Masyarakat Dayak Iban Menua Apan adalah salah satu komunitas dayak Iban yang berdiam di kecamatan Embaloh Hulu. Pada awalnya mereka berasal dari kelompok yang kabur dari Batang Aek, Serawak pada saat pemerintahan Raja Inggris James Brooke. Kelompok 1 dipimpin oleh Runggai sebagai Tuai Rumah, berpindah ke Lebuyan di Lanjak, kemudian berpindah ke Batang Kanyau menuju Ulak Pauk mudik Sungai Langan dan menetap di Tembawai Karet pada tahun 1918. Kelompok 2 dipimpin oleh Nyandang sebagai Tuai Rumah, dari Batang Aek pindah ke Engkaras di Serawak. Kemudian mereka berpindah menuju Lebuyan (Sungai Menari) yang sekarang berlokasi di Kanyau. Mereka berpindah di Lubuk Naga' dan kemudian menuju Paat di Danau Tanjung Saran. Di Paat, Kelompok 2 dengan perwakilan Nyandang, Induk, Ugi (seorang perempuan), Gadang, Ripai, Ukap, Anca, dan Ganja, meminta meminta izin tanah ke orang yang berkuasa pada saat itu yaitu Usung, Nandung, dan Jelayam yang merupakan seorang golongan Samagat (Bangsawan) Dayak Tamambaloh. Sebagai ganti permohonan tanah, pihak Dayak Tamambaloh minta dibuatkan perahu 9 depak (panjang sekitar 1 meter lebih) dari kayu penyau. Kelompok ini kemudian berpindah menuju Sungai Langan, menuju Kapar Kadeng, dan akhirnya bergabung dengan Kelompok 1 di Tembawai Karet, dengan Runggai sebagai Tuai Rumah. Kemudian mereka berpindah ke Tembawai Kenyalang dengan Runggai kembali menjadi Tuai Rumah.
Di Tembawai Kenyalang kedua kelompok kembali terpecah akibat suatu konflik. kelompok Rungai pindah ke Tembawai Baya, sedangkan kelompok Nyandang pindah ke Nanga Sungai Rembai, Tembawai Sungai Rembai. Kelompok Nyandang pindah ke Dampa Lalang Tembawai Tingting (Simpang batang), sedangkan kelompok Rungai menetap dahulu. Kelompok Nyandang berpindah ke Tembawai Dampa Meripir di Nanga Apan pada tahun 1953, kemudian mereka berpindah ke Sungai Rian. Di Sungai Rian atau Larung Indo, rumah panjang Kelompok Nyandang terkena wabah/sampang, yang membuat mereka harus berpindah ke Kapar Pantak. Rumah panjang yg ditinggal di Sungai Rian dikenal dgn Tembawai Angat. Sebelumnya, Kelompok Runggai Pindah dari Ulu ke Sebangki dan bertemu kelompok Nyandang di Kapar Pantang dan bergabung di Tembawai Pantak dipimpin oleh Nyandang sebagai Kepala Kampung dan Ilok sebagai Tuai Rumah. Di Tembawai Pantak, semua bawaan tradisi ngayau dikubur (berupa tengkorak dan tempayan) yang sudah tidak dilakukan sejak kepergiannya dari Sarawak.
Bersama, mereka berpindah demi mengikuti jalan poros ke Tembawai Tucuk dengan Tuai Rumah A Ucing. Pada tahun 1997, dipimpin oleh Tuai Rumah Bangkong, kelompok ini berpindah ke Rumah Panjae Mitou, Jalan Lintas Utara. Saat ini Rumah Panjae Mitou dipimpin oleh H. Kanna sebagai Tuai Rumah. Selain Tembawai Tucuk.
Alasan terjadinya perpindahan antara lain, mencari tempat yang mudah untuk membuka ladang, kerusakan rumah panjang, terserang wabah penyakit yang mengakibatkan kematian, dan lain lain.
Urutan kepala desa setelah diresmikannya desa Langan Baru pada tahun 1980 adalah Umping, F. Dabong, A. Nyulang, dan M. Ukap. Setelah terbentuknya desa, wilayah ketemanggungan Jalai Lintang terbagi dalam 3 desa. Wilayah Ketemanggungan yang termasuk di desa Langan Baru adalah, Menua Ungak, Menua Kulan, Menua Apan, dan Menua Sungai Tebelian.
Agama Katolik masuk dalam kelompok pada tahun 1970an dan Jalan poros negara dibangun pada tahun 1991. Dalam bidang pendidikan, SD pertama masuk pada tahun 1978 dan SMP pertama masuk tahun 2008. Penamaan subsuku apan Apan berasal dari lokasi di dalam rimba untuk tempat mandi hewan-hewan salah satunya "Sepan (rusa)â€.
|