Nama Komunitas Pilah Seludan ini diambil dari nama Gupung/Temawai Durian yang ada dibukit Kuari (daerah Lubuk Buyu sekarang). Tembawai adala sauatu kawasan yang dahulunya adalah tempat mendirikan pondok (dihuni 5-6 tahun) ketika berladang dan ditanami berbagai macam tanaman-tanaman buah buahan. Kampung Lubuk Buyu itu sendiri diambil dari Lubuk (bagian terdalam dari sebuah sungai) dan dilubuk itu terdapat sebatang pohon kayu yang besar, nama kayu itu yaitu kayu Biyu, kayu ini tumbang dan jatuh dilubuk, sehingga penamaan Kampung ini dikenal dengan nama Lubuk Buyu (Buyu = Biyu), Lubuk tersebut berada dalam kawasan Kampung Lubuk Buyu yang sekarang. Secara administarsi negara, kampung Lubuk Buyu terletak di Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Secara bentang alam berada disekitar aliran Sungai Peninsung. Jarak Kampung Lubuk Buyu dengan ibu kota kecamatan adalah 25 KM, 50 KM dari ibu kota Kabupaten Sintang. Secara Pemerintahan Adat, Kampung Lubuk Buyu termasuk dalam wilayah Ketemenggungan 5 yang pada saat ini (2020) dipegang oleh Temenggung Ensaran.
Masyarakat Lubuk Buyu telah menempati kampung Lubuk Buyu secara turun-temurun. Kampung Lubuk Buyu dihuni oleh suku Dayak Desa yang merupakan salah satu rumpun dari Iban (Ibanik Grup). Masyarakat kampung Lubuk Buyu meyakini, bahwa nenek moyang mereka berasal dari suatu tempat atau daerah yaitu Kampung Jetak, Dedai (Kecamatan Dedai - Sintang).
Pada awalnya Kampung Lubuk Buyu masih dihuni oleh Suku Senganan (Melayu), dan letak pemukiman bukan dikampung yang sekarang, mereka lebih banyak mendiami Temawani-temawai (Temawang). Suku Melayu mulai menyebar (pergi) dikarenakan mereka lari dari upeti / kewajiban memberikan persembahan kepada raja yang diterapkan oleh kerajaan Balai (Sepauk). Sehingga tersisa satu keturunan yang mendiami Temawai-temawai (Temawang) tersebut yang dikenal mereka dengan nama Saat. Menurut cerita yang Kami peroleh dari seorang tetetua di Lubuk Buyu (Nimin), Saat mendiami sebuah Temawai (yang namanya tak mampu diingat lagi) diperkirakan pada tahun 1800 an. Konon ceritanya Saat memperanakkan Ingkuk, yang juga masih mendiami Temawai-temawai (Temawang), yang juga tak mampu diuraikan nama dari Temawai tersebut. Semasa Ingkuk pun masih bertahan dari penjajahan Kerajaan Balai ( Sepauk), sampai Ia mempunyai anak dan memiliki keturunan. Nama anak dari Ingkuk yaitu Sangkan yang juga masih di Temawai-temawai (Temawang) dan belum menetap.
Hingga berita tentang penjajahan Kerajaan Balai didaerah Sepauk didengar oleh Suku Dayak Desa, maka berangkatlah Suku Dayak Desa dari tanah asalnya yaitu Jetak (Dedai Sintang). Sebelum keberangkatan mereka dari Jetak-Dedai, Suku Dayak melakukan ritual, didalam perjalanan mereka melihat Burung Ketupung (yang diyakini keramat dan dijadikan pedoman pada saat berpergian, misalnya berangkat Ngayau/Perang dan juga berladang), maka seluruh rombongan Dayak Desa kembali lagi kekampung semula (Jetak Dedai) sampai pada saat telur burung ketupung menetas. Setelah telur burung ketupung menetas barulah mereka mulai bergerak dan berpencar kedaerah-daerah lain, seperti ke Sungai Manan (Kayan Hulu), Ke Tempunak (Tuja Intan), dan juga ke Sepauk (Lubuk Buyu).
Rombongan Suku Dayak Desa yang ke Sepauk akhirnya sampai di Temawai-Temawai yang didiami oleh Suku Senganan (Melayu). Kedatangna Suku Dayak Desa disambut baik oleh Suku Senganan dengan syarat Suku Dayak Desa harus bisa menjadi penengah antara Suku Senganan dengan Kerajaan Balai dengan imbalan tanah disekitar Temawai-temawai tersebut. Karena terjadi kesepakatan dari dua belah pihak (Suku Senganan dengan Dayak Desa), maka Suku Dayak Desa mulai menetap dan mampu menjadi penengah (pemisah) antara Suku Senganan dengan Kerajaan Balai.
Sangkan keturunan dari Ingkuk yang adalah Suku Senganan, menikah dengan seorang gadis yang dibawa dari tanah Jetak Dedai nama gadis itu Nula. Nula adalah salah satu pasukan perang dari Suku Dayak Desa. Setelah menikah akhirnya Sangkan mengikuti Nula, diistilahkan naik dari Suku Senganan menjadi Suku Dayak Desa. Dari keturunan Sangkan dan Nula ini lah mulai berkembang kehidupan Suku Dayak Desa didaerah Tembai. Sangkan dan Nula diperkirakan menikah dan menetap di Temawai Rumah Alak sekitar pada tahun 1870 an, Sedangkan Saat dan Ingkuk tidak bisa dijelaskan dimana tempat dan kediaman pertama mereka. Di Temawai ini mereka diam disatu tempat dengan Masyarakat lain dalam satu rumah yang disebut Betang, di Betang ini mereka hidup cukup lama diperkirakan kurang lebih 70 tahun lamanya. Anak pertama dari Sangkan dan Nula diberi nama Akir, Akir memperanakan Unit, Unit memperanakan Nimin (Wakil Dewan Adat Desa yang sekarang).
Kehidupan di Betang cukup lama, diperkirakan sampai pada tahun 1940 an. Perpindahan dari rumah betang dikarenakan terjadi kebakaran. Pada sekitar tahun 1950 an mereka pindah ke Betang yang kedua, di Betang ini juga tak berlangsung lama dikarenakan musibah yang sama terjadi (Terbakarnya Betang), sehingga memaksakan mereka harus membanggun rumah-rumah pribadi lagi, mereka mendiami Betang yang kedua ini diperkirakan selama 15 tahun lamanya. Di rumah-rumah pribadi yang kedua ini juga masih ditempat yang sama yaitu Temawai Alak. Dari keturunan inilah yang berkembang Suku Dayak Desa di Lubuk Buyu yang sekarang, dari Nimin (lahir dirumah pribadi 1 di Temawai alak tahun 1953, hingga di Lubuk Buyu yang sekarang), Nimin yang memperanakan Burai, Burai memperanakan Gina dan Gina memperanankan Untai (sampai tahuh 2020).
Dari rumah pribadi yang kedua (Temawang Alak) ini mereka diharuskan pindah tempat, konon kata para tetua tempat yang mereka diami tidak baik untuk dijadikan pemukiman, maka mereka berpindah tempat ketempat yang sekarang menurut pandangan para tetua yang memahami posisi tanah (dalam ritual Adat/Betenung) yaitu Lubuk Buyu yang sekarang menjadi tempat tetap Masyarakat Suku Dayak Desa.
Peristiwa Penting
Dalam perjalanan kampung, terdapat peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh masyarakat Lubuk Buyu, diantaranya adalah masuknya ajaran agama. Masukanya ajaran agama diperkirakan pada pertengahan tahun 1966, masuknya agama ini yang pada waktu itu mereka masih berada di Temawai Alak (Betang yang ke 2), orang yang pertama kali meperkenalkan agama kedaerah ini yaitu Pastor Adrianus Van Der Vlauten, SMM. Namunpun demikian masuknya agama ini belum terlalu nampak jauh perubahaan ditengah Masyarakat Suku Dayak, terutama dalam hal kerjasama, tetapi lebih kepada sistem kepercayaan (Kepercayaan kepada Roh Leluhur), perlahan lahan masyarakat yang dulu menganut agma leluhur kini menganut agama Katolik. Namunpun demikian masih terdapat hal-hal atau ritual yang masih tetap dijalankan.
Masuknya sekolah juga berpengaruh pada sistem pola pikir dalam mengambil suatu tindakan, baik sitem dalam musyawarah maupun sistem cara bertahan hidup (dari cara bertani/ladang tradisional dan berburu), sekolah ini masuk diperkirakan pada tahun 1968 (Sekolah Misi/Sekolah Rakyat). Selain dari sekolah dan agama, yang juga tidak kalah pentingnya yang membuat perubahaan di Masyarakat Suku Dayak Desa, yaitu dengan adanya akses jalan dan masuknya transmigrasi pada sekitar tahun 1982 yang berdampak pada transportasi yang dulunya menggunakan jalur sungai (perahu).
Masuk dan adanya sistem perubahan peraturan, yang dulunya peraturan lebih banyak dipegang oleh Tuai Rumah, dengan adanya UUD perubahan kampung menjadi dusun dan desa. (kurang lebih tahun 1988).
Listrik (PLN) masuk ke Lubuk Buyu pada tahun 2013, yang dahulu masyarakat untuk kebutuhan penerangang masih menggunakan Pelita minyak kini beralih kepada lampu PLN, dan kegunaan listik lainnya dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat seperti media elektronik. Jaringan telkomunikasai masuk pada tahun 2015 yang semakin mempermudah cara berkomunikasi masyarakat Lubuk Buyu.
|