Tidak diketahui dengan pasti tahun dan tanggal berdirinya kampong ini yang jelas berdasarkan Penuturan Narasumber Yaitu Pak Syahdan Mantan Kepala Kampung orde Lama juga Pernah menjadi Kepala Desa Orde Baru, dari penuturan Beliau mengatakan Bahwa Pada zaman penjajahan Belanda suatu saat mereka menelusuri Sungai Kayan dari muara mudik sampai ke hulu, pada saat menjelang malam lalu tibalah mereka di suatu muara sungai dan melihat ada sebatang pohon besar yang diselimuti oleh akar yang menurut pengelihatan mereka bunga tersebut yang berasal dari akar kayu tersebut bermacam-macam ada yang kuning, merah, biru, hitam dan banyak lagi jenisnya, dan bunga tersebut sangat bagus menurut mereka yang melihatnya, karena saking bagusnya bunga yang dipancarkan akar kayu tersebut lalu mereka menamakan cahaya tersebut adalah: MANSAU.
Sedangkan kayu yang diselimuti oleh akar tersebut berdiri di tepi sungai atau pas muara antara Sungai Kayan maka singkat cerita oleh mereka pada zaman itu disebutlah Nanga Sungai Mansau yang artinya: ada sebatang pohon yang diselimuti oleh akar kayu yang berwarna-warni yang tumbuh ditepi sungai maka sampai sekarang ini dikenalah nama tersebut menjadi Nanga Masau dan sekarang ini menjadi Pusat Desa, sebelum pemekaran menjadi 3 Desa yaitu Desa Nanga Masau, Desa Tapang Menua, dan Desa Merah Arai zaman orde Lama Kampung ini berdiri sendiri dan disebut pimpinan wilayahnya adalah Kepala Kampung.
|