SEJARAH SINGKAT MASYARAKAT ADAT (SEJARAH ASAL-USUL, SUKU)
Rumah betang pertama Dusun Bukung didirikan oleh Baki Suada, Nyambur rumah betang ini disebut betang Barute. Kemuian di Barute didirikan lagi rumah betang yang di pimpin oleh Baki Daling dengan Tondan ini rumah betang yang ke 2. Kemudian pindah lagi kerumah betang yang ke 3 yang disebut rumah betang Sa’o Susut kemudian dipindahkan ke Pakayau Surat oleh Baki Moe ini merupakan rumah betang yang ke 4. Kemudian pindah lagi ke bukung lama yang didirikan oleh Baki Nandung dengan Piyang Kati dan ini merupakan betang yang ke 5. Setelah itu masyarakat bukung kembali lagi ke asalnya pada tahun 1993 yang di pimpin oleh Petrus Agap dan ini merupakan betang yang ke 6.
Loang Gungsi : tempat menyembunyikan harta harta lama.
Asal Usul Pemukiman
Rumah Panjang pertama kali didirikan oleh Baki Tondan di Barute.
Kemudian rumah panjang dipindahkan ke Sao Susut, dibangun oleh Baki Moe. Tempat ini dinamakan Sao Susut karena ada pasangan suami istri, dimana istrinya sangat cantik sementara suami jelek. Sang suami sering diejek oleh orang lain karena wajahnya jelek namun memiliki istri cantik. Akhirnya karena kesal, suami membunuh istrinya.
Betang di Sao Susut hanya ada tujuh pintu, yang ditinggali oleh Piang Lambukan (istri dari Baki Moe), Piang Kapeto, Piang Karuwak, Piang Busisak, Baki Paragam, Piang Landok dan Piang Sakilung.
Setelah itu, kemudian Betang dipindahkan ke Tandung Bukung. Nama Bukung diambil dari sebuah kalimat “Bukunga Sakaup Bainye Maro’i Ririam†yang berarti segenggam perempuan menghadap ke riam. Sementara tandung berarti tikungan sungai.
Sekitar tahun 1966an, rumah panjang yang di Tandung Bukung disuruh oleh TNI untuk dibongkar. Nama orang yang memerintahkan itu adalah Pak Emus, atau yang biasa disebut oleh masyarakat dengan “Tentara Emusâ€. Pada saat ini sedang terjadi penumpasan PARAKU/TN-KU oleh pemerintah Indonesia. Bila betang ini tidak dibongkar, maka akan dianggap Komunis dan pemberontak yang kemudian bisa ditangkap.
Perintah ini dituruti oleh masyarakat Bukung, yang akhirnya membangun rumah sendiri-sendiri namun lokasinya tetap di Tandung Bukung. Masyarakat Bukung tinggal dirumah terpisah atau sendiri-sendiri kurang lebih selama lima tahun. Pada saat sudah tidak ada lagi Tentara Emus, maka “Suang Sao†salah satu masyarakat dan Semagat “Baki Ajung†mengadakan kesepakatan untuk membangun kembali Betang di Tandung Bukung.
Pada Tahun 1993, terjadi kesepakatan untuk memindahkan Betang ke Balumbung . Keputusan ini diambil karena ancaman tanah longsor yang disebabkan derasnya arus sungai Embaloh. Tiang-tiang utama untuk membangun Betang dipindahkan juga ke Balumbung.
KONDISI PEMUKIMAN DAN MASYARAKAT SAAT INI
Betang di Balumbung, yang saat ini ditempati terdiri atas 26 Pintu. Jarak dari betang ke jalan raya kurang lebih 1 Km. Namun tidak ada aliran listrik. Sempat ada bantuan berupa Pembangkit listrik tenaga surya, yang hingga kini masih ada di atas betang, namun sudah 3 tahun tidak dapat digunakan. Kebutuhan air bersih mengandalkan air hujan, pada saat musim kemarau menggunakan air dari sumur bor.
Betang Bukung saat ini ditetapkan menjadi Situs Budaya oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 2008 dengan luas 9.000.meter persegi.
|