Kampung Tangkit secara administrasi terletak di Dusun Tangkit, Desa Desa Nanga Pari Kacamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Berada pada daerah aliran sungai Tangkit anak dari sungai Silit yang bermuara ke Sungai Sepauk. Jarak dari ibu kota kecamatan 102 KM, dari ibu kota Kabupaten Sintang 152 KM. Kampung Tangkit termasuk dalam wilayah Ketemenggungan X Sepauk yang dipimpin oleh Temenggung Idin.
Masyarakat Tangkit telah menempati kampung Tangkit secara turun temurun, tercatat sampai pada tahun 2020, setidaknya telah 13 generasi sejak perpindahan pertama kali dari sungai Seberuang di Kapuas Hulu. Tidak ada referensi tertulis yang menunjukkan dan mencatat secara persis kapan proses migrasi pertama kali terjadi di Tangkit, namunpun demikian masih terdapat sumber atau tetua adat yang masih dapat digali informasinya yaitu Bapak Paulus Inka (Ketua Adat Tangkit).
Nenek moyang masyarakat Tangkit berasal dari sub suku Dayak Seberuang (Rumpun Dayak Iban) yang datang dari daerah sungai Seberuang, kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Konon Dayak Seberuang berasal dari tanah semula jadi Tampun Juah (Segumon, Sekayam Hulu) di hulu sungai Sekayam, kabupaten Sanggau berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Dari Tampun Juah terjadi migrasi salah satunya ke Batang Sungai Seberuang di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dari Kapuas Hulu, terjadi perpindahan ke daerah Sintang salah satunya ke daerah aliran sungai Sepauk.
Nama Tangkit diambil dari nama sebuah sungai yaitu sungai Tangkit yang mengalir melintas sepanjung kampung Tangkit yang sekarang. Sebelum menetap di daerah pemukiman yang sekarang (kampung Tangkit) terjadi beberapa perpindahan sabagai berikut :
1. Daerah Sungai Seberuang, Kecamatan Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
2. Kampung Belimbing, daerah Bernayau, Kecamatan Sepauk, Kabapaten Sintang merupakan daerah atau kampung pertama Beliang (orang pertama pindah dari Seberuang ke Sepauk bersama rombongannya). Dari Kampung Belimbing ada tiga orang / keturuan yang membentuk kampung tangkit dan sekitarnya yaitu :
a. Emping Tindik (pembentuk kampung Silit)
b. Demang Pilang (pembentuk kampung Silit bersama Emping Tindik)
c. Entukar (memperanakkan Tuyat, kemudian bermukim didaerah Sungai Segak atau Juau)
3. Tembawang Gagak, daerah Tangkit dan Sungai Segak. Tidak diketahui berapa lama kehidupan di Tembawang Gagak, namun ketika di Tembawang Gagak, terjadi penyerangan musuh dari Sekadau (Pada Zaman Ngayau), sehingga orang orang di Tembawang Gagak pindah.
4. Tembawang Tembak, Tembak adalah tempat berpindah dari Tembawang Gagak, Tembawang Tembak memiliki makna membuka tempat pemukiman yang baru.
5. Tembawang Apit, setelah di Tembawang Tembak, kehidupan selanjutnya adalah di Tembawang Apit. Terdapat peristiwa penting yang terjadi yang sampai sekarang diceritakan di Tembawang Apit, yaitu Singa Ruanda (generasi ke 3 dari Beliang) membunuh Ibunya dengan cara di apit dengan pintu, karena ibunya mengalami gangguan jiwa (setelah bertemu dan dirasuki oleh roh jahat).
Kehidupan dari kampung Belimbing sampai ke Tembawang Apit setidaknya terjadi sampai pada generasi ke 4 dari Beliang.
6. Kampung Tangkit. Kehidupan di Kampung Tangkit setidaknya tersebar di tiga tempat, yaitu Tangkit Pelaik, Tangkit Kiarak, dan Limbang. Terjadi perpindahan dari Tembawang Apit ke Kampung Tangkit diperkira terjadi dibawah tahun 1850.
Dari Kampung Belimbing sampai pada Tangkit yang sekarang dapat diurutkan generasi sebagai berikut :
Peristiwa Penting
Sistem kepercayaan asli masyarakat Tangkit adalah kepercayaan lokal. Mereka menamakan dengan istilah Ngina Burung Biu tanda yang alam berikan. Mereka meyakini adanya suatu kekuatan yang mengatur kehidupan di luar batas kendali manusia, masing masing alam ada yang menguasai. Kekuatan itu terdapat pada benda (tanah, angin, hutan, air, kayu, binatang, dll) dan meraka percaya sang pencipta yang disebut Petara.
Pada tahun 1980 -1900 an masuk ajaran agama Katolik yang kemudian menjadi kepercayaan atau agama bagi masyarakat kampung Tangkit (100 % beragama Katolik). Kegiatan keagamaan khususnya bila ibadah masyarakat Tangkit pergi ke Nanga Pari yang terdapat gereja. Tahun 2006 Gereja Bunda Maria Dilourdes stasi Tangkit berdiri. Masuknya pengaruh agama mengakibatkan terjadi beberapa perubahan dalam kehidupan. Namun pun demikian adat kepercayaan lokal yang bersifat prinsip masih tetap dipertahankan dan dipegang teguh. Adat istiadat dan hukum adat termasuk macam macam kearifan lokal dan pengelolaan sumber daya alam adat dalam mengusir wabah penyakit, dll.
Tahun 1982 PT. Barito masuk ke daerah Sepauk Hulu yang merambah hutan diperhuluan hutan Tangkit, mengakibatkan sungai Tangkit tidak bisa lagi dijadikan sebagai jalur transportasi air karena pendangkalan aliran sungai (khususnya transportasi untuk mengangkut barang dalam jumlah besar). Tahun 2007 akses transportasi darat dibuka ke Tangkit dari pusat desa Nanga Pari, dengan demikian yang semula hanya menggunakan jalan setapak masyarakat semakin lancar dengan bisa digunakan untuk jalur transportasi motor dan Mobil.
Untuk kebutuhan energy listrik (penerangan, dll) masyarakat kampung Tangkit menggunakan pelita minyak, mesin diesel mapun genset, namun pada tahun 2013 dengan memanfaatkan potensi air sungai Tangkit dibangunlah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang cukup untuk memenuhi kebutuhan penerangan, dan peralatan elektronik lainnya (TV, Kulkas, Mesin Cuci, dll). PTMH sangat membantu kebutuhan masyarakat, selain itu sebagai bentuk proteksi kawasan hutan di perhuluan sungai. Hingga kini PLTMH yang telah berusia 7 tahun masih berfungsi dengan baik, sebab hanya dioperasikan hanya 12 jam / hari.
|