HUKUM ADAT (PERKARA ADAT)
A. Pelanggaran Hukum Adat
1.Hukum Adat Kampakng Pinang
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang sudah tunangan tidak boleh berhubungan intim sebelum dilangsungkan perkawinan dan bila sebelum perkawinan sudah hamil, maka kedua calon mempelai disebut Kampakng pinang,maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
a) pihak laki-laki: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 1 ekor ayam dan
1 ekor babi,
b) pihak perempuan: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 2 ekor
ayam. dan kalau ditomar orang lain, maka sebuahtempayan untuk adat
penomar.
2. Hukum Adat Seorang suami Beristeri Dua
Apabila seorang laki-laki kawin dua orang isteri, maka dia dikenai hukuman/sanksi sebagai berikut:
7 Lasa buat dari pingatn dan buat ini dibagikan ke para pemuka Laman,
8 buah tempayan tuak, yaitu: 3 buah tempayan tuak untuk penyabukng
maduk dan 5 buah tempayan tuak untuk kawin,3 ekor ayam,
3 ekor babi (1 ekor babi untuk penyabukng maduk, 1 ekor babi untuk kawin
dan 1 ekor babi untuk penyaman hati orang banyak, 7 buah tempayan Tajo,
yaitu: 1 buah untuk pamampuh, 1 buah untuk panyabukng maduk, - 2 buah
untuk Laman Mimukng (dusun I dan II),1 buah untuk Laman Sapangakng, 1
buah untuk Laman Sangkuakng, dan 1 buah untuk Laman marangin.
3. Hukum Adat Dusa Mala/ Dusa Sama balaakng (suami orang berselingkuk
dengan isteri orang lain)
Apabila terjadi perselingkuhan antara suami orang berselingkuk dengan isteri
orang lain maka dikenai hukum adat sebagai berikut:
a. Dusamala Suami Orang:
3 x selawi dari pihak laki-laki,
3 buah tempayan tuak,
12 singkar pingatn putih,
3 ekor ayam,
1 ekor babi.
b. Danda padusa
1buah tempayan tajo,
buat ranre selawi,
8 singkar pingatn,
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
1 ekor babi,
c. Dusamala Istri Orang:
buat 3 x selawi dari perempuan,
3 buah tempayan tuak,
12 singkar pingatn putih,
3 ekor ayam,
ekor babi,
1 buah tempayan tajo penyaman hati,
8 singkar pingatn putih.
4. Hukum Adat Karangkat (kalau suami orang mengambil isteri orang lain).
Suami dibuang Isteri:
1 buah tempayan Tuak baniang,
5 ronti babi,
1 buah talapm,
buat Selawi,
1 buah talapm bakaki, kalau dari suami mempertahankan isteri
3 buah tempayan tuak,
3 ekor ayam,
3 ronti babi( kurang ditambah ayam), hukum adat Karangkatnya (langsung kawin)
1 buah tempayan Tajo,
1 buah Ketawak,
1 potong rante,
1 buah katawak
1 kupukng rante (buntutnya untuk orang banyak),
12 Lasa.
Hukum adat ini di luar adat perkawinan.
5. Hukum Adat Kampakng
a. Hukum Adat Kampakng Tidak kawin
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan suami- istri melakukan hubungan intim hingga akibatnya si perempuan tadi hamil, maka kedua pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
1) Pihak laki-laki, dikenai hukum adat:
3 Lasa,
2 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
1 ekor babi,
2) Pihak perempuan:
hukum adat 3 Lasa,
2 buah tempayan tuak,
2 ekor ayam,
10 poku buat pocah,
untuk pelobur bintang petahutn rakyat banyak yang biasa dinamakan bintang petahutn adalah “Bakul kamut lawakng hidup†dibagi kesemua rakyat banyak. Hukum Adat tersebut di atas kalau pihak perempuan menyerahkan diri untuk di hukum adatkan tuha banyak, tetapi jika dipomarkan orang lain maka ditambah lagi sebuah tempayan untuk adat pemomar kampakng.
b. Hukum Adat Kampakng Langsung Kawin
1.Pihak laki-laki.
Pihak Laki – laki dikenai hukum adat 8 lasa, 8 helei kain batik panjang untuk
pasalitn (untuk mempelai perempuan 3 helai, orang tua perempuan 3 helai, saudara tertua/tua dari mempelai perempuan 1 helai dan untuk kakek/nenek 1 hilai) untuk pasalitn, Buat rante (rante perak/tembaga) 1 kali slawi sekali 16 (poku) = 48 poku mangkuk adat, Penait 16 poku, Buat pocah 10 poku(dapat diganti ½ lusin mangkuk porselin), 1 buah Tempayan Tajo (tuha/antik) untuk roga/harga tubuh, 8 poku untuk Paloka golakng, Nulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras), 4 buah tempayan tuak(diganti tuak air), 3 buah piring putih untuk adat perjanji, 2 ekor babi @ 25 – 30 kg ( 1 ekor babi kampakng dan 1 ekor babi kampung), Cucuk Somat (lemak dan daging babi dipotong dibuat seperti sate lalu diletakkan diatas nulakng untuk buis, 8 kaki/tangan (tunyikng), kepala dibelah dua, kangkapm babi + kaki, sayap dan kepala ayam), 1 buah piring, 1 buah mangkuk, 1 tukuk garam, sebilah bosi, luncu/lunju sebatakng tikar dan bantal serta selimut(tikar dan selimut diganti dengan seperangkat tempat tidur).
2.Pihak Perempuan:
Buat rante 1 x slawi, sekali 16 poku = 48 poku,
4 buah tempayan tuak(diganti tuak air),
4 ekor ayam,
Nulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras),
Buat pocah 10 poku atau ½ lusin mangkuk porselin.
6. Hukum Adat Perkawinan Sumbakng
Perkawinan Sumbang kapat/ Sumakng Ponuh Apabila ada perkawinan sumbangk kapat( saudara kakek, saudara nenek, saudara bapak atau saudara ibu kawin dengan cucu atau keponakan, walaupun kedua mempelai sama-sama bujang -dara) sebenarnya tidak boleh jadi sama sekali, karena masalah itu tidak dapat di cegah, maka satu-satu jalan keluarnya adalah para pihak yang bersangkutan dikenai hukuman adat, sebagai berikut:
1) Hukum adat dari pihak mempelai laki-laki :
4 ekor babi,
3 x 16 ditambah 10 poku,
2) Hukum adat dari pihak mempelai perempuan:
3 ekor babi,
3 x 16 ditambah 10 poku.
Ada bale/balai di tanah (darat) dan bale/balai di air. Babi dipotong ditempara lalu kedua calon mempelai mandi darah babi sambil turun ke Sunge dan setelah sampai di Sunge harus mandi darah babi yang dipotong diatas bale disertai dengan tato yang disampaikan oleh mantir laman dengan bunyi sebagai berikut: “Sambut ria rokakng patih majo (tabutn naga) IYANG kampaakng sumakng ge nyamut juluk rasilopas luput dari malapetaka nyak, golak rasa kami cadak ba adat bajalatn, balome pantiti, jadi ini samut darah babi inin( kedua mempelai sedang mandi darah babi di sebelah hilir bale tempat orang motong babi). Kemudian pengantin pulang kerumah ganti pakaian lalu duduk lagi di tempat yang sudah disediakan dan selanjutnya pengantin di diburu seperti muru ( ngusir) disertai dengan kata-kata†hai babi, kucikng, kuduk turutn makatn ke balangku’ ditanah nanâ€. Keddua mempelai harus turun makan masidan sayur yang sudah disediakan didalam belangku’ babi yang dialas dengan daun pisang mas. Acara selanjutnya pengantin mengadakan ucapara pembuangan sial kawin sumbang, dengan mengambil sembilu bambu botukng (yang memang sudah disediakan) lalu disayat/didedelkan(hanya persyaratan) ke buku lalik dengan disertai tato: ‘han, keluar darah nin kaluar gak sumakng pamali, jadi cak mali ak kami jadiâ€.
7. Adat Pajadi ( Adat Kawin) :
9 Lasa ( dengan buat),
9 poku (dengan mangkuk),
9 buah tempayan tuak,
9 ekor manuk,
4 ekor babi (babi pajadi, babi panyumakng, babi topas laman, babi caboh aik).
Setelah Cabuh air barulah orang menguraikan silsilah adat sumbang (patintikng kan summakng). Mulai dari kora pandai berkata.Taramunang taramuning menjadi orang yang mendongen kannya (nsangannya) sakaratn, setelah itu mendongengkan(nsangan) lagi duakaratnnya dongeng (nsangan) dahalatn.
Persyaratan bagi kedua mempelai kawin sumbang kapat, bahwa setelah kawin setiap tahun harus mengadakan “topas laman†berturut-turut selama tiga tahun dengan hukum adat, sebagai berikut:
hukum adat selawi,
sebuah tempayan tajo untuk kepala adat,
sebuah tempayan Baniang berisi tuak,
seekor babi.
8. Hukum Adat Sumakng Anak Sanak Tuha adalah :
buah Tempayan Tajo untuk Kepalanya (dari laki-laki),
1 buah Talapm Buntunya Talapm (dari perempuan)
12 Lasa ( dengan buat), 12 poku (dengan mangkuk),
3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air), 1 ruas nasi,
6 ekor ayam(1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn,
1 pajanji),8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3
cabuh air, 4 sumakng),Babuakng batibar, Tintikng sumakng nya dan tujuh
karatn nsangan nyan.Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya
perkawinan (bajadi).
1.Hukum Adat Anak Sanak Inik:
7 Lasa (dengan buat), 7 poku (dengan mangkuk) 1 buah Tempayan Beniang
untuk Kepalanya,1 buah Tempayan Manuuh/ Tapsi,3 ekor babi ( babi pamali,
panyumakng dan babi cabuh air),1 ruas nasi, 6 ekor ayam (1 baagah, 1
pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji) 6 buah tempayan tuak (1
baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji), 8 pangkat
nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4
sumakng), Babuakng batibar,Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya tujuh
karatn Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan.
10. Hukum Adat Anak Sanak Iyang :
Terhadap pelanggaran adat perkawinan, maka bagi mereka yang melakukan
perkawinan anak sanak IYANG dikenai hukuman adat sebagai berikut:
1 buah Tempayan Kampar Kepalanya,4 buah piring untuk Buntutnya
5 Lasa(dengan buat), 5 poku (dengan mangkuk),3 ekor babi ( babi pamali,
panyumakng dan babi cabuh air),1 ruas nasi,6 ekor ayam (1 baagah, 1
pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji) 6 buah tempayan tuak (1
baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),8 pangkat
nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air,
4 sumakng), Babuakng batibar, Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya lima
Karatn Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan (bajadi).
11. Hukum Adat Berzinah (Badusa besar)
Berzinah (Badusa besar), maka ada istilah adat: “Ha Dusanya Bosar Donaa Malakng Kopih Kobo Damanyanâ€. Hukum Adatnya sebagai berikut:
10 buah tempayan tuak,
10 ekor ayam,
2 ekor babi,
2 buah tempayan Tajo,
Mengenai hukum adat Sakoti Lima Donaa Malakng kopih kobo soyakng.
Sakoti lima, hukum adatnya:
3X 16 Lasa ( masing-masing dibayar dengan rante)
5 X selawi ( dengan mangkuk/pingatn).
Sedangkan donaa malakng kopih kobo jatuk ka donaa malakng. Hukum Badusa
dengan sanak inik. Donaa malakng cuma sakali saja Berzinah (badusan) dengan isteri orang lain, maka hukum adatnya:
2 buah tempayan Tajo (1 dari laki-laki dan 1 dari perempuan).
6 X selawi ( dengan buat),
40 singkar pingatn putih,
6 buah tempayan tuak( 3 dari isteri orang dan 3 dari laki-laki),
6 ekor ayam ( 3 dari isteri orang dan 3 dari laki-laki)
2 ekor babi
Hukum Adat Nyumakng:
1 buah tempayan Tajo,
1 ekor babi,
1 ekor ayam, dan 8 singkar pingant putih
X. HUKUM ADAT MELANGGAR TATA KRAMA
1. Hukum Adat Siku-Siku
Pengertian hukum adat siku-siku adalah merupakan hukuman/sanksi yang dijatuhkan kepada seorang laki-laki yang dengan sengaja berjalan bersama isteri orang tanpa diketahui suaminya atau memberi sesuatu pada isteri orang lain tanpa diketahui suaminya, tetapi yang sebenarnya tidak berbuat sesuatu(hubungan intim), maka pihak laki-laki dikenai hukum adat sebagai berikut:
1 buah Tuak,
1 ekor ayam,
16 poku mangkuk adat untuk siku-siku.
2. Hukum Adat Kecukuhan
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan adalah adat yang dikenakan kepada orang yang punya ladang apabila setelah membakar ladangnya sampai selesai panen padi ada diantara keluarganya sendiri yang meninggal dunia atau bisa jadi kalau orang yang berladang minjam tanah milik orang dan setelah ia membakar ladang sampai selesai panen padi diantara pihak keluarga orang yang punya tanah meninggal dunia, maka orang yang minjam tanah untuk berladang tadi harus dikenai hukum adat.
a. Hukum Adat Kecukuhan Dabu
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dabu adalah orang yang meninggal dunia sebelum pihak keluarganya membuka jurung (Lumbung Padi), sedangkan adatnya cukup mengambil darah ayam lalu disangkolan palit.
a.Hukum Adat Kecukuhan Dalapm
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dalapm adalah orang yang meninggal pada waktu musim padi mulai menguning, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Orang meninggal sebelum malit bangala, maka pihak keluarganya harus
dikenai hukum adat:
buat rantai 1 x 16,
satu buah tempayan tuak,
nulakng satu pangkat, ayam satu ekor untuk babiso bahibu.
Kalau ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai
hukum adat 2 x lipat
3. Hukum Adat Karobahan
Yang dimaksud dengan adat Karobahan adalah orang yang meninggal pada waktu musim menebang ladang, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1x selawi atau 2x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Tetapi kalau di ladang orang lain; kalau hanya cacat/luka bakal cukup
mengeluarkan mangkuk boras komakng.
4. Hukum Adat Kajomuran
Yang dimaksud dengan adat kajomuran adalah orang yang meninggal pada
waktu musim arak roba, maka pihak keluarganya harus dikenai hokum adat:
- buat rantai 4 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
5. Hukum Adat Titi Buah
Yang dimaksud dengan adat titi buah adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu, sedangkan tenaman tersebut sudah berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
6. Hukum Adat Cucuk Panggang
Yang dimaksud dengan adat cucuk panggang adalah apabila ada orang yang
membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang
lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut masih kecil yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
Buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16 dan ditanah 1 x 16, satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng, satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
7. Hukum Adat Gantukng jala
Yang dimaksud dengan hukum adat gantukng jala adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut tak berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
8. Hukum Adat Tapak Bosi
Apabila ada orang menebang pohon buah milik orang lain yang sudah berbuah dan bila ditebang untuk ladang, maka orang yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 2 x 16/ selawi,, ( adat tapak bosi),
- satu buah tempayan tuak, dua pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tersebut di atas, Apabila ada orang membuat ladang, sedangkan ditengah ladangnya terdapat pohon buah milik orang lain lalu pohon ituditebang atau dibiarkan panta minta izin pada pemiliknya, pada waktu membakar ladang pohon tadi layu atau mati, maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
9. Hukum Adat Kampukng Buah(Kebun buah)
Apabila ada orang membakar ladang, apinya menjalar/merambat ke kampukng buah daunnya layu lalu gugur. Kampukng yang sebenarnya jauh dari ladang, maka pihak yang bersangkutan dikenai:
- hukum adat rantai 1 x 8 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng,
- ayam satu ekor untuk babiso bahibu.
10. Hukum Adat Mencuri Manjat Buah Orang lain:
Kalau orang yang bersangkutan menyerahkan diri, hukum adatnya: Sikuk Sigik. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah ikut tetangga, hukumnya : Saekuk Saegik, buah dibagi. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah milik orang lain dituntut pemiliknya, hukum adatnya:
3 x Selawi,12 buah piring,1 ekor babi,2 ekor ayam 2 buah tempayan tuak,
buah diganti/dibayar.
11.Hukum Adat Pati
a.Hukum Adat Pati Baniang Penuh (Membunuh Orang Lain dengan Sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain dengan sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang penuh dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
1.Hukum adat beniang 3 x Selawi,
2.Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
3.Ikuk adat sebuah Talapm,
4.3 ekor babi,
5.10 ekor ayam,
6.12 buah tempayan tuak,
7.Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
8.Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
9.Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
10.Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
11.24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
12.Seutas jala, untuk mengganti rambut,
13.Dua buah talapm, untuk mengganti telinga,
14.Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
15.Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
16.Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
17.20 saingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
18.Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
19.Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
20.Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
21.Sebuah tepak tembaga, untuk mengganti emaluan betinak/perempuan
22.pangkat nulakng atau 3x 2 pangkat nulakng,
23.Semua biaya kematian hingga nanam bangka ditanggung pihak pembunuh.
b.Hukum Adat Pati Baniang Setengah (membunuh orang tidak sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain
dengan tidak sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang
tetengah dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
1.Hukum adat beniang 1 1/2 x Selawi,
2.Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
3.Ikuk adat sebuah Talapm
4.2 ekor babi,
5.ekor ayam,
6.buah tempayan tuak,
7.Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
8.Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
9.Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
10.Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
11.24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
12.Seutas jala, untuk mengganti rambut,
13.buah talapm, untuk mengganti telinga,
14.Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
15.Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
16.Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
17.20 ingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
18.Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
19.Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
20.Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
21.Sebuah popak tembaga, untuk mengganti kemaluan betinak/perempuan,
22.Biaya kematian hingga nanam bangka separah daru sipembunuh.
|