Nanga Nyabo terletak di dua tumpuan Sungai, yaitu Sungai Apalin dan Sungai Nyabo. Selain itu keberadaanya di antara muara sungai apalin dan Sungai Nyabo membuatnya dikenal juga dengan nama Dipanimpan Bolong. Dipanimpan berarti tersekatnya aliran sungai, sedangkan bolong artinya tergenangnya dua aliran sungai, yaitu sungai Apalin dan Nyabo. Nyabo dalam bahasa Baranangis “Jantulak Ka Nyabo Jantaring Barani†yang artinya orang yang berani dan mempertahankan Banua Nyabo.
Di Nanga Nyabo terdapat Sao Langke yang dinamai Dipanimpan Bolong. Sebelum pendirian Sao Langke ini penduduk Nanga Nyabo pernah membuat tujuh pemukiman di aliran Sungai Apalin hilir, lima pemukiman di muara Sungai Nanga Nyabo dan sungai Apalin. Sedangkan di bagian hulu Sao Langke, tepatnya di aliran sungai Apalin warga membuat dua pemukiman. Adapun pemukiman yang pernah ditempati penduduk Nanga Nyabo sebagai berikut :
1.Jantaring (Pauluang Banua) di Ulak Pakayu
2.Jantulak (Pauluang Banua) di Masure
3.Kalayungan (Pauluang Banua) di Banua Papa
4.Jarop (Pauluang Banua) di Ukit Jaras Paupang Bolong
5.Kalang Unggan (Pauluang Banua) di Ukit Jaras. Kalang Unggan memiliki saudara Kalang Tading, Kalang Baladak.
6.Lampu (Pauluang Banua) di Poloasu
7.Langgani (Pauluang Banua) di Paranyanyangen
Pada masa itu terjadi musibah “Pole Mopa†yang menyebabkan hampir seluruh masyarakat Tamambalo Apalin meninggal .
Waktu itu ada seseorang bernama Baki' Tampal, ia memiliki istri bernama Piang Induk Kamaluan, hasil dari perkawinan Baki' Tampal dengan Piang Indu Kamaluan dikarunia dua orang anak laki-laki.
Baki' Tampal dikenal sebagai laki- laki yang baka mam (bagus rupanya) serta memiliki ketangkasan tinggi, karena rupawan dia memiliki tabiat suka menggoda istri orang lain. Hal ini memunculkan dendam bagi sebagian orang.
Pada suatu ketika masyarakat sepakat untuk mencari ikan ke sebuah danau di batang Timbaru, berbagai alat untuk menangkap ikan disiapkan dan dibawa oleh masyarakat, disebutkan juga bahwa Baki' Tampal turut serta untuk mencari ikan.
Saat mereka mencari ikan, sekelompok orang yang tidak menyenangi Baki' Tampal memanfaatkan kesempatan ini untuk membalaskan dendam. Mereka sengaja menebarkan jala ke kayu sehingga jala tersangkut dan mereka meminta Baki' Tampal untuk menyelam. Mereka sengaja menenggelamkan dan menombaknya, sampai Baki' Tampal meningggal di Danau tersebut. Sehingga Danau tersebut dinamakan Danau Kamateanen (danau kematian) dan saat ini danau tersebut masuk dalam wilayah administrasi Desa Nanga Lauk.
Ketika semua orang telah pulang, namun Baki’ Tampal tidak kunjung muncul dan dicari oleh kedua anaknya. Dia bertanya di mana sang ayah, orang-orang mengatakan bahwa Baki' Tampal masih mencari ikan, sedang membuat jukut, salai, dan beragam alasan. Penjelasan yang ganjil membuat mereka menyadari jika orang tuanya telah dibunuh.
Dengan perasaan sedih dan marah mereka menyampaikan kelak akan membalas kematian orangtuanya. Mendengar hal tersebut orang-orang yang telah menenggelamkan Baki' Tampal mencari akal agar anaknya ini tak berumur panjang.
Mereka menunggu hingga tiba saatnya, suatu hari mereka memukul hidung kedua anak tersebut menggunakan Buku Tampaan (besi) hingga mereka meregang nyawa. Setelah menjatuhkan mayatnya di antara Sao Langke, orang-orang tersebut mengabarkan pada seluruh penduduk kampung jika anak tersebut meninggal akibat terjatuh dari Sao Langke.
Mendengar kabar tersebut Piang Indu Kamaluan menjadi marah besar. Belum habis dukanya kehilangan suami, kini anaknya juga dihabisi. Setelah itu Piang Indu Kamaluan bermimpi, dimimpinya disampaikan bahwa di Kanda Suli ada kayu Bakul dan jika kayu tersebut mengarah ke arah matahari terbit merupakan obat dan sebaliknya maka kayu tersebut merupakan racun. Keesokan harinya Piang Indu Kamaluan mencari Kayu tersebut. Kemudian Piang Indu Kamaluan mengambil kulit kayu beracun itu dan merendamnya di hulu sungai Apalin. Dengan cepat, semua yang bernapas baik binatang maupun manusia yang minum air atau makan ikan dari sungai Apalin kehilangan nyawanya.
Menurut sejarah yang dipercaya masyarakat Tamambalo kulit Kayu Bakul yang menghadap matahari terbenam merupakan racun yang sangat mematikan, sementara kulitnya yang menghadap ke arah matahari terbit merupakan obat. Keberadaan kayu ini diperkirakan berada di antara Banua Apalin, dan Alauk.
Setelah Peristiwa tersebut hanya menyisakan keluarga dekat dari Piang Indu Kamaluan, karena ternyata sebelum dia merendam kulit beracun di sungai, dia telah meminta keluarganya untuk mengungsi. Kejadian ini memakan banyak korban jiwa sekaligus menjadi titik mula berakhirnya Banua Sariu, berakhirnya kejayaan Tamambalo.
Racun Pole Mopa di batang sunge Nyabo dimulai dari nanga nyabo sampai Banua korok. Penyebaran Pole Mopa di sungai Nyabo karena di bawa ikan yang lari dan masuk ke sungai nyabo, kemudian ikan tersebut di makan oleh masyarakat yang menyebabkan mereka juga meninggal.
Melihat peristiwa tersebut Baki Landung menyelamatkan diri
Namun masih ada juga masyarakat yang selamat, salah satunya adalah Landung anak dari Baki’ Bato.
Sao Langke Dipanimpan Bolong pertama kali berdiri diperkirakan pada tahun 1869. Adapun daftar nama Samagat dan Toa Adat pendiri Sao Langke pertama pada Tahun 1869 adalah Landung (samagat Tutu), Langgani (Toa Adat), dan Jaming (Toa Adat). Pada tahun 1920 saat kepemimpinan Baki’ Bato, sao langke Dipanimpan Bolong tertimpa musibah longsor. Sehingga masyarakat hidup terpisah di dua pondok sementara yang disebut Kadampe Batinting. Di sebelah hulu terdapat 12 pintu dan di sebelah hilir terdapat 21 pintu, yang dipimpin oleh Bati’ (Toa Adat), Timbas (Toa Adat), Tauman (Toa Adat), Tambe (Toa Adat).
Disitu diceritakan juga bahwa Baki’ Bato bersama toa-Toa Adat berencana membangun Sao langke baru, namun sebelum sao langke itu berdiri Tamanggung Bato diangkat menjadi menteri penerangan oleh pemerintah Belanda saat itu dan ditempatkan di Nanga Tamambalo. Sehingga kepemimpinan Katamanggungan diangkat saudara sepupunya yang bernama Baita’ yang berkedudukan di Banua Sungulo’. Sementara kepemimpinan di Banua Nanga Nyabo dipercayakan kepada toa-Toa Adat.
Tahun 1946, sao langke sudah mulai didirikan oleh masyarakat di Banua Nanga Nyabo yang letaknya ± 300 m dari lokasi Sao Langke yang longsor. Sao Langke ini dipimpin oleh Baki’ Karurung dan Piang Kasian yang merupakan anak dari Baki’ Tamanggung Bato’. Baki’Karurung dibantu oleh toa-Toa Adat yang bernama Baki’ Tambe dan Baki’ Tauman.
Sao Langke Dipanimpan Bolong yang kedua selesai dibangun diperkirakan pada tahun 1958. Sao Langke tersebut memiliki Panjang 160 m dan Lebar 16 m dengan luas 2.560 m2 serta memiliki ketinggian 4 m. Bangunan ini kokoh karena berbahan dasar kayu belian, memiliki 35 bilik. Karena memiliki nilai budaya dan historis yang tinggi, Sao Langke Dipanimpan Bolong menjadi cagar budaya suku Tamambalo Apalin.
Namun pada tanggal 19 Juli 2020, Sao Langke terkabar habis yang disebabkan kelalaian salah satu penghuni Sao Langke. Setelah musibah kebakaran sao langke, masyarakat banua nanga nyabo menempati rumah tunggal sampai saat ini. Masyarakat banua nanga nyabo telah melakukan musyawarah untuk membangun rumah panjang baru yang berlokasi di Kumu’en.
Sejarah Ketamanggungan
Tamanggung pertama di Sungai Apalin ialah Baki’ Bato’ kemudian diganti oleh Baki’ Baita’. Selanjutnya digantikan oleh Bonaventura Bacupa Leteang yang merupakan anak dari Baki’ Baita. Pada saat kepemimpinan Baki’ Bacupa, nama ketamanggungan sungai apalin berubah menjadi ketamanggungan Tamambalo Apalin. Setelah meninggalnya Baki’ Bacupa, tamanggung selanjutnya adalah Moses Salo yang merupakan menantu dari Baki’ Bacupa.
Setelah kemerdekaan, kepemimpinan banua yang dipimpin oleh Toa Adat berganti dengan kepala kampung pada tahun 1960, pemilihan kepala kampung ditunjuk langsung oleh masyarakat |