Dulu Suku Tamambalo tersebar di tiga sungai utama yang berada di sebelah utara kota putussibau, ketiga sungai tersbut adalah Sungai Apalin, Sungai Tamambalo dan Sungai Labian. Masyarakat Suku Tamambalo Apalin menetap di aliran sungai maupun anak sungai Apalin.
Sejak dulu masyarakat Banua Sungulo’ memiliki pola hidup dengan cara berpindah-pindah, maka dari itu orang Sungulo’ tersebar dari muara Sungai Sungulo’ hingga bagian hulunya, sungai Ipung besar dan Sungai Ipung kecil. Perpindahan ini menyisakan belean sao yang dulunya tempat berdiri Sao Langke.
SEJARAH SAO LANGKE
Adapun Sao Langke milik leluhur orang Sungulo’ sebagai berikut:
a.Sao Langke di sepanjang aliran Sungai Sungulo’
1)Sao Langke’na Baki’ Garau
Sao Langke ini didirikan di nanga sungai Sungulo’ oleh Baki’ Garau dan Piang Saliman. Mulanya kehidupan aman dan tenteram hingga muncul perselisihan akibat perebutan bainge (istri). Sao Langke ini kemudian hancur dibakar oleh musuh.
2)Sao Langke Indu’ Manik
Sao Langke Indu’ Manik didirikan di bawah pimpinan Baki’ Bage’ dan Piang Anggu’. Sepanjang sejarah Sao Langke Indu Manik tidak pernah mengalami serangan oleh musuh sehingga mereka hidup aman tenteram.
3)Sao Langke Banua Ngonggong
Sao Langke Banua Ngonggong didirikan di Ngonggong oleh Baki’ Saung Amana Rintik. Sao Langke ini juga aman dari serangan musuh.
4)Sao Langke Baba’ Dalanen
Sao Langke Baba’ Dalanen didirikan oleh Baki’ Lompong. Sao Langke ini pernah diserang musuh hingga menimbulkan korban jiwa di pihak Baki’ Lompong.
5)Sao Langke Matali Nyalang
Sao Langke Matali Nyalang didirikan oleh Baki’ Tali. Baki’ Tali adalah anak dari Baki’ Nyalang. Sao Langke ini aman dari serangan musuh.
6)Sao Langke Saka Bakulen
Sao Langke Saka Bakulen adalah Sao Langke paling hulu di Sungai Sungulo’ yang didirikan oleh Baki’ Bait di Saka Bakulen.
b.Sao Langke di sepanjang Aliran Sungai Ipung
1)Sao Langke Kerengen
Sao Langke ini didirikan oleh Baki’ Jangan Amana Piang Along. Dia merupakan Seorang samagat yang sangat disayang dan dihormati oleh masyarakat. Pada masa itu kehidupan masyarakat sangat tenteram, aman dari serangan musuh.
2)Sao Langke Sangkotor
Sao lange Sangkotor merupakan Sao Langke yang berkedudukan di Bilaan di bawah pimpinan Baki’ Sarang Amana Baki’ Bato. Sao Langke ini juga aman dari serangan musuh.
3)Sao Langke Kaliin
Sao Langke Kaliin didirikan oleh Baki’ Sandik. Baki’ Sandik merupakan seorang pemimpin yang dipercayai dan dihormati oleh masyarakatnya. Pemimpin Sao Langke ini tidak pernah melakukan penyerangan dan pernah mendapat serangan dari suku lain yang ada di sekitarnya. Kaliin dianggap layak menjadi tempat pertahanan pada masa itu.
c.Sao Langke di sepanjang aliran sungai ipung keke’ (Kecil). Sungai Ipung Keke’ adalah cabang dari sungai ipung bagian kiri. Di jalur pesisir sungai ipung kecil ini sungainya agak kecil dan dangkal, namun potensi alamnya subur seperti sungai Sungulo. Sehingga di Sungai Ipung Kecil terdapat dua Sao Langke. Adapun keberadaan rumah betang adalah sebagai berikut :
1)Sao Langke Ulak Kapangen
Sao Langke Ulak Kapangen didirikan oleh Baki’ Timbang Nariung. Baki’ Nariung merupakan pemimpin masyarakat adat di wilayah tersebut. Kehidupan masyarakat di sana aman, tidak pernah mendapat serangan musuh.
2)Sao Langke Tang Mao
Sao Langke Tang Mao juga salah satu Sao Langke yang berdiri di Nanga Sungai Tang Mao. Tang mao adalah nama sungai, merupakan cabang dari Sungai Ipung kecil. Sao Langke Tang Mao didirikan oleh Baki’ Liung. Rumah betang ini merupakan rumah betang paling terakhir dan letaknya paling ujung di sepanjang Sungai Ipung Keke’. Masyarakat di sana aman dari serangan suku lain.
d.Sao Langke di sepanjang aliran Sungai Ipung Ra (besar)
1.Kadampe Lulungen
Pendiri Kadampe Lulungen adalah Baki’ Burung. Baki’ Burung sering bertapa untuk memperoleh kekuatan dalam menghadapi serangan dari musuh. Kadampe Lulungen pernah diserang oleh sekelompok suku, karena terancam akhirnya mereka pindah ke Sibau.
Sao Langke yang tersebar di tiga sungai ini sangat sering diserang oleh suku lain, bahkan tidak jarang terjadi perang suku yang menelan korban di kedua belah pihak. Seringnya terjadi perang suku ini menyebabkan Sao Langke di jalur sungai Sungulo, Sungai Ipung keke’, dan Sungai Ipung Ra tidak aman.
Dalam masa peperangan antar suku saat itu (mangayo), masyarakat sungulo’ mempertahankan wilayah dari serangan musuh lain. Masyarakat dengan teguh mempertahankan wilayahnya dan berperang menghadapi suku-suku yang datang mangayo (menyerang), adapun rentetan perang suku ini adalah:
a.Perang di sungai salah hanyut pesisir sungai Sungulo’, dalam perang ini Tamambalo Apalin Banua Sungulo’ melawan suku Iban. Perang ini menimbulkan korban di kedua belah pihak, 1 (satu) orang banua Sungulo’ Baki’ Bayong dan pihak musuh 2 (dua) orang. Perang antara suku Tamambalo Apalin Sungulo’ dengan suku Iban Sarawak.
b.Perang Baba’ Dalanen
Perang ini terjadi di muara jalan ke Banua Sungulo’ (Baba’ Dalanen). Perang melawan suku Iban yang memakan korban di kedua belah pihak. Antara lain korban di pihak Tamambalo Apalin Sungulo’ adalah Baki’ Mambalino dan korban di pihak suku Iban adalah Apae Maran.
c.Perang di Lalagaien
Perang di Sao Langke Lalagaien yang berada di Tingkuak membekas dalam sejarah peperangan Tamambalo Apalin karena siasat yang digunakan untuk melawan musuh. Perang ini dipicu karena rombongan Iban yang dipimpin oleh Labang menyerang orang Tamambalo yang sedang bekerja di ladang. Namun tak ada korban jiwa dalam penyerangan tersebut karena Labang dan rombongannya kelaparan akibat kehabisan makanan. Pasukan Labang lalu datang ke Sao Langke dengan menyamar sebagai orang yang tersesat dan meminta makanan. Saat itu petani yang sebelumnya diserang sudah lebih dulu tiba di Sao Langke karena melewati jalan pintas yang lebih aman. Dia mengabarkan penyerangan tersebut. Labang dan rombongannya dijamu makanan dan minuman hingga mabuk. Kesempatan itu digunakan untuk menghabisi Labang dan pasukannya. Orang Tamambalo hanya menyisakan satu orang yaitu Apae Jati’.
d.Perang di Pamuat
Perang di Pamuat terjadi karena mempertahankan wilayah dari serangan musuh yang dipimpin oleh Rangga. Orang Tamambalo memukul mundur musuh dengan tembakan. Tak ada korban jiwa dalam perang ini.
e.Perang di Bagau
Perang di Bagau terjadi karena mempertahankan wilayah dari serangan suku Iban yang dipimpin oleh Ambalang. Perlawanan ini memakan korban di pihak Tamambalo Sungulo’ Apalin yaitu Baki’ Bagau. Setelah rombongan Ambalang berhasil membunuh Baki’ Bagau mereka lari menyelamatkan diri untuk menghindari serangan balasan dari orang Tamambalo Apalin.
f.Serangan Kayo Anak
Serangan ini terjadi di Sungai Tanang Hulu atau sekitar 1 km dari Sao Langke sekarang. Mereka menggerakkan pasukan berjumlah kecil untuk menyerang petani yang sedang bekerja di ladang. Satu-satunya yang menghadapi musuh adalah baki’ Kabit. Para petani banyak yang jadi korban, satu di antaranya adalah seorang sepuh bernama Baki’ Koyan. Sementara kaum perempuan banyak yang berhasil menyelamatkan diri dengan bersembunyi di tempat yang aman.
g.Perang Melawan Bala Giling dan Mumbuas
Orang Tamambalo Sungulo’ Apalin juga pernah berperang dengan rombongan Giling dan Mumbuas yang ingin merebut gunsi (tempayan) besar. Perang ini terjadi di sepanjang aliran Sungai Sungulo. Dalam perang ini beberapa orang menjadi korban, yaitu Baki’ Banyin, Piang Korek, Piang Tabu’, Piang Sialam, Piang Ase, dan Baki’ Sawa.
h.Jebakan Mareau di Kaliin
Saat perang dulu Orang Tamambalo Sungulo’ Apalin pernah membuat jebakan di wilayah bernama Kaliin. Jebakan ini disebut jebakan mareau, yaitu parit yang dibuat sangat lebar dan dalam. Di dalam parit dipasang berbagai benda tajam, salah satunya bambu runcing. Bambu ini ditancap kuat ke tanah agar tidak mudah patah dengan bagian yang telah diruncing menghadap ke atas. Parit ini kemudian ditutup dengan dedaunan atau kayu-kayu yang mudah patah. Musuh banyak terjebak hingga konon darah sampai mengalir seperti anak sungai.
Setelah kejadian ini perang suku di wilayah Sungulo’ Apalin mulai berkurang dan terjadi perdamaian antara suku Tamambalo Apalin Banua Sungulo’ dan suku Iban (Sarawak). Perdamaian ini berlangsung di betang panjang Sungulo’ Apalin. Sebagai tanda perdamaian dan persaudaraan ini Baki’ Baita’ yang didampingi oleh Baki Riti dari pihak Tamambalo dan Baki’ Iman yang didampingi oleh Baki’ Garinang dari pihak Iban menyayat kulitnya masing-masing untuk diambil darahnya dan diminum sebagai tanda damai dan tidak ada lagi permusuhan. Perdamaian ini terjadi sekitar tahun tahun 1940an setelah merdeka. Kesepakatan perdamaian ini mengharuskan setiap keluarga di Sungulo’ Apalin membayar pati nyawa terhadap suku Iban yang mati terbunuh dalam perang. Besaran patinyawa ini adalah 1 kaletau per pintu dan 2 kaletau Baki’ Baita membayar patinyawa untuk menutup dara’, saat itu nilai 1 kaletau sama dengan 15 rupiah uang perak zaman Belanda. Pembayaran pati nyawa ini tak hanya berupa uang, ada juga yang berupa gong, tawak, badil, bobondi dan berbagai barang tembaga yang berharga pada masa itu. Setelah kesepakatan perdamaian ini, orang Sungulo’ Apalin tidak mengalami rasa takut lagi. Oleh karena itu, membayar pati nyawa dalam bahasa Tamambalo Apalin disebut MAMAE’ANG BATANG SUNGE yang berarti mempertahankan wilayah.
Hingga kini masyarakat Sungulo’ Apalin masih memegang adat istiadat dan budayanya. Hal ini tercermin dari berdirinya Sao Langke dengan tiang tinggi dan berukuran besar. Dulunya ini berfungsi sebagai benteng pertahanan dari serangan musuh maupun binatang buas. Sao Langke Sungulo’ Apalin menjadi salah satu situs budaya yang telah diakui di privinsi Kalimantan Barat dan menjadi tujuan wisata budaya dan wisata alam.
Sangat disayangkan pada tanggal 13 September 2014, Sao Langke Banua Sungulo’ ini habis terbakar karena kelalaian warga. Sao langke yang terbakar ini memiliki panjang 204 meter yang terdiri dari 54 pintu. Dengan ketinggian 7-8 meter. |