Orang Dayak Ensilat adalah penduduk yang mula-mula menghuni wilayah Selangkai yang diciptakan oleh Alahtala (Tuhan) yaitu orang yang bernama Medang dan Gerunung. Manusia pertama diciptakan dan mempunyai keturunan sehingga membentuk sebuah kelompok kecil hingga besar. Mereka hidup di wilayah sungai Gangang, sungai Melaban, sungai Beranam, sungai Nyala, dan Ensilat Putih. Orang Dayak Ensilat yang hidup di wilayah ini tidak di ketahui berapa lama dan tahun berapa, lama kelamaan mereka mulai membuka wilayah sungai Geraman terutama sungai Geraman Lidhis dan sekitarnya. Tidak di ketahui berapa lama mereka di Geraman Lidhis, pindah lagi ke perhuluan sungai Ensilat melalui sungai Berenam pindah lagi ke daerah sungai Melaban, sungai Ganggang, sungai Nyala, nanga sungai Ensilat kibak dan sungai Ensilat Putih. Di sungai Ensilat Putih inilah mulai pertama kelompok agak besar di sebut rumah dan setelah ditinggalkan disebut Temawang Randuk. Bukti dari penyebaran penduduk diatas masih dapat dilihat sampai sekarang berupa:
- Tengkawang satu hamparan (bidang/gempung) bisa mencapai ratusan pokok, begitu juga dengan tanaman lain seperti khawai, sibau, mawang dan lain-lain.
- Kuburan di Nanga Sungai Melaban.
- Perupuk (bahan anyaman) di Sungai Gangong. - Tula Urat (jenis akar) di Sungai Berendam, besar batangnya
mencapai diameter + 60 cm. Sebelum kedatangan Siu orang pertama dari daerah Sintang yang menjelajah ke sungai Ensilat, orang beranggapan bahwa di aliran sungai Ensilat tidak ada kehidupan dan nama sungai ensilat awalnya adalah; Jempuyin Panyhang atau Aik’ Menyawai. Siu dan rombongan mudik menggunakan perahu galah (suar) dan tidak terlau jauh karena dari Nanga Silat sampai ujung panyang tertutup rampuk akar ensilat, akar tersebut bila di potong segera bersambung kembali begitu kiri-kanan tepi sungai banyak hantu, minta cabuh atau pegelak (sesaji) berupa hati, mata, daging, kulit, tulang dan lain-lainnya, melihat kenyataan mereka mundur sambil mencari pirasat dan akal supaya bisa menembus sampai keperhuluan. Siu mudik lagi dengan membawa 7 ulun (kuli) dan panglima hulu galangnya. Sesampainya diujung panyang mereka menemukan sebatang kayu purang yang telah dipotong ujungnya dan pangkalnya dan kulitnyapun telah dikelupas. Penemuan ini menunjukan bahwa di hulu ada kehidupan, manusia, rumah, ladang dan lain-lainya. Rombongan Siupun mudik dengan tidak di ketahui berapa lama dalam perjalanan mudik. Tiap hari mereka dihadapkan dengan tantangan hantu yang mirip mereka, yang bisa menghilang, berbicara minta sesaji (hati, mata, telinga, otak, kulit) sesuai dengan keinginan hantu tadi. Tetapi Siu tidak menghiraukannya, mereka mudik melewati berbagai tantangan, gurung, riam, hingga sampailah mereka pada suatu tempat karena mereka telah letih dan akan menyudahi perjalanannya, maka bermalam lah mereka di tempat itu. Keesokan harinya sesuai dengan rencana dan permohonan hantu maka Siu membunuh ke 7 ulun tadi dipotong-potong dan diiris-iris layaknya binatang sehingga aliran sungai menjadi merah mirip dengan darah yang sekarang di sebut sungai Ensilat Merah. Siu memerintahkan hulu balangnya milir, sama halnya dengan waktu mudik dari sungai Ensilat Merah sampai ke ujung payang hantu- hantu berjejer dipantai kiri-kakanan meminta cabuh sesuai dengan keinginannya, maka anak buah Siu pun sibuk lempar kiri, lempar kanan daging atau kerat-kerat dari ulun yang di bunuh. Tidak diketahui lamanya milir, cerita lisan yang dipaparkan oleh tua-tua Ensilat, daging habis terbagi dan mereka sampai ke Nanga Silat. Mulai saat itulah Jempuyin Payang berubah nama Sungai Ensilat dan keluarga dan keturunan Siu pun aman dan tentram hidup dan tinggal di sungai Ensilat karena telah memberi cabuh atau sasih kayu purang yang ditemukan Siu. Batang purang yang pertama di kenal atau ditemui oleh Siu (orang dari kerajaan Sintang) yang menandakan bahwa di hulu sungai Ensilat ada kehidupan diabadikan oleh orang Ensilat sebagai Empang yaitu kayu yang dililit dengan daun dan bunga untuk penyambutan tamu. Hantu-hantu yang minta cabuh kepada Siu adalah jelmaan dari orang Dayak Ensilat asli sebelum Siu mendatangkan dan menyebarkan kelompoknya ke sungai Ensilat. Mereka sengaja
berbuat demikian atau meminta cabuh karena ingat akan perjanjian pembagian harta adik-beradik Buyin Asi (baca Beuma Betahun dari buku Kumpulan Kearifan Lokal Dayak Ensilat). Setelah penduduk membaur dan berketurunan, memenuhi aliran sungai Ensilat pada masa pengorganisasian kerajaan atau penjajah. Pada waktu itu penduduk asli Ensilat terpecah dua yaitu: (1) mereka yang mau diorganisir oleh kerajaan dan yang membaur dengan orang-orang bawaan Siu menetap dan membuat rumah, kampung sampai sekarang, (2) mereka yang tidak mau membaur disebut Tapuk, mereka hidup berkelompok sampai sekarang di daerah hulu sungai Ensilat mereka tidak bisa kelihatan, baik rupa, rumah atau pondok maupun usahanya, kalaupun bisa kelihatan, dalam waktu sekejap mata saja. Mereka adalah satu keturunan yang sama yang tidak pernah mengganggu bahkan bisa menolong dalam situasi sulit tanpa disadari misalnya jika tersesat di hutan yang sangat jauh, tiba-tiba dengan sekejab mata kita sudah dekat pondok atau tempat yang dikenal, perahu yang diangkat tiba-tiba menjadi ringan, dan banyak contoh lainnya. Hasil pembauran penduduk asli dan orang-orang yang dibawa Siu tadi menyebar di beberapa kampung tua jaman ngayau yaitu:
1. Nanga Sungai Kersit. 2. Riam Tapang. 3. Tapang Landai. 4. Nanga Suang. 5. Karangan Lintang. 6. Nanga Pengga.
Bukti sejarah yang masih ada hingga sekarang berupa Tiang Sanukng yang terdapat di Riam Tapang, Karangan Lintang dan Nanga Pengga. Pada jaman ngayau (diperkirakan sekitar tahun 17-an) hiduplah penduduk di daerah Sungai Geraman dengan sebutan rumah Nanga Geraman kemudian pindah lagi ke Nanga Sungai Kersit, karena pemukiman hangus dibakar musuh sehingga penduduknya sembunyi karena jumlah musuh lebih banyak, sementara yang lainnya masih dalam perjalanan ngayau. Dari ngayau mereka mufakat membuat rumah di Nanga Sungai Kersit. Dari Nanga Sungai Kersit penduduk terbagi atas tiga kampung yaitu:
- Sungai Kersit. - Riam Tapang (sampai sekarang). - Tapang Landai.
Dari Sungai Kersit, pindah ke Nanga Sungai Geraman Namit, pindah lagi ke Nanga Sungai Tapang lalu pindah ke Nanga Selangkai. Di Nanga Selangkai mereka merasa tidak cocok karena banyak penduduk yang sakit hingga ada yang meninggal maka atas mufakat dengan kepala kampung Kadir dan Kebayan Tibi mereka pindah ke Sungai Selangkai yakni di Lubuk Embak. Sebelum mendirikan kampung belian (Kadir) atas nama masyarakat datang ke Riam Tapang waktu itu kepala kampungnya Biai, untuk meminta lokasi ini dijadikan kampung pindahan dari Nanga Selangkai, atas persetujuan bersama maka Lubuk Embak di ijinkan oleh orang Riam Tapang. Terjadilah kesepakatan batas-batas waktu itu sebagai berikut; “ Tintin langkung turun kegurung pantar, gurung pantar ke tintin sungai gurun sampai lenghang gertak ke jalan rudi turun ke sungai besai naik ke tangkul empethir turun ke sungai bisai bhatu, netak lintang turun ke lawang kuri atau gurung gereman, ini untuk batas bagian sungai selangkai samapai sungai ensilat sebelah kiri “. Sementara sungai Silat sebelah kanan kampung Nanga Selangkai atau Lubuk Embak sampai sungai Basan, pada waktu pemetaan partisipatif yang di fasilitasi oleh PPSDAK Pancur Kasih, penduduk sepakat merubah batas menjadi sungai Silat sebelah kiri Selangkai bertambah menjadi sungai Besai tengah batas radin kuning turun ke nanga sungai ulu, dan sungai ensilat sebelah kanan dari basan berubah ke sungai sarai (data peta terlampir), kemudian Riam Tapang di mekarkan jadi dua desa. Ketika dari Nanga Selangkai pindah ke Lubuk Embak maka masyarakatnya pun pindah menurut keinginan masing- masing ada yang pindah ke Riam Tapang, Bangan Baru, Landau Rantau, Nanga Suang. Begitu juga dengan rumah di Tapang Landai lebih dahulu membubarkan diri untuk membaur ke Nanga Selangkai, Riam Tapang, Nanga Suang, Karangan Lintang dan lain- lain. |