Menurut penuturan dari para untuh tua, orang yang pertama kali membuka daerah Kalam adalah kek Palanjar dan kek Carakng. Bermula saat keduanya berburu ke arah bagian hilir sungai Samera. Kedua orang ini merupakan anak beranak angkat, mereka berdua berangkat dari daerah Lompam (Kangking). Setelah sekian lama perjalanan mengelilingi hutan belantara, mereka menemukan sebuah pohon yang sangat besar diantara pohon-pohon lainnya. pohon tersebut persis berada di pinggir sungai kecil.
Uniknya pohon tersebut mempunyai daun yang lebar sekali sekitar 50 meter (sekitar sebirah tamporakng/ladang kecil). Kondisi alam disekitar pohon tersebut sangat sejuk dan indah dan air sungainya pun begitu jernih. Rupanya pohon tersebut merupakan pohon Kalam. Dan sungai yang berada di sekitar itu pun dinamakan sungai Kalam. Maka sejak saat itu nama daerah tersebut pun dinamakan Kalam.
Merasa bahwa daerah tersebut sangat untuk lahan perladangan dan perdukuhan Dua tahun kemudian kek Palancar (anjek) memutuskan untuk berladang di Natai sungai Kalam serta membuat perdukuhan. Sekitar 3 tahun mereka berladang di daerah itu, terjadilah perang dijaman pendudukkan Jepang di Indonesia. Maka kemudian, mereka yang berladang tadi kembali ke kampung Gampolas biar aman dari rasa takut.
Setelah beberapa waktu di Gampolas dan dirasakan sudah tidak lagi terdengar isu Jepang mereka pun kembali lagi membuat ladang. Dan diikuti oleh beberapa orang diantaranya Anjek, Birikng (Carakng), Gompang Gunum, Siam ainas (ganyuk) Awan dan Tagan. Mereka membuat rumah betang terdiri dari tujuh pintu. Dan penduduk yang tinggal disitu pun menjadi ramai.
Seiring dengan berkembangnya jaman pada massa pak Paun sebagai Kepala Urusan (Kaur) Pemerintahan Desa, maka sejumlah orang yang berada di perdukuhan seperti Kunyit, Gampolas, Diatn Tulan pun di persatukan untuk menetap di Kalam hingga sekarang ini.
|