Masyarakat yang mendiami Lauk Rugun saat ini sebelumnya mereka berasal dari Batang Aek (sekarang wilayah Sarawak Malaysia), lalu mereka pindah ke Batang Kanyau di Sadap atau di kenal juga Sungai embaloh.
Sebelum komunitas ini masuk ke Lauk mereka minta menempati kawasan itu pada Demang Salam di Benua Ujung, pada saat itu Pemerintahan Tuan Victor Bruchman (Perwakilan Belanda) di Sintang. Kepindahan mereka ke Laok dikabulkan oleh Semagat Riang dan Semagat Lunsa dan Patih Dili (Petinggi Embaloh saat itu), mereka diperbolehkan tinggal di kawasan Laok dan diberi batas sampai di Sungai Baroh, kemudian dipindahkan ke Sungai Rugun, kemudian karena lokasi untuk berladang semakin dirasakan kurang lalu dipindahkan lagi sampai ke Sungai Tapeh.
Tetapi karena perubahan itu terjadi berkali-kali maka semagat memutuskan batas hanya sampai di Nanga Sungai Buluh untuk sebelah kiri mudik dan di Nanga Sungai Tapeh di sebalah kanan mudik.
Pada saat mereka menempati kawasan Laok, ada beberapa perjanjian dalam soal pengelolaan sumber daya alam yang disyaratkan oleh Petinggi Embaloh saat itu, yaitu:
- Tidak boleh memotong rotan yang tidak mampu ditarik (hanya mengambil yang mampu ditarik saja);
- Mengambil daun birok hanya sebatas yang mampu dibawa pulang;
- Hanya boleh beladang saja;
- Tidak boleh menebang pohon Tengkawang;
- Boleh mengambil kayu raro (sejenis nyantuk), tetap tidak boleh menebang pohonnya.
Pertama kali mereka datang ke Laok mereka bermukim di Dampak Paoh (di dekat jembatan sekarang, kanan mudik Laok), selama 1 tahun, ada 30 bilik. Ketika pemetaan masih ada orang yang pertama kali pindah dari Sadap ke Laok, bernama Burek (Linda) anak Sangga, usianya sekitar 84 tahun, beliau ini adalah ibu dari Pak Jus (Patih saat itu). Mereka menempati dampak Paoh hanya sementara mereka belum membangun rumah betang.
Selanjutnya mereka membangun rumah betang di Temawai Kenyalang sebanyak 30 bilik. Mereka tinggal di Temawai Kenyalang selama 10 tahun, dengan tuai rumah Rebak anak Manang Adi. Di sini mereka pernah mengadakan gawai besar yang disebut Gawai Kenyalang, maka bekas pemukiman itu dinamakan Temawai Kenyalang.
Suatu saat mereka mendengar ada suara burung elang (sabut) menangis, dan itu pertanda kurang baik bagi mereka sehingga mereka harus mencari tempat permukiman baru.
Dari Temawai Kenyalang mereka menemukan tempat baru untuk membangun rumah betang di Dampak Bingkok sebanyak 30 bilik. Tetapi lokasi rumah betang mereka tidak cukup luas sehingga mereka membuat rumah tidak bersambung lurus satu dengan yang lain (bengkok), juga terbuat dari bahan-bahan yang kurang kuat sehingga tidak bertahan lama dan hampir rusak, maka mereka harus membangun rumah betang baru. Pada masa itu bersamaan dengan masuknya Jepang (1942).
Tujuan selanjutnya adalah pindah ke Temawai Rerak. Mereka membangun betang sebanyak 30 bilik. Tetapi mereka hanya bertahan 5 tahun tinggal disitu karena banyak yang sakit dan meninggal, sehingga mereka mengganggap pemukiman mereka (panas). Dan mereka membongkar rumah betang itu, maka dinamakan Temawai Rerak.
Kepindahan mereka dari Temawai Rerak yang tidak mereka inginkan karena sering sakit dan meninggal, maka mereka seakan tidak menentu harus pindah kemana.
Sebagian dari mereka pindah ke Sibau Hulu, tetapi sebagian lagi memutuskan membangun rumah sementara di Dampak Kajang hanya 20 bilik yang tinggal di Dampak Kajang dan tinggal selama 1 tahun karena itu merupakan rumah darurat yang atapnya terbuat dari daun biro (kajang).
Dipimpin oleh Tuai Rumah Sangga anak generasi, mereka membangun rumah betang di Temawai Tike’ Tengiling sebanyak 12 bilik. Cukup lama mereka menempati rumah betang selama 10 tahun, sampai akhirnya mereka pindah karena rumah betang mereka hampir rusak.
Ketika mereka tinggal di pemukiman itu pernah suatu saat seekor tengiling naik ke rumah betang, maka mereka menamakan bekas rumah betang itu Temawai Tike’ Tengiling.
Selanjutnya mereka pindah dan membangun rumah panjang baru sebanyak 19 bilik dan dipimpin oleh tuai Rumah Umping anak Ngali selama 10 tahun mereka menempati rumah betang itu dan sampai saat ini mereka masih disebut Iban Laok. Pada suatu saat rumah betang mereka terbakar, maka bekas rumah betang mereka dinamakan Temawai Angus.
Ketika itu kampung mereka disebut kampung Laok Rugun karena lokasi rumah betang itu ditepi sungai Laok dekat dengan muara sungai Rugun.
Dari peristiwa kebakaran itu mereka membuat pemukiman sementara sebanyak 9 bilik. Ketika itu mereka dipimpin oleh tuai rumah Langgai anak Empaling. Cukup lama mereka bertahan dilokasi itu kurang lebih selama 5 tahun sambil mempersiapkan rumah betang, sehingga dikawasan pemukiman mereka banyak ditumbuhi pisang maka mereka menamakannya Dampak Pisang.
Masih dipimpin oleh tuai rumah Langgai anak Empaling, mereka membangun rumah betang sebanyak 14 bilik. Lama mereka menetap di rumah betang itu karena dirasa menyenangkan dan kehidupan mereka cukup baik , sehingga bertahan sampai 20 tahun dan tuai rumah berganti menjadi Ugun anak Langgai.
Sampai saatnya rumah mereka mulai rusak dan perlu membangun rumah betang baru tidak jauh dari lokasi yang lama, maka rumah betang dibuka dengan baik dan sebagian perkakas rumah masih dipakai untuk membangun rumah betang baru, maka bekas rumah betang dinamakan Temawai Buka/Long.
Pada tanggal 7 Februari 1999, sebanyak 17 bilik pindah ke rumah betang baru yang mereka tempati sampai sekarang, dengan tuai rumah adalah Ugun anak Langgai.
Dahulu para leluhur belum menganut kepercayaan, dan baru pada tahun 2007 ada seseorang bernama Samat berasal dari Embaloh yang mengenalkan agama Katolik. Sejak saat itu mayoritras masyarakat Menua Lauk Rugun beragama katolik.
|