Dalam rentang 20 tahun terakhir terjadi perubahan tata guna lahan di Kampokng Tampi Bide, diantaranya adalah sebagai berikut:
• Timawakng Traca diubah menjadi sawah yang lokasisnya dekat Sungai Tungkalang.
• Timawakng Boreng sekarang menjadi kebun karet, lokasinya juga dekat Sungai Tungkalang.
• Timawakng Sempakng keadaan alamnya diubah karena di lokasi tersebut dibangun Gedung SMP Negeri 09 Sangah Tumila. Konon, menurut ceritanya, Timawakng Sempakng ini pada tahun 1940an pernah menjadi objek permasalahan sengketa antara Binua Kalampe dengan Binua Tungkalakng.
Berdasarkan hasil pemetaan partisipatif Binua Tungkasa pada Juli 2016, luas wilayah kampung Tampi adalah 440,96 hektar. Peruntukan lahannya didominasi oleh kebun karet seluas 239,29 ha, disusul sawah seluas 98,96 ha, kompokng seluas 57,57 ha, bawas seluas 34,46 ha, tembawang 9,16 ha dan pemukiman penduduk seluas 1,52 ha.
Sumber air di antaranya adalah Sungai Tungkalakng, Sungai Ai’ Kimayongan, Sungai Ai’ Sabagik, Sungai Ai’ Tangkohokng (air terjun riba), dan Sungai Ai’ baguruh. Sumber air ini dmanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah penduduk.
Beberapa bukti penguasaan atas tanah/lahan yang diakui di kalangan orang Kanayatan dapat dipaparkan berikut ini: (1) tempat keramat; (2) timawakng; (3) parene’atn; (4) kabon gatah; (5) patunuan atau pasuburatn; (6) bawas; (7) kompokng; (8) surat keterangan tanah; (9) sertifikat tanah; (10) SPPT-PBB.
Tempat Keramat. Tempat keramat merupakan suatu kawasan tertentu di mana terdapat “pantak†dan “panyugu†atau situs-situs budaya orang Kanayatn, misalnya patunuan (bekas kuburan tua). Pantak merupakan monumen bersejarah dan sakral untuk mengingat sejarah asal-usul dan “perpindahan (baca: pengembaraan) nenek moyang orang Kanayatn di Binua Tungkasa sehingga hal tersebut menjadi salah satu alasan penting mengapa kawasan tersebut harus mereka lindungi. Pantak adalah tempat persembahan masyarakat adat Dayak Kanayatn yang berisi patung satu atau lebih tokoh masa silam dari orang-orang setempat, yang penggunaannya sangat terkait dengan pertahanan dan keamanan masyarakat Binua Tungkasa. Tempat keramat dibagi menjadi 2 (dua), ada yang merupakan milik individu (keluarga) tapi juga ada yang merupakan milik masyarakat adat secara keseluruhan dalam wilayah adat di Binua Tungkasa. Tempat keramat, misalnya hutan bernama utatn diman yang terletak di kampung Tungkalang (dulu kampung Tungkalakng masih satu dengan kampung Tampi) di mana di situ terdapat tempat keramat berupa panyugu. Panyugu Batu Duduk Ne’ Nyaman digunakan secara bersama-sama oleh penduduk kampung Tampi Bide, Pakatatn, Tampalaas, Talok Ayam, dan Tungkalakng yang kesemuanya itu adalah bagian dari wilayah Binua Tungkasa. 23
Timawakng adalah suatu kawasan yang memiliki aneka jenis tanaman dan buah-buah local, sebagai kawasan bekas pemukiman penduduk (perkampungan) yang karena perkembangan kehidupan atau alasan tertentu tidak ditempati lagi. Ciri-ciri kawasan ini ditumbuhi berbagai jenis tanaman keras (pohon-pohon) yang bernilai penting bagi pembuktian sejarah peradaban manusia setempat. Oleh karena itu, sebuah Timawakng merupakan bukti sejarah kepemilikan tanah adat yang sekaligus merupakan bukti hak milik atas tanah adat. Seluruh tanaman baik yang ditanam maupun yang tumbuh secara alami di atas tanah adat tersebut, termasuk tanaman obat-obatan alami, garu, tapakng, kelapa, sibo/rambutan, langset, satol, nangka, duriatn, asapm, kemiri, bumbu alam, berbagai jenis rotan, kayu dan bambu, dan lain-lain yang bisa dimanfaatkan untuk menyokong kehidupan, misalnya untuk bahan obat-obatan alami, ramuan bangunan dan alat rumah tangga warga setempat.
Beberapa “timawakng†di antaranya Timawakng yang ada di Kampung Bide yang sudah dimekarkan menjadi Tampi Bide dan Tungkalang yaitu Timawakng Bide. Kemudian timawakng di Kampung Tampi Bide di antaranya adalah Timawakng Diman, Timawakng Macan, Timawakng Babolok, dan Timawakng Boreng.
Dari keberadaan sejumlah “timawakng†tersebut penduduk mengakses nama ragam buah lokal seperti durian, nangka, cempedak, termasuk buah tengkawang, hewan buruan, bahan-bahan ramuan obat alami, rotan, dan lain sebagainya. Aneka buah, hewan buruan dan tumbuhan yang dikonsumsi menjadi sumber pangan yang menyediakan banyak protein bagi masyarakat Kanayatn.
Bawas atau lokasi bekas uma atau ladang. Apabila warga atau keluarga berencana ingin meladanginya kembali, maka lahan bekas ladang itu harus
diistirahatkan terlebih dahulu selama beberapa tahun. Masa jeda atau masa bera ini penting agar lahan tersebut cukup waktu menampung unsur hara tanah yang dibutuhkan tanaman padi di ladang berikutnya. Namun untuk lahan bekas ladang yang tidak akan diladangi kembali, maka segera setelah panen padi, lahan bekas ladang tersebut langsung ditanami dengan tanaman keras seperti karet, tanaman buah-buahan, seperti durian, tengkawang, dan lain-lain. Bawas sebagai salah satu bukti penguasaan lahan di kalangan masyarakat Kanayatn.
Kompokng adalah sebuah kelompok hutan dengan vegetasi yang rapat dan aneka tanam tumbuh beraneka tanam tumbuh mulai dari aneka buah-buahan hingga jenis kayu yg bermanfaat. Biasanya aneka tumbuhan yang ada di kompokng ini adalah tumbuhan dan jenis tanaman yang terdapat dalam vegetasi kompokng adalah tanaman buah-buahan seperti; aneka jenis durian, aneka jenis langsat, rambai, jenis asam, dan tengkawang, kayu jenis bahan bangunan seperti tamo, pulai, madakng, bengkirai. Dalam penamaan kompokng selalu diikuti dengan jenis tanam tumbuh yang dominan terdapat di wilayah itu atau nama pemilik kompokng tersebut, misalnya: kompokng durian, kompokng angkabakng, kompokng pak Si A, dll.
|