Mayarakat adat Tamambaloh merupakan salah satu dari sub Etnis suku Dayak di Kabupaten Kapuas Hulu, Propinsi Kalimantan Barat, yang telah tinggal dan bermukim secara menetap hidup dari generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini dalam wilayah adat tersebut yaitu: Di sepanjang aliran sungai dan anak sungai Labian Batang Lupar, Di sepanjang aliran sungai anak sungai Embaloh, Kecamatan Embaloh Hulu dan Di sepanjang aliran sungai dan anak sungai Palin (Apalin) Kecamatan Embaloh Hilir
Rumpun masyarakat Adat Dayak Tamambaloh ini memiliki struktur adat istiadat, seni dan budaya yang khas yang memperkaya komponen pembentuk warga masyarakat dan budaya bangsa Indonesia.
Dengan adanya struktur atau penggolongan dikalangan warga masyarakat adat ini, merupakan ciri dan identitas sebagai Masyarakat Adat Tamambaloh. Struktur dan penggolongan ini pula yang menjadi landasan penataan pranata sosial, ekonomi dan budaya dalam kehidupan warga masyarakat adat.
Sejarah Masuknya Komoditi Kopi dibawa oleh pemerintah, Karet dibawa oleh misi (1930-an), Koko (kakao) dibawa oleh pemerintah tahun 1984, Gaharu dibawa oleh pemerintah tahun 2010
Sejak dulu Ketamanggungan Tamambaloh dikenal sebagai penghasil sumber daya padi dan hasil hutan lainnya (rotan, damar, dan lain-lain). Pada masa dulu pola ekonomi yang berlangsung adalah barter dengan barang lainnya, masyarakat Tamambaloh menukar hasil SDA dengan masyarakat di wilayah lain (Nanga Embaloh, Lubuk Antu).
Pada masa penjajahan Belanda , mulai mengenal uang dengan mata uang Yen (Jepang) dan berikutnya mata uang Gulden (Belanda). Proses ekonomi (jual beli) kebanyakan dilakukan ke Nanga Embaloh (Cina Kapuas) dan Lubuk Antu hingga sekarang, selain ke Pontianak.
Penanaman padi dilakukan selama setahun sekali dari dahulu hingga saat ini, namun terjadi perubahan pola yaitu : dahulu dilakukan dengan cara penggiliran lahan setiap 5-6 tahun untuk menunggu tanah tua. Saaat ini dilakukan dengan lahan menetap, setahun sekali dengan melakukan pembersihan rumput oleh sprayer. Hingga saat ini pengairan/irigasi belum optimal. Pertanian selain menanam padi dilakukan dengan sistem tumpang sari dengan tanaman lainnya diantaranya adalah jagung, sawi, keladi, ubi kayu, ubi jalar, dan lain-lain.
Folklore Tentang Lingkungan:
1. Baki Mapajaan
Pada zaman dahulu, ada 8 orang bersaudara yang berasal dari Suku Melayu anaknya Sambai, yaitu Malukun, Raden Ingkong, Raden Amas, Raden Patah, 3 orang lainnya yang tidak diketahui namanya dan yang bungsu yaitu Pajaan. Pajaan diyakini oleh masyarakat sebagai seorang yang gagah berani dan perkasa serta memiliki kekuatan / ilmu gaib dan sampai sekarang dibuat patung dari kayu ulin melambangkan sosok Pajaan dan menjadi tempat pemujaan bagi masyarakat ketika ingin memanggil arwah para leluhur dan meminta rejeki.
Biasanya pemujaan dilakukan setelah panen pada upacara pamole beo, dalam upacara tersebut salah satu dari keturunannya yang menjadi pemimpin upacara adat tersebut.
2. Loang Baro/ Lubang Harimau
Baro merupakan jelmaan seorang manusia yang kuat dan gagah perkasa, pada zaman dahulu manusia yang menjelma menjadi baro tersebut sering muncul dan kelihatan disekitar lokasi perkuburan masyarakat Desa Tamao yang sekarang ini. Konon ceritanya kemunculan baro tersebut adalah untuk pergi mainjami ke perkampungan masyarakat suku dayak Tamambaloh, disuatu kampung yang di singgahi baro tersebut sering ada karat bawi yaitu sebagai suatu pertanda, jika karat bawi tersebut dimakan oleh salah satu masyarakat dikampung tersebut maka baro akan datang untuk mainjami, anehnya keesokan harinya pasti akan ada salah satu dari penduduk kampung yang akan meninggal.
Suatu hari seorang yang bernama Marong bertemu dengan baro tersebut lalu bertanya, hendak kemana engkau baro, jawab si baro pergi kesuatu tempat. Lalu panjang ceritanya mereka bertukar salah satu cendera mata, kata si baro hanya dengan cendera mata tersebut bisa menangkal kekuatan dan ilmu. Pada suatu malam ketika pergi mainjami, Marong secara tidak sengaja mengetahui kalau baro tersebut mainjami ditempat yang sama, lalu baki Marong pura-pura pulang padahal kenyataannya baki Marong sudah menunggu di panto menggunakan ulis, ketika baro tersebut pulang lalu ulis tersebut ditikamnya kearah baro hingga meninggal.
Taring baro tersebut diambil dan sampai sekarang masih tersimpan oleh keturunan bangsawan/samagat. Taring baro biasanya digunakan untuk menyumpah orang yang mempunyai kesalahan amat fatal.
3. Tana’ Tumtum
Pada zaman dahulu ketika perang antar suku Tamambaloh berhadapan dengan suku lain, barang-barang berharga seperti, garantung, tawak, bobondi, dll disimpan disebuah lubang dan ditutup kembali atau disembunyikan maka disebut tana’/ tanah tum-tum.
Sampai saat ini keberadaannya tidak diketahui lagi oleh masyarak namun lokasinya masih ada sampai sekarang.
4. Ukit Kayu Basi
Merupakan benteng pertahanan musuh/bala panambah dari Bunut yang ingin menyerang Pulau Pajang, namun diperjalanan bala na panambah dapolo antis (Sejenis burung kecil namun dipercayai masyarakat sebagai burung yang memberikan isyarat) sebesar Induk ayam, sehingga mereka tidak jadi menyerang ke Tamao dan tetap kembali menyerang ke Pulau Pajang.
5. Parajukana Baki Tungkap
Merupakan sebuah lokasi yang digunakan masyarakat pada zaman dahulu sebagai tempat latihan perang.
6. Taulean balayar ( kasus tebidah )
Pada waktu itu masyarakat mantaat arainge seseorang ke banua lain, sesampainya disana mereka pergi ke sungai untuk mandi, dan melihat ada sebuah tunggul kayu Tebelian dan ditancap oleh orang tua pada zaman dahulu menggunakan paku sebagai tanda, dan 2 hari kemudian mereka pulang ke Tamao dan melihat ada tunggul tebelian yang sama seperti di banua tempat mantaat arainge setelah di teliti ternyata ada paku yang tertancap, dan keberadaannya masih ada sampai sekarang di sungai Tamao tepatnya di Takirik.
7. Kakawang Pamindra
Pohon tengkawang yang di tanam oleh baki Ajung, berdasarkan mimpi dari seorang masyarakat pohon tersebut dipilih untuk tempat masyarakat berdoa meminta rejeki kepada Allahtallah/Sampulo, dilakukan setiap tahun apabila tengkawang berbuah.
8. Batu Ukit-ukit
Batu besar yang terletak dimuara sungai ukit-ukit, yang legendanya sbb: Disebuah kampung orang lagi gawai, ada salah seorang masyarakat yang mengabas bubu dan bubu tersebut dapat banyak ikan dan seekor ular. Lalu orang tersebut pulang dan menaruh ikan di dalam ambin, karena ikan terlalu banyak dan berat maka tali ambinnya putus. Orang tersebut tidak menemukan penganti tali ambinnya, lalu diambinnya ada seekor ular Balue, ular tersebut diambil untuk dijadikan tali ambinnya, dan pulanglah ia kekampung sesampai didepan kampong, terjadilah hujan lebat, angin ribut, guntur dan petir yang kuat. Lalu orang itu dan seluruh kampong tersebut arabor (berubah) menjadi batu. Sampai sekarang tempat tersebut dikenal oleh masyarakat dengan batu ukit-ukit tempat orang arabor.
9. Kakaringan Patari
Danau kecil tempat mencari ikan yang mempunyai sejarah sebagai berikut: Seorang gadis yang bernama Patari hamil oleh seorang pria yang bernama Burung Kiung. Namun orang tua gadis tersebut tidak menerima orang yang menghamili anaknya. Karena orang tua gadis tersebut merasa malu, maka anak gadis yang hamil itu diasingkan/dibuatkan pondok didekat sebuah danau kecil (kakaringan) yang berada di seberang perkampungan masyarakat. Gadis tersebut tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan orang lain. Setelah beberapa bulan tidak pernah dikunjungi oleh siapapun. Waktu orang tuanya hendak menjenguknya kembali ternyata gadis tersebut sudah tidak ada lagi di pondoknya, dan tidak ada orang yang tahu kemana rimbanya gadis itu.
Sampai sekarang kakaringan tersebut masih ada dan dikenal dengan nama kakaringan patari. Kakaringan ini dijadikan tempat mencari ikan yang biasanya dibuka 1-2 tahun sekali. Dan kalau ingin mencari ikan ditempat tersebut terlebih dahulu dimulai oleh keluarga samagat. Dan sampai sekarang tiang pondok gadis tersebut masih ada di kakaringan itu.
10. Kakaringan Kereng Limaung
Danau kecil tempat mencari ikan yang mempunyai sejarah sebagai berikut: Seorang gadis yang bernama Payung yang sudah ditunangan dengan seorang pria.Tunangan gadis Payung ini pergi manamoe (merantau), oleh orang tuanya gadis ini ditilung (dipingit) tidak boleh keluar kamarnya apalagi keluar rumah, maksud orang tuanya agar si gadis tidak diganggu oleh pria lain. Suatu hari si gadis minta keluar dari kamarnya, tetapi orang tua nya tidak mengijinkan karena mereka mengagap kalau keluar gadis tersebut ingin mencari pria lain. Si gadis tetap ingin keluar dari kamar tapi orang tuanya tidak menghiraukan, lalu suatu hari ketika orang tua gadis tersebut membuka kamarnya, ternyata anak mereka sudah berubah menjadi seekor binawa (ular naga).
Orang tuanya berusaha untuk mengangkat anak gadisnya yang sudah berubah menjadi binawa tersebut,namun tidak bisa diangkat.Lalu suatu malam orang tua sigadis bermimpi tentang anaknya,ia mengatakan kepada orang tuanya â€Aku telah berubah menjadi binawa dan tubuhku hanya bisa diangkat dengan kayu rengan (sejenis kayu hutan). Lalu orang tuanya mengambil kayu rengan tersebut dan menggotong tubuh gadis/anaknya yang sudah berubah menjadi seekor binawa dan binawa tersebut diantar ke sebuah danau kecil (kakaringan) yang terletak dihulu kampung. Sekarang tempat tersebut dikenal dengan kakaringan Kereng Limaung.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat yang masih mempunyai garis keturunan dari gadis Payung ini tidak boleh mencari ikan di kakaringan itu dan tidak boleh juga menggunakan kayu rengan untuk membuat pondok atau kayu bakar, hal ini masih dipercayai dan dipegang oleh masyarakat setempat
|