Ayo
Ayo berasal dari nama sebatang pohon kayu yang besar dan tinggi yaitu Madakng Ayo. Karena pada waktu itu penduduk di Ayo sebelumnya tinggal atau bermukim di kompokng-kompokng (lokasi yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan tinggi) yang terpisah-pisah sesuai dengan kehendak dan keinginan masing-masing. Kompokng-kompokng itu adalah: 1). Kompokng Kalopo tempat tinggal Ne’ Nyulapm, 2). Kompokng Batawa tempat tinggal Ne’ Dja’on, 3). Kompokng Kurece tempat tinggal Pak Kipakng dan Ne’ Kaca/Ne’ Uban dan 4). Kompokng Tilatn tempat tinggal Ne’ Ilatn. Namun, pada masa pemerintahan Hindia Belanda penduduk tidak boleh tinggal menetap terpisah-pisah. Maka mereka dikumpulkan di satu tempat pemukiman yang sekarang disebut Kampung Ayo. Adapun bekas tempat pemukiman mereka yang lama disebut timawakng.
Berikut silsilah keturunan orang yang mula-mula tinggal di kompokng-kompokng:
Silsilah Ne’ Nyulam di Timawakng Kalopo
Ne’ Nyulapm
Bintang Sait Nyonya Usun
1. Saelah 1. Baiyah 1. Siden 1. Abon
2. Japen 2. Kader
3. Nolah 3. Jamal Ana
4. Sakelon 4. Anong
5. Satinah
Anak-anak Saelah: Buci, Agam, Baharan, Milian, Suriyana, Agus Salim, Paran, Mimis.
Anak-anak Nolah: Alina, Sulin, Arni.
Anak-anak Japen: Kaini, Rusni, Roslina, Ringki, Juini, Surip.
Anak-anak Sakelon: Jasni, Jaolen, Rohana, Icing, Ado, Utoh, Momo.
Anak-anak Satinah: Yusni, Siin, Andut.
Silsilah Ne’ Dja’on di Timawakng Batawa
Ne’ Dja’on Sipah Matnor 1. Mahani
2. Sahadi
3. Tius
Silsilah Ne’ Kaca di Timawakng Kurece
Ne’ Kaca (dari Oto Basa)
Kamon
1. Alija Ayu, Tito, Yuliana, Emiliana, Miko, Handoyo.
2. Rohaya Lodwik, Benjamin, Benhur, Doni.
3. Ria Multi Robin, Iwan, Ridwan, Theo.
4. Asih Efendi, Sulastri, Pane, Utoh, Ubek
Silsilah Ne’ Ilatn di Timawakng Tilatn
Ne’ Ilatn
1. Rapah Rukiah 1. Saluen, Soladin, Nuraini
2. Sudirman, anak-anaknya: Sugiarso, Sundoko, Suyatno, Supiro, Surasmo,
Suwondo.
3. Nurian, anak-anaknya: Saimut, Salini, Didir, Dimo.
4. Saiyan, anak-anaknya: Heni, Heriparno, Heriyanto, Hermawati.
5. Yuniwar, anak-anaknya: Rita, Atik, Kiel, Jakot.
Silsilah Ne’ Amat di Timawakng Pak Tosam
Ne’ Amat (dari kp. Beres)
1. Sidor Satiah (alm)
2. Noriah Sainai, Sindi, Norsiti, Norliani, Kusmini, Kuslani, Sukarni, Leni.
3. Norima Undet & Suarta
4. Sabaran -
5. Kadarudin Budun (Adrianus) & Paingo (Petrus).
Nek Amat anak-anaknya: Sidor, Noriah, Norima, Sabaran, Kadarudin.
Sidor anaknya adalah Satiah.
Noriah anak-anaknya: Sainai, Sindi, Norsiti, Norliani,
Kusmini, Kuslani, Sukarni, Leni.
Norima anak-anaknya: Undet dan Suarta.
Kadarudin anak-anaknya: Budun (Adrianus) dan Paingo (Petrus).
Gantekng
Kampung ini diberi nama Gantekng. Gantekng artinya lokasi atau tempat yang sempit dan kecil. Pemukiman penduduk kampung Gantekng memang berada di antara perbukitan, yakni bukit Samarape, bukit Saulur dan bukit Angko. Karena lokasi dan tempat yang kecil dan sempit itulah sebabnya lokasi pemukiman penduduk dinamai Gantekng.
Sebelum tinggal di kampung Ganteng, mereka tinggal di kampung Talaga (Talaga berada di desa Aur Sampuk). Di Talaga mereka dipimpin oleh Ne’ Jaraya. Dari Talaga mereka pindah ke Karuyuk dipimpin oleh Ne’ Macan, ditempat ini mereka membangun radakng (rumah panjang dengan sembilan pintu). Pemimpin kampung adalahah Ne’ Macan.
Dari Karuyuk, mereka pindah ke Timawakng Capek, dipimpin oleh Ne’ Macan, kepindahan ini agar mereka bisa berdekatan dengan keluarga yang ada di kampung lain. Setelah ditinggalkan, Karuyuk menjadi timawakng Karuyuk.
Dari Capek ada kelompok yang tetap tinggal di Capek dan ada kelompok lain yang yang pindah ke Saka Tungkul. Pemukiman keluarga yang di Capek lebih familiar dikenal dengan timawakng sedang pemukiman keluarga yang di Saka Tungkul dikenal dengan Kampung Baru. Secara administratif kedua pemukiman ini disebut dengan kampung Gantekng.
Ne’ Jaraya ïƒ Ne’ Bokor ïƒ Ne’ Macan ïƒ Ne’ Kongkong ïƒ Ne’ Nenggot
Jaenah ïƒ Thomas
Anak Nek Macan ada 9 orang yaitu:
1. Nek Ribut (laki)
2. Nek Nyore (perempuan)
3. Nek Bebas (perempuan)
4. Nek Bauk/Nek Sada’ (laki)
5. Nek Rumi/Nek Kongkong (laki)
6. Nek Samu (laki)
7. Nek Alatn/Nek Sumit (laki)
8. Nek Sali (laki)
9. Nek Sawe (laki).
• Anak Nek Ribut: Nek Jintan
• Anak Nek Nyore: Nek Randa
• Anak Nek Bauk/Sada’: Nek Saban, anak Nek Saban: Bucong, Anak Bucong: Iyor, anak Iyor: Dangkot, anak Dangkot: Dea.
• Anak Nek Rumi/Kongkong: Nek Amit, Nek Amit kawin dengan Nek Bentan, anak-anaknya: Ja’on, Sa’e dan Li’on. Ja’on kawin dengan Ahon (laki) anaknya: Lamran dan Teksin. Sa’e kawin dengan Doraman anaknya: Sahim, Umpetn, Dadar, (ada lagi yang lain, namun narasumber cerita tidak ingat namanya). Dadar kawin dengan Riris anaknya: Dedi dan Lola.
Pate Bajamu
Penduduk yang mendiami kampung Pate Bajamu diyakini berasal dari kampung Pate di daerah Sarimakng desa Senakin. Mereka pindah dari Pate karena terjadi kebakaran yang menghanguskan kampungnya. Penyebab terjadinya kebakaran karena ada hantu yang menyerupai manusia sering mengganggu penduduk di kampung itu dengan masuk ke rumah-rumah penduduk. Karena kampung tidak segera dibersihkan akhirnya menyebabkan kebakaran yang menghanguskan rumah penduduk kampung. Karena kebakaran ini akhirnya mereka pindah, sebagian ke Bajamu dan sebagian lagi ke Sarimakng. Mereka yang pindah ke Bajamu ada 5 keluarga yaitu keluarga: Nek Ahong, Nek Lebo, Nek Damong, Nek Mota dan Nek Idon. Adapun kampung Pate setelah ditinggalkan pindah oleh penduduknya dinamai Timawakng Ratokng (Ratokng = hangus) dan dinamai juga ngangarakng karena di wilayah itu banyak tumbuh pohon kalampe. Lokasi timawakng ratokng kini dijadikan intake air bersih.
Silsilah keturunan penduduk yang mula-mula tinggal di Pate Bajamu (keturunan yang ditulis hanya nama anak tertua), sebagai berikut:
Silsilah keturunan Nek Ahong:
Nek Ahong (laki-laki) +Nek Losong
Umpal (perempuan) +Sarep
Aki (laki-laki) + Yornis
Ansel ( Laki-laki) + Emi
Inggu (laki-laki) umur 6 tahun
Silsilah keturunan Nek Lebo:
Nek Lebo (laki-laki) + Nek Itung
Saedah (pr) + Onan
Alimah (pr) + Iden
Supini (pr) + Karnius
Martin (laki-laki) umur 6 th
Silsilah keturunan Nek Damong:
Damong (laki-laki) + Nek Rajab
Ajan (pr) + (tidak tahu namanya)
Kimas (pr) + Julianus
Inos (pr) + Sugito
Erik (laki-laki) umur 12 tahun
Silsilah keturunan Nek Mota:
Nek Mota (laki-laki) + Nek Penes
Simir (laki-laki) +Nuriah
Supirin + Rapai
Heni + Markus
Gris (umur 2 th)
Silsilah keturunan Nek Idon:
Nek Idon (laki-laki) + Nek Ipok
Damun (laki-laki) +Jota’
Akui (laki-laki) +Satian
Rosiana (pr) + Angga
Ago (laki-laki) 3 th
Kampung Pate Bajamu adalah penggabungan dari dua nama kampung yaitu Pate dan Bajamu. Dulu nama kampung ini awalnya adalah Bajamu, disebut demikian karena konon di wilayah ini banyak tumbuhan jambu (dalam bahasa Dayak Kanayatn Jambu=jamu). Disebut Pate, karena penduduk yang mendiami kampung ini berasal dari kampung Pate di daerah Sarimakng desa Senakin kecamatan Sengah Temila.
Pada awal mula kedatangannya, penduduk yang berasal dari kampung Pate di wilayah Sarimakng tinggal di Bajamu. Setelah beberapa waktu lamanya mereka tinggal di tempat ini terjadi kebakaran yang menghanguskan pemukiman penduduk. Kebakaran ini menyebabkan mereka pindah ke Bauk hingga sekarang. Perpindahan mereka diperkirakan sekitar tahun 1945. Kata Bauk = Lango= kaitannya dengan mata pencaharian, rajin tapi tidak menghasilkan. Lokasi pemukiman penduduk di Bauk berada di tepi jalan yang menghubungkan dusun Petai Bejambu (kampung Pate Bajamu) dengan dusun Gantekng. Adapun orang yang mula-mula pindah ke Bauk adalah: Sareb, Menggang, Johe, Onan, Rajab, Damun, Nanggam, Kasem, Sinir, Elo’, Buci, Koyek. Pada tahun 1979, pemukiman di Bauk sudah sebanyak 17 pintu. Pada Juli 2016 sebanyak 41 KK dengan jumlah jiwa 145 (Laki-laki 77 orang, perempuan 68 orang).
Raba Sakuap
Awal nya terdiri dari dua kampung yaitu Kampung Raba dan kampung Sakuap. Kampung Raba didirikan oleh pak Sura yang mula-mula didiami oleh 3 keluarga yaitu:
1) Selon
2) Dagak
3) Naden.
Sedang kampung Sakuap didirikan oleh Pak Temen yang berasal dari kampung Karere yang mula-mula didiami oleh 3 keluarga yaitu:
1) Sana
2) Nyandok
3) Jemain.
Disebut Raba, karena ada pohon buah Raba yang tumbuh di pinggir jalan yang biasa digunakan menjadi tempat orang beristirahat. Pohon buah Raba tersebut rindang dan biasa berbuah jikalau musim buah tiba. Itulah sebabnya mengapa orang sering beristirahat di bawah pohon. Sedang Sakuap adalah nama orang yang tinggal di kampung tersebut hingga meninggal.
Pada tahun 1920 kampung Raba Sakuap dibuka oleh Nyandok, kampung Raba dan kampung Sakuap yang awalnya sendiri-sendiri kemudian digabung menjadi satu dengan kampung Raba Sakuap.
Silsilah keturunan di Kampung Raba Sakuap
1) Sura beristri Maseh memperanakan Naden, Naden beristri (narsum tidak ingat nama istrinya) memperanakan Dagak, Satel, dan lainnya, Dagak beristri Raenon mempranakan Taok dan beberapa anak, Taok beristri (narsum tidak ingat nama istrinya) memperanakan Engel.
2) Selon, anak-anaknya ada 6, salah satu bernama Rodia.
3) Nyandok menikah dengan Katai memperanakan Tarus, Tarus menikah dengan Agik memperanakan Banhua, Banhua menikah dengan Surina memperanakan Suherna, Suherna menikah dengan Antonius memperanakan Dika.
4) Sana menikah dan memperanakan Raenon, Raenon menikah dengan Dagak.
5) Jemain menikah dan memperanakan Okat, Okat menikah dengan Ang Ng memperanakan Aliang, Alinson, Anyun dan Anji. Aliang menikah memperanakan Temen, Temen memperanakan Nek Neban, Nek Neban memperanakan Nek Tanse, Nek Tanse memperanakan Nek Nai, Nek Nai memperanakan Intan, Intan memperanakan Jariah (lahir tahun 1945), Jariah memperanakan Alim (lahir th 1964), Alim memperanakan Nani (lahir th 1995), Nani memperanakan Nardi (usia 9 bulan pada bulan Mei 2019).
|