Ladang (Pertanian Lahan Kering), Masyarakat di desa Tae, untuk memenuhi kebutuhan beras, masyarakat menanam padi ladang, data desa, 2013 luasnya ladang sekitar 100 ha . Masyarakat yang berladang hanya bias menikmati hasilnya selama 3-4 bulan saja. Selain padi, diladang juga akan di tanam berbagai jenis tanaman, seprti jagung, ubi kayu, sayur-sayur ladang. Hasil tanaman ini masyarakat akan memanfaatkannya untuk keperluan rumah tangga sendiri dan di jual ke pasar di ibu kota kecamatan untuk tambahan pendapatan keluarga.
Sawah, Selain di ladang, untuk menanam padi, masyarakat membudidayakan padi dilahan sawah, masyarakat menanam beraneka varietas padi, baik local maupun padi unggul.Data Desa Tae, tahun 2013, setidaknya ada 293 ha/m2 sawah, masing-masing 255 ha/m2 sawah irigasi ½ tehnis dan 38 ha/m2 sawah tadah hujan. berdasarkan hasil diskusi di kantor desa Tae, bersama kepala Desa dan 5 masyarakat Desa Tae, tanggal 1 Februari 2013, informasi yang didapat bahwa rata –rata luas sawah / kepala keluarga adalah 0,25 ha, sedangkan hasilnya 250 – 300 kg gabah basah. Hasil ini hanya cukup dikonsumsi keluarga selama 4 bulan.Lahan sawah di desa Tae yang luas dijumpai di RT Maet, lokasi sawah cukup luasanya berada di dusun Mak ijing dan dusun Tae.
Dalam budidaya padi sawah masyarakat telah menggunakan pupuk kimia, herbisida dan pestisida. Bahan-bahan ini sudah digunakan sejak tahun 2007 silam, Pupuk yg digunakan Urea, TSP dan KCL dan Herbisida mereka menggunakan round up, paratop, gramozon, Polaris dan supermol. Harga herbisida di tingkat kecamatan berkisar 70 – 75 ribu/ liter. Jika 1 ha memerlukan 8 liter, maka untuk 0,25 ha, petani harus mengeluarkan biaya sebesar 140 -150 ribu rupiah dalam satu musim tanam. Khusus untuk pupuk dalam satu kali musim tanam memerlukan 1 karung Urea, 25 kg TSP dan 25 kg KCL, dengan harga masing-masing Urea merah, 1 karung dengan harga Rp 110.000 serta TSP dan KCL, 1 kg harganya masing-masing Rp 5.000,
Kekurangan beras dari hasil ladang dan sawah, pemerintah mengucurkan program RASKIN. Dalam program ini dumulai tahun 2008 hingga sekarang.Di Desa Beras raskin diberikan secara adil, tiap 3 bulan sekali, setiap KK menerima jatah sebanyak 5 kg. 1 kg beras ditebus Rp 3.000,.Tahun 2013 akhir penerimaan Raskin semakin berkurang, tiap KK menerima 3 kg/ KK/ 3 bulan.
Kebun Karet, Tanaman karet merupakan tanaman budidaya yang telah cukup lama dibudidayakan di Desa Tae.Baik jenis karet Lokal maupun unggul.Karet merupakan tanaman sumber penghasilan bernilai ekonomi penting bagi tiap keluarga di desa ini. Karet Lokal telah dikembangkan secara turun temurun, sedang karet unggul mulai masuk 1990-an.
Buah-buahan, Buah-buahan di Desa Tae bersumber dari Tembawang, kebun campuran dan pekarangan. Buah yang dihasilkan beragam jenis buah- buah local seperti ; Durian , cempedak, Beragam varietas asam, belimbing darah, mentawa, beragam varietas rambutan, rambai, tengkawang, dll.
Tembawang, merupakan kawasan yang ditumbuhi beragam jenis pohon, lebih didominasi pohon buah-buahan.Di kawasan ini juga dijumpai beragam jenis kayu hutan, rotan dan tanaman obat. Berdasarkan terbentuknya, tembawang merupakan kawasan bekas kampung atau ladang yang telah ditinggalnya, dalam waktu yang cukup lama, tanaman buah-buahan yg dibudidayakan di bekas kampung dan ladang, akan tumbuh besar dan tinggi sehingga menyerupai hutan dengan struktur tajuk yang bertingkat. Berdasarkan kepemilikan, pohon-pohon buah yang ada ditembawang, ada milik kampung, milik keluarga dan pribadi.Jika terjadi pelanggaran dalam pengelolaan di kawasan ini biasanya dikenakan hukum dan denda adat.
Pohon buah-buahan akan berproduksi hampir setiap tahun, kecuali tengkawang, biasanya berbuah 4 – 5 tahun sekali. Buah-buahan yang di dapat dari tembawang, kebun campuran dan pekarangan, selain di konsumsi sendiri juga di jual kepasar atau pedagang pengumpul.
|