Resak Balai berasal dari kata Resak dan Balai. Resak adalah nama sejenis kayu yang banyak tumbuh di tempat tersebut (jenis kayu ini sangat baik digunakan untuk ramuan rumah). Sedangkan Balai adalah suatu kawasan/tempat bermain burung Ruai (jenis burung besar yang hanya dapat hidup di hutan rimba dan bulunya biasanya digunakan untuk perhiasan topi pada beberapa suku Dayak). Balai ini biasanya sangat bersih.
Berdasarkan tradisi lisan yang dipercayai masyarakat Resak Balai, bahwa asal muasal mereka dari Tamputn Juah, Tamputn Juah merupakan kampukng yang berada di hulu sungai Sekayam. Di seberang sungai dari Tamputn Juah dihuni oleh sekelompok hantu (yang menyerupai manusia). Awalnya kehidupan masyarakat Tamputn Juah dan Hantu akur-akur saja. Tapi ketika anak-anak hantu menyeberang sungai untuk bermain dengan anak-anak di Tamputn Juah, anak-anak hantu ini membunuh anak-anak dari Tamputn Juah. Sejak saat itu masyarakat Tamputn Juah dan hantu mulai bermusuhan dan sering terjadi perang.
Suatu ketika masyarakat Tamputn Juah menyerang kelompok hantu. Kelompok hantu kalah dan tinggal satu orang saja. Hantu ini kemudian mencari bantuan kepada satu orang hantu yang badannya sangat besar dan kekar (hantu raya) agar mau membantunya untuk melawan masyarakat yang ada di Tamputn Juah. Sebelum hantu yang dimintai tolong ini setuju, hantu raya minta syarat untuk di sediakan 7 kawah (kuali besar) nasi, 7 ekor babi, dsb. Setelah semua syarat tersedia, hantu raya ini memakan semua makanan yang disediakan tadi. Malamnya hantu besar (raya) ini menyerang daerah Tamputn Juah, bukan dengan parang dan membunuh tetapi dengan cara berak di seluruh daerah Tamputn Juah. Periuk, tempat air, di rumah, di tepian, di halaman, di pondok ladang menjadi tempat pembuangan kotoran hantu tadi. Pagi hari, masyarakat Tamputn Juah bangun dan segera terkejut melihat di mana-mana ada kotoran manusia. Kejadian itu terus berlanjut. Karena tidak tahan lagi, akhirnya masyarakat Tamputn Juah mulai lari. Mereka lari secara bertahap. Kelompok pertama lari menyusuri hulu sungai Kapuas. Kelompok ini kemudian menjadi suku Iban. Kelompok kedua lari menyusuri hulu sungai Melawi dan kemudian menjadi Suku Ketungau. Dan kelompok yang terakhir lari menuju daerah di sekitar sungai Sekadau. Kelompok ini kemudian di sebut Suku Mualang.
|