Sebelum Indonesia merdeka, diperkirakan sekitar tahun 1913 ada sebidang tanah satu hamparan di kiri mudik sungai Kayan. Di tempat itu banyak ditumbuhi Pandau yakni tumbuhan yang batangnya hitam, daunnya hijau berbentuk lonjong dan agak tebal, buahnya bulat mirip bola pingpong, besarnyapun kurang lebih sebesar bola pingpong. Jika masih mentah warna buahnya putih ungu namun kalau sudah matang warnanya berubah merah, rasanya manis seperti buah manggis, jika berbuah lima tahun sekali. Tumbuhan Pandau ini tidak ditanam, ia bisa hidup dimana saja.
Di lokasi itu tinggal seorang jejaka bernama Sarau yang hidup sebatang kara karena ditinggal mati kedua orangtuanya. Dia tinggal di tempat itu ketika masih berumur 17 tahun. Meski tinggal disitu, dia tidak tahu nama tempat tersebut, dan tidak tahu harus dinamai apa tempat itu.
Pada waktu itu timbul kemarau yang panjang selama dua tahun setengah yang menyebabkan hingga terjadi kekeringan dimana-mana. Sungai Kayan menjadi kering hingga teluk yang iarnya dalam tempat pemandian Sarau kering pula. Beruntung di tempat itu ada mata air. Setiap tiga kali sehari Sarau menampung air yang mengalir dari mata air itu dengan daun Pandau. Maka terfikir olehnya untuk menamai tempat kediamannya dan teluk tempat mandi. Sarau menengadah ke langit sambil mengucapkan kalimat memohon kepada mahluk yang di langit yang bernama Soma Bejaya Biku Bidadari “pada hari ini saya ingin menamakan tempat kediaman dan mata air tempat ku mandi ini, mulai dari saya sampai turun keturunan aku menyebut tempat bermukim adalah tanah Pandau, tempat ku mandi adalah Teluk Pandau dan sungai kecil kiri mudik Kayan sekitar sepuluh meter kunamai sungai Pandau.
|