Indikatif

Nama Komunitas Binua Rege (Ayo, Gantekng, Pate Bajamu, Raba Sakuap)
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SAMBAS
Kecamatan Sengah Temila
Desa Senakin, Dusun: Ayo, Gantekng, Pate Bajamu, Raba Sakuap, Gawan, Gundaleng, dan Balimo)
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 0 Ha
Satuan Binua (Rege)
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat • Ayo: Dusun Beres, Desa Tonang • Gantekng: Kampokng Pate Bajamu (Binua Rege) • Pate Bajamu: Ayo • Raba Sakuap: Desa Tonang
Batas Selatan • Ayo: Pate Bajamu • Gantekng: Binua Saori (Lanso) dengan batas alamnya bukit Saulur • Pate Bajamu: Kampokng Sampuk • Raba Sakuap: Kampokng Sapath
Batas Timur • Ayo: Desa Aur Sampuk & Raba Sakuap • Gantekng: Sa’ngo dengan batas alam bukit Angko • Pate Bajamu: Kampokng Saango • Raba Sakuap: Binua Talaga
Batas Utara • Ayo: Senakin • Gantekng: Longko dengan batas alamnya gunung • Pate Bajamu: Gantekng • Raba Sakuap: Gundaleng

Kependudukan

Jumlah KK 332
Jumlah Laki-laki 1116
Jumlah Perempuan 1070
Mata Pencaharian utama Petani [Mototn (ladang), Bancah (sawah), karet, dan sawit]

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Ayo
Ayo berasal dari nama sebatang pohon kayu yang besar dan tinggi yaitu Madakng Ayo. Karena pada waktu itu penduduk di Ayo sebelumnya tinggal atau bermukim di kompokng-kompokng (lokasi yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan tinggi) yang terpisah-pisah sesuai dengan kehendak dan keinginan masing-masing. Kompokng-kompokng itu adalah: 1). Kompokng Kalopo tempat tinggal Ne’ Nyulapm, 2). Kompokng Batawa tempat tinggal Ne’ Dja’on, 3). Kompokng Kurece tempat tinggal Pak Kipakng dan Ne’ Kaca/Ne’ Uban dan 4). Kompokng Tilatn tempat tinggal Ne’ Ilatn. Namun, pada masa pemerintahan Hindia Belanda penduduk tidak boleh tinggal menetap terpisah-pisah. Maka mereka dikumpulkan di satu tempat pemukiman yang sekarang disebut Kampung Ayo. Adapun bekas tempat pemukiman mereka yang lama disebut timawakng.

Berikut silsilah keturunan orang yang mula-mula tinggal di kompokng-kompokng:
Silsilah Ne’ Nyulam di Timawakng Kalopo
Ne’ Nyulapm
Bintang Sait Nyonya Usun
1. Saelah 1. Baiyah 1. Siden 1. Abon
2. Japen 2. Kader
3. Nolah 3. Jamal Ana
4. Sakelon 4. Anong
5. Satinah
Anak-anak Saelah: Buci, Agam, Baharan, Milian, Suriyana, Agus Salim, Paran, Mimis.
Anak-anak Nolah: Alina, Sulin, Arni.
Anak-anak Japen: Kaini, Rusni, Roslina, Ringki, Juini, Surip.
Anak-anak Sakelon: Jasni, Jaolen, Rohana, Icing, Ado, Utoh, Momo.
Anak-anak Satinah: Yusni, Siin, Andut.

Silsilah Ne’ Dja’on di Timawakng Batawa
Ne’ Dja’on Sipah Matnor 1. Mahani
2. Sahadi
3. Tius

Silsilah Ne’ Kaca di Timawakng Kurece
Ne’ Kaca (dari Oto Basa)
Kamon
1. Alija Ayu, Tito, Yuliana, Emiliana, Miko, Handoyo.
2. Rohaya Lodwik, Benjamin, Benhur, Doni.
3. Ria Multi Robin, Iwan, Ridwan, Theo.
4. Asih Efendi, Sulastri, Pane, Utoh, Ubek

Silsilah Ne’ Ilatn di Timawakng Tilatn
Ne’ Ilatn
1. Rapah Rukiah 1. Saluen, Soladin, Nuraini
2. Sudirman, anak-anaknya: Sugiarso, Sundoko, Suyatno, Supiro, Surasmo,
Suwondo.
3. Nurian, anak-anaknya: Saimut, Salini, Didir, Dimo.
4. Saiyan, anak-anaknya: Heni, Heriparno, Heriyanto, Hermawati.
5. Yuniwar, anak-anaknya: Rita, Atik, Kiel, Jakot.

Silsilah Ne’ Amat di Timawakng Pak Tosam
Ne’ Amat (dari kp. Beres)
1. Sidor Satiah (alm)
2. Noriah Sainai, Sindi, Norsiti, Norliani, Kusmini, Kuslani, Sukarni, Leni.
3. Norima Undet & Suarta
4. Sabaran -
5. Kadarudin Budun (Adrianus) & Paingo (Petrus).
Nek Amat anak-anaknya: Sidor, Noriah, Norima, Sabaran, Kadarudin.
Sidor anaknya adalah Satiah.
Noriah anak-anaknya: Sainai, Sindi, Norsiti, Norliani,
Kusmini, Kuslani, Sukarni, Leni.
Norima anak-anaknya: Undet dan Suarta.
Kadarudin anak-anaknya: Budun (Adrianus) dan Paingo (Petrus).

Gantekng
Kampung ini diberi nama Gantekng. Gantekng artinya lokasi atau tempat yang sempit dan kecil. Pemukiman penduduk kampung Gantekng memang berada di antara perbukitan, yakni bukit Samarape, bukit Saulur dan bukit Angko. Karena lokasi dan tempat yang kecil dan sempit itulah sebabnya lokasi pemukiman penduduk dinamai Gantekng.

Sebelum tinggal di kampung Ganteng, mereka tinggal di kampung Talaga (Talaga berada di desa Aur Sampuk). Di Talaga mereka dipimpin oleh Ne’ Jaraya. Dari Talaga mereka pindah ke Karuyuk dipimpin oleh Ne’ Macan, ditempat ini mereka membangun radakng (rumah panjang dengan sembilan pintu). Pemimpin kampung adalahah Ne’ Macan.
Dari Karuyuk, mereka pindah ke Timawakng Capek, dipimpin oleh Ne’ Macan, kepindahan ini agar mereka bisa berdekatan dengan keluarga yang ada di kampung lain. Setelah ditinggalkan, Karuyuk menjadi timawakng Karuyuk.

Dari Capek ada kelompok yang tetap tinggal di Capek dan ada kelompok lain yang yang pindah ke Saka Tungkul. Pemukiman keluarga yang di Capek lebih familiar dikenal dengan timawakng sedang pemukiman keluarga yang di Saka Tungkul dikenal dengan Kampung Baru. Secara administratif kedua pemukiman ini disebut dengan kampung Gantekng.

Ne’ Jaraya  Ne’ Bokor  Ne’ Macan  Ne’ Kongkong  Ne’ Nenggot
Jaenah  Thomas

Anak Nek Macan ada 9 orang yaitu:
1. Nek Ribut (laki)
2. Nek Nyore (perempuan)
3. Nek Bebas (perempuan)
4. Nek Bauk/Nek Sada’ (laki)
5. Nek Rumi/Nek Kongkong (laki)
6. Nek Samu (laki)
7. Nek Alatn/Nek Sumit (laki)
8. Nek Sali (laki)
9. Nek Sawe (laki).

• Anak Nek Ribut: Nek Jintan
• Anak Nek Nyore: Nek Randa
• Anak Nek Bauk/Sada’: Nek Saban, anak Nek Saban: Bucong, Anak Bucong: Iyor, anak Iyor: Dangkot, anak Dangkot: Dea.
• Anak Nek Rumi/Kongkong: Nek Amit, Nek Amit kawin dengan Nek Bentan, anak-anaknya: Ja’on, Sa’e dan Li’on. Ja’on kawin dengan Ahon (laki) anaknya: Lamran dan Teksin. Sa’e kawin dengan Doraman anaknya: Sahim, Umpetn, Dadar, (ada lagi yang lain, namun narasumber cerita tidak ingat namanya). Dadar kawin dengan Riris anaknya: Dedi dan Lola.

Pate Bajamu
Penduduk yang mendiami kampung Pate Bajamu diyakini berasal dari kampung Pate di daerah Sarimakng desa Senakin. Mereka pindah dari Pate karena terjadi kebakaran yang menghanguskan kampungnya. Penyebab terjadinya kebakaran karena ada hantu yang menyerupai manusia sering mengganggu penduduk di kampung itu dengan masuk ke rumah-rumah penduduk. Karena kampung tidak segera dibersihkan akhirnya menyebabkan kebakaran yang menghanguskan rumah penduduk kampung. Karena kebakaran ini akhirnya mereka pindah, sebagian ke Bajamu dan sebagian lagi ke Sarimakng. Mereka yang pindah ke Bajamu ada 5 keluarga yaitu keluarga: Nek Ahong, Nek Lebo, Nek Damong, Nek Mota dan Nek Idon. Adapun kampung Pate setelah ditinggalkan pindah oleh penduduknya dinamai Timawakng Ratokng (Ratokng = hangus) dan dinamai juga ngangarakng karena di wilayah itu banyak tumbuh pohon kalampe. Lokasi timawakng ratokng kini dijadikan intake air bersih.

Silsilah keturunan penduduk yang mula-mula tinggal di Pate Bajamu (keturunan yang ditulis hanya nama anak tertua), sebagai berikut:

Silsilah keturunan Nek Ahong:
Nek Ahong (laki-laki) +Nek Losong
Umpal (perempuan) +Sarep
Aki (laki-laki) + Yornis
Ansel ( Laki-laki) + Emi
Inggu (laki-laki) umur 6 tahun

Silsilah keturunan Nek Lebo:
Nek Lebo (laki-laki) + Nek Itung
Saedah (pr) + Onan
Alimah (pr) + Iden
Supini (pr) + Karnius
Martin (laki-laki) umur 6 th

Silsilah keturunan Nek Damong:
Damong (laki-laki) + Nek Rajab
Ajan (pr) + (tidak tahu namanya)
Kimas (pr) + Julianus
Inos (pr) + Sugito
Erik (laki-laki) umur 12 tahun

Silsilah keturunan Nek Mota:
Nek Mota (laki-laki) + Nek Penes
Simir (laki-laki) +Nuriah
Supirin + Rapai
Heni + Markus
Gris (umur 2 th)

Silsilah keturunan Nek Idon:
Nek Idon (laki-laki) + Nek Ipok
Damun (laki-laki) +Jota’
Akui (laki-laki) +Satian
Rosiana (pr) + Angga
Ago (laki-laki) 3 th

Kampung Pate Bajamu adalah penggabungan dari dua nama kampung yaitu Pate dan Bajamu. Dulu nama kampung ini awalnya adalah Bajamu, disebut demikian karena konon di wilayah ini banyak tumbuhan jambu (dalam bahasa Dayak Kanayatn Jambu=jamu). Disebut Pate, karena penduduk yang mendiami kampung ini berasal dari kampung Pate di daerah Sarimakng desa Senakin kecamatan Sengah Temila.
Pada awal mula kedatangannya, penduduk yang berasal dari kampung Pate di wilayah Sarimakng tinggal di Bajamu. Setelah beberapa waktu lamanya mereka tinggal di tempat ini terjadi kebakaran yang menghanguskan pemukiman penduduk. Kebakaran ini menyebabkan mereka pindah ke Bauk hingga sekarang. Perpindahan mereka diperkirakan sekitar tahun 1945. Kata Bauk = Lango= kaitannya dengan mata pencaharian, rajin tapi tidak menghasilkan. Lokasi pemukiman penduduk di Bauk berada di tepi jalan yang menghubungkan dusun Petai Bejambu (kampung Pate Bajamu) dengan dusun Gantekng. Adapun orang yang mula-mula pindah ke Bauk adalah: Sareb, Menggang, Johe, Onan, Rajab, Damun, Nanggam, Kasem, Sinir, Elo’, Buci, Koyek. Pada tahun 1979, pemukiman di Bauk sudah sebanyak 17 pintu. Pada Juli 2016 sebanyak 41 KK dengan jumlah jiwa 145 (Laki-laki 77 orang, perempuan 68 orang).


Raba Sakuap
Awal nya terdiri dari dua kampung yaitu Kampung Raba dan kampung Sakuap. Kampung Raba didirikan oleh pak Sura yang mula-mula didiami oleh 3 keluarga yaitu:
1) Selon
2) Dagak
3) Naden.

Sedang kampung Sakuap didirikan oleh Pak Temen yang berasal dari kampung Karere yang mula-mula didiami oleh 3 keluarga yaitu:
1) Sana
2) Nyandok
3) Jemain.

Disebut Raba, karena ada pohon buah Raba yang tumbuh di pinggir jalan yang biasa digunakan menjadi tempat orang beristirahat. Pohon buah Raba tersebut rindang dan biasa berbuah jikalau musim buah tiba. Itulah sebabnya mengapa orang sering beristirahat di bawah pohon. Sedang Sakuap adalah nama orang yang tinggal di kampung tersebut hingga meninggal.
Pada tahun 1920 kampung Raba Sakuap dibuka oleh Nyandok, kampung Raba dan kampung Sakuap yang awalnya sendiri-sendiri kemudian digabung menjadi satu dengan kampung Raba Sakuap.

Silsilah keturunan di Kampung Raba Sakuap
1) Sura beristri Maseh memperanakan Naden, Naden beristri (narsum tidak ingat nama istrinya) memperanakan Dagak, Satel, dan lainnya, Dagak beristri Raenon mempranakan Taok dan beberapa anak, Taok beristri (narsum tidak ingat nama istrinya) memperanakan Engel.
2) Selon, anak-anaknya ada 6, salah satu bernama Rodia.
3) Nyandok menikah dengan Katai memperanakan Tarus, Tarus menikah dengan Agik memperanakan Banhua, Banhua menikah dengan Surina memperanakan Suherna, Suherna menikah dengan Antonius memperanakan Dika.
4) Sana menikah dan memperanakan Raenon, Raenon menikah dengan Dagak.
5) Jemain menikah dan memperanakan Okat, Okat menikah dengan Ang Ng memperanakan Aliang, Alinson, Anyun dan Anji. Aliang menikah memperanakan Temen, Temen memperanakan Nek Neban, Nek Neban memperanakan Nek Tanse, Nek Tanse memperanakan Nek Nai, Nek Nai memperanakan Intan, Intan memperanakan Jariah (lahir tahun 1945), Jariah memperanakan Alim (lahir th 1964), Alim memperanakan Nani (lahir th 1995), Nani memperanakan Nardi (usia 9 bulan pada bulan Mei 2019).

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Ayo
Berdasarkan pemetaan partisipatif:
• Karet seluas 225,23 Ha
• Pemukiman 14,58 Ha
Penduduk kebanyakan bermukim atau tinggal di pinggir kiri-kanan jalan raya, walau ada pula yang tinggal agak jauh dari jalan raya. Rumah-rumah mereka pada umumnya sudah permanen dengan dinding beton dan atap metal maupun atap seng.
• Sawah 37,15 Ha
• Sawit 44,53

Ayo berupa dataran dan perbukitan dialiri dua cabang sungai yaitu sungai Tumila dan sungai Tungkalakng. Sungai Tumila berasal dari mata air gunung Sanying, diberi nama sungai Tumila karena melewati kampung Tumila, pasar Senakin hingga ke Ayo dan seterusnya. Sedangkan sungai Tungkalakng mata airnya berasal dari gunung Balakakng. Kedua sungai tersebut mengalir di belakang kampung Ayo. Untuk sumber air bersih yang dikonsumsi, penduduk mengandalkan sumber air dari Batawa, namun tingkat kecukupannya masih kurang karena sumber mata airnya kecil, dan menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka


Gantekng
Berdasarkan peta partisipatif:
• Bawas luas 18,87 Ha
• Karet 261,67 Ha
• Kompokng 9,24 Ha
• Pemukiman 4,83 Ha
• Sawah 8,79 Ha
• Timawakng 14,04 Ha
• Udas 61,51 Ha

• Keramat
Masyarakat di kampung Gantekng memiliki beberapa keramat, seperti: Panyugu Ne’ Macan, panyugu Nek Darang, Panyugu Talinse dan Panyugu Nek Amas. Panyugu Ne’ Macan digunakan oleh masyarakat untuk melakukan ritual pertanian dan kehidupan dengan tujuan mendapat hasil yang berlimpah saat bertani dan selalu mendapat kesehatan.
• Timawakng
Secara fisik Timawakng (tembawang) merupakan kawasan yang banyak ditumbuhi beragam jenis pohon buah-buahan dan tumbuhan lainnya. Terbentuknya timawakng berasal dari bekas pemukiman yang ditinggalkan atau dari lokasi ladang yang ditanami pohon-pohon buah. Kampung Ganteng memiliki beberapa Timawakng yaitu: Timawakng Nek Bokor, Timawakng Labe, Timawakng Ladangan, Timawakng Karuyuk dan Timawakng Kuning.
• Kabon Gatah
Lokasi ladang yang telah beberapa kali diolah dan tingkat kesuburannya rendah, oleh warga akan di tanami dengan karet. Lokasi kabon gatah (kebun karet) ini menjadi milik individu yang menanamnya.
• Pasuburatn
Pasuburatn/Kuburan Capek dan Radakng Tujuh, merupakan lokasi penguburan bagi warga kampung Gantekng yang meninggal. Radakng Tujuh merupakan kuburan tua. 15
• Rame
Rame atau bawas muda adalah suatu kawasan bekas ladang yang mulannya adalah hutan rimba. Kepemilikannya adalah individu yang pertama membuka hutan rimba. Kawasan ini vegetasinya dibiarkan tumbuh secara alami. Tujuannya untuk mengembalikan kesuburan tanah. Lokasi rame memanjang kiri kanan sungai Manse’ atau Bahumukng.
• Kampokng
Kampokng atau lokasi pemukiman kampung terletak di daerah dataran tinggi. Terdiri dari dua pemukiman, pemukiman baru dan Ganteng timawakng. Bentuk Pemukiman berupa rumah-rumah tunggal.
• Kabon Sawit (Kebun Sawit)
Kabon sawit/ kebun sawit ditanam di areal milik individu, lokasinya biasanya berasal dari rame atau bekas karet yang telah kurang produktif. Kebun sawit yang diusahakan individu lebih dikenal dengan kebun sawit keluarga, penamaan ini untuk membedakan dengan perkebunan sawit skala luas yang diusahakan oleh investor dari perusahaan.

Pate Bajamu
Keadaan alam atau topografi wilayah kampung Pate Bajamu berbukit-bukit dan lembah dialiri sungai Ansahatn. Kampung ini diapit oleh bukit Samarabat, bukit Samarape dan bukit Angko.

Berdasarkan pemetaan Partisipatif:
• Karet: 260,63 Ha
• Kompokng: 13,61 Ha
Kompong yang ada di kampung Pate Bajamu adalah: kompokng Pak Lagatn, kompokng Gidak, kompokng Pak Intong, kompokng Tepak Samson dan kompokng Angko. Kompokng pak Lagatn adalah kepunyaan orang yang bernama Lagatn, ditumbuhi durian dan bintawa’. Kompong Gidak adalah kompokng yang banyak ditumbuhi tumbuhan gidak=nenas hutan. Di kompokng ini terdapat durian, bintawa, sarikatn dan langir. Kompokng pak Intong adalah kompokng kepunyaan orang yang bernama pak Intong. Kompokng ini banyak terdapat durian dan bintawa. Kompokng Tepak Samson dinamai demikian karena konon pada waktu musim durian seseorang yang bernama Samson tangannya terluka saat membelah durian. Di kompokng ini terdapat durian dan bintawa. Dan di kompokng Angko banyak terdapat durian.
• Pemukiman 2,96 Ha
Dulu masyarakat kampung Pate Bajamu membangun pemukiman di Bajamu yang sekarang menjadi Timawakng Bajamu yang agak jauh dari jalan raya kampung. Setelah terjadi kebakaran di Bajamu mereka pindah ke Bauk hingga sekarang. Lokasi pemukiman penduduk di Bauk berada di tepi jalan yang menghubungkan dusun Petai Bejambu (kampung Pate Bajamu) dengan dusun Gantekng.
Pemukiman penduduk mengelompok dan cenderung berada di tepi jalan membentuk 2 kelompok: satu kelompok besar berjumlah 30-an rumah yang berdekatan satu dengan lainnya, dan satu kelompok kecil berjumlah sekitar 6 rumah. Pekarangan rumah penduduk biasanya ditanami dengan tanaman bunga, pisang, kelapa dan koko.
Dulu, rumah-rumah penduduk masih beratap daun sagu dan berdinding bentak (terbuat dari bambu yang dianyam). Namun sejak tahun 2000-an rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu, semen dan atap seng. Orang yang mula-mula membangun rumahnya dengan menggunakan dinding papan, semen dan atap seng adalah: Saulus, Manyeng dan Asiap. Kayu bahan bangunan rumah yang biasa digunakan adalah: madakng, mades, kalampe, jarajo, natakng, rambutan dan karuyuk yang bisa diambil di wilayah kampung Pate Bajamu.
• Sawah 16,61 Ha
• Sawit 28,86 Ha
• Timawakng 4,89 Ha

Air bersih yang mengalir ke rumah-rumah penduduk berasal dari gunung Kotol. Untuk mengalirkannya hingga ke rumah-rumah penduduk mendapat bantuan dari PNPM Mandiri Perdesaan sejak tahun 2011, namun ada juga keluarga yang mengusahakannya secara pribadi. Sumber air bersih ini masih sangat jernih dan mengalir deras ke rumah-rumah penduduk.
Panyugu digunakan oleh penduduk kampung Pate Bajamu untuk balala, baniat dan berdoa. (1) Panyugu Nek Niga; Nek Niga adalah seorang Pangalangok (panglima) yang berasal dari daerah Samaroa. Ia beristri Nek Janum. Nek Janum yang mula-mula membuatnya. (2) Panyugu Nek Ranto; dibuat oleh Nek Ranto. (3) Kuburan Nek Nigo’; yang mula-mula dikubur di tempat itu adalah pak Nigo’.


Raba Sakuap
Berdasarkan peta partisipatif:
• Sawit seluas 1.011,08 Ha
• Karet seluas 6,83 Ha
• Ladang 329,86 Ha
• Karet 136,36 Ha
• Rawa seluas 16,59 Ha
• Kampokng 6,74 Ha
• Pemukiman 22,4 Ha

Bukti-bukti penguasaan lahan pada masyarakat Dayak Kanayatn kampung Raba Sakuap di binua Rege adalah sebagai berikut: (1) Timawakng, (2) Tempat Keramat dan kuburan, (3) Kompokng, (4) Bawas atau bekas ladang, (5) Parokng dan (6) Kabon Gatah/kebun karet.
Timawakng adalah bekas pemukiman nenek moyang dari suatu komunitas di satu wilayah/kampung. Timawakng yang ada dua jenis yaitu timawakng keluarga dan timawakng kampung. Di dalam timawakng bisa saja terdapat bekas rumah tempat tinggal (rumah panjang), biasanya masih ada sisa-sisa peninggalannya, tergantung usia timawakng, lalu pohon-pohon buah seperti durian ,tengkawang, dll.
Timawakng yang ada di kampung Raba Sakuap ini ada dua yaitu: Timawakng Joteng yang pernah ditinggali oleh Dengon, Buncang, Gander, Membeng, Salem, Asak, Kicung, Topan, dll. Timawakng seluas sekitar 1 hektar ini ditinggalkan pada tahun 2000. Berikutnya adalah Timawakng Saide yang dimiliki oleh pak Asui, ditinggali Timor, Sinam dan Sian.
Kabon Gatah atau kebun Karet yang ada di kampung Raba Sakuap berasal dari bibit karet Lambau, pertama kali menanam karet di wilayah ini adalah Pak Sana sekitar tahun 1946.
Tempat Keramat dan Kuburan. Di Raba Sakuap walaupun masyarakatnya sudah menganut beberapa agama, namun mereka masih menjalankan system nilai dan kepercayaan tradisional. Ada beberapa tempat-tempat keramat dan kuburan yang masih mereka jaga dan pelihara yang merupakan warisan leluhur mereka yaitu: Panyugu Pangeket yang dibuat Ne’ Damakng th 1940, Panyugu Tikuyukng dibuat Ne’ Dengon th 1943 dan Pantulak yang dibuat Ate th 1980. Sedangkan Kuburan lama adalah: kuburan Sasanti, orang yang dikubur disitu We’ Sa’am dan Kuburan Joteng, orang yang dikubur di situ Dengon (pak Ganda).

 
Pertama: kepemilikan seko menyeko atau kepemilikan perseorangan/individu maupun satu keluarga. Warga atau keluarga yang membuka tanah, lahan, baik yang masih berupa hutan maupun bukan hutan di kawasan tertentu untuk ladang maupun kebun yang diolah terus-menerus dapat dijadikan dasar kepemilikan tanah dan lahan bagi warga atau keluarga tersebut; Kedua: kepemilikan parene’an yaitu tanah/lahan warisan di mana segala isinya menjadi milik dari beberapa keluarga dalam satu garis keturunan. Ketiga: kepemilikan saradangan adalah kepemilihan tanah/lahan dengan segala isisnya menjadi milik satu kampung tertentu; Keempat: kepemilikan binua adalah kepemilikan tanah atau lahan dengan dengan segala isinya dimiliki oleh beberapa kampung di dalam wilayah kesatuan hukum adat atau binua.

Kemudian, berdasarkan keadaan tanam-tumbuh yang terdapat di atas tanah atau lahan, tanah digolongkan sebagai tanah jerami’, pantusatn, pararo’atn, rame tuha, magokng, udas pekarangan (yang dekat dari kampokng), udas palasar palaya’ (wilayah jelajah yang letaknya jauh dari kampokng), kompokng/timawakng

Warisan leluhur. ini lebih longgar berlaku bagi mereka yang tidak lagi tinggal bersama di dalam wilayah adat, baik karena mengikuti suami atau isteri atau tinggal menetap di daerah lain karena alasan pekerjaan maupun alasan merantau.
Tukar-menukar. Mayarakat Kanayatn mengenal praktik pertukaran (barter) barang, seperti tukar-menukar beras dengan sayur-mayur atau dengan ikan, ayam dengan beras, dan sebagainya. Ini masih berlangsung sampai sekarang. Pertukaran ini kadangkala juga berlaku dalam konteks tukar-menukar (penguasaan) tanah/lahan di antara warga setempat.
Sewa-menyewa. Sewa-menyewa tanah/lahan dikenal di kalangan masyarakat Kanayatn. Akan tetapi, seorang warga atau keluarga dapat saja mengutarakan keinginannya kepada warga tetangganya untuk membuka ladang atau kebun di tanah/lahan warga tetangganya itu. Seperti biasanya, permintaan sewa-menyewa tersebut diijinkan. Dalam hubungan sewa-menyewa ini tidak ada keharusan bagi hasil antara si penggarap dengan si pemilik tanah/lahan itu kecuali ada pembicaraan sebelumnya. Bagi hasil di kalangan masyarakat Dayak Kanayatn disebut “tasih”.
Jual-beli. Masyarakat Dayak Kanayatn di Binua Rege adalah masyarakat yang terbuka dan dinamis. Oleh karena itu, penduduk Binua Rege tidak luput dari pengaruh ekonomi uang. Keadaan demikian membuka peluang bagi warga kepada hubungan jual-beli tanah meskipun bisa dikatakan hanya segelintir warga yang melakukannya. Pengaruh ekonomi uang, bila tanpa kendali yang bijaksana bisa menjadi ancaman bagi kepemilikan tanah dan lahan masyarakat berdasarkan hak adat.
 

Kelembagaan Adat

Nama Binua Rege
Struktur Timanggong, Pasirah, Pangraga
Timanggong adalah pemimpin adat yang memiliki kewenangan paling “luas” dalam memberikan putusan atas suatu urusan dan/atau perkara dalam ruang lingkup/tingkat binua. Tugasnya:
• Mengurus Sangsi 6 tahil 10 Amas sampai 12 Tahil.
• Membuat undang-undang Adat – Siapm Pahar, contoh: melarang nuba, tidak meladangi kuburan

Pasirah pemimpin adat dengan posisi setingkat di atas Pamane/Pangaraga mengatur dan menyelesaikan urusan dan/atau perkara adat di tingkat kampung. Tugasnya:
• Mengurus Sangsi Adat: 3 tahil 10 Amas – 6 Tahil 10 Amas.
• Membuat undang-undang: melarang menuba, melarang meladangi kuburan, berkelahi di wilayahnya.

Pamane/Pangaraga adalah pemimpin adat yang bicara, yang memberi petunjuk, menasehati, yang mengatur atau menyelesaikan urusan dan/atau perkara adat bersama pasirah di tingkat kampung, tugasnya mengurus adat 1 tahil tangah hingga 3 tahil.
 
Adapun tingkat penyelesaian sengketa adalah jika sengketa/masalah dalam satu kampung maka diselesaikan oleh Pamane/Pangaraga, jika tidak selesai maka akan diselesaikan ditingkat Pasirah, dan jika masalah tersebut tidak juga selesai ditingkat Pasirah maka akan diselesaikan ditingkat Timanggong. Jika tidak juga selesai maka dilaporkan kepada pihak kepolisian dan masalahnya sangat tergantung kepada tingkat sengketanya, ada beberapa contoh kasus yaitu: hamil, pencurian dan kekerasan. 

Hukum Adat

• Adat Ngawah. Adat ngawah sudah dilaksanakan turun-temurun sejak leluhur bahkan hinga sekarang telah menjadi kebudayaan karena masih diperlihara atau dipertahankan masyarakat adat yang melaksanakan pertanian ladang, baik di lahan kering (uma) maupun sawah (bancah).
• Adat Ngaleko. Adalah adat yang dilaksanakan pertama kali ketika panen padi pertama untuk dipersembahkan secara khusus kepada Jubata yang telah memberkati talino dan penduduk se wilayah ini. Nasi dari baras poe dan baras sunguh itu dimasak, dibungkus dengan duan khusus, biasanya daukng layakng dan kemudian disangahatn (didoakan) oleh imam panyanghatn pada waktu dini hari ketika saat ayam berkokok (manok ningko’ok), kemudian esoknya nasi bungkus (bontokng atau boho) tadi dibagikan kepada warga se kampung atau warga di Batakng Radakng.
• Adat Baroah. Tanda bersyukur dan berterima kasih kepada Jubata di mana pertama kali padi mototn nang baharu dinaikatn ka’ rumah untuk dipersembahkan kepada Pama, Awa, Jubata, Talino ata berkat Jubata yang diberikan kepada Talino sepanjang tahun masa perladangan. Baroah dilaksanakan oleh penduduk kampung setelah ke panyugu, karamat ai’ tanah untuk memberitahukan bahwa akan dilaksanakan baroah dengan mempersembahkan hasil panen padi oleh penduduk setempat.
• Adat naik dango. Ini ritual yang menandai tahap terakhir proses perladangan bahuma batahutn menyatakan ungkapan syukur dan terima kasih kepada jubata sekaligus untu memperetat tali persaudaraan, kekeluargaan antar sesama talino yang selanjutnya padi disimpan dan dimasukkan ke dalam dango padi atau lumbung padi. Ada istilah “ditidurkan”, kemudian dilanjutkan dengan memasuki masa pantangan.
• Adat bagawe. Adalah ritual adat syukuran yang dilaksanakan pada kurang lebih dimulai satu bulan sesudah kegiatan adat naik dango.Di sini keluarga bersangkutan mengedarkan gunda yang sekarang disebut undangan dengan diawali dengan ritual ngampar bide sekitar jam 08.00 Wib pagi di ruang tamu utama di hadapan pada penduduk kampung itu untuk maksud mengumpulkan keluarga, para ahli waris, penduduk sekitar agar hadir di gawe itu.
Ngampar bide ditandai dengan ucapan doa-doa oleh imam panyangahatn dengan tahapan prosesnya sebagai berikut: a) ritual adat ngalantekatn yang dilaksanakan pada malam harinya di ruang tamu utama atau sami’ sebelum hari H atau H-1 gawe adat dengan tujuan memohon kepada jubata bahwa besoknya akan dilaksanakan gawe adat. Perlengkapan adatnya terdiri dari tumpi’ poe’, bontokng dan lain-lain, juga jalu, manok. Tumpi’ poe’ yang pertama kali dilantekatn (disampaikan) kepada Jubata agar keluarga yang gawe adat serta seluruh warga yang hadir dan arwah lelulur selamat; b) ritual bapadah ka’ saa maraga ka’ pantak, ka’ padagi yang berdoa untuk memberitahukan kepada roh-roh dan memohon perlindungan kepada jubata yang menguasai bumi, langit dan segala isinya; c) ritual bapipis atau nyangahatn manta’ agar segala yang kotor dilunturkan, dilarutkan dan dihindari dari mara bahaya dan bencana; d) ritual ngadap buis atau nyangahatn masak masuknya memberitahukan kepada Jubata bahwa semua perlengkapan peraga adat sudah siap, dipersembahkan kepada Jubata dengan ungkapan syukur atas berkat dan perlindungan dari segala hal yang kurang berkenan, terlindung dari segala bahaya, bencana, termasuk memanggil semua jiwa-jiwa yang hidup, yang sehat segar dan tentram di wilayah, nagari setempat. Dari seluruh peraga adat dan buis yang dipersempahkan itulah kita manusia talino mengenal adanya jubata; e) ritual di ruang keluarga (milik); f ) ritual adat ka’ pabarasatn tempat penyimpanan beras; g) ritual adat ka’ dango; h) ritual adat ka’ sado manok; i) ritual adat ka’ dulakng jalu. Ritual adat disebut dua terakhir tak lain adalah untuk menyampaikan permohonan kepada jubata agar ternak ayam dan babi terhindar dari penyakit dan senantiasa berkembang biak, subur peranak-pinak karena ayam dan babi memiliki posisi penting dalam adat sebagai bagian dari buis atau bahan-bahan ritual adat.

 
• Adat Balaki-babini; Merupakan bentuk adat yang menangani urusan dan proses perkawinan dalam masyarakat Kanayatn. Sebelum Ritual adat pernikahan dilaksanakan, maka terlebih dahulu pihak keluarga bahaupm (musyawarah). Dalam acara bahaupm kedua belah pihak menentukan akan mengikuti siapakah kedua calon mempelai, apakah istri yang mengikuti suami atau sebaliknya.
• Ngaladakng Buntikng: Ritual dilaksanakan pada saat kandungan berumur 3 bulan. Ritual dilaksanakan dalam kamar suami istri. Tujuan ritual ini agar kandungan tidak keguguran.
• Batalah: Ritual adat yang dilaksanakan untuk memberi nama pada anak yang baru lahir. Ritual ini dilakukan dengan cara memandikan bayi. Dilaksanakan di rumah setelah tiga hari atau paling telat setelah 7 hari bayi lahir. Bila upacara batalah diadakan setelah 3 hari, maka perangkat ritual cukup ayam saja, tetapi bila 7 hari, perangkat adatnya adalah babi untuk menjamu bidan sebagai ucapan terima kasih atas jasanya.
• Batanek: Batenek adalah ritual khusus bagi anak perempuan untuk menindik telinga dimana anak sudah cukup besar. Kadang dalam kesepakatan keluarga ritual batenek digabungkan dengan ritual batalah.
• Babalak: Ritual adat yang wajib dilakukan untuk anak laki-laki yang telah berumur 10 tahun di binua Rege. Ritual menggunakan 3 ekor babi dan 12 ekor ayam. Untuk keluarga yang kurang mampu, mereka dapat menumpang atau ikut dengan keluarga yang mampu, namun tetap harus menyumbang 1 ekor ayam dan 1 gantang beras dan 3 kg ketan.
• Kematian: Seseorang yang meninggal, paling lama 1 malam setelah ia meninggal sudah harus dikuburkan. Ritual terbagi dalam beberapa tahapan:
• Adat Basubur; dilakukan untuk memberi makan orang yang meninggal.
ï‚§ Adat Barapus; adat barapus dilakukan 3 hari setelah pemakaman. Tujuannya untuk memberi tahu kepada orang yang meninggal, bahwa ia telah meninggal. Dunianya telah berbeda dengan manusia yang masih hidup.
ï‚§ Adat Malahi; dilakukan apabila orang meninggal terjadi dalam masa kegiatan mengerjakan ladang atau panen belum selesai. Tujuan ritual adat ini supaya arwahnya tidak menggangu ladang dan memberitahukan kepadanya bahwa ia telah meninggal.
ï‚§ Adat Ngalapasatn Tahutn Urakng Mati; Ritual dimaksudkan untuk melepaskan arwah orang yang telah meninggal kembali ke alam baka. Ritual adat ini dilaksanakan 3 tahun setelah meninggal. Dalam kurun waktu 3 tahun tersebut setiap mengadakan ritual adat, keluarga wajib memberi makan orang yang telah meninggal tersebut. Setelah tiga tahun tidak lagi. Pemimpin ritual upacara adat dipimpin oleh Imam Panyangahatn.
• Adat Batumuk; Merupakan adat meminta kepada penunggu lokasi atau tempat tertentu sebelum mendirikan rumah di situ.
• Adat ngulahi rumah atau adat ngulahi rumah baharu (pindah rumah baru) yang sebelumnya dilaksanakan ritual adat masang talobo’ atau pintu utama yang kemudian ditiduri selama tiga malam berturut-turut agar bisa bermimpi; jika mimpi tidak bagus, maka dilaksanakan ritual adat buat tangah yang bertujuan untuk menghapus atau menghilangkan atau mengusir roh-roh jahat yang dimungkinkan akan mengganggu penghuninya di kemudian hari.
• Adat ngangkat arakng. Dilaksanakan khusus setelah mengalami kebakaran rumah untuk memulihkan kembali keseimbangan alam semesta dan mengusir roh-roh jahat yang mungkin masih mengganggu agar tidak ada lagi terjadi peristiwa kebakaran terjadi.

 
Dalam setiap upacara adat senantiasa memerlukan seperangkat bahan seperti beras, kapur sirih dan pinang, rokok, jarum, telur ayam, hingga babi, dan seterusnya. Seluruh bahan tersebut merupakan media pengantar bagi “imam panyangahatn” untuk menyampaikan segala permohonan, permintaan, doa-doa yang disebut “nyangahatn”. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan Sayur-mayur: rebung, pakis dan jamur Padi ladang: • Padi Sunguh: Sakado (tuha), Barua (tuha), Ambe (tuha), Salon, Sabente, Bure (tuha). • Padi Poe: Lalon, Calup, Rabung, Nibung, Kamayo, Arakng, Eko’ Padi Bancah merupakan padi yang ditanam di sawah: • Padi Sunguh: Siam, Salangko, Bungkuk, Katumbar, Kasisir, Sarandah (B), Chierang (B), Cisadane (B), Pabnetan, Patan Ulat, Banjar Talo, PB. Impara, Padi Itapm • Padi Poes; PB, RUhan, Arakng, Biti Labu, Eko’ Buah-buahan: Durian, Kamayo, Sinto, Kalawit, Rambe, Rawikng (antaan), Nangka, Satol, Kasiat, Sarikatn, Limpahong, Ngubi, Kase, Coer, Kalampe, Lalu, Redan, Kepayang, Langir, Singkutu, Kalapa, Kelengkeng, Saluwakng, Sukun, Lanset, Sibo Kara’, Kalaweh, Pehangan, Paluntatn, Jamu/Jambu, Pantingan, Jarikng, Kuranyi, Tampi, Mintawa, Angkada, Rambutan, Redan, Saumang, Singkutu, Miramun, Sibo kara’, Sibo, Kunjiji, Sango Barangan padi
Sumber Kesehatan & Kecantikan Obat-obatan: kunyit, Cakur, Jahe/liak, Sirih, Selasih, Daun sirsak, Serai, Putar wali, Madakng Ayo, Sankik kambing, Kumis Kucing, Pala Jalu, Akar kabadu, Oncok bangkailan, Jari Ang, Jari lima, Pinang, Daun tumbuh daun, Daun Banbali, Buah kakaya, Paku mamuraja, Daun talisip, Daun mengkudu, Daun Kayu Sulu
Papan dan Bahan Infrastruktur Madakng (yang paling banyak dipakai), Belian, Saro (yang paling banyak dipakai, Sibumutn (yang paling banyak dipakai), Nyantu’, Ubah. Bambu: Batukng, Aur, Bulu Bala, Munti’, Tarekng, Tumiang, Anyakng, Curit, Bagare, Buluh, Pasa’
Sumber Sandang -
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sayur & bumbu: Tikala, Barangan, Ringkang, Sinopo, Langan, Loyekng, Kabau, Sinere, Padi
Sumber Pendapatan Ekonomi Masyarakat menyadap karet yang menghasilkan rata–rata sekitar 5 kg/hr. Ada juga yang membuat gula enau yang diolah dari pohon enau milik sendiri dengan harga jual 25.000/kg. Enau memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penghasilan, namun hanya sedikit penduduk yang mengusahakannya menjadi gula enau (aren). Gula enau biasanya dijual dengan harga rp20.000 per kilo. Sawit merupakan tanaman yang relatif baru di wilayah ini. Ada sebanyak 12 keluarga saja di kampong Pate Bajamu yang berkebun sawit. Hasil panen buah sawit dijual kepada penampung yang datang ke kampung dengan harga saat ini per kilo rp1.000.


Sudah punya akun ?

Jika belum silahkan mendaftar di tombol ini