9 pembagian ruang berdasarkan kearifan masyarakat Tae yaitu: (1) nangot – jerami (bawas), (2) Mawakng Kelaka ( Tembawang), (3) Kampokng (4) Tengkawang, (5) Payak ( Sawah), (6) Kabon Gatah ( Karet), (7) Kampong atau tempat badio ( Pemukiman), (8) Turutn Tempat Keramat Pedagi Guna ( Hutan Keramat) dan (9) durian.
1. Nangot – Jerami ( Bawas)
Nangot merupakan kawasan bekas ladang yang dibiarkan menjadi semak-semak dan hutan kembali. Kawasan ini biasanya disiapkan lagi untuk berladang tahun–tahun berikutnya. Di kawasan ini didapati berbagai jenis tumbuhan maupun tanaman yang berguna untuk sayuran, obat-obatan, bumbu-bumbuan, dll.
2. Mawakng – Kelaka’ (Tembawakng)
Mawakng – Kelaka’ secara fisik merupakan kawasan dimana vegetasinya banyak ditumbuhi oleh beraneka ragam jenis pohon buah-buahan, dan juga di jumpai beragam jenis pohon penghasil kayu, tumbuhan obat , tumbuhan bahan kerajinan, tali temali dan tumbuhan untuk bahan ritual.Berdasarkan sejarahnya mawakng kalaka’ adalah kawasan pemukiman yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang pada masa lampau. Hak mawakng kalaka’ tersebut menjadi milik anggota masyarakat adat yang memiliki tali waris dengan nenek moyang pemilik mawakng kalaka’ tersebut.
3. Kompokng
Kompokng adalah suatu kawasan yang lebih banyak ditumbuhi pohon buah-buahan sejenis dan sedikit lebih tumbuhan lain namun tidak dominan. Misalnya kompokng durian, berarti disitu lebih banyak pohon buah durian daripada tumbuhan lain.
4. Tengkawang
Kawasan yang banyak dijumpai pohon-pohon besar dan lebih dominan ditemukan pohon Tengkawang. Tanaman ini ditanam dalam proses perladangan sebelumnya.
5. Payak (Sawah)
Payak merupakan lahan basah yang digunakan untuk menanam padi. Secara fisik lokasi payak tergenang dimusim hujan dan kering dimusim kemarau. Biasanya berada di kiri dan kanan aliran sungai.Lokasi payak yang cukup luas digarap oleh masyarakat adat Dayak Tae berada di kampung Maet, Semangkar dan Mak Ijing.
6. Kabon Gatah (Karet)
Kabon Gatah merupakan lahan yang di dominasi oleh tanaman karet. Kabon gatah yang ada di wilayah adat Dayak Tae, mirip lahan karet yang dimiliki masyarakat adat secara umum di Kalimantan Barat, yang lebih cocok disebut agroforestry. Artinya walaupun diusahakan untuk tanaman karet, masyarakat juga menanam beraneka ragam tanaman termasuk buah-buahan (durian, cempedak, rambutan, belimbing darah, asam, dll) dan membiarkan tumbuhan lainnya tetap tumbuh di dalamnya seperti bambu, dan pohon-pohon yang dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan, obat-obatan, tali-temali.
Masyarakat adat Dayak Tae melakukan budidaya karet baik secara tradisional maupun dengan cara intensif. Untuk budidaya karet lokal, pengadaan bibit karet tidak melalui penyemaian di dalam wadah atau penyemaian biji pada suatu lahan yang secara sengaja disediakan untuk bibit. Bibit diambil dari anakan getah yang tersedia dan tumbuh pada areal kebun tua, sedangkan budidaya karet secara intensif ( karet unggul) masyarakat mendapatkan bibit dari proyek karet unggul dari SRDP dan TCSDP, masing-masing tahun 1990/1991 dan 1993/1994. Masyarakat dibantu bibit karet unggul, pupuk dasar, pupuk Urea, Pupuk TSP dan KCl.
7. Kampokng atau Tempat Badio (Pemukiman)
Kampokng adalah kawasan pemukiman penduduk, lokasinya biasanya lebih banyak berada di dekat sungai. Pemukiman orang Tae sendiri umumnya berada dekat sungai Tae.
8. Tunu Perapi
Tunu Perapi adalah lokasi pekuburan. Lokasi Tunu Perapi orang Dayak Tae berada tidak jauh dari lokasi pemukiman penduduk.
9. Turutn Tempat Keramat Pedagi Guna (Keramat)
Turutn adalah kawasan tempatkeramat hanya bisa dilaluiatau dijamah setelah melewati proses ritual adat. Turutn cukup banyak dijumpai di wilayah ini, seperti Panyugu Ria Sinir, Batu Ikan, Batu labi-labi, Lo mangkar, dll.
10. Durian
Kawasan yang banyak di tumbuhi pohon durian, yang dimiliki baik secara pribadi maupun bersama (keturunan). Taemerupakan penghasil buah durian yang cukup banyak di wilayah kecamatan Balai.
|