1. Bawas
Bawas merupakan bekas ladang yang diberakan (dibiarkan) selama beberapa tahun. Dibiarkannya bekas ladang menjadi hutan lagi adalah cara masyarakat adat Kampung Engkarangan untuk meningkatkan kesuburan tanah kembali. Hilangnya humus dibawa saat panen. Humus akan kembali dari vegetasi yang tumbuh di atasnya baik jenis rumput maupun kayu. Semakin banyak serasah maka tingkat kesuburan lahan semakin tinggi. Masyarakat Engkarangan akan membuka bawas setelah berumur 4 – 5 tahun.
Pengelolaan kawasan ini dikelola berdasarkan kepemilikan masing-masing. Jika anggota keluarga di kampung tersebut banyak memiliki bawas maka mereka bisa menggilir lahannya lebih panjang. Panjang pendeknya penggiliran waktu pembukaan lahan akan berpengaruh terhadap hasil, semakin lama lahan diberakan/ dibiarkan menjadi hutan maka hasilnya semakin baik.
Berdasarkan tabel di atas, kawasan bawas seluas 276,24 ha atau 30,05% dari total wilayah kampung Engkarangan. Sekarang lahan bawas di daerah hampir semuanya di tanami karet, sehingga hampir sulit untuk berladang, untuk memenuhi kebutuhan akan beras masyarakat akan membuka lahan payak untuk di jadikan sawah semi modern.
2. Hutan Akasia dan Pinus
Tanaman akasia dan pinus di kawasan adat kampung Engkarangan, masing-masing 40,58 ha (4,41%) dan 31,58 ha (3,44) dari total luas wilayah. Kawasan tanaman pinus ini merupakan bekas PT. INHUTANI III yang ditanam sejak tahun 1996/1997. INHUTANI III mulai tidak beroperasi lagi sejak tahun 2002.
Beroperasinya perusahaan ini awalnya untuk memperbaiki kualitas lahan yang tandus serta memberikan lapangan kerja bagi penduduk setempat, tetapi karena tidak dikelola dengan baik sehingga menyebabkan wilayah ini menjadi semak belukar dan padang ilalang. Keberadaan lahan yang di penuhi semak belukar dan ilalang semenjak ditinggalkan selalu terjadi kebakaran sepanjang tahun, terutama sejak musim kemarau. Dampak lain yang sangat krusial dimana lahan yang ditinggalkan di klaim oleh pemerintah daerah Sintang.
3. Kebun Karet dan Tengkawang
Kebun karet bagi masyarakat Engkarangan merupakan usaha yang penting setelah ladang. Dari usaha menoreh karet masyarakat bisa mendapatkan hasil uang langsung. Kebun karet di kampung Engkarangan seluas 319,68 (34,78% dari total luas wilayah). Rata–rata hasil menoreh karet penduduk adalah 5 kg per hari per keluarga. Harga karet rp 4.500, maka penghasilan dari karet sebesar rp22.500 per hari per keluarga. Jika dalam satu bulan efektif menoreh sebanyak 20 hari, maka penghasilan per keluarga sebesar rp 450.000.
4. Pemukiman
Kawasan pemukiman masyarakat kampung Engkarangan terletak memanjang sebelah kanan mudik sungai Kayan. Perpindahan kawasan pemukiman sekarang merupakan yang ke 18 (delapan belas) setelah dari Laman Sudok Lanok. Pemukiman terakhir yang masih menempati botakng adalah perpindahan yang ke 17 (tujuh belas) letaknya di laman Guha. Luas pemukiman masyarakat Engkarangan berdasarkan hasil pemetaan tahun 2004 seluas 4,84 ha atau 0,52% dari 919,25 ha total wilayah
5. Payak
Payak atau rawa merupakan kawasan yang tergenang air saat musim penghujan dan kering di saat musim kemarau. Kawasan rawa ini luasnya sekitar 76,89 hektar atau 12,42% dari total luas wilayah kampung Engkarangan.
Kawasan ini bagi masyarakat kampung Engkarangan digunakan untuk bercocok tanaman padi. Jenis padi yang ditanam adalah padi untuk lahan basah. Masyarakat Engkarangan setidaknya telah membudidayakan 37 jenis padi rawa/payak, masing-masing 31 jenis padi biasa dan 6 jenis padi pulut (PPSHK; hasil penelitian padi masyarakat Dayak Barai, tahun 2003).
Walaupun sudah dikelola untuk budidaya tanaman padi, tetapi bentuknya sangat sederhana, tidak ada tata pengairan yang baik. Selain pengelolaannya masih sederhana, luas lahan yang sudah dikelola masih sangat minim. Masih luasnya potensi lahan rawa yang belum di kelola merupakan potensi yang sangat menjanjikan bagi masyarakat Engkarangan untuk meningkatkan produksi padi lahan basah di masa yang akan datang.
6. Rimba
Rimba sebenarnya merupakan hutan lebat, tetapi bagi masyarakat Engkarangan rimba mirip seperti hutan sekunder. Rimba Sungai Sibau salah satu kawasan yang dianggap rimba, luasnya hanya 10,78 hektar (1,74% dari total luas wilayah). Pohon-pohon yang masih ada di kawasan ini diameternya berkisar 60 cm ke bawah. Selain diameternya kecil, jumlah dan jenis kayunya sangat kurang.
Rusak dan menyusutnya luasan kawasan rimba sungai Sibau akibat dibukanya sawmill pada tahun 1976 dan tahun 1983 oleh pengusaha kayu dari Nanga Mau (Nanga Mau adalah ibu kota kecamatan). Kayu yang diambil untuk bahan baku sawmill adalah jenis ramin, penyaho’ banto, kelansau, meranti, dan kayu lainnya. Kayu-kayu ini merupakan kayu yang bermutu.
Kini, walaupun keadaan rimba Sungai Sibau sudah sangat memprihatinkan, tetapi keberadaan rimba ini mempunyai nilai penting bagi masyarakat Engkarangan untuk mendapatkan bahan bangunan rumah, tali-temali dan obat-obatan.
7. Tembawang
Tembawang merupakan kawasan tempat tumbuh beraneka ragam pohon buah-buahan. Di kampung Engkarangan luas dan jumlahnya sudah sangat minim, tinggal 1,12 ha (0,18% dari total luas wilayah).
Secara umum proses terjadinya tembawang biasanya dulunya adalah kawasan kampung yang ditinggalkan, bekas ladang yang ditanami bermacam-macam jenis pohon buah karena kesuburannya sudah kurang jika tanami padi, kawasan tempat kuburan, pondok tempat beristirahat dan membekukan air getah setelah mengaret, dan lain-lain. Pohon buah-buahan yang banyak dijumpai di tembawang adalah: durian, langsat, berbagai jenis asam, rambutan, rambai, mentawa, dan pohon buah-buahan lainnya.
Hasil lain yang diperoleh dari kawasan tembawang adalah binatang buruan, sayur-sayuran, tali temali, obat-obatan dan bahan-bahan untuk kelengkapan upacara adat.
Dari segi pelestarian bagi mayarakat adat Dayak, termasuk masyarakat adat Dayak Barai, tembawang merupakan tempat menjaga tersedianya bibit beraneka macam buah-buahan dari generasi ke generasi. Tembawang juga merupakan bukti sejarah kepemilikan dan keturunan dari generasi ke generasi.
|