Masyarakat Kambong telah menempati kampung Ansok secara turun temurun. Tidak ada referensi tertulis yang menunjukan dan mencatat secara persis kapan proses migrasi pertama kali terjadi di Kambong Namunpun demikian masih terdapat sumber-sumber yang masih dapat digali informasinya, seperti Luji, Bada, Ensair, Terisai, Gunsa (keturunan kedua yang mendiami Kambong).
Nenek moyang masyarakat Kambong berasal dari sub suku Dayak Seberuang yang datang dari daerah sungai Seberuang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Konon Dayak Seberuang yang juga termasuk rumpun Dayak Iban, berasal dari tanah semula jadi Tampun Juah (Segumon, Sekayam Hulu) di hulu sungai Sekayam, kabupaten Sanggau berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Dari Tampun Juah terjadi migrasi salah satunya ke Batang Sungai Seberuang di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Dari Kapuas Hulu, terjadi perpindahan ke daerah Sintang salah satunya ke daerah aliran sungai Sepauk.
Sejarah kampung Kambong dimulai pada saat Sebai, Baki, Tebuh dan Selayang ingin mencari daerah baru untuk berladang. Mereka sebelumnya berada dan tinggal di Kampung Kandis daerah Nanga Layung. Diperkirakan pada tahun 1910. Atas restu kepala Kampung….. Sebai dkk mencari daerah baru yang lebih luas dan belum ada yang menenpatinya.
Dengan mengikuti arus sungai Sekujam, setelah melewai kampung Banai (Seputih yang sekerang) kira kira satu jam jalan kaki kearah nanga sungai Sekujam ada satu daerah yang masih rimbun dan belum berpenghuni. Terdapat sebuah sungai di sebelah kanan mudik Sekujam yang ternyata hulu sungai tersebut banyak didominasi oleh pohon- pohon besar bernama Pohon Kambong di pohon pohon Kambong tersebut merupakan habitan dari (sejenis Monyet). Akhirnya Sungai tersebut disebut sungai Kambong.
Akhirnya oleh Sebai, Tebuh, Baki dan Selayang sepakat untuk mencoba kawasan daerah sungai Kambong, dengan terlebih dahulu meminta ijin kepada kepala kampung yang ada di Banai.
Perpindahan dari Kandis ke Kambong diperkirakan pada tahun 1911 berawal dari Sebai, Tebuh , Baki bersama keluarga. Pada saat itu belum disebut Kambong, tetapi daerah Kandis dua. Karena apabila dalam satu daerah belum terdapat sepuluh lawang/pintu/rumah belum bisa mendirikan Kampung.
Pada awal kepindahan baru terdapat 5 pintu, pada saat itu masih berupa rumah panjai. Hingga kurang lebih lima tahun sejak kepindahan dari Kandis Rumah Panjai yang berlokasi Tembawang Seberang (sebutan sekarang) dekat lapangan sepak bola Kambong (kanan mudik sungai Sekujam) berjumlah 10 pintu/ lawang. Kalau dihitung dari hulu ke hilir, maka keluarga-keluarga yang menempati lawang Rumah Panyai adalah: (1). Keluarga Sebai, (2). Keluarga Baki, (3). Keluarga Selayang, (4). Keluarga Tebuh, (5). Keluarga Tayan (6). Keluarga Sampit, (7). Keluarga Bauk, (8). Keluarga Pilang, (9). Keluarga Minai, dan (10). Keluarga
Dengan genap sepuluh Kepala Keluarga maka bisa disebut kampung dan sejak saat itu disebut kampung Kambong, dengan Kepala Kampung adalah Sebai. Kehidupan di Tembawang Seberang tidak berlangung lama. Diperkirakan sampai pada tahun 1942, dikarenakan banyak kejadian kejadian tidak biasa (mali) terjadi yang mengakibatkan kematian. Kejadian tersebut antara lain : tanda burung Sempidan, ular tedung masuk kerumah sampai ada tetasan darah di Rumah Panjai. Buntut dari kejadian tersebut adalah meninggalnya penghuni rumah panjai sampai 8 orang berturut turut.
Berdasarkan kesepakatan bersama rumah panjai ditinggalkan dan masing-masing pindah ke langkau uma masing-masing. Diantaranya ke Kelampai, Lubuk Beris, Sagu, Lubuk Beruang, Resak, Lupak (Keluarga Sampit) dan Lubuk Kedang. Namun sebagian besar pindah ke daerah Lubuk Kedang (sekarang disebut Tembawang Lubuk Kedang). Lubuk Kedang adalah kampung kedua setelah di Tembawang Seberang.
Kehidupan di Lubuk Kedang berlangsung sampai pada tahun 1959 karena jumlah keluarga dirumah panjai semakin banyak sementara diLubuk Kedang Jauh dari sumber air, maka akhirnya disepakati untuk pindah ke lokasi yang baru untuk mendirikan rumah. Akhirnya dicari lokasi baru tersebut melalui tenung (ilmu terawang). Berdasarkan hasil tenung lokasi yang tepat adalah di seberang sungai Tembawang Lama (rumah pertama).
Seberang sungai Tembawang lama adalah kebun/pemuda/bekas ladang/pemungkar pererak Sebai yang juga telah didirikan rumah oleh Lemiung (anak sulung Sebai). Akhirnya dengan mendapatkan ijin dari Lemiung didirikan rumah – rumah (rumah tunggal) dilokasi tersebut. Sampai sekarang semakin banyak perumahan. Daerah ini lah yang kemudian menjadi kampung Kambong.
|