rumah betang atau nama Betang tersebut adala Batang tumbung matela, Sungkalangan, Saok dan Baki Nandung. Arti Nanga adalah Muara yang berarti Muara Sunge, nenek moyang terdahulu selalu bermukim di pesisir sunge yang selalu mengikuti sunge. Pada Jaman dahulu masyarakat selalu berpindah-pindah sesuai dengan peradapan masyarakat pada masa itu tetapi tidak jauh dari sekitar sungai. Alasan Perpindahan karena rumah roboh/hancur, penyakit, kebakaran dan juga karena aberasi sungai.
Sejarah Masyarakat Banua Paat
Di Sao simbolongen ini sangat banyak penduduk atau masyarakat Bungka Laki dari Ulu banua sampai Ingko Banuaen. Di ibaratkan sumpitan di sandarkan ke pohon inyak yang baru mandung tumbang atau raba karena banyaknya orang pungka laki. Buah inyak di sumpit oleh pungka laki dari ulu banua ingko, banua di hanyutkan di air yang datang di ingko banua, terus tenggelam. Di sinilah orang tamambaloh membuat rumah panjang dan persatuan yang kuat dan juga mempunyai tua banua. Tua Banua orang tamambaloh saat itu adalah Bua Inyak Bapampang dua atau bercabang dua. Karena orang tamambaloh di pengaruhi oleh Panambah , yang berasal dari nanga bunut berpesan bahwa pohon kelapa atau akar inyak yang kembar itu, harus dimusnahkan, di gali dan harus di tebang, terus orang tamambaloh tidak percaya diri dan di pengaruhi oleh tahayul , maka pohon kelapa itu dimusnahkan. Padahal pokok kelapa itu adalah Tua Banua. Orang Tamambaloh yang tidak boleh di musnahkan.
Setelah kejadian tersebut sudah dilakukan oleh seisi rumah Panjang, tidak lama kemudian timbul bencana-bencana serta penyakit kolera atau Sampar (Diare) yang melanda Sao Simbolongen. Tiap hari ada orang meninggal hamper manusia habis meninggal. Ibarat kata saat sedang menguburkan yang lain, di rumah ada yang meninggal lagi , dan seterusnya setiap hari. Karena saat itu orang Tamambaloh belum ada mengenal ada pengobatan secara medis. Mengingat dan menyadari bahwa kejadian yang luar biasa mengerikan , maka orang-orang yang masih hidup dan sehat melarikan diri dan pindah lagi ke Tatangae’en.
Menurut cerita lama orang Tamambaloh Bala Lagdan, Baki Balang Bau dan Jaring mereka ini adalah baki-baki yang agak nakal yang meniru kegiatan bapak mereka mananung hati babi, sebelum berangkat perang atau mangayo, supaya berhasil dalam mangayo memenggal kepala musuh untuk di bawa pulang.
Datang kepada keturunan baki-baki (orang tua pemimpin dimasa itu) ini mereka meniru kegiatan Bapaknya dengan mananung hati tikus, bukan hati babi. Baki-baki ini menangkap tikus di dalam lumbung padi sewaktu ibu bainang mereka Manyauk Ase atau mengambil padi di Tarinoan (lumbung padi). Sesudah hati tikus di tanung, baki-baki menertawakan kegiatan tersebut. Sehingga pada sore hari timbul mendung, di sertai angin besar dan halilintar dan sangat mengerikan. Tanpa disadari oleh penduduk pada waktu itu. Dalam waktu yang singkat tempat tinggal mereka hancur dan terbang beserta baki-baki yang nakal.Rumah panjang serta tiang-tiang tebelian dengan ukuran besar patah dan talayang (terbang) loa’ karo bagian ulu Roasen. Setelah mereka sadar dan bangun posisi mereka sudah berada di bawah pohon dan semak belukar. Baru mereka sadar bahwa mereka sudah arabor atau Kudi. Menurut baki-baki tadi yang masih hidup, mereka pulang kerumah tempat tinggal meraka yang sudah terjadi bencana, tetapi rumah mereka sudah tidak ada lagi, tiang-tiang patah rata dengan tanah dan ibu mereka Bainang meninggal tertimpa oleh bahan rumah yang hancur akibat perbuatan anak-anaknya yang nakal tersebut. Maka dari kejadian tersebut, Banua ini di sebut Sao’ Papa-an atau Raboren.
Penduduk tatangaeen adalah pindahan dari penduduk Sao simbolongen, Penduduk tatangae’en adalah pidahan dari penduduk sawo simbolongen, disini baki – baki masih mendirikan 4buah rumah panjang yaitu :
Ira’angen Baki Rintik dan Baki Songkalang
ï‚§Ilautangen Baki Tela dan Baki Nandung
Jadi orang tamambaloh mendirikan lagi rumah panjang, di sini orang tamambaloh menetap karena bersamaan adanya jalan jaman Belanda adan juga mengenal adanya pemerintah. Orang tamambaloh atau Baki Kaâ€Jolo disinilah mereka menghimpun masyarakat baru, atas mengenalnya pemerintah Belanda. Ini sebelum Indonesia merdeka, atas dasar perubahan peraturan pemerintah rumah panjang di tiadakan, karena menurut pemerintah rumah panjang kurang adanya penjagaan dari segi kebersihan dan terancamnya bencana kebakaran. Dari segi itulah pemerintah menganjurkan kepada orang Tamambaloh membuat rumah sendiri-sendiri atau pemukiman. Sampai dengan sekarang. Saat ini orang tamambaloh mempunyai pemukiman sendiri. Karena dengan bermukim di rumah panjang, akan rawan terjadi kebakaran.
Sejarah Masyarakat Banua Nanga Sunge
Pada jaman dulu masih terjadi perperangan sehinga masyarakat berpindah terus untuk mencari lokasi yang diangap masyarakat aman. Asal masyarakat nanga sungai juga berasal dari paat, masyarakat nanga sungai berpecah ini di karena kan terkena wabah penyakit. Pertama pemukiman naga sungai di pamulinganen kurianyam. Rumah panjang kurianyam di bangun di tengah danau pada waktu itu orang masih saling bermusuhan dan saling menyerang di perkirakan pada abad ke 17. Rumah panjang ini di dirikan di tengah sebuah danau dan di pagar dengan kayu bulat yang di runcing ujung nya dan sampai sekarang tiang-tiang nya masih ada dan setelah ke adaan mulai aman dari peperangan lalu muncul wabah penyakit kolera dan tidak ada obat sehingga banyak yang meninggal, sehingga banyak mayat yang tidak dapat di urus dan di tinggal kan begitu saja. Orang banyak yang mengunsi tidak tau arah, sehingga rumah bocor dan rusak orang tidak mau lagi tinggal di kurianyam.setelah bertahun- tahun mengunsi, orang yang selamt dari wabah penyakit membuat pemukiman baru itu di tandung banua sekitar abad 18 yang terdiri dari 4 buah rumah panjang yang masing-masing di ketuai 4 orang
1.Rumah panjang baki langgi
2.Rumah panjang baki baran
3.Rumah panjang baki untoang
4.Rumah panjang baki bayung
Setelah lama bermukim di tandung banua dan kampung pun aman , lalu ada ancaman erosi, tandung banua pautus, menjadi danau, yang sekarang di kenal sebagai danau /kokoan panjalanan. Sekitar awal abad ke 19 orang nanga sungai pindah pemukiman lagi yaitu di ujung lunsa ilautang yang terdiri dari 2 rumah panjang yaitu Rumah panjang baki pusung dan rumah panjang baki sungkalang. Pada waktu itu ke dua orang ini menjadi pemimpin kampung (1900-1937) kemudian 2 buah rumah ini di jadikan satu buah rumah panjang yang menjadi penyambung. |