Sejarah masyarakat Tamambalo
Saat itu masyarakat Tamambalo mendiami sebuah aliran sungai Anak Kapuas. Dari aliran sungai anak kapuas mereka berpencar ke beberapa aliran sungai, saat itu belum ada penamaan sungai. Sebagian masyarakat Tamambalo memasuki aliran sungai, yang saat ini dikenal dengan Sungai Apalin. Arti dari Apalin adalah aliran sungai sering berubah-ubah, dalam bahasa Tamambalo dinamakan Tapalin. Sehingga nama sungai ini di sebut Sungai Apalin sampai saat ini.
Banua Sariu
Seiring berjalannya waktu, sekitar abad ke-10 jumlah masyarakat yang mendiami Sungai Apalin mencapai ribuan orang sehingga dikenal dengan sebutan “Banua Sariuâ€. Saat itu terdapat 43 Sao Langke (rumah komunal orang Tamambalo) di sepanjang DAS Apalin.
Sao Langke (rumah betang) paling hulu yaitu berada di Riam Kuramu (kurang lebih 2 hari perjalanan menggunakan perahu), Sao Langke ini dipimpin oleh Baki’ Dadap yang dalam Koronangis disebut “Dadap Daulu Doran†(sanjungan dalam sastra lisan Tamambalo Apalin) dan disebut Daulu Doran karena keberadaannya paling hulu. Istri dari Baki’ Dadap adalah piang Saliman atau yang sering disebut dengan Saliman Balian. Kedua adalah Sao Langke yang dipimpin oleh Baki’ Toan. Baki’ Toan berasal dari suku Punan namun menikah dengan Piang Lanjap asli orang Tamambalo Apalin dan menetap di Tamambalo Apalin. Sao Langke yang dipimpin oleh Baki’ Toan ini berada di Uling Riam Kuramu.
Selanjutnya susunan Sao Langke yang ada di sepanjang sunge/sungai Apalin dari hulu ke hilir yaitu 3Sao Langke milik Baki’ Bait di Uling Riam Kuramu, 4Sao Langke milik Baki’ Marong di Ulak Batu, 5Sao Langke milik Baki’ Rombonang di Baluang (kato urait :kanan ke hulu), beliau merupakan salah satu tokoh samagat yang dapat membuat kulambu ilalagai’en, 6Sao Langke milik Baki’ Suka Makawa’an di Baluang (kayoko’ urait :kiri ke hulu), 7Sao Langke milik Baki’ Makandak di Baluang (kato urait : kanan ke hulu) 8SaoLangke milik Baki’ Daling di Kansorena Tendek, 9Sao Langke milik Baki’ Tajak Ilauta Kulambu Bilaan (di hilir kuburan Bilaan), 10Sao Langke milik Baki’ Burung Ilauta Kulambu Bilaan (di hilir kuburan Bilaan), 11Sao Langke milik Baki’ Tali Maranduk di Jangkaringen, 12Sao Langke milik Baki’ Tamui di Jangkaringen, 13Sao Langke milik Baki’ Bakupak di Sundap, 14Sao Langke milik Baki’ Sarang di Sundap, 15Sao Langke milik Baki’ Tolang di Sundap, 16Sao Langke milik Baki’ Dingon Rajaan Di Jajawe, 17Sao Langke milik Baki’ Pining di Pining, , 18Sao Langke milik Baki’ Nandung di Rombonang, 19Sao Langke milik Baki’ Santuk di Jonia’, 20Sao Langke milik Baki’ Oriang di Banua Tanga’, 21Sao Langke milik Baki’ Ransa di Banua Tanga’, 22Sao Langke milik Baki’ Mali’ Langke di Kokoan Mali’ Langke 23Sao Langke milik Baki’ Lubang di Lubang, 24Sao Langke milik Baki’ Babala’ di Songai, 25Sao Langke milik Baki’ Nalinge di Songai, 26Sao Langke milik Baki’ Daili di Songai, 27Sao Langke milik Baki’ Tamparang Manayunan di Magagong, 28Sao Langke milik Baki’ Gindal di Magagong, 29Sao Langke milik Baki’ Marong di Pinjawan Suri, 30Sao Langke milik Baki’ Dingon di Pinjawan Suri, 31Sao Langke milik Baki’ Batu di Pinjawan Suri, 32Sao Langke milik Baki’ Patang di Pinjawan Suri, 33Sao Langke milik Baki’ Langgani di Malambung, 34Sao Langke milik Baki’ Mambanang di Malambung, 35Sao Langke milik Baki’ Boboko’ di Boboko’, 36Sao Langke milik Baki’ Ibu’ (akhir kalongan Pamindara mainseang/malimas dara’ bawi: batas ritual antar banua apalin dan banua nanga nyabo) di Ibu’, 37Sao Langke milik Baki’ Jantaring di Nanga Nyabo dan 38Sao Langke milik Baki’ Jantulak di Nanga Nyabo. 39Sao Langke milik Baki’ Panto di Nanga Nyabo, 40Sao Langke milik Baki’ Jarob di Ukit Jaras (Baki’ Jarob memiliki dangin/gelar Jarob pampang bolong). Selanjutnya adalah 41Sao Langke milik Baki’ Malung di ukit Jaras, 42Sao Langke milik Baki’ Kalang Unggan di ukit Jaras dan 43Sao Langke milik Baki’ Kalang Tadung di Ukit Jaras.
Berdasarkan sejarah lisan yang hidup di tengah komunitas, konon jika ada kelapa kering yang dihanyutkan dari Sao Langke paling hulu yaitu Sao Langke Baki’ Dadap dan anak laki-laki samagat (bangsawan) manyumpit, maka buah kelapa tersebut akan tenggelam ketika sampai di Sao Langke paling hilir. Selain itu apabila penduduk laki-laki mengambil dan menyandarkan ulis (kujur/tombak) di pohon kelapa, maka kelapa itu bisa condong akibat banyaknya kujur yang disandarkan.
Pole’ Mopa (Racun) (Berakhirnya Era Banua Sariu)
Peristiwa Pole’ Mopa menandai berakhirnya era kejayaan Tamambalo Apalin. Diawali dengan acara kombong persiapan gawai dan berbagai rangkaian kegiatan persiapan menyambut gawai dalam komunitas Tamambalo Apalin yang disebut madu gawai.
Pada suatu peristiwa masyarakat sepakat untuk mencari ikan ke sebuah danau di Batang Timbaru. Berbagai alat untuk menangkap ikan disiapkan dan dibawa oleh masyarakat, dengan harapan hasil tangkapan akan dinikmati bersama saat gawai.
Disebutkan bahwa turut serta Baki’ Kamaluan dan Baki’ Kampal untuk mencari ikan. Keduanya dikenal sebagai laki- laki yang baka maam (bagus rupanya) serta memiliki ketangkasan tinggi. Karena rupawan mereka memiliki tabiat suka menggoda istri orang lain. Hal ini memunculkan dendam bagi sebagian orang.
Saat mereka mencari ikan sekelompok orang yang tidak menyenangi dua bersaudara ini memanfaatkan kesempatan untuk membalaskan dendam. Mereka sengaja menebarkan jala ke danau sehingga jala tersangkut kayu dan mereka meminta kedua saudara itu untuk menyelam. Orang-orang sengaja menenggelamkan keduanya di danau saat mereka sedang berusaha menyelam jala. Danau tempat mereka ditenggelamkan lalu disebut Danau Kamateanen (danau kematian) dan saat ini danau tersebut masuk dalam wilayah administrasi Desa Nanga Lauk.
Ketika semua orang telah pulang, Baki’ Kamaluan dan Baki’ Kampal dicari oleh anaknya. Dia bertanya di mana sang ayah, orang-orang mengatakan bahwa Baki’ Kamaluan dan Baki’ Kampal masih mencari ikan, sedang membuat jukut, salai, dan beragam alasan. Penjelasan yang ganjil membuatnya menyadari jika orang tuanya telah dibunuh.
Dengan perasaan sedih dan marah mereka menyampaikan kelak akan membalas kematian orangtuanya. Mendengar hal tersebut orang-orang yang telah menenggelamkan Baki’ Kamaluan dan Baki’ Kampal mencari akal agar anaknya ini tak berumur panjang.
Mereka menunggu hingga tibalah saatnya, suatu hari mereka memukul hidung kedua anak tersebut menggunakan Buku Tampaan (besi) hingga dia meregang nyawa. Setelah menjatuhkan mayatnya di antara Sao Langke, orang-orang tersebut mengabarkan pada seluruh penduduk kampung jika anak tersebut meninggal akibat terjatuh dari Sao Langke.
Sang nenek yang bernama Piang Indu Kamaluan menjadi marah besar. Belum habis dukanya kehilangan anak-anaknya yaitu Baki’ Kamaluan dan Baki’ Kampal, kini cucunya juga yang dihabisi. Setelah itu Piang Indu Kamaluan bermimpi bahwa di Kanda Suli ada kayu Bakul dalam mimpinya disampaikan bahwa kayu tersebut arah matahari terbit merupakan obat dan arah matahari terbenam merupakan racun. Keesokan harinya Piang Indu Kamaluan mencari kayu tersebut. Kayu tersebut, menurut sejarah yang dipercaya masyarakat Tamambalo Apalin kulit Kayu Bakul yang menghadap matahari terbenam merupakan racun yang sangat mematikan, sementara kulitnya yang menghadap ke arah matahari terbit merupakan obat. Keberadaan kayu ini diperkirakan berada di pertigaan batas antara Banua Apalin, Banua Alauk dan Banua Nanga Nyabo.
Piang Indu Kamaluan lalu mengambil dan merendam kulit kayu beracun di hulu sungai Apalin. Dengan cepat semua yang bernapas, baik binatang maupun manusia yang minum atau makan ikan dari sungai Apalin kehilangan nyawanya peristiwa tersebut disebut “Peristiwa Pole’ Mopaâ€. Yang tersisa hanya keluarga dekat dari Piang Indu Kamaluan karena ternyata sebelum dia merendam kulit beracun di sungai, dia telah meminta keluarga-keluarganya untuk mengungsi. Kejadian ini memakan banyak korban jiwa sekaligus menjadi titik mula berakhirnya Banua Sariu, berakhirnya kejayaan Tamambalo Apalin.
Keluarga indu Piang Kamaluan bersama Masyarakat yang selamat mengungsi ke beberapa tempat, diantaranya ke Sungai Pito, Sungai Dara’, Sungai Panding, dan Sungai Tapu’.
Setelah puluhan tahun berlalu, orang-orang yang mengungsi dan merasa situasi sudah aman, mereka sepakat untuk kembali ke DAS Apalin dan membuat Sao Langke baru. Sao Langke ini selain sebagai tempat tinggal juga akan dijadikan sebagai benteng pertahanan orang Tamambalo Apalin dari musuh. Masing-masing dari mereka membentuk kelompok dan memilih dudukan Sao Langke yang akan dibangun atau dadu duki.
Kelompok pertama yang dipimpin oleh Baki’ Tajuk memilih untuk mendirikan Sao Langke di Ukit Jaras, Istri dari Baki’ Tajuk bernama piang Andap. Anak dari Baki’ Tajuk dan piang Andap adalah piang Burat, Baki’ Junai dan Baki’ Baris. Baki’ Junai pindah ke daerah Bunut dan memeluk agama islam dan Namanya diganti mejadi Baki’ Jaya Laksana. Wilayah kekuasaan Baki’ Tajuk mulai dari Ukit Jaras, sampai ke Nanga Lauk, mudik sungai Alauk sampai ke Danau Kamatean (Kematian). Wilayah ini merupakan tempat mencari ikan, berladang, berburu dan lain sebagainya. Saat ini beberapa pangerengan (pohon lalau) dari Baki’ Tajuk masih ada.
Kelompok kedua dipimpin oleh Baki’ Rombonang dan Baki’ Barangin, lokasi yang mereka pilih adalah di hilir nanga sungai Tamambalo dan di hulu Tambang (Tombang) yaitu di tepian Danau Parantu, saat ini wilayah tersebut masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Bunut Hilir. Wilayah kekuasaan Baki’ Rombonang dan Baki’ Barangin sepanjang muara sungai Apalin sampai ke Tambangen yang sekarang dikenal dengan Desa Tombang.
Kelompok ketiga dipimpin oleh Baki’ Lasa bersama saudaranya yaitu Baki’ Buja’ atau yang juga biasa disebut Baki’ Daling dan para menteri-menterinya yaitu Baki’ Putat, Baki’ Bubu’, Baki’ Jaming, Baki’ Pandung dan Baki’ Manju mereka mendirikan Sao Langke di Kansorena Tendek.
Seiring berjalannya waktu, Baki’ Buja’ dan piang Latak memiliki memiliki seorang anak perempuan bernama piang Randungan. Setelah piang Latak meninggal, Baki’ Bujak beristri baru namanya adalah piang Siti (dayang Sinti) ia adalah keturunan Pangeran Jongkong. Setelah menikah dengan piang Siti, Baki’ Buja’ memeluk agama Islam. Saat ini garis keturunan Baki’ Buja’ bergelar Gusti.
Sementara itu, piang Randungan anak dari pernikahan pertama Baki’ Buja’ dan piang Lata’ menikah dengan Baki’ Gilling. Baki’ Giling merupakan seorang samagat (bangsawan) dari batang sunge Tamambalo. Dia memiliki saudara bernama Baki’ Apel. Anak Baki’ Gilling dengan piang Randungan adalah piang Siung, piang Tingkuak, piang Kiding, piang Kalabak, dan yang bungsu Baki’ Layo.
Sekitar tahun 1820 di bawah pimpinan Baki’ Gilling dan dibantu oleh Baki’ Abong, Baki’ Tan, Baki’ Tambe, Baki’ Sami, Baki’ Jalayan Ma Ranjai, Baki’ Balabun, Baki’ Galaut (istrinya Piang Karang), Baki’ Tan, Baki’ Pusung, Baki’ Tolang dan Baki’ Manju mereka mendirikan Sao Langke di Pinjawan. Lokasi tempat mereka mendirikan Sao Langke merupakan dudukan Sao Langkena Baki’ Marong Pinjawan sebelum peristiwa pole’ mopa. Pada masa itu perang antar suku masih terjadi, termasuk perang antara suku Tamambalo dan Iban. Banyak rumah yang hancur karena perang termasuk Sao Langke.
Perang antar suku yang paling diingat dan menandai berakhirnya perang antara Tamambalo dan iban adalah peperangan dengan balana i Sibat (kelompok sibat). Banyak yang menjadi korban dari kedua belah pihak. Karena peristiwa tersebut, sekitar tahun 1835 Baki’ Gilling ditemani oleh Baki’ Abong, Baki’ Tan, Baki’ Tantang dan Baki’ Manju berangkat menuju Serawak. Pertemuan antara suku Tamambalo Apalin yang dipimpin oleh Baki’ Gilling dan suku Iban di Serawak ini disebut dengan sebutan TAMU (menandai perdamaian antara Tamambalo Apalin dan Iban). Tamu ini merupakan simbol adanya kesepakatan mengakhiri perang antara Iban dan Tamambalo Apalin, pertemuan ini dilakukan di Batang Rajang, serawak Malaysia. Dengan perjanjian ini apabila masih terjadi saling bunuh- membunuh antara Tamambalo Apalin dan Iban maka akan dikenakan sanksi adat pati nyawa.
Selanjutnya Baki’ Layo, anaknya Baki’ Gilling dan piang Randungan yang merupakan anak laki-laki satu-satunya melanjutkan kepemimpinan orangtuanya. Ia memiliki dua istri, istri pertamanya adalah piang Barike, anak dari pernikahannya dengan piang Barike adalah Baki’ Paran, Baki’ Bojang, Baki’ Burung dan Baki’ Ransa. Sementara anak dari pernikahannya dengan piang Sugin adalah piang Dakau. Pada tahun 1864, dibawah kepemimpinan Baki’ Layo, mereka kembali mendirikan Sao Langke di Banua Tanga’. Sao Langke ini diberi nama “Sao Langke Daibolong Pambean†dan masih ada sampai sekarang.
Sao Langke Daibolong Pambean terdiri dari 38 bilik dan Baki’ Layo memiliki 2 bilik. Nama-nama pemilik bilik yang ikut bersama dengan 1Baki’ Layo mendirikan Sao Langke adalah 2Baki’ Nyalida, 3Ruwean, 4Bubu’, 5Pukau, 6Kasue, 7Rinding, 8Kabit, 9Nyata 10Imong, 11Pao’, 12Tingai, 13Baukus, 14Lentak, 15Pangayo, 16Riti, 17Piang Kalabak (dua panait/dua bilik), 18Rintik, 19Tangkirang, 20Jalayan/Banean, 21Gayong, 22Longot, 23Panyira, 24Sami, 25Bajang, 26Jalayan, 27Malik, 28Kolai, 29Abong, 30Dalan 31Ambok Ma Sadaan, 32Saat 33Tan, 34Gamun dan 35Sipal, 36Kasue 37Saung, 38Kasiman, 39Banang serta saat ini ada penambahan tiga bilik lagi yaitu bilik 40Barangin 41Bolot 42Galeri.
Setelah kepemimpinan Baki’ Layo diteruskan oleh anaknya yaitu Baki’ paran. Baki’ Dingon menggantikan Tamanggung Banua Apalin. Kemudian kepemimpinan Baki Paran digantikan oleh Baki’ Bojang yang juga merupakan anaknya baki layo. Setelah Baki Bojang digantikan oleh menantu Baki layo yang bernama Baki’ Arugun sebagai kepala kampung. Kepemimpinan selanjutnya diganti oleh Baki’ Mambang(ipar baki arugun), dilanjutkan oleh Baki’ David Nyata (menantu baki mambang). Kepemimpinan berikutnya dipimpin oleh Baki’ Noor Oto ST (besan dengan baki uto), selanjutnya dilanjutkan oleh Baki’ Hang Tuah yang awalnya beliau menjadi kepala kampung, pada tahun 1982 Baki’ Hang tuah menjabat sebagai kepala Dusun. |