Pada jaman dahulu Nanga Sungai Pedini yang disebut Laman Nanga Pedini dihuni oleh orang Dayak Kebahan yang berjumlah 15 kepala keluarga. Di tempat ini mereka mendirikan Laman Botakng panyakng yang dipimpin oleh pak Lansi dan temenggung Sadu. Kurang lebih 40 tahun lamanya mereka tinggal di laman Nanga Pedini. Di laman ini mereka telah memiliki tanah kepulang (tanah kuburan) atau tanah posar petunu yang tidak boleh diladangi apalagi dirusak. Tanah kepulang tersebut terletak di sebelah kanan mudik sungai Masau atau persis muara sungai Pedini. Hingga kini bukti keberadaan tanah kepulang tersebut masih ada yaknisandung dan temaduk. Sandung adalah tempat menyimpan tulang belulang para leluhur dan temaduk adalah patung yang terbuat dari kayu menyerupai bentuk manusia, dibuat untuk menghormati dan mengenang orang yang sudah meninggal dunia.
Sekitar tahun 1954, tiga orang penduduk Laman Nanga Pedini yaitu Tagai Lombok, Nyampai Sayak dan Panji Ekak berladang ke Melaban. Mereka membuat langkau (pondok) uma (ladang) di ladangnya masing-masing. Setelah tiga tahun berladang di tanah Melaban, mereka bertiga sepakat membuat sebuah teratak berbentuk rumah betang. Lama kelamaan semakin banyak orang yang mengikuti mereka bertiga berladang di Melaban.
Pada tahun 1958, terjadi musibah yang luar biasa di Nanga Pedini, hampir setiap hari ada saja orang yang meninggal karena penyakit muntaber. Pada waktu itu, semua orang berusaha menyelamatkan diri dari wabah itu dan pindah dari Laman Nanga Pedini, sekitar 8 kepala keluarga pindah ke Melaban. Akhirnya di Melaban semakin bertambah penduduknya hingga menjadi sebuah kampung. Untuk memimpin kampung, penduduk memilih Rebuk sebagai kepala kampung. Kampung ini diberi nama kampung Melaban Pedini yang dipimpin oleh Hardimin sebagai kepala dusun. Melaban adalah nama jenis kayu sedangkan Pedini adalah nama sebuah sungai. |