Indikatif

Nama Komunitas Krio Congkong Baru
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KETAPANG
Kecamatan Hulu Sungai
Desa Krio Hulu
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 7.819 Ha
Satuan Krio Congkong Baru
Kondisi Fisik Pegunungan,Perbukitan,Dataran
Batas Barat Sunge Bengaras, Komunitas Dayak Mahap
Batas Selatan Bahake, Komunitas Dayak Entukak
Batas Timur Riam Dadap, Komunitas Dayak Bihak
Batas Utara Kenyauk/Ampon, Komunitas dayak Taman,

Kependudukan

Jumlah KK 150
Jumlah Laki-laki 385
Jumlah Perempuan 365
Mata Pencaharian utama Peladang, penoreh (karet)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Pendiri Kampung Congkong Baru, Desa Krio Hulu
Orang yang pertama membuka kampung Congkong Baru adalah :
1.Pak Akur,
2.Pak Nsuli,
3.Pak Kawi,
4.Pak Dedet,
5.Pak Tajin
Pak Akur dan Nsuli berasal dari Menyumbung pindah ke Laman Tampasi, Laman Kramaak, Laman Nanga Mangaras baru ke Laman Congkukng atau kampung Congkong Baru.
Pak Kawi berasal dari kampung Botong Serawak kecamatan Sekadau Hulu kabupaten Sekadau, Pak Tajin dari kampung Kalawai Pinuh kabupaten Melawi
Pak Dedet dari kampung Ntuka kecamatan Nanga Taman kabupaten Sekadau.
Kampung Congkong Baru atau Congkukng Pabare mulai dibuka pada tahun 1958. Oleh 5 orang yaitu : pak Akhur dan Nsuli, kemudian baru diikuti oleh pak Kawi, pak Tajin, pak Dedet,

II. SILSILAH KETURUNAN
1. Pak Akhur kawin dengan Sarah tidak mempunyai anak. Orang yang kawin tetapi tidak mempunyai anak maka dalam bahasa dayak Krio disebut (Manang)
2. Pak Nsuli kawin dengan Lia’ mempunyai anak 5 orang:
ï‚·Mari (Perempuan) menikah dengan Lengkai mempunyai anak 7 orang
ï‚·Ramai (Perempuan) menikah dengan Garis mempunyai anak 4 orang
Tonis (Perempuan) menikah dengan …mempunyai anak 6 orang
Jagak (Laki-laki) kawin dengan ….mempunyai anak 5 orang
Katik (Laki-laki) kawin dengan Entoku’k mempunyai anak 4 orang

Anak Pak Kawi: Tuikng,Letek,Dobi,Turas,Nangori
Anak Tuikng:Singkim,Ingu,Inai,Sinyar
Anak Letek:Kuntul, Cuci,Anyun
Ank Dobi: Jelani, Sapuri
Anak Turas : Thresia, Sele,Karanto,Tesa
Anak Nangori: Olen,Mariana,Lusina,Hen
Anak Pak Dedet: Di bahake
Anak Pak Tajin: Keturunan nya di bahake

Asal Nama Kampung:Congkukng Babare
Ketika dulu terjadi kemarau panjang air yang ada diteluk congkukng tinggal secongkukng(1 sendok Sayur)

Tembawang yang ada di kampung Congkong Baru:
1.Gupukng/tembawang Nanga Bengaras,
2.Gupukng/tembawang Hono,
3.gupukng/tembawang Nanga Kanaya.
4.Gupukng/tembawang Pulo Pakae

SEJARAH PERPINDAHAN PENDUDUK:
Pertama kali Nanga Krio, lalu pindah keTampasi, dari Tampasi pindah ke Krama’ak dikarenakan takut dengan ada orang sakti, lalu pindah lagi ke Nanga Bengaras, dari Nanga Bengaras ada yang pindah ke Hono nanga Kanaya dan ada yang pindah ke Congkong Baru
Kampung Congkong Baru Desa Krio Hulu, Kecamatan Hulu Sungai merupakan salah satu pemukiman masyarakat adat Dayak Krio di Kabupaten Ketapang. Orang Congkong Baru yang pertama kali membuka daerah Congkong Baru, adalah Pak Akur, bersama keluarga lainnya bernama Pak Nsuli, Pak Kawi, Pak Dedet, Pak Tajin, Pak Akur dan Pak Nsuli berasal dari Laman Tampasi dekat kampung Menyumbung yaitu sebuah kampung yang terletak di daerah atau wilayah desa Menyumbung, orang Krio dikenal dengan tradisi Mongkal Nanyuuk dan Bagoyo-Bagoyap yakni merantau untuk mencari sumber penghidupan yang lebih baik di daerah yang baru seperti lahan berladang yang subur dan daerah yang banyak hewan buruannya terutama sungai yang banyak ikannya, tetapi ….. dan kawan-kawan bermigrasi ke arah utara hingga singgah dan membuka hutan di Nanga Bengaras sekitar tahun 1900, hal ini lebih didorong oleh kehendak untuk mencari areal baru untuk perladangan, hingga sampai ke nanga Bengaras, kemudian ke Congkong Baru yang sekarang menjadi pusat desa Krio Hulu

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Tata Guna Lahannya:
1.Babas/bawas : 1.042,82 ha (13,26%)
2.Hutan adat : 2.210,25 ha (28,11%),
3.Kobun Gota’/Kebun Karet : 141,66 ha (1,80%)
4.Kebun Kopi : 34,05 ha (0,43%)
5.Pemukiman Penduduk : 5,42 ha (0,06%),
6.Rimak Lalo : 4.374,23 ha (55,64%)
7.Abur / Sawah : 40,27 ha (0,51%),
8.Tamawakng/Gupukng/ Tembawang: 12,13 ha (0,15 %).
Jadi total luas = 7.860,84 ha

Tempat Keramat, Tamawang (Gupukng)
Selain kawasan pekuburan, tempat keramat lainnya merupakan kawasan di mana terdapat Keramat yang berupa Pohon Tapang, Pohon Bambu Botukng, ada juga Batu yang ada air terjunnya. situs budaya orang Dayak Krio di kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu. “Pohon Tapakng” merupakan pohon bersejarah dan sakral untuk mengingat sejarah asal-usul dan “perpindahan (baca: pengembaraan)” nenek moyang orang Dayak Krio dikampung Congkong Baru Desa Krio Hulu. Inilah alasan mengapa kawasan tersebut harus dilindungi, dikuasai, dimiliki dan dijaga kelestariannya. Hilang benda budaya ini, maka hilang pula sejarah asal-usul orang Dayak Krio dikampung Congkong Baru, Desa Krio Hulu.
Tamawakng/Gupukng (tembawang)
Secara kolektif—dalam kebersamaan,masyarakat hukum adat Dayak Krio dikampung Congkong Baru, Desa Krio Hulu, kaya dengan sumber pangan dan buah-buah lokal yang bisa diperoleh dari beberapa tembawang (Gupukng). Beberapa tembawang atau “Gupukng” itu di antaranya adalah tembawang Gupukng Bukit Batu, tembawang atau Gupukng Hono, Gupukng Pulo Pakae, tembawang atau Gupukng Sunge Durin, tembawang atau Gupukng Salalakng, tembawang atau Gupukng Sunge Pakae, tembawang atau Gupukng Sanjaya, Tembawang atau Gupukng Nanga Mengaras, dan masih banyak lagi, Sekurangnya ada 9 (sembilan) Gupukng orang Dayak Krio dikampung Congkong Baru, Desa Krio Hulu. Kehidupan orang Dayak Krio dikampung Congkong Baru, turut ditopang oleh keberadaan sejumlah “Gupukng” tersebut karena hanya di beberapa wilayah adatnya itulah mereka mengakses aneka ragam buah lokal termasuk buah tengkawang, hewan buruan, bahan-bahan ramuan obat alami, rotan, bahan – bahan bangunan rumah mereka dan lain sebagainya. Aneka buah, hewan buruan dan tumbuhan yang dikonsumsi pada dasarnya adalah sumber pangan yang menyediakan banyak protein bagi masyarakat Dayak Krio dikampung Congkong Baru, Desa Krio Hulu.
Hutan atau rimba di wilayah adat kampung Congkong Baru desa Krio Hulu Kecamatan Hulu Sungai Kabupaten Ketapang masih luas namun ada sebagian sudah ada areal HPH dan keadaan kayu-kayu yang besar juga sudah mulai berkurang. Masyarakat kampung Congkong Baru sangat kompak untuk mempertahankan wilayah tanah adat mereka, sehingga sampai saat ini belum ada perusahaan perkebunan yang bisa masuk ke wilayah kampung ini.

Pase (Kuburan)
Lokasi kuburan generasi tua yang merupakan generasi pendahulu Kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu terdapat di dua tempat yaitu: satunya di Seberang kampung Nanga Bengaras, dan yang satu lagi di Gupukng Salalakng. Lokasi Pase atau kuburan yang baru ada di tengah kampung Congkong Baru, lokasi kuburan atau Pase (bahasa Krio) itu merupakan tempat pemakaman umum di kampung Congkong Baru yang mana lokasi tersebut dibagi menjadi 2 tempat yaitu yang satu lokasi Pase atau kuburan Katolik dan satunya lagi untuk Pase atau kuburan yang tidak punya agama. Lokasi Pase atau tempat kuburan itu tentu saja dilindungi dan di jaga oleh masyarakat karena merupakan bukti fisik untuk mengingat generasi pendahulu orang kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu, Kacamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.

Babas (Bekas Ladang)
Masyarakat kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu mengenal “Babas” atau lahan bekas ladang. Apabila warga atau keluarga berencana ingin meladanginya kembali, maka lahan bekas ladang itu harus diistirahatkan terlebih dahulu selama beberapa tahun. Masa jeda ini penting agar lahan tersebut cukup waktu menampung unsur hara tanah yang dibutuhkan tanaman padi pada waktu di ladangi berikutnya. Namun untuk lahan bekas ladang yang tidak akan diladangi kembali, maka segera setelah panen padi, lahan bekas ladang tersebut langsung ditanami dengan tanaman keras seperti karet, kopi tanaman buah-buahan, seperti durian, tengkawang, dll. “Babas” atau lahan bekas ladang biasa disebut juga sebagai “Babas Rimpat” sebagai salah satu bukti penguasaan lahan di kalangan masyarakat kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu.  
Masyarakat Hukum Adat kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu memiliki hubungan tata kuasa tanah, lahan berdasarkan pemilikan yang bersifat individu (keluarga) dan kolektif (komunal).

(1) Individu (keluarga)
Pemilikan atas tanah dan lahan pada masyarakat kampung Congkong Baru,desa Krio Hulu berdasarkan sistem pewarisan atau pengelolaan suatu wilayah, tanah atau lahan yang dilakukan secara turun-temurun dari garis keturunan keluarga bersangkutan. Warga atau keluarga yang membuka hutan atau lahan di kawasan tertentu untuk ladang maupun kebun yang diolah terus-menerus dapat dijadikan dasar kepemilikan tanah dan lahan bagi warga atau keluarga tersebut. Dasar klaim penguasaan tanah/lahan seperti disebutkan tadi berlaku dominan di masyarakat Congkong Baru, desa Krio Hulu.


(2) Kolektif (Komunal)
Di samping klaim penguasaan tanah/lahan secara individu dan keluarga seperti dipaparkan di atas, masyarakat kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu mempertahankan klaim penguasaan tanah/lahan secara kolektif. Orang kampung Congkong Baru mengenal istilah “Gupukng Buah” (tembawang) yang merupakan konsep sosio-historis penguasaan tanah/lahan (suatu kawasan) secara kolektif. Asal-usul “Gupukng Buah” berkaitan erat dengan penguasaan baik secara individu maupun secara kolektif

Tata Kelola Hutan dan Lahan
Masyarakat Hukum Adat kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu mengenal bentuk-bentuk tata kelola atas hutan dan lahannya yang terdiri terdiri dari 2 (dua), bentuk yakni:
(a) Pengelolaan Individu (Keluarga),
hutan, tanah dan air serta sumber daya alam menjadi tumpuan penting bagi kehidupan mereka dari generasi ke generasi. Tanah tidak saja bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki nilai religio-spiritual, ekologis dan sosial-budaya. Orang kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu mengenal bentuk-bentuk pengelolaan tanah dan lahan secara individu.
Pengelolaan individu ini secara otomatis berlanjut pada keluarga yang memiliki garis keturunan langsung dari individu yang pertama kali membuka hutan atau lahan sebagai ladang atau Lako. Oleh karena tidak dikenal adanya transaksi jual-beli tanah antar-warga di kampung Congkong baru, maka sesungguhnya dikampung ini tidak dikenal bentuk pengelolaan individu secara otonom atau murni, namun demikian pengelolaan individu mendasari hak pengelolaan oleh keluarga, meskipun siapa saja di antara anggota keluarga dapat mengelolanya asalkan yang bersangkutan berasal dari garis keturunan langsung dari individu yang mewariskan lahan atau tanah tertentu itu.
Dengan kata lain, tanah yang hutannya sudah di kelola dari hutan rimba merupakan hak dari keluarga yang merimbanya. Karena sudah menjadi haknya, maka keluarga tersebut pun dapat mewariskan ke anak cucunya. Tanah yang dapat diwariskan pada umumnya adalah tanah berupa babas atau bekas tanah yang awalnya hutan rimba dijadikan ladang oleh mereka. Ini sangat berarti bagi kelangsungan hidup anak-cucu yang mewarisinya karena memang penghidupan mereka hanya dari tanah yang mereka kelola untuk menanam padi, buah-buahan dan sayur-sayuran.

(b) Bentuk Pengelolaan Bersama/komunal
Penduduk kampung Congkong Baru, desa Krio Hulu belum ada aturan khusus tentang pengelolaan Sumber Daya Alam di wilayah adatnya, masyarakat masih bebas membuka hutan primer untuk berladang dengan cara system gilir balik, sehingga masyarakat peladang tidak juga setiap tahun membuka hutan primer, tetapi mereka akan berladang pada bawas (bekas ladang yang 5 – 8 tahun yang lalu). Warga masyarakat adat kampung Congkong Baru hanya membuka hutan adat pada wilayah kelola masing-masing. Bawas atau babas yang sudah diladangi ditanam dengan tanaman buah-buahan yang setelah puluhan tahun akan menjadi Gupukng (tembawangnya) karena di situlah tempat bertumbuhnya kayu, buah-buahan, rotan, pandan, dan lain-lain yang menjadi sumber penghidupan masyarakat secara subsistensi.
Begitulah cara orang kampung Congkong Baru desa Krio Hulu menyediakan keberlanjutan kebutuhan mereka akan sumber-sumber, daya alam baik kayu maupun non kayu untuk menjamin kehidupan masa depan generasi masyarakat kampung Congkong Baru. Tanah, hutan adat yang bagi orang Krio disebut Gupukng tersebut dikelola secara bersama/kolektif/komunal.

Tata Izin Rakyat
Mayarakat dayak Krio dikampung Congkong Baru desa Krio Hulu mengenal
praktik pertukaran (barter) barang, seperti tukar-menukar beras dengan sayur
mayur atau dengan ikan, daging, ataupun ayam dengan beras, dan sebagainya.
Praktik ini masih berlangsung hingga sekarang. Namun demikian, pertukaran ini
tidak berlaku dalam konteks penguasaan tanah/lahan.
Selain itu, tata izin yang berlaku di masyarakat juga mengenal system pinjam
lahan. Warga atau sipeminjam lahan milik warga lainnya hanya diperkenan kan
membuka ladang di lahan yang dipinjam pakai tersebut, tapi dilarang
menanaminya dengan tanaman keras.
Si peminjam wajib mengembalikan tanah dan membagi hasil panenannya kepada
sipemilik lahan. Yang paling nyata biasa terjadi dalam hubungan sipemilik kebun
karet dengan sipenoreh dimana kedua belah pihak sepakat besaran bagi hasil 7:3
yakni 7 untuk penoreh dan 3 untuk pemilik. Ini berlaku umum di antara warga
kampung Congkong baru, desa Krio Hulu. Tata izin rakyat masih bersifat
konvensional karena hanya berdasarkan kesepakatan lisan dan lebih
mengandalkan hubungan saling percaya saja.
 

Kelembagaan Adat

Nama -
Struktur Mantir Induk, Wakil Mantir/Komar Mantir Induk (Mantir Duata, Mantir Laman, Mantir Buah, dan Mantir Antu), Lawakng Agukng 3 orang, Tuha Tobus 3 orang
Masyarakat adat Congkong Baru sangat patuh dan taat kepada pemimpin kampung maupun pemimpin adat serta kalau ada persoalan adat dan perkara adat mereka mempercayakan penyelesaian persoalan baik persoalan perkara adat maupun persoalan adat, yang dihadapi kepada tokoh pimpinan adatnya seperti, Domong, Mantir Laman, Komar Mantir, Lawakng Agukng, Mantir Duata, dan Mantir Buah. Para pimpinan adat ini adalah individu-individu yang dianggap mampu memberikan peran-peran dalam menata harmoni dan kehidupan bermasyarakat, baik dalam hubungan antar-sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan duata (Tuhan). Di samping itu ada juga tokoh adat yang dipercayai menjalankan peran khusus dalam ritual-ritual adat yaitu tuha Tobus yang biasa disebut juga tukang bebiso bahibu.

Domong merupakan pimpinan adat dengan urusan perkara adat di semua kampung dan itupun bila persoalan perkara adat dikampung tersebut tidak bisa diselesaikan oleh Mantir Laman, maka harus minta Domong untuk membantu penyelesaiannya. Lalu pimpinan adat di bawah Domong adalah Mantir Laman. Pimpinan adat dibawah Mantir Laman adalah Lawakng Agukng yang menjadi pimpinan warga dalam satuan pemukiman baik rumah panjang rumah Betang maupun di kampung di mana warga berdiam di rumah-rumah yang terpsah atau rumah tunggal. Mantir Laman terdapat di setiap kampung atau tempat pemukiman penduduk. Selanjutnya adalah Jampakng yang berfungsi salah seorang dari warga masyarakat yang ditunjuk sebagai penggerak, seperti halnya dalam urusan mengorganisir kegiatan-kegiatan bersama baik di kampungmaupun pada saat bekerja di ladang terutama pada saat kerja nugal ladang atau nugal lako .

Dalam ritual adat dikenal istilah babiso yaitu ritual adat yang selain menggunakan bahan-bahan lain, juga ayam. Sedangkan betobus merupakan ritual adat selain menggunakan ayam juga memerlukan bahan-bahan perantara seperti topukng, pulut, tuak’, beras, telur, dll. Tukang babiso atau biasa disebut juga Tuha Tobus di kampung Congkong Baru atau desa Krio Hulu saat ini masih banyak yang bisa dan mampu melakukan ritual adat Babiso bahibu maupun Batobus yang di antaranya adalah pak Kacokok, pak …. pak ……dan pak ….. dan masih banyak lagi yang lainnya.
 
Dalam sebuah perkara adat, terdapat ungkapan yang mengacu pada nilai-nilai kekeluargaan ataupun persaudaraan di antara mereka yaitu seperti Contoh : Kita ni mangkukng ular cak mati tanah cak rotak, yang berarti “meskipun kita saling bersengketa, kita ini masih bersaudara sehingga perselisihan di antara kita ini harus diselesaikan dengan adat dan dalam penyelesaian perkara adat atau perselisihan antar masyarakat harus selesai di dalam perkara adat ini. Dan selama ini persoalan perselisihan ataupun perkelahian di dalam masyarakat belum pernah melibatkan aparat kepolisian.
 

Hukum Adat

A. Adat Penguasaan Tanah
Adat membuat Batas Wilayah Tanah Adat, dengan Persyaratannya adalah:
1 buah tempayan tuak
1 ekor ayam,
1 pangkat nulakng buat 16,
2 buah ancak .
2 buah ambung,
telur masak- mantak,
topukng tawar.

B. Adat Balako Bahuma
Adat Beladang.
Adat berladang yang biasa dilakukan dalam masyrakat adat Krio, yaitu dengan
cara dan persyaratan tertentu: Mencari lokasi, dengan lakau ketika melihat
serauh burung ceriak. Nyimak mangui: bunyi, mimpi, burung babuas, burung
pantis,
Peraga Adat Nyimak Mangui:
Kayu panggal 3 potong (kayu bagetah),
1 botol tuak,
1 pangkat nulakng.
Tampakng, yaitu: tebu ngkarukng, kase-sore, kaladi hitapm, susur badi, dautn hahidup, suka marimbutn.

Tahap-Tahap Kegiatan berladang, antara lain:
a. Mencari Lokasi Ladang atau Nyimak Mangui/Memeriksa Tanah.
Sebelum mulai menebas, harus memeriksa tanah dengan menggunakan alat berupa parang (bosi). Parang ditetak/dipantap ke tanah, lalu diangkat sebelah mana terdapat tanah yang melekat lebih banyak pada parang yang berarti disebelah itulah padi yang hidup lebih baik dan sebelah yang kurang tanah melekat berarti padipun kurang baik serta tanah yang melekat pada parang dicium. Kalau bau manis berarti tanah di sekitar itu baik untuk ladang (lako). Tetapi sebaliknya kalau bau busuk/buruk, tanah di sekitar itu tidak dapat dijadikan ladang. Namun demikian, jika masih nekat, peladang dapat membuat ladang di lokasi itu dengan memakai syarat dukun tanah. Dukun tanah akan membaca mantra untuk memberitahu ke Toto mame bapadah ka Duata; tanah sama diinjak, air sama mengambil (tanah sama nijak, aik sama encibuk)

b. Menebas Pertama
Pada hari pertama, masyarakat peladang bersama-sama menebas 3-5 tokap lalu beristirahat, makan dan minum. Setelah beristirahat, makan dan minum (kemantan Jumakng) mereka pulang ke rumah masing-masing. Untuk kegiatan menebas pada hari berikutnya mereka bebas menebas ladangnya: mau sekian tokap sehari, sesuai kemampuan masing-masing. Biasanya kegiatan menebas dilakukan dengan gotong-royong, yaitu kebiasaan bekerjasama menebas lahan ladang sampai selesai bagi tiap orang/keluarga yang terlibat dalam gotong-royong tersebut.

c. Nobang Lako (Lako = Ladang)
1.Nobang Kayu Lako pertama (yang biasa disebut Nikap Tobakng)
Untuk nikap tobakng syaratnya harus ada nasi pulut yang dimasak di dalam buluh. Sedikit ujung bambu dipotong lalu ditempel pada kayu yang bergetah sambil membaca mantra (toto mame): “Pungur banyak bagantukng ular bisa...” Sedangkan untuk kegiatan menebang dilakukan dengan gotong royong seperti biasa sampai selesai.
2.Nobakng Palalo
Adat Nobakng Palalo, adalah:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam.
Biasanya upacara adat nobakng palalo dilakukan di atas tampara sambung 3 tampara balakng dan tampara ke 4 dibuat balai tempat minum tuak inas/sumpit, makan perlengkapan lainnya. Ada masyarakat yang mulai menebang lalo, tetapi belum ditumbangkan. Apabila tuak yang diminum sudah tawar, maka tempayan dan perlengkapan lain diturunkan ke tanah. Barulah salah seorang menumbangkan pohon palalo tadi. Nobakng palalo, hari persiapan membakar ladang/lako yaitu pakau/pako disiapkan, sebelum ladang dibakar, diadakan upacara adat (lako dimataiik) yang harus dilakukan pemimpin nyucul dengan kepala diikat kaitn merah. Setelah menebang palalo lalu dilanjutkan dengan adat menaburkan sesajian disertai dengan membaca mantra (buakng tibar totomamenya).

d. Nyucul Lako (Membakar Ladang)
Beberapa hari sebelum membakar ladang pemilik membuat jalan (ladak) kurang lebih 2-3 meter antara ladang dengan hutan di sekitarnya. Cara ini adalah upaya pencegahan merambatnya api di luar ladang seperti di hutan belantara. Juga menyiapkan bambu yang sudah kering yang dipukul-pukul supaya pecah-pecah untuk pako (membawa api dari tempat yang satu ke tempat yang lain). Sebelum membakar ladang, perlu menyiapkan pako dari bambu mati, 1 botol tuak dan daunt sabakng.
Pada hari hendak membakar ladang, disediakan dua buah capatn untuk tempat membuat bayangan/gambar manusia, yang satu laki-laki dan yang lain perempuan yang disebut laki-bini. Lalu digantung yang dinamakan capatn berangukng yang ditanam di atas pasir dibubuh pansiukng serta kulit tengkuyukng untuk memanggil angin kutikng beliukng dilanjutkan minpe Bujakng Kajanyakng tujuh (7) meyadikng disertai dengan adat maumpatn burukng atau ngumpatn roba dengan menaburkan sesajian membacakan mantra (buakng tibar totomamenya) Tujuannya untuk memberitahukan kepada puaka, gana yang juga dikenal dengan Bujakng Kajanyakng Tujuh (7) Menydikng: “Agar menyisihkan buta jarana timpakng tungkut dengan mintak tulukng bantuk, mintak pampalkan tungul bujakng mintak gulingkan batakng dan mintak butakan api golaknya ngarare ka batakng, nyarorok ka daunt, babas balukar, kampokng buah dan tanam tujak IYANG laitn”. Setelah upacara adat selesai langsung menghidupkan api pada pako untuk membakar ladang.

e. Adat Nugal
Adat Nugal:1 pangkat nulakng ditumpa sebilah pisau dan sebontuk cincin, 1 botol tuak,1 ekor ayam dan babiso.

f. Mataiik Tanah
Harus mulah empalakng mangala untuk tempat mangala, Mangala harus datutup jongan kaitn putih lalu dabiso dahibu supaya tanah bujur lurus. Kalau tanah kacukuhan harus diadakan adat dengan babi disembelih di tengah ladang waktu pagi subuh sebelum orang datang. Patua atau tujuannya supaya ladang tidak sakit. Selain dua hal di atas, di tengah ladang ditanami susur badi, karibakng, tobu, sumarimutn, kase sore dan lainnya. Susur badi untuk nyusur takut ngamadi nganawak, karibakng untuk tali perahu, kase berawa dalam tanah, sore hulutn banyak, tobu engkarukng untuk galah, sumarimutn kegembiraan. Nyumbat habis Nugal dengan adat: 1 botol tuak, 1 ekor ayam.

g. Marumput Lako (Merumput Ladang)
Merumput ladang juga dilakukan dengan gotong royong atau ari bare. Berarti, satu kelompok yang ikut bekerjasama bergantian/bergiliran merumput dari hari pertama dan seterusnya dengan suka dan rela bersama-sama merumput ladang milik satu orang/keluarga dan diteruskan dengan orang/keluarga yang lain hingga setiap orang/keluarga peladang secara adil mendapatkan ladangnya selesai dirumput.

Sedangkan upacara adat dalam kegiatan merumput, antara lain:
1) Nyumat Biasa
Biasanya untuk nyumat biasa yang cukup dilakukan oleh pemilik ladang, dengan adatnya: 1 botol tuak,1 ekor ayam. Pemilik ladang cukup mensyaratkan ladangnya sendiri.
2) Nyumat Nangkalak
Dilakukan pada waktu merumput pertama. Adat nyumat nangkalak adalah: Membuat takalak di tengah ladang, diisi bahan persembahan, yaitu: 2 buah tempayan tuak, 2 pangkat nulakng, rante tali nyawa, topukng-pulut,1 ekor ayam.
Di tengah ladang ditanami tampaokng seperti: susur badi, karibakng, tobu, sumarimutn, kase sore dan lainnya. Susur badi untuk nyusur takut ngamadi nganawak, karibakng untuk tali perahu, kase berawa dalam tanah, sore hulutn banyak, tobu engkarukng untuk galah, sumarimutn kegembiraan oleh dukutn yang disertai toto mame. Selesai upacara, dilanjutkan dengan makan serta minum tuak.
h. Adat Nabur Aik Boras
Asapm kolat, bambu yang digoyakng patah,daunt sabakng, Daun thahidup dan mayang pinang. Batatobustakut padi kena hama penyakit (golak padi kapakngbubuk, karo hulat/ sangkolatn bakul setiap tanggal 25November)

1) Panen Padi.
Matah Hantu Matah hantu adalah adat untuk pertama kali panen padi ladang kecil (rimpat) yang sudah kuning oleh pemilik ladang sendiri. Apabila memang tidak ada tuak untuk persiapan, maka cukup dengan mengambil satu tangkai padi pulut dan satu tangkai padi biasa, lalu dipanaskan (duhuyu) di atas api untuk dicempalitkan (pusak-palek) pada setiap anggota keluarganya. Jika sudah selesai, tangkai padi tadi disisipkan pada atap rumah di atas pintu. Selesai kegiatan pertama ini, panen dimulai.

2) Maharu
Adat maharu dilakukan dengan persyaratan: 1 buah tempayan tuak dan 1 ekor ayam.
Biasanya adat maharu dilakukan apabila padi ladang besar sudah mulai kuning (masak). Dengan demikian, pihak yang bersangkutan membawa beberapa orang tetangga untuk panen padi pulut satu Narak( satu takin besar) dan padi biasa satu Narak ( satu takin besar). Padi pulut dironakng (gonseng), dan jika sudah masak dimasukkan ke dalam lesung untuk ditumbuk menjadi Bahapm (emping). Sedangkan padi biasa dijomak (dimasak, dikukus) yang setelah didinginkan, dimasukkan ke dalam lesung untuk siap ditumbuk menjadi beras yang dinamakan beras (ladang) baru. Beras baru ini dimasak dalam bambu dan apabila emping dan nasi sudah masak siap untuk disantap, Pada saat ini dilakukan upacara adat, dukun membuat sesajian dari sedikit emping, nasi baru, tuak dan sedikit daging ayam untuk babuakng batibar bagi Duata/ Gana tanah, Gana Air dan kemudian memberi makan perkakas pertanian, seperti batu asah, beliukng, kapak, parang dll yang sebelumnya memang sudah disiapkan dalam sebuah capan/nyiruk. Apabila setelah selesai upacara adat barulah orang banyak dapat makan makanan dan minuman yang ada. Apabila sudah ada bantang tiga hari tiga barulah dilanjutkan panen yang biasanya dilakukan dengan gotong royong setiap hari hingga panenan selesai.

3). Maharu Masak Matak (lako baantama): 2 buah tempayan tuak, 2 ekor ayam,
2 pangkat nulakng, golakng –baliukng, 1 ruas hahagat (paha manuk, hati,
angkalak manuk, labu, timun kalakng), 1 ruas nasi pulut, dan 1 ruas nasi
korikng.

i. Upacara adat naik Jurukng:
Padi naik ke jurung biasanya dilakukan dengan mengadakan upacara adat Mukak Jurukng. Upacaranya biasanya dilakukan dengan mengadakan prosesi adat disertai pembacaan mantra (bisohibu): “mamakng alakng tuha tobus batobus”. Upacara ini dilakukan sambil minum tuak dalam jurukng ini acara biasa dan tontik sangayukng. Maramak, mukak jurukng ada dua macam:
1.Mukak jurukng biasa yang dilakukan dengan adat 1ekor ayam, 1 botol tuak, sangkolatn.

2.Mukak Jurukng mansak dengan adat: 1 ekor ayam, 1
buah tempayan tuak, sangkolatn. -topokng - pulut, batontik (sangayukng). Biasanya “mukak jurukng masak” ini mengundang orang banyak. Maka selain adat tuan rumah juga munuh babi, mengeluarkan tuak ancur makan minum seadanya.
Melame Samangat Padi, Adat yang dilakukan secara umum, yaitu Sangkolatn Kamut setiap tanggal 20 Mei. Karena sehabis panen masyarakat memberikan sumakngan berupa beras kepada pengurus adat untuk mengadakanupacara adat penyerahan hasil bunga kepada Dayakng Putukng sebagai pemilik tanah.

KOBUN TAMPAS, BUAH PALALO
1. Kebun Karet
Karet merupakan mata pencaharian nomor dua di Mimukng, Kecamatan Sandai karena mata pencaharian yang utama adalah mengerjakan kayu belian (tabulitn). Menanam karet atau kebun getah adalah tradisi yang berlaku umum di masyarakat ini. Biasanya bibit kkaret ditanam di ladang pada musim merumput, tetapi ada juga yang ditanam pada lokasi tertentu yang memang sudah dipersiapkan untuk perkebunan karet. Perkebunan karet menurut masyarakat Suku Dayak Krio, seperti pengalaman Pak Kabul dan Pak Tampul, sebagai berikut: “Mengenai menanam getah, terutama yang ditanam adalah anaknya yang masih kecil (umur 1-1,5 tahun) lalu dibuang akar serabutnya dan akar tunggangnya dipotong sedikit pada bagian yang agak kecil (perkiraan saja); apabila sudah dibuang akarnya, barulah pokok anak getah tadi direndam di sungai atau danau kurang lebih dua minggu sampai tumbuh tunas akarnya dan daun asal mulai gugur. Tunas baru ini menentukan bibit karet siap untuk ditanam pada lokasi yang sudah disiapkan sebelumnya.
Cara Pemeliharaannya Kalau bibit karet yang ditanam di ladang, pekerjaannya dilakukan dengan membersihkan lahan pada saat selesai panen yang biasanya dengan menginjak-injakkan kaki pada tumbuhan yang ada disekeliling pohon karet dan penyiangan berikutnya setelah 3–6 bulan berikutnya, itupun tidak boleh dekat dengan pucuk karet. Yang ditebang hanyalah pokok pohon yang melindungi karet saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari daun karet jangan sampai dimakan binatang, seperti rusa atau kijang.
Sedangkan umur karet, jika lokasinya subur baru dapat disadap jika umurnya antara 8 sampai 10 tahun. Sedangkan luas kebun karet biasanya antara 2 sampai dengan 5 hektar.

2. Kobutn Durin ( Durian, Pekawai, Terotokng, Tamaranang)
Mengenai berkebun durian, sebenarnya belum pernah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Masalahnya banyak pohon durian tumbuh alami di hutan. Biasanya untuk pembibitan durian diambil dari bijinya, karena untuk mencari bibit yang baik dapat dipilih dari buah yang bagus, yakni sudah masak dan dagingnya tebal. Penanaman durian ini hanya dilakukan pada musim tertentu sesuai dengan musim durian berbuah saja. Kebiasaan biji durian ditanam pada sekitar tempat pemukiman saja, tetapi ada juga yang ditanam di ladang dengan jarak antara sekitar 3-5 meter, yaitu ditanam di sela-sela tumbuhan hutan.
Kebiasaan masyarakat dayak krio ketika buah-buahan mulai berbunga diadakan upacara adat tadah buah dengan tujuan agar buah yang akan dihasilkan dari bunga menjadi buah yang baik.
Setelah buah-buahan hampir habis diadakan lagi upacara Mulakng Buah. Acara tersebut adalah sebagai ucapan syukur telah dilimpahi buah yang banyak serta sebagai tolak bala.

Adapun adat kedua upacara tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tadah Buah:
tatobus samaroga 7, polas buah ( babantatn):
1 ekor kuduk,
1 ekor ayam,
7 buah tempayan tuak,
nulakng ditumpa 7 biji telur ayam,
10 poku adat,
baliukng dan golakng,
mangkuk posampu,
6 buah ancak ,
1 buah capatn,
tontik sangayukng, gamal, bolitn barayah(sikuk sigik)

b. Mulakng Buah:
5 buah tempayan tuak,
kulit buah dilayahkan bersama rakit(garukng) yang isinya:
1 ekor anak ayam,
galah – pangayuh,
api tanyuh dari damar,
isi upih
Topas Laman
Samaroga 7: bolitn laman.

Cara pemeliharaannya :
Pemeliharaan pohon durian biasanya dilakukan dua kali yaitu dengan penyiangan lahan sekitar pohon saat berumur sekitar antara 3-6 bulan dan ketika pohon durian mulai berbuah antara 9–10 tahun.

c. Nyano (Memungut Buah)
Apabila buah durian jatuh, yang berarti sudah masak boleh dipungut siapapun. Buah durian yang sudah masak tidak boleh dipungut dengan dipanjat selain dilakukan oleh pemiliknya sendiri. Pada jaman dahulu setiap orang yang memanjat buah harus memberi mantir.

3. Kobutn Enkabakng (Kebun Tengakwang)
Seperti halnya tanaman durian, kebun tengkawang belum/tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, banyak pohon tengkawang hidup alami di dalam hutan. Biasanya untuk pembibitan tengkawang diambil dari bijinya, karena untuk mencari bibit yang baik dapat dipilih dari buah yang bagus, dan sudah masak. Penanaman tengkawang ini hanya dilakukan pada musim tertentu sesuai dengan musim tengkawang berbuah saja. Kebiasaan biji tengkawang ditanam pada sekitar tempat pemukiman saja, tetapi ada juga yang ditanam ditengah ladang dengan jarak antara 3-5 meter, yaitu ditanam di sela-sela tumbuhan hutan lain.

Cara pemeliharaannya
Pemeliharaan pokok tengkawang dilakukan penyiangannya antara 3-6 bulan dan pokok tengkawang mulai berbuah antara 10–12 tahun.

4. Kobutn Kopi
Untuk membuat kebun kopi, biasanya harus disiapkan lahannya terlebih dahulu. Yang cocok untuk lokasi kebun kopi adalah dataran rendah, karena tanahnya dingin banyak mengandung air dan apabila lahannya sudah siap barulah mencari bibit dari anak kopi yang bagus, daun mudanya masih kuncup yang umurnya 3– bulan dan ditanam dengan jarak antara 2-3 meter dengan batangnya agak condong.
Cara Pemeliharaannya Kebun kopi perlu pemeliharaan baik dan rutin, tanpa ada jarak waktu, Sedangkan umur pohon kopi dari penanaman sampai berbuah diperkirakan antara 3-4 tahun.
Musuh kopi akan terjadi pada musim buah sedang masak karena isi buahnya rasa manis. Tandan buahnya dipotong oleh binatang sejenis tupai, dimakan musang dan binatang lainnya.

5. Kobutn Damar
Jenis kayunya adalah Banuah/Bengkirai, majak/ Meranti putih. Mengambil hasilnya setahun sekali, alat yang digunakan adalah kalokor, takitn, beliukng dan 2 buah ambukng.

6.Kobutn Uwi (Rotan)
Bibit diambil dari anaknya dan mengambil hasilnya 10 tahun sekali.

7. Kobutn Pisang
Untuk membuat kebun pisang biasanya memilih lahan pada lokasi dataran rendah yang banyak mengandung air, seperti tanjung atau pinggir sungai yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Bibit pisang yang baik adalah bibit dari pokok pohon pisang (bungkung/kulaknya), Jenis pisang yang biasa ditanam antara lain pisang emas, pisang rotan, pisang nipah, dan pisang raya. Begitu bibit diambil langsung ditanamkan pada lahan yang sudah disediakan tadi dengan jarah antara 3– 4 meter.

Cara Pemeliharaannya
Kebun pisang perlu pemeliharaan baik dan rutin, tanpa ada jarak waktu, sedangkan umur pohon pisang dari penanaman sampai berbuah diperkirakan antara 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Musuhannya Kebun pohon pisang biasanya harus dipagar karena batangnya dapat dimakan babi atau binatang lainl serta buahnya jika sudah masak dimakan tupai dan berbagai jenis burung.

Mengabil Hasil Sumber Daya Alam
1. Nuba
Nuba adalah kebiasaan mencari ikan di sungai dengan tanaman tuba. Dipercaya ada nuba adat yang dipimpin oleh seorang pahawakng/kepala tuba,dengan bahan sebagai berikut:
1. 1 buah tempayan tuak,
2. 1 ekor ayam,
3. ancak ambokng secukupnya,
4. telur ayam masak-mantak.

Tujuan nuba adat adalah untuk nuba kapakng bubuk, karo, hulat, dan penyakit pemodih. Kebiasaan nuba menurut masyarakat adat Krio ada syarat syaratnya, misalnya sebelum nuba harus melakukan dibantatn dengan mencampurkan bahan sesajiannya berupa telur, tuak dan nasi. Bantatn ini dilakukan dengan membaca mantera oleh seorang Tukang Mantera.
Saat pelaksanaan nuba, setelah melabuhkan air tuba, maka tukang mantera yang pertama mengambil satu ekor ikan lalu dipotong dua bagian. Bagian yang satu dibuang ke darat dan bagian yang lain dibuang ke air dengan disertai dengan membaca mantera dan setelah itu barulah orang banyak ramai-ramai menangkap ikan yang sudah timbul akibat keracunan air tuba tadi.


2. Mengambil Madu (Muar Nyampu)
Masyarakat adat Krio bersahabat dan sangat mencintai alam karena mereka sungguh menyadari kehidupan mereka sangat bergantung pada alam di sekitarnya. Kita mengetahui bahwa hidup dan matinya masyarakat adat ditentukan oleh keadaan alam di lingkungannya, maka apabila mereka mau mengambil hasil alam harus minta kepada Pulang Gana penunggu dan penjaga alam tersebut. Hal mengambil madu lebah alam (muanyik), masyarakat adat ini serat dengan berbagai ketentuan atau persyaratan, terutama larangan-larangan yang berhubungan dengan perilaku dan perbuatan sehari-hari;

Cara Mengambil Madu
Cara Mengambil Madu Lebah Sebelum mengambil madu, terlebih dahulu mengerjakan atau melengkapi bahan, seperti mencari tangur dan tebauk, membuat bagan/pondok, membuat jatak.
Bahan untuk kayu tangur harus dipilih jenis kayu yang liat dan ringan dengan panjang 5-7 meter. Untuk bahan jatak harus dipilih Bambu Pering, alat untuk nyatak Catuk dan Pahat.
Apabila semua bahan sudah dipersiapkan barulah beberapa orang mulai nampun jatak lalu mengikat tangur hingga sampai ujung yang perlu. Sedangkan dahan lalau/tapakng dibuat pasak terobakng supaya dapat mengambil madu lebah yang dimaksud. Bila semua jatak sudah dipasang, maka salah seorang turun mengambil taronung dan yang lain membawa tebauk yang dibuat dari akar yang sudah dikeringkan serta koret api. Kepala rombongan naik pertama dengan membawa katutikng api sambil mengucapkan mantra-mantra, lalu melemparkan katutikng api tadi yang disertai dengan kata-kata.
Selesai mengucapkan mantra barulah mereka naik jatak sambil barayah. Setelah semua peserta tiba dekat sarang lebah, maka kepala rombongan yang paling atas mulai membubus dan kemudian disusul mereka yang menunggu di bawah. Saat semua pekerjaan selesai, mereka bersama-sama turun dengan membawa madu dan anak lebah

E. BERTERNAK
1. Ternak Babi Memelihara babi di kampung harus dikandang, tetapi dilepaskan
kalau memelihara babi di parion. Umpan babi adalah ubi, sokapm, salimpat,
batakng pisakng dan aik gogo. Kegunaannya adalah untuk lauk, untuk adat.

2. Beternak Ayam/Manuk Teknis harus ada kandang/robatn Kegunaannya adalah
untuk lauk, untuk adat. Makanannya adalah padi, boras, ubi, jagukng, dll.
Masa produksinya 6 bulan.

3. Beternak Kuduk/ Anjing
Makanannya adalah nasi, ubi. Pemeliharaannya dilepas.
Kegunaannya adalah untuk berburu mencari binatang liar dihutan, untuk adat mati dan adat hidup.

F. MENANGKAP BINATANG .
1. Baburu (Berburu) Pesertanya 3 sampai 10 orang atau lebih. Tempat tertentu
yang diyakini ada binatangnya. Melepaskan Kuduk atau anjing. Ada orang
penyuruh rampak. Ada orang penghipak/penungguk.

2. Ngudu’ Peserta 2 sampai 3 orang.Tempat tertentu yang diyakini ada
binatangnya. Orang cukup melepaskan Kuduk.
3. Mongkal Nanyuuk
Peserta 2 orang atau lebih. Tempat tertentu di daerah lain yg diyakini ada binatangnya. Bermalam 2 sampai beberapa hari. Bagoyap Biasanya dilakukan oleh satu orang. Tempat terten tu/buah pohon tertentu.
Cara Pembagian Daging Binatang Hasil Buruan Biasanya dalam pembagian daging hasil tangkapan semua peserta mendapat bagian yang sama, tetapi beberapa orang yang mendapat bagian lebih sesuai dengan jasanya, sbb:

a. Pembagian Hasil Berburu Penyuruk rampak mendapat 2 bagian/2 porsi tuan
Kuduk mendapat 2 bagian/ 2 porsi. Penungguk mendapat 2
b. Ngudu’
Sama dengan bagian berburu orang berburu kecuali jika mendapat ular
maka penembak mendapat 1 saota dan 1 bagian.

c. Mongkal
Sama dengan bagian orang yang berburu.

d. Bagoyap atau Ngimpak Buah
Orang bagoyap mendapat 2 buah paha, kepala dan 1 bagian. Sedangkan orang
Lama

ADA GAE (GAWAI ADAT):
1. Gawai Meruba
Bosi Kolikng Tungkat Rakyat dipercayai oleh banyak suku, terutama Suku Dayak. Setiap tahun banyak masyarakat yang berajat- beniat ke Bosi Kolikng Tungkat Rakyat untuk minta keselamatan, minta kekuatan, minta kesembuhan dari sakit, minta kekayaan, minta berladang mendapat hasil yang berlimpah ruah dsb. Untuk itulah masyarakat setiap tahun mengadakan mulang ajat/mulang niat yang lebih dikenal dengan istilah Suku dayak Krio dengan sebutan “Mahuba”.
Bagi pihak yang memegang Bosi Kolikng Tungkat Rakyat bisa tahu akan pedoman(cuaca) dengan meraba piring pedoman yang ada bersama Bosi Kolikng Tungkat Rakyat, apabila piring tersebut kering (tanpa air) berarti menandakan pada bulan itu sedang musim kemarau dan sebaliknya apabila pada saat meraba piring itu terdapat air berarti pada bulan itu musim hujan. Bosi Kolikng Tungkat Rakyat tersebut di atas harus selalu diminyak, tetapi tidak boleh dilihat dengan mata dan bila dilihat dengan mata maka mata orang yang melihat menjadi buta hal ini mungkin berkaitan dengan cerita pada waktu Batakng Kolikng mencari Bosi pada waktu malam gelap gilita ditengah hutan dengan tanpa api.
Hari perayaan yang selalu dilakukan oleh Kerajaan Hulu Aik adalah pesta Upacara Mahuba yang ditetapkan setiap tanggal 6 bulan Juni dan pada tahun 2000, pesta upacara mahuba ditetapkan setiap tanggal 25 bulan Juni dengan tujuannya orang banyak ataupun orang kampung mulang ajat/niat atas terkabulnya permintaan yang dilakukan pada waktu (sepanjang tahun) sebelumnya, seperti minta niat orang kampung bebas dari penyakit, orang sakit dapat sembuh kembali, orang selamat dalam perjalanan, orang berladang dapat padi banyak dsb.

2. Gawai Nyumat;
Gae Nyumat biasanya dilakukan pada musim ngamongakng, supaya dapat ngonikng, ngopuk, ngajak, nikar, mahui-mahunak, Manama, babahatn batibak, adapun adatnya:
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
1 ruas nasi korikng dan 1 ruas nasi pulut,
1 pangkat nulakng.

Setelah dikeluarkan adat tadi maka dilakukan sangkolatn palit oleh pahawakng/dukutn.

3. Gawai Nyangkolatn Poti.
Gae kolatn poti biasanya dilakukan pada musim merumput ladang, tujuannya untuk membuang sampar samparatn, baro bahut, adapun adatnya:
ï‚§ 5 matak,
ï‚§ 5 buah tempayan tuak,
ï‚§ 4 ekor ayam,
ï‚§ 1 ekor Kuduk,
 tobus turus tompa nasi’.
 Patukng pangu’,
ï‚§ Topukng tawar,
ï‚§ mamali,
 masa’ - mata’,
ï‚§ ronakng,
 nasi’ colap-habu colap,
ï‚§ sanga,
ï‚§ mata kase,
ï‚§ gigi garapm,
 tulakng bila’,
ï‚§ 5 pangkat nulakng,
ï‚§ tatabar,
ï‚§ kumpakng,
 plai’ik, empahukng,
ï‚§upih pinang,
ï‚§kepala kuduk,
ï‚§porut manuk dan bulunya,
ï‚§Capatn,
ï‚§bakul panyamangat,
tongang sangkuba’,
ï‚§lantikng garukng pancala,
lante munti’ bulat,
ï‚§lante palontar hatap,
ï‚§kajakng,
sasa’ buluh,
4 buah anca’,
ï‚§1 buah capatn,
pisu’,
ï‚§cincitn,
tupakng panu’.
ï‚§parumpas padi.
rara’,

4. Gawai Ngamaru
Gwai ngamaru atau maharu ini biasanya dilakukan pada awal padi baru/ padi muda’, adatnya:
1 buahtempayan tuak,
1 ekor ayam
2 pangkat nulakng( 1 pangkat boras korikng dan 1 pangkat boras pulut),
1 golakng – baliukng,
hahangatan seruas korikng dan seruas pulut.

5. Gawai Maramak;
Gae maramak dilakukan setelah ngotapm padi baharu yang dimasukkan ke
dalam jurukng dan kemudian diambil untuk dijemur yang kemudian dipakai
untuk konsumsi, adatnya: Sikuk-sigik.

6. Gawai Sengkolatn Kamut;
Gae sengkolatn kamut biasanya dilakukan setelah selesai panen padi dengan
tujuan membayar adat tanah, bunga tahutn kepada penguasanya. 
A.Adat Mencari Lokasi Rumah Dan Adat Menempati Rumah Baru
Masyarakat adat Suku Dayak Krio di kampung atau laman Congkukng Baru memerlukan rumah sebagai tempat tinggal, tempat berteduh, tempat berkumpul dan tempat membina serta mendidik anak-anak, dan sebagainya. Mengingat rumah merupakan tempat yang paling utama bagi mereka, dan demi kesejahteraan dan keselamatan yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Adat Mendirikan Rumah
Adapun adat yang harus dikeluarkan oleh pihak yang bersangkutan: -topukng tawar,
1 ekor ayam untuk nyangkolatn tanah,
1 buah buah tempayan tuak,
sepangkat nulakng ditumpa satu buah paha ayam.

Untuk mendirikan sebuah rumah perlu kiranya mengikuti adat-istiadat yang berlaku, yaitu:
a. Untuk mencari lokasi rumah harus mengambil seorang dukun supaya dapat
menunjukkan tempat yang bagus dan sebelum dukun datang, maka pihak yang
akan mendirikan rumah tadi harus menggambarkan lokasi rumahnya dan
biasanya dukun dapat mencari arahnya.
b. Apabila lokasi dan arahnya sudah cocok barulah menggali lubang tiang, kalau
luang tiang sudah siap untuk dimasuki tiang, maka terlebih dahulu dibubuhi
1 batang paku, 1 biji keminting, beras selaki bini (sejomput), garam, air tuak
dan tiangnya dipurusi dengan topukng tawar barulah dimasukkan kedalam
lubang yang sudah disiapkan tadi.

c. Biasanya setelah memanamkan tiang rumah dan lain sebagainya pada sore
harinya baru makan dan minum tuak bersama-sama, sedangkan untuk
penyelesaian rumah selanjutnya hanya dikerjakan seperti biasa saja.

2. Adat Pindah Rumah/Naik Rumah Baru Adat pindah rumah dilakukan dengan
persyaratan sebagai berikut: 1 pangkat nulakng, 1 ekor ayam, 1 buah tempayan
tuak, 1 bontuk cincin, 1 bilah pisau/parang.
Apabila tuan rumah sudah menyiapkan adat dan dukunnyapun sudah hadir
maka dukun babiso rumah untuk memburu roh jahat supaya tidak
mengganggu orang yang menempati rumah itu.

3.Adat Naik Rumah Baru (Kopal Buakng)
Untuk naik rumah baru lalu disertai dengan Babiso (dopur) adatnya sebagai berikut: 3 buah tempayan tuak, 2 ekor ayam, 3 pangkat nulakng, 1 bilah pisau/parang,1 bontuk cincin.
Untuk naik rumah baru lalu disertai dengan tingkatan “samaroga” (mahubas) sebagai berikut: Sikuk sigik, Samaroga tiga, Samaroga lima, Samaroga tujuh(terbesar). 4. Adat Mahubas. Mahubas ada dua macam, yaitu:
Mahubas Bait/ biasa: 5 buah tempayan tuak, 4 ekor ayam, 1ekor Kuduk, 5 pangkat nulakng, tobu tatampakng, tobu engkarukng, kaladi hitapm, sore, kase, daunt patah kamudi/ sukamarumutn, susur badi dan bahan khusus dari dukun.
Mahubas Jahat, misalnya rumah dimasuki burukng tuha, dimasuki Kuduk/kudu’ kawin maka Kuduk kawin itulah yang dibunuh untuk adatnya.
Apabila tuan rumah sudah menyiapkan adat dan dukunnyapun sudah hadir, maka dukun babiso rumah untuk memburu roh jahat supaya tidak mengganggu orang yang menempati rumah itu.
Menaik Rumah masak Untuk duduk gae dengan adatnya sikuk sigik (1 buah tempayan tuak tajo,1 ekor ayam) kegunaannya adalah untuk mengumpul orang banyak. Adat gae, sebagai berikut: - Bapapah/ baokol, - 7 buah tempayan tuak, - 6 ekor ayam, - 1ekor Kuduk, - 1 ekor babi ( harus dipotong di atas popah), - 7 pangkat nulakng, - 1 buah gelang, - 1 bilah beliukng, - selasa rante tali nyawa, - ngarikng tongang tambe,
- titik umpatn jalipatn.
Namun harus ada upacara Babiso
ADAT – ISTIADAT DAN HUKUM ADAT:
a.Adat Perkawinan
1. Minta Noda (nyatu’ Bobatn)
Setelah seorang pemuda mengenal seorang gadis, ia mencari dua orang perantara/penghubung untuk minta dengan sebuah gelang perak dan sehelai kaitn batik. Dua perantara tadi datang ke rumah orang tua gadis yang dimaksud untuk menyampaikan barang berupa sebuah gelang dan sehelai kaitn batik. Jika barang diterima lalu perantara diberi minum tuak sebagai tanda setuju atau lamaran dari pihak laki-laki diterima oleh pihak perempuan, yang selanjutnya orang tua perempuan datang ke rumah orang tua laki-laki untuk bermusyawarah dalam menentukan tindakan berikutnya, yaitu pertunangan.
2. Tunangan
Tunangan adalah menerangkan barang (hantaran) silaki–laki yang diberikan kepada perempuan kepada khalayak ramai bahwa si A (bujang) dan si B (dara) ini sudah ada calon pasangan hidupnya. Adapun adat tunangan, sebagai berikut:
16 poku Adat,
Sebuah gelang,
Sehelai kaitn batik,
2 pangkat Nulakng,
2 buah tempayan Tuak,
2 ekor Ayam,
Semua adat tersebut di atas diletakkan dihadapan para Tetua Laman, untuk menyaksikannya dan perlu dibicarakan siapa tahu ada barang berupa photo, pakaian dan sebagainya dari pihak lain; kalau calon pengantin laki-laki tadi dari ceweknya dan kalau dari calon pengantin perempuan tadi dari cowoknya Apabila ada barang dari pihak lain supaya dipulangkan kepihak yang bersangkutan atau diterangkan dihadapan orang banyak agar semua orang tahu, hal ini dilakukan supaya dikemudian hari tidak ada persoalan lagi bagi kedua calon pengantin yang bersangkutan. Lamanya masa pertunangan pada umumnya 3 bulan kemudian kedua belah pihak bermusyawarah untuk menentukan waktu napuk belabuh (bikin tuak) dan milih hariyang baik untuk pelaksanaan pesta perkawinanserta menentukan hari untuk mengundang orang banyak untuk menghadiri pesta perkawinan.

Tunangan ada 3 tingkat, yaitu:
1.Tunangan seperti biasa,
2.Tunangan piagapm, yaitu tunangan dalam Kandungan
(kalau perempuan jadi isteri dan kalau laki-laki jadi saudara),
3.Tunangan sopit, yaitu: hari itu tunangan, hari itu juga sunatan dan langsung perkawinan.

Jenis Perkawinan:
Mengenai adat istiadat dan budaya masyarakat setempat bahwa perkawinan
dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan perekonomian para pihak yang
terdiri dari beberapa jenis:

1. Tak Pajadi Ka Iyang Banyak
Dalam perkawinan yang disebut Tak Pajadi ka Iyang Banyak, karena
keluarga kedua pihak calon pengantin ekonominya kurang mampu, maka
adatnya sebagai berikut:
1 pangkat nulakng perjanjian
2 pangkat nulakng sangkolatn ( 1 dari perempuan dan 1 dari laki-laki),
6 buah tempayan tuak ( 3 laki-laki dan 3 perempuan),
7 ekor ayam( 4 dari perempuan dan 3 dari laki-laki),
8 helai kaitn pasalitn,
3 pangkat nulakng ( 1 dari perempuan dan 2 dari laki - laki),
1 ekor babi ( dari laki-laki),
1 buah tempayan Tajo harga tubuh.

Minta kawinkan orang banyak, maka pihak yang bersangkutan ngomong minta diratakan dengan orang banyak. Kata Orang tua pihak mempelai: “ntak pajadi pasuntukng tak gae kan jadi kamuhkan suntukng anak kita auk bagah jongan iyang nan tak pajadi ngan iyang banyak. Kalok pajadi banyak, kita bilakng tiapnya si memang caknya kita ba ukupm soyakng ba adat sikuk ak kita bilakng tiap tapi numuuk nya numuuk kapalak desa jongan mantir adat”.

2. Mintak Pajadi Ka’ Mantir
Tak pajadi ka Mantir artinya pihak yang bersankutan minta belas kasihan, minta
cari kawan tambah, minta cari pasangan hidup kepada Mantir. Pajadi mantir
adalah pasangan yang dijodohkan oleh mantir dengan istilah kayu saborakng
paut saborakng, Adatnya sebagai berikut:
6 buah tempayan tuak pajadi ( 3 buah laki-laki dan 3 buah perempuan)
16 poku buat ba’agah,
6 ekor ayam ( 3 laki-laki dan 3 perempuan),
1 ekor babi dari laki-laki,
8 lasa pasalitn,
16 poku panaitn (kalau masih murni),
8 helai kaitn pesalin (kalau masih murni), yaitu: 1 helai untuk pasalin kakek-nenek(jika masih hidup),1 helai untuk pasalin ipar tua (jika ada), 3 helai untuk isteri dan 3 helai untuk pasalin mertua,
1 buah tempayan Tajo untuk penampak,
1 buah mangkuk pajanji,
4 pangkat nulakng pajadi ( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan ), setiap pangkat ditumpa paha ayam.

Untuk Sangkolatn adatnya:
1 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
1 bilah pisau,
1 ekor ayam,
1buah tempayan tuak

3. Pajadi Mantir
Dalam perkawinan yang disebut pajadi Mantir dengan adat sebagaiberikut:
4 ekor ayam ( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan),
16 poku buat ba’agah,
4 buah tempayan tuak( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan),
2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
2 helai kaitn pasalin.

3.Bajadi Banyak (Perkawinan Orang Banyak)
Adat perkawinan orang banyak, sebagai berikut:
Pihak laki-laki:
4 buah tempayan tuak,
3 ekor ayam,
1 ekor babi,
2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam. Minta Suruhun narik runtut ba adat bahukupm, pasalitnronatn buntat, dengan dengan :
8 Lasa adat Pasalitn,
8 Poku mangkuk adat palokak golakng,
1 buah tempayan Tajo roga tubuh,
8 poku buat paloka’ golakng,
16 poku buat penait.
Pihak Perempuan:
4 buah tempayan tuak,
2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
4 ekor ayam,
1 buah tuak untuk meletak perjanjian. Adat untuk membunyikan gamal harus ada:
1 ekor ayam,
topukng tawar sekadarnya.

Adat ini digunakan untuk nyangkolatn ogokng gamal, golak pocah bolah. Nulakng sapangkat, untuk ngangkat sutaragi milik orang penari memeriahkan pesta perkawinan. Adat Sangkolatn:
1 buah tuak,
1 ekor ayam,
1 bilah pisau,
1 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
1 buah cawatn darah ayam diisi daun sirih dan beras,
Susu’ sangkolatn cincin permata,
Mangkuk perjanji di isi beras.
Setelah adatnya disiapkan barulah tukakng perjanji mengucapkan perjanji “Sidak bujakng - dara bajadi basuntukng”.

5. Adat Perkawinan Ditunda (Burukng bangke)
Perkawinan ditunda karena ada kematian seseorang dari salah satu dari pihak keluarga:
Babiso bahibu yang disebut madapm burukng,
1 buah tempayatn tuak,
1 ekor ayam,
16 buat rante.

Hubungan Perkawinan Menurut Adat:
1.Saudara tidak boleh kawin dengan anak saudaranya dan sepupu sumbakng duata, jika terjadi hukumannya lantikng pisakng bubu laras artinya kedua mempelai diikat pada lantikng batakng pisakng lalu dihanyutkan ke Sunge.
2.Anak saudara laki-laki boleh kawin dengan anak saudara laki-laki( misalnya Dua orang bersaudara A dan B sama laki-laki. Kemudian A kawin mendapat anak laki-laki diberi nama G dan demikian juga B kawin mendapat anak perempuan diberi nama H, maka G boleh kawin dengan H).
3.Anak saudari perempuan boleh kawin dengan anak saudari perempuannya( misalnya Dua orang bersaudara C dan D sama laki-laki. Kemudian C kawin mendapat anak laki-laki diberi nama F dan demikian juga D kawin mendapat anak perempuan diberi nama L, maka F boleh kawin dengan L).
4.Anak saudara laki-laki tidak boleh kawin dengan anak saudara perempuan, jika terjadi harus babale topas laman.

Hubungan Perkawinan Menurut Gereja:
1.Anak dengan anak (saudara kandung) tidak boleh kawin,Sepupu pertama tidak boleh,
2.Anak saudara tidak boleh,
3.Sepupu 2 x boleh kawin tetapi bersyarat,
4.Cucu dengan Iyut boleh kawin tetapi bersyarat,
5.Cucu dengan Cicit boleh kawin tetapi bersyarat,
6.Cucu dengan buyut boleh kawin tetapi bersyarat,
Hubungan garis lurus( horizontal dan vertical) tidak boleh kawin.

b. Adat Melahirkan :
1. Adat Kehamilan ( Makatn Ansapm)
Adat makatn Ansapm adalah:
2 buah tempayan tuak( I untuk perjanjian dan I untuk sangkolatn),
2 ekor ayam,
1 buah piring tempat ansapm,
1 bilah parang,
8 poku buat samatu ansapm.
Apabila hamil sebelum nikah, maka dikenai hokum adat (lihat di bab
hukum adat).

2. Adat Melahirkan (Mahagar) Adat mahagar adalah:
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam.

3. Adat Memberi Nama Bayi (adat muyas)
Adat muyas atau memberi nama bayi adalah:
a. Adat Muyas biasa:
2 buah tempayan tuak,
2 ekor ayam,
16 buat,
1 kabukng kaitn,
1 bilah parang,
pangkat nulakng ditumpa 1 buah paha ayam.

b. Adat Muyas Sangkulakng Tali maupun Turutn tangga:
2 buat tempayan tuak,
2 ekor ayam,
1 ekor babi,
16 buat,
1 kabukng kaitn,
1 bilah parang,
1 pangkat nulakng ditumpa 1 buah paha babi, 1 buah paha ayam.

c. Adat Mengangkat Anak
Adat Pengtangkatan Anak
1. Pengangkatan anak kecil:
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
16 buat,
1 pangkat nulakng,
1 helai kaitn,
2. Pengangkatan orang dewasa:
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
16 buat,
1 pangkat buat nulakng,
1 buah tempayatn atau 4 ingkeq pingatn.
3. Bolitn Kampukng/Porut Ngamiq Uyud Bolitn porut ngamiq uyud pada waktu muyas nyurukng adatnya:
1 buah tuak,
1 ekor ayam,
1 ekor babi,
buat selawi.
Maksud dan tujuan pengangkatan anak sesuai dengan tingkatannya adalah:
a.membuat hubungan keluarga, karena anak tersebut sering sakit-sakitan, maka ada mimpi menunjukkan orang tua angkatnya ( lewat sendiri atau orang lain),
b.karena anak tersebut sudah tidak punya orang tua,
c.orang tua yang mengangkatnya tidak punya anak,
d.karena tertarik akan harta kekayaan atau pangkat dari sang anak angkat tersebut,
e.karena anaknya sendiri meninggal dunia, maka mertua mengangkat menantu untuk mengganti anaknya atau sebagai ganti silih,
f.mengangkat anak orang lain sebagai ganti silih karena salah satu anaknya meninggal dunia,
g.karena orang tua angkat memiliki suatu kelebihan( harta dsb).

D. ADAT BASUNAT
Adat Sunat Batapas Mansak yang biasa dilakukan sebagai berikut:
babiso bahibu,
1 ekor ayam,
2 buah tempayan tuak(sabuah pangonak sopit,
kaitn sakabukng untuk tungko bajalatn,
1 buah lunyu untuk tungkat bajalatn,
1 buah hapangkng/ mando untuk ditangkitn bajalan,
buat 16 (rante),
1 pangkat nulakng.
Kalau sopit sudah lepas dari kemalu untuk pamangkas cile adatnya sebagai berikut:
1 ekor ayam,
1 buah tempayan tuak,
buat 16 (rante).
Bagi pihak yang mau disunat harus di sangkolatn dengan darah ayam sebelum disunat.

d. ADAT PERCERAIAN
Adat Perceraian Karena Habis Jodoh karoma, sebagai berikut:
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
2 x 16 atau buat selawi.
Bagi pihak yang membawa cerai tidak mendapat bagian harta kekayaan.

E. Adat Kematian
Bila orang yang meninggal dunia adalah orang dewasa setelah ia narik nafas
terakhir, maka orang melihat harus membunyikan ketawak tanda pemutus
nyawa sebanyak 3 kali, pukulan yang ke tiga agak lamban, selanjutnya
badannya harus dibersihkan lalu diberi pakaian (celana, baju dan sebagainya
yang rapi) dan kemudian pengurus adat bapomang (membaca mantra) atau
babait-bajahat baru dilanjutkan dengan menguraikan silsilah/tintikng purih
mulai dari kakek-nenek, bapak-ibu sampai pada orang yang meninggal dunia
tadi; untuk itu keluarga yang berduka mengeluarkan adat sebuah pingatn,
mangkuk dan sebilah parang yang dinamakan adat Pangarangatn.
Pada waktu menguraikan silsilah yang akhirnya menyebutkan nama orang yang meninggal dunia, maka adat tadi dipecahkan dengan parang tadi dan jenazah diangkatkan ketengah rumah, diletakkan membujur tulang bubukng, besi adat tadi diletak membujur tulang belakang jenazah, kepala menuju ke dapur dan kaki menuju ke pintu depan baru badan disaput balut, wajah tidak ditutup, mata ditutupi dengan uang logam rupiah/suku, mulut ditutup dengan uang ringgit.
Kalau meninggal dunia sore hari atau malam, maka penguburannya harus hari besoknya, membuat pamonut pakai rotan 5 atau 7; 5 artinya juaratn 5 hari dan tujuh artinya juaratn 7 hari(juaratn artinya pantangan), pameo lalat 5 atau 7 helai lalu digantungkan di atas dada – kaki jenazah lalu diikatkan ke lantai yang artinya kalau 5 helai bantang juaratnnya 5 hari atau 7 helai= pamonut bilak buluh dan kapuak, membuat yang membuat papote adalah perempuan tua yang sudah tidak beranak lagi atau sudah janda. Setelah bantang juaratnnya 7 hari baru dilanjutkan dengan musyawarah-mufakatmengenai upacara Penguburan (pahapm pokat dakarintu, batipak balabuh) kalau berbukung 5, maka disediakan 15 helai kaitn panjang dan tuak lauknya.
Adat penguburan seekor babi dan seekor ayam untuk menyengkolatn kayu yang dipakai untuk lancankng/petimati sebuah tempayan tuak dan se ekor ayam untuk papote, 2 buah tempayan tuak untuk parantu(penguburan) untuk , tiga buah tempayan tuak dan se ekor ayam untuk parapat, empat buah tuak untuk cukaak. Jadi Penguburan biasa adatnya 4 buah tempayan tuak, se ekor babi dan 3 ekor ayam. Kalau orang yang meninggal dunia sore hari atai malam keluarga duka harus mengeluarkan sebuah tuak dan nasi pulut yang disebut rompah dan kakocok.

5.Adat menggali lubang kuburan:
Seekor Kuduk (anjing) untuk pengiring jalan, seekor ayam, rompah secukupnya dan parang sebilah. Apabila sudah menggali lubang barulah ada orang yang diutuskan ke rumah dengan membawa kayu jenis buah untuk memikul jenazah(tampiur).
Turun ke kuburan:
Kaki, ada ayam pengobat kaki,
Kepala rante, tali donatan,
Rotan sekaratn di pucuk lancakng,
semua keluarga duka memegang Mujuk rotan, rotan dipotong baru lancang diberangkatkan yang artinya dipisahkan antara orang yang masih hidup dengan orang yan meninggal dunia. Ditanah ada ruas nasi namanya nasi palopas, dimasak ditengah haLaman rumah disilakngkan; orang yang masak nasi adalah orang yang membuat papote . lalu lancakng tadi berkeliling 3, 5 atau 7 kali lalu semua keluarga duka harus melewati bawah lancakng tadi, setiap putaran harus sekali melewatinya dan pada putaran terakhir orang mengangkat kaki, mancokng nasi palopas. Beras ditaburkan ke jalan baru kaki berjalan dan setelah jenazah ditimbun lalu umpan pemakan diletakkan dengan memanggil nama orang yang meninggal tadi disuruh makan, majuh, mampal baru basalobar menyuruh orang yang melayat ngaung ngunsi ke rumah untuk makan.

1. Upacara adat di rumah
Setelah makan, mengeluar tiga buah tempayan tuak, yaitu: sebuah tempayan tuak untuk babiso, sebuah tempayan tuak untuk cuka, sebuah tempayan tuak untuk jora, seekor ayam untuk babiso, mangkuk boras komakng minyak boli(mangkuk tanah) sebuah diisi beras, kase entomu(lawak), sebakuk , tongang sekobat dan nulakng sepangkat. Sangkolatn jora pakai kutikng baliukng, cincin sebentuk, ngobat tongang tali nyawa. Bercerita antar keluarga tentang orang sakit sampai meninggal dunia.

2. Memindahkan Kuburan/ Pase Lamat:
a. Adat Pembukaan:
2 buah tempayatn tuak,
2 ekor ayam,
1 ekor babi,
2 x 16 buat rante,
topukng + pulut secukupnya,
50 kg beras biasa,

b. Adat Kelapatan Kampukng:
2 buah tempayatn tuak,
2 ekor ayam,
1 ekor babi,
3 x 16 buat rante,
8 ingkeq piring putih,
1 buah tempayatn tajo.

c. Adat Penggalian Pase Lamat:
1 buah tempayatn tuak,
2 ekor ayam,
1 ekor Kuduk.

d. Adat Panudukng Baro bahut kampokng laman:
5 buah tempayatn tuak,
4 ekor ayam,
1 ekor Kuduk,
16 buat rante,
4 ingkeq piring putih,
1 buah tempayatn,
1 kabukng kaitn,
1 buah golakng baliukng,
1 bilah piso raut

e. Adat menggalikan Lubang Pase Baru:
2 buah tempayatn tuak,
1 ekor ayam,
1 ekor babi,
3 x 16 buat rante,
12 ingkeq piring putih,
1 buah tempayatn tajo.
Proses penyandukngan (sandukng) dari pembakaran samaroga 7 :
7 ekor burung pipit, jawa, nyoli, karibakng, kacakng, pulut hitam, telur masak,
mantak, gorekng, kumpakng - pali, tatabar – manis, paku tobakng, sagulakng, tukas, tingkas, morikng, bombatn, katimbakng raya.

 
HUKUM ADAT (PERKARA ADAT)
A. Pelanggaran Hukum Adat
1.Hukum Adat Kampakng Pinang
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang sudah tunangan tidak boleh berhubungan intim sebelum dilangsungkan perkawinan dan bila sebelum perkawinan sudah hamil, maka kedua calon mempelai disebut Kampakng pinang,maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
a) pihak laki-laki: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 1 ekor ayam dan
1 ekor babi,
b) pihak perempuan: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 2 ekor
ayam. dan kalau ditomar orang lain, maka sebuahtempayan untuk adat
penomar.

2. Hukum Adat Seorang suami Beristeri Dua
Apabila seorang laki-laki kawin dua orang isteri, maka dia dikenai hukuman/sanksi sebagai berikut:
7 Lasa buat dari pingatn dan buat ini dibagikan ke para pemuka Laman,
8 buah tempayan tuak, yaitu: 3 buah tempayan tuak untuk penyabukng
maduk dan 5 buah tempayan tuak untuk kawin,3 ekor ayam,
3 ekor babi (1 ekor babi untuk penyabukng maduk, 1 ekor babi untuk kawin
dan 1 ekor babi untuk penyaman hati orang banyak, 7 buah tempayan Tajo,
yaitu: 1 buah untuk pamampuh, 1 buah untuk panyabukng maduk, - 2 buah
untuk Laman Mimukng (dusun I dan II),1 buah untuk Laman Sapangakng, 1
buah untuk Laman Sangkuakng, dan 1 buah untuk Laman marangin.

3. Hukum Adat Dusa Mala/ Dusa Sama balaakng (suami orang berselingkuk
dengan isteri orang lain)
Apabila terjadi perselingkuhan antara suami orang berselingkuk dengan isteri
orang lain maka dikenai hukum adat sebagai berikut:
a. Dusamala Suami Orang:
3 x selawi dari pihak laki-laki,
3 buah tempayan tuak,
12 singkar pingatn putih,
3 ekor ayam,
1 ekor babi.
b. Danda padusa
1buah tempayan tajo,
buat ranre selawi,
8 singkar pingatn,
1 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
1 ekor babi,

c. Dusamala Istri Orang:
buat 3 x selawi dari perempuan,
3 buah tempayan tuak,
12 singkar pingatn putih,
3 ekor ayam,
ekor babi,
1 buah tempayan tajo penyaman hati,
8 singkar pingatn putih.

4. Hukum Adat Karangkat (kalau suami orang mengambil isteri orang lain).
Suami dibuang Isteri:
1 buah tempayan Tuak baniang,
5 ronti babi,
1 buah talapm,
buat Selawi,
1 buah talapm bakaki, kalau dari suami mempertahankan isteri
3 buah tempayan tuak,
3 ekor ayam,
3 ronti babi( kurang ditambah ayam), hukum adat Karangkatnya (langsung kawin)
1 buah tempayan Tajo,
1 buah Ketawak,
1 potong rante,
1 buah katawak
1 kupukng rante (buntutnya untuk orang banyak),
12 Lasa.
Hukum adat ini di luar adat perkawinan.


5. Hukum Adat Kampakng
a. Hukum Adat Kampakng Tidak kawin
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan suami- istri melakukan hubungan intim hingga akibatnya si perempuan tadi hamil, maka kedua pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:

1) Pihak laki-laki, dikenai hukum adat:
3 Lasa,
2 buah tempayan tuak,
1 ekor ayam,
1 ekor babi,

2) Pihak perempuan:
hukum adat 3 Lasa,
2 buah tempayan tuak,
2 ekor ayam,
10 poku buat pocah,
untuk pelobur bintang petahutn rakyat banyak yang biasa dinamakan bintang petahutn adalah “Bakul kamut lawakng hidup” dibagi kesemua rakyat banyak. Hukum Adat tersebut di atas kalau pihak perempuan menyerahkan diri untuk di hukum adatkan tuha banyak, tetapi jika dipomarkan orang lain maka ditambah lagi sebuah tempayan untuk adat pemomar kampakng.

b. Hukum Adat Kampakng Langsung Kawin
1.Pihak laki-laki.
Pihak Laki – laki dikenai hukum adat 8 lasa, 8 helei kain batik panjang untuk
pasalitn (untuk mempelai perempuan 3 helai, orang tua perempuan 3 helai, saudara tertua/tua dari mempelai perempuan 1 helai dan untuk kakek/nenek 1 hilai) untuk pasalitn, Buat rante (rante perak/tembaga) 1 kali slawi sekali 16 (poku) = 48 poku mangkuk adat, Penait 16 poku, Buat pocah 10 poku(dapat diganti ½ lusin mangkuk porselin), 1 buah Tempayan Tajo (tuha/antik) untuk roga/harga tubuh, 8 poku untuk Paloka golakng, Nulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras), 4 buah tempayan tuak(diganti tuak air), 3 buah piring putih untuk adat perjanji, 2 ekor babi @ 25 – 30 kg ( 1 ekor babi kampakng dan 1 ekor babi kampung), Cucuk Somat (lemak dan daging babi dipotong dibuat seperti sate lalu diletakkan diatas nulakng untuk buis, 8 kaki/tangan (tunyikng), kepala dibelah dua, kangkapm babi + kaki, sayap dan kepala ayam), 1 buah piring, 1 buah mangkuk, 1 tukuk garam, sebilah bosi, luncu/lunju sebatakng tikar dan bantal serta selimut(tikar dan selimut diganti dengan seperangkat tempat tidur).

2.Pihak Perempuan:
Buat rante 1 x slawi, sekali 16 poku = 48 poku,
4 buah tempayan tuak(diganti tuak air),
4 ekor ayam,
Nulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras),
Buat pocah 10 poku atau ½ lusin mangkuk porselin.

6. Hukum Adat Perkawinan Sumbakng
Perkawinan Sumbang kapat/ Sumakng Ponuh Apabila ada perkawinan sumbangk kapat( saudara kakek, saudara nenek, saudara bapak atau saudara ibu kawin dengan cucu atau keponakan, walaupun kedua mempelai sama-sama bujang -dara) sebenarnya tidak boleh jadi sama sekali, karena masalah itu tidak dapat di cegah, maka satu-satu jalan keluarnya adalah para pihak yang bersangkutan dikenai hukuman adat, sebagai berikut:
1) Hukum adat dari pihak mempelai laki-laki :
4 ekor babi,
3 x 16 ditambah 10 poku,
2) Hukum adat dari pihak mempelai perempuan:
3 ekor babi,
3 x 16 ditambah 10 poku.
Ada bale/balai di tanah (darat) dan bale/balai di air. Babi dipotong ditempara lalu kedua calon mempelai mandi darah babi sambil turun ke Sunge dan setelah sampai di Sunge harus mandi darah babi yang dipotong diatas bale disertai dengan tato yang disampaikan oleh mantir laman dengan bunyi sebagai berikut: “Sambut ria rokakng patih majo (tabutn naga) IYANG kampaakng sumakng ge nyamut juluk rasilopas luput dari malapetaka nyak, golak rasa kami cadak ba adat bajalatn, balome pantiti, jadi ini samut darah babi inin( kedua mempelai sedang mandi darah babi di sebelah hilir bale tempat orang motong babi). Kemudian pengantin pulang kerumah ganti pakaian lalu duduk lagi di tempat yang sudah disediakan dan selanjutnya pengantin di diburu seperti muru ( ngusir) disertai dengan kata-kata” hai babi, kucikng, kuduk turutn makatn ke balangku’ ditanah nan”. Keddua mempelai harus turun makan masidan sayur yang sudah disediakan didalam belangku’ babi yang dialas dengan daun pisang mas. Acara selanjutnya pengantin mengadakan ucapara pembuangan sial kawin sumbang, dengan mengambil sembilu bambu botukng (yang memang sudah disediakan) lalu disayat/didedelkan(hanya persyaratan) ke buku lalik dengan disertai tato: ‘han, keluar darah nin kaluar gak sumakng pamali, jadi cak mali ak kami jadi”.

7. Adat Pajadi ( Adat Kawin) :
9 Lasa ( dengan buat),
9 poku (dengan mangkuk),
9 buah tempayan tuak,
9 ekor manuk,
4 ekor babi (babi pajadi, babi panyumakng, babi topas laman, babi caboh aik).
Setelah Cabuh air barulah orang menguraikan silsilah adat sumbang (patintikng kan summakng). Mulai dari kora pandai berkata.Taramunang taramuning menjadi orang yang mendongen kannya (nsangannya) sakaratn, setelah itu mendongengkan(nsangan) lagi duakaratnnya dongeng (nsangan) dahalatn.
Persyaratan bagi kedua mempelai kawin sumbang kapat, bahwa setelah kawin setiap tahun harus mengadakan “topas laman” berturut-turut selama tiga tahun dengan hukum adat, sebagai berikut:
hukum adat selawi,
sebuah tempayan tajo untuk kepala adat,
sebuah tempayan Baniang berisi tuak,
seekor babi.

8. Hukum Adat Sumakng Anak Sanak Tuha adalah :
buah Tempayan Tajo untuk Kepalanya (dari laki-laki),
1 buah Talapm Buntunya Talapm (dari perempuan)
12 Lasa ( dengan buat), 12 poku (dengan mangkuk),
3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air), 1 ruas nasi,
6 ekor ayam(1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn,
1 pajanji),8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3
cabuh air, 4 sumakng),Babuakng batibar, Tintikng sumakng nya dan tujuh
karatn nsangan nyan.Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya
perkawinan (bajadi).

1.Hukum Adat Anak Sanak Inik:
7 Lasa (dengan buat), 7 poku (dengan mangkuk) 1 buah Tempayan Beniang
untuk Kepalanya,1 buah Tempayan Manuuh/ Tapsi,3 ekor babi ( babi pamali,
panyumakng dan babi cabuh air),1 ruas nasi, 6 ekor ayam (1 baagah, 1
pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji) 6 buah tempayan tuak (1
baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji), 8 pangkat
nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4
sumakng), Babuakng batibar,Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya tujuh
karatn Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan.

10. Hukum Adat Anak Sanak Iyang :
Terhadap pelanggaran adat perkawinan, maka bagi mereka yang melakukan
perkawinan anak sanak IYANG dikenai hukuman adat sebagai berikut:
1 buah Tempayan Kampar Kepalanya,4 buah piring untuk Buntutnya
5 Lasa(dengan buat), 5 poku (dengan mangkuk),3 ekor babi ( babi pamali,
panyumakng dan babi cabuh air),1 ruas nasi,6 ekor ayam (1 baagah, 1
pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji) 6 buah tempayan tuak (1
baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),8 pangkat
nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air,
4 sumakng), Babuakng batibar, Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya lima
Karatn Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan (bajadi).

11. Hukum Adat Berzinah (Badusa besar)
Berzinah (Badusa besar), maka ada istilah adat: “Ha Dusanya Bosar Donaa Malakng Kopih Kobo Damanyan”. Hukum Adatnya sebagai berikut:
10 buah tempayan tuak,
10 ekor ayam,
2 ekor babi,
2 buah tempayan Tajo,

Mengenai hukum adat Sakoti Lima Donaa Malakng kopih kobo soyakng.
Sakoti lima, hukum adatnya:
3X 16 Lasa ( masing-masing dibayar dengan rante)
5 X selawi ( dengan mangkuk/pingatn).
Sedangkan donaa malakng kopih kobo jatuk ka donaa malakng. Hukum Badusa
dengan sanak inik. Donaa malakng cuma sakali saja Berzinah (badusan) dengan isteri orang lain, maka hukum adatnya:
2 buah tempayan Tajo (1 dari laki-laki dan 1 dari perempuan).
6 X selawi ( dengan buat),
40 singkar pingatn putih,
6 buah tempayan tuak( 3 dari isteri orang dan 3 dari laki-laki),
6 ekor ayam ( 3 dari isteri orang dan 3 dari laki-laki)
2 ekor babi

Hukum Adat Nyumakng:
1 buah tempayan Tajo,
1 ekor babi,
1 ekor ayam, dan 8 singkar pingant putih

X. HUKUM ADAT MELANGGAR TATA KRAMA
1. Hukum Adat Siku-Siku
Pengertian hukum adat siku-siku adalah merupakan hukuman/sanksi yang dijatuhkan kepada seorang laki-laki yang dengan sengaja berjalan bersama isteri orang tanpa diketahui suaminya atau memberi sesuatu pada isteri orang lain tanpa diketahui suaminya, tetapi yang sebenarnya tidak berbuat sesuatu(hubungan intim), maka pihak laki-laki dikenai hukum adat sebagai berikut:
1 buah Tuak,
1 ekor ayam,
16 poku mangkuk adat untuk siku-siku.

2. Hukum Adat Kecukuhan
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan adalah adat yang dikenakan kepada orang yang punya ladang apabila setelah membakar ladangnya sampai selesai panen padi ada diantara keluarganya sendiri yang meninggal dunia atau bisa jadi kalau orang yang berladang minjam tanah milik orang dan setelah ia membakar ladang sampai selesai panen padi diantara pihak keluarga orang yang punya tanah meninggal dunia, maka orang yang minjam tanah untuk berladang tadi harus dikenai hukum adat.

a. Hukum Adat Kecukuhan Dabu
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dabu adalah orang yang meninggal dunia sebelum pihak keluarganya membuka jurung (Lumbung Padi), sedangkan adatnya cukup mengambil darah ayam lalu disangkolan palit.

a.Hukum Adat Kecukuhan Dalapm
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dalapm adalah orang yang meninggal pada waktu musim padi mulai menguning, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Orang meninggal sebelum malit bangala, maka pihak keluarganya harus
dikenai hukum adat:
buat rantai 1 x 16,
satu buah tempayan tuak,
nulakng satu pangkat, ayam satu ekor untuk babiso bahibu.

Kalau ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai
hukum adat 2 x lipat

3. Hukum Adat Karobahan
Yang dimaksud dengan adat Karobahan adalah orang yang meninggal pada waktu musim menebang ladang, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1x selawi atau 2x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Tetapi kalau di ladang orang lain; kalau hanya cacat/luka bakal cukup
mengeluarkan mangkuk boras komakng.

4. Hukum Adat Kajomuran
Yang dimaksud dengan adat kajomuran adalah orang yang meninggal pada
waktu musim arak roba, maka pihak keluarganya harus dikenai hokum adat:
- buat rantai 4 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.

5. Hukum Adat Titi Buah
Yang dimaksud dengan adat titi buah adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu, sedangkan tenaman tersebut sudah berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.

6. Hukum Adat Cucuk Panggang
Yang dimaksud dengan adat cucuk panggang adalah apabila ada orang yang
membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang
lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut masih kecil yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
Buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16 dan ditanah 1 x 16, satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng, satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.

7. Hukum Adat Gantukng jala
Yang dimaksud dengan hukum adat gantukng jala adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut tak berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.

8. Hukum Adat Tapak Bosi
Apabila ada orang menebang pohon buah milik orang lain yang sudah berbuah dan bila ditebang untuk ladang, maka orang yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 2 x 16/ selawi,, ( adat tapak bosi),
- satu buah tempayan tuak, dua pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.

Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tersebut di atas, Apabila ada orang membuat ladang, sedangkan ditengah ladangnya terdapat pohon buah milik orang lain lalu pohon ituditebang atau dibiarkan panta minta izin pada pemiliknya, pada waktu membakar ladang pohon tadi layu atau mati, maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.

9. Hukum Adat Kampukng Buah(Kebun buah)
Apabila ada orang membakar ladang, apinya menjalar/merambat ke kampukng buah daunnya layu lalu gugur. Kampukng yang sebenarnya jauh dari ladang, maka pihak yang bersangkutan dikenai:
- hukum adat rantai 1 x 8 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng,
- ayam satu ekor untuk babiso bahibu.

10. Hukum Adat Mencuri Manjat Buah Orang lain:
Kalau orang yang bersangkutan menyerahkan diri, hukum adatnya: Sikuk Sigik. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah ikut tetangga, hukumnya : Saekuk Saegik, buah dibagi. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah milik orang lain dituntut pemiliknya, hukum adatnya:
3 x Selawi,12 buah piring,1 ekor babi,2 ekor ayam 2 buah tempayan tuak,
buah diganti/dibayar.

11.Hukum Adat Pati
a.Hukum Adat Pati Baniang Penuh (Membunuh Orang Lain dengan Sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain dengan sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang penuh dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
1.Hukum adat beniang 3 x Selawi,
2.Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
3.Ikuk adat sebuah Talapm,
4.3 ekor babi,
5.10 ekor ayam,
6.12 buah tempayan tuak,
7.Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
8.Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
9.Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
10.Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
11.24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
12.Seutas jala, untuk mengganti rambut,
13.Dua buah talapm, untuk mengganti telinga,
14.Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
15.Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
16.Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
17.20 saingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
18.Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
19.Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
20.Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
21.Sebuah tepak tembaga, untuk mengganti emaluan betinak/perempuan
22.pangkat nulakng atau 3x 2 pangkat nulakng,
23.Semua biaya kematian hingga nanam bangka ditanggung pihak pembunuh.

b.Hukum Adat Pati Baniang Setengah (membunuh orang tidak sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain
dengan tidak sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang
tetengah dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
1.Hukum adat beniang 1 1/2 x Selawi,
2.Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
3.Ikuk adat sebuah Talapm
4.2 ekor babi,
5.ekor ayam,
6.buah tempayan tuak,
7.Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
8.Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
9.Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
10.Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
11.24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
12.Seutas jala, untuk mengganti rambut,
13.buah talapm, untuk mengganti telinga,
14.Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
15.Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
16.Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
17.20 ingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
18.Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
19.Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
20.Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
21.Sebuah popak tembaga, untuk mengganti kemaluan betinak/perempuan,
22.Biaya kematian hingga nanam bangka separah daru sipembunuh.
 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan -Babi hutan, -Rusa -Kijang -Pelanduk/Kancil -Ular -Burung Ruik, Burung Tingang, Pune, Imuk, Tekukur, Sempidan, Rue, Emparogam,Pipit, Pencala, Bubut, Kakaktua Sunge, Walet, Betet -Kera -Tupai -Orang utan -Biawak -Musang -Landak -Kelasi -Jangkit -Bekantan -Kelempiyo -Ringin -Boruk Hewan yang ada di Sungai: -Ikan Belidak, ikan Toman, ikan Piakng, ikan kalabo, ikan Tangadak, ikan Manso, ikan Marodikng, ikan Paro, ikan Kalanyuar, ikan Tapah, ikan Tilatn, ikan Bongaq, ikan Seluakng, ikan Baukng, ikan Juara, ikan Dokat.
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Ketapang No 8 Tahun 2020 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Ketapang 8 Tahun 2020 Perda Kabupaten Ketapang No 8 Tahun 2020 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Ketapang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Ketapang No 589/DISPMPD-B/2021 ttg Panitia MHA 589/DISPMPD-B/2021 SK Bupati Ketapang No 589/DISPMPD-B/2021 ttg Panitia MHA SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen


Sudah punya akun ?

Jika belum silahkan mendaftar di tombol ini