Dayak Seberuang adalah suku asli dari nenek moyang masyarakat adat Jaya Mentari. Suku yang termasuk dalam rumpun Ibanik ini berasal dari tanah semula jadi Tampun Juah (Segumon, Sekayam Hulu) dihulu sungai Sekayam Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Sarawak (Malaysia). Dari Tampun Juah terjadi perpindahan atau migrasi suku Dayak Iban salah satunya adalah kedaerah Kapuas Hulu, dibatang Sungai Seberuang (Kecamatan Seberuang, Kapuas Hulu). Dari batang Sungai Seberuang terjadi lagi migrasi salah satunya ke daerah Kabupaten Sintang di Kecamatan Tempunak dan Sepauk. Sebelum datangnya suku Dayak seberuang ke Tempunak, suku asli di Tempunak adalah suku Melayu Jelimpu. Pada saat kedatangan suku Dayak Seberuang ke daerah Tempunak sedang terjadi peperangan antara suku Melayu Jelimpau dengan suku dari Silan Muntak (suku dari daerah Belimbing, Kabupaten Melawi). Hadirnya suku Dayak Seberuang membantu Melayu Jelimpau. Sebagai imbalan tanah dan segala jenis kekayaan alam di Tempunak diberikan kepada suku Dayak Seberuang. Hingga sampai sekarang, suku Dayak Seberuang terus berkembang, termasuk diwilayah ketemenggungan Tempunak Hulu di Desa Jaya Mentari.
Jauh sebelum Indonesia merdeka, pengaturan tentang pengelolaan sumber daya alam, kewilayahan, hubungan sosial masyarakat, dan hubungan manusia dengan Tuhan dibatasi dan diatur oleh peraturan adat dan nilai nilai yang disepakai bersama. Bentuk pengaturan nilai-nilai tersebut dalam proses eksekusinya diatur oleh suatu lembaga yang disebut dengan ketemenggungan. Yang didalalam ketemenggungan terdapat jabatan-jabatan tertentu.
Pada tahun 1964 untuk mempermudah dan memaksimalkan pelayanan, ketemengungan di Tempunak dibagi kedalam empat ketemenggungan, yaitu Ketemenggungan Jalur Kapuas, Tempunak Hilir, Tempunak Tengah dan Ketemenggungan Tempunak Hulu. Ketemenggungan Tempunak Hulu meliputi 17 kampung yaitu kampung Nanga Jengkuat, Remiang, Mansik, Pekulai, Ansok, Jungkang, Sungai Kura, Mulas, Lanjau, Lebuk Lantang, Serpang, Arai, Sungai Belatuk, Sungai Buluh, Sungai Buaya, Tembak dan Penyarak. Ketujuh belas kampung tersebut secara administrasi terbagi kedalam delapan desa. Desa Riam Batu (Lebuk Lantang, Lanjau dan Mulas), desa Benua Kencana (Sungai Kura, Jungkang, dan Ansok), desa Pekulai Bersatu (Pekulai Hilir dan Pekulai Hulu), desa Merti Jaya (Mansik dan Remiang), desa Gurung Mali (Tembak, dan Penyarak), Desa Sungai Buluh (Sungai Buluh), dan desa Jaya Mentari (Arai, Serpang, Sungai Belatuk dan Sungai Buaya).
Jaya Mentri adalah nama dari gelar yang berikan oleh Penembah kerajaan Sintang kepada Kepala Kampung Serpang yang bernama Tanggan. Kemudian nama Jaya Mentri dijadikan sebagi nama desa yaitu desa Jaya Mentari. Di Desa Jaya Mentari terdapat dua kampung tua yaitu kampung Arai dan kampung Serpang. Dari dua kampung ini lah cikal bakal penduduk yang kemudian menghuni daerah Jaya Mentari.
Sejarah Kampung Arai bermula dari Teratak atau Tembawang Nambang, dari Tembawang Nambang kemudian terjadi perpindahan ke Tembawang Bindang, kemudian pindah ke Tembawang Kesunsung lalu ke Tembawang Demang. Tidak diketahui sejak kapan dan berapa lama tinggal di masing masing Tembawang namun diperkiran dalam satu tembawang hampir sampai 2 - 4 generasi.
Dari Tembawang Demang kemudian pindah ke Tembawang Beragah, Karena pada saat di Tembawang Beragah, rumah (dahulu masih berbentuk rumah Betang/ Panjai) dimasuki oleh burung beragah (jenis burung yang dijadikan pertanda alam oleh suku Dayak Seberuang) dan oleh suku Dayak dianggap pemali, maka pindah ke Tembawang Muas, dari Tembawang Muas pindah ke Tembawang Jeruit, kemudian pindah ke Tembawang Nyiur. Di Tembawang Nyiur diperkiran mulai pada tahun 1945.
Di Tembawang Nyiur boleh dikatakan adalah tempat terakhir atau tidak terjadi perpindahan lagi yang kemudian menjadi Kampung Arai. Namun sampai pada tahun 1982 bentuk perumahan di Arai (Tembawang Nyiur) masih berupa rumah Betang, baru pada tahun 1980 masyarakat mulai membangun rumah dengan konsep rumah tunggal. Sejak saat itu perlahan rumah betang mulai ditinggalkan.
Untuk mengatur kehidupan di Arai ditunjuk pemimpin yang disebut Kepala Kampung. Dimulai dari Kepala Kampung Pegi (sebagai Kenuruh dan Temenggung) sampai tahun 1970 an (tidak diketahui kapan dimulainya), kemudian digantikan oleh Kepala Kampung Ajun, kemudian Usin, dilanjutkan dengan Siak (sampai pada tahun 1988). Setelah tahun 1988 melebur sistem pemerintahan desa yang kemudian pemimpin kampung disebut Kepala Dusun.
Sejarah kampung Serpang bermula dari Tembawang Cebuk kemudian pindak ke Tembawang Kuta (yang berarti pagar dari kayu belian). Dari Tembawang Kuta kemudian sampai pada tahun 1970 an sudah tidak terjadi lagi perpindahan dan mulai menetap sampai sekarang berada diwilayah kampung Serpang. Sama halnya dengan kampung Arai, tidak diketahu siapa penghuni pertama dan tahun berapa mulai ada kehidupan manusia di Serpang.
Sebelum terjadi pemekaran wilayah desa kampung Arai, Serpang, Sungai Buaya, Sungai Belatuk dan kampung Pulau berada di wilayah desa Gurung Mali. Pada tahun 2008 terjadi pemekaran desa, Gurung Mali sebagai Desa Induk, dua penambahan desa, yaitu adalah desa Jaya Mentari dan desa sungai buluh.
|