Komunitas Ribang Bayan berada di Kampung Kujau. Ribang Bayan adalah nama sebuah bukit kecil yang ada di kampung Kujau. Kampung Kujau adalah kampung tertua di Tempunak tengah, secara administarsi terletak di Dusun Tuja Intan, Desa Pulau Jaya, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, provinsi Kalimantan Barat. Secara bentang alam berada dalam kawasan Bukit kujau dan terdapat sungai kecil yang dinamakan sungai kujau yang bermuara ke sungai Tempunak, sungai Tempunak bermuara ke sungai Kapuas. Secara pemerintahan adat, kampung Kujau termasuk dalam wilayah Ketemenggungan Tempunak Tengah mencakup 5 desa lainnya.
Sebutkan kampung-kampung apa saja yang termasuk Ketemenggungan Tempunak Tengah?
Masyarakat Kujau telah menempati kampung Kujau secara turun temurun. Tidak ada referensi tertulis yang menunjukan dan mencatat secara persis sejak kapan proses migrasi pertama kali terjadi di Kujau. Namun demikian masih terdapat sumber-sumber yang masih dapat digali informasinya, dari tetau tetua adat, bapak Adil (Ketua Adat Dusun) dan bapak Umar (Tetau/ Tetua Kampung).
Kujau dihuni oleh suku Dayak Desa yang merupakan salah satu grup dari rumpun dayak Ibanik. Masyarakat adat Kujau meyakini, bahwa nenek moyang mereka berasal dari suatu tempat atau daerah yaitu kampung Jetak, (Kecamatan Dedai - Sintang).
Sebelum persebaran Dayak D’sa ke daerah lain, Masyarakat masih hidup dalam satu kesatuan yang berada dalam satu kawasan.
Pintu Bulau adalah tokoh yang menyebarkan suku dayak Desa dan Petinggi Dabung adalah nama tokoh yang sangat berpengaruh dalam peradaban masyarakat suku Dayak Desa dikarenakan beliau adalah orang yang dianggap mempunyai pewahyuan (kemampuan memimpin) pada masa nya.
Awal perpindahan masyarakat pada masa itu dilatarbelakangi oleh beberapa hal, diantaranya adalah; perperangan (ngayau) dengan suku dayak Nsilat dan dayak Undau, letak geografis, keterbatasan SDA , dsb. Beberapa Tempat yang di diami oleh masyarakat suku Dayak Desa pada saat hidup di Jetak, Dedai yaitu sebagai berikut ; Temawai Suak kuntur, Temawai Rajang Berujan, Temawai Lalang, Temawai Kaki Sengayan dan Temawai Antar Selanyir. Di tempat-tempat tersebut masyarakat masih belum menyebar ketempat lain, masih berada dalam satu kawasan secara bersamaan. Populasi masyarakat pun cenderung rendah pada waktu itu.
Sekitar tahun 1800-an masyarakat berimigrasi kembali dikarenakan peristiwa yang sama. Konon mereka dikabarkan mendiami suatu tempat yang mereka anggap paling aman dari serangan musuh dan sebagai tempat yang bisa untuk menjamin keberlangsungan hidup. Adapun tempat tersebut adalah Temawai Kuta, Temawai Nyiur dan Temawai Mplangkan. Dari temawai-temawai tersebut masyarakat Dayak Desa mulai menyebar ke berbagai daerah khususnya di kabupaten Sintang dan dengan persebaran ini menjadi cikal bakal terbentuknya kampung Kujau.
Pada saat awal kedatangan suku dayak Desa dari kampung Jetak, Dedai (kecamatan dedai, kabupaten Sintang) ke Tempunak tepatnya di kampung Kujau. Sedang terjadi perperangan antar suku asli tempunak yaitu suku melayu Jelimpau melawan suku Sekujam (kecamatan Sepauk, kabupaten Sintang). Perperangan tersebut mengakibatkan jumlah suku dayak Jelimpau semakin sedikit. Dayak Desa datang untuk mendamaikan perperangan kedua suku tersebut. Sebagai imbalan oleh suku Jelimpau kekayaan sumber daya alam termasuk tanah, kayu dan tapang tembawang dan kekayaan yang ada di daerah sungai bagian tempunak tengah diberikan kepada suku dayak Desa. Sejak saat itu suku dayak Desa mendiami daerah Tempunak dan terus berkembang sampai sekarang (suku melayu jelimpau mendiami desa Kuala Tiga, kecamatan Tempunak, kabupaten Sintang).
Sebelum mendiami kampung Kujau yang sekarang, masyarakat pernah mendiami kampung pertama yaitu Tembawang Panyai diperkirakan jauh sebelum penjajahan Jepang terjadi, temenggung pertama yaitu Temenggung Ramat. Di Tembawang Panjai ini dihuni oleh enam (6) kepala keluarga. Pada tahun 1965 di bawah pimpinan Temenggung Rangsang Jemat dan Kebayan Tarit masyarakat Tembawang Panyai menyebar kebeberapa Tempat, tujuan nya untuk keberlangsungan hidup dengan cara berladang tradisional, dan tempat persebarannya yaitu :
1. Temawang Merebung
Yang ditempati oleh ; Tarit, Topik, Suna.
2. Temawang Sengai
Yang ditempati oleh ; Ransang Jemat
3. Temawang Seranjuk
Yang ditempati oleh ; Taji
4. Temawang Melaban
Yang ditempati oleh ; Gindal
5. Temawang Telinsai
Yang ditempati oleh ; Tedung
6. Temawang Semirah Pering
Yang ditempati oleh ; Marta Grman
Pada tahun 1982 masyarakat yang tadi nya menyebar di beberapa tempat/tembawang, akhir nya berkumpul menjadi 2 kampung yaitu kampung Seranjuk dan kampung Kujau yang sekarang. Tokoh yang pertama kali pindah kekampung Kujau yang sekarang ini yaitu : Dait, Iludin, Ipui, Suga, Ayuh, Tambak, Nyilu, Akir, Kemarau dan Ucil. Di bawah kepemimpinan Temenggung Kemarau, tungkat temenggung nya Ucil, Kepala Kampung Akir, dan Kebayan Suga.
Sejauh ini ada 10 keturunan (generasi) yang mendiami mulai dari tembawang panyai sampai ke kampung kujau yang sekarang yaitu : Sanga memperanakan Menalang, Menalang memperanakan Entagas, Entagas memperanakan Ramat, Ramat memperanakan Rangsang Jemat, Rangsang Jemat memperanakan Dait, Dait memperanakan Umar, Umar memperanakan Rarang, Rarang memperanakan Semun, dan Semun memperanakan Suil.
Pemekaran atau dibentuknya kampung kampung menjadi desa dimulai pada tahun 1987 yang dinamakan desa Pulau Jaya, dan pemekaran dusun dimulai pada tahun 1995 yang dinamakan dusun Tuja Intan, yang terdiri dari dua kampung yaitu kampung Kujau dan kampung Temana.
Sistem kepercayaan masyarakat Kujau sebelum masuknya ajaran agama Katolik adalah kepercayaan lokal. Belum ditemukan istilah atau nama yang tepat untuk kepercayaan local, Namun dalam praktek nya masyarakat menyakini ada nya suatu kekuatan yang mengatur kehidupan diluar batas kendali manusia, masing-masing alam ada yang menguasi. Kekuatan itu terdapat pada (tanah, angin, kayu, hutan, air dan binatang) dan mereka percaya sang pencipta yang disebut Petara.
Agama katolik masuk pada tahun 1971 hal ini ditandai terbentuk nya umat katolik yang memiliki kapel yang di misionariskan oleh seorang pastor Smith, dan termasuk kedalam wilayah keuskupan Sintang. pada tahun 1979 bapak Amin terpilih menjadi ketua stasi sekaligus pemimpin umat disitu. Hingga sekarang agama katolik tumbuh menjadi agama masyarakat di kujau namun demikian adat kepercayaan lokal masih tetap di pertahankan dan di pegang teguh.
Adat istiadat dan hukum adat termasuk macam-macam kearifan lokal dan penggelolan sumber daya alam masih sangat dipegang. Agama protestan mulai masuk pada tahun 1976, tidak di ketahui pasti siapa yang membawa pertama kali. Keteguhan menjaga adat istiadat membuat sumber daya alam mereka tetap terjaga dan terkelola dengan baik. Beberapa contoh kearifan lokal tentang pengelolaan alam dan hubungan dengan sang pencipta yang masih dipegang teguh masyarakat kujau seperti aturan dan larangan pembabatan hutan.
Kampung Kujau memiliki kawasan atau area tanah adat/ hutan adat yaitu Ribang Bayan dengan luas wilayah ±5,7 ha. Sistem pengelolaan tanah adat sudah diatur dalam aturan adat setempat.
Sumber ekonomi utama masyarakat Kujau hampir 90% sebagai petani karet dan berladang (beuma). Berladang lahan kering (uma) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan pagan (beras, sayur-sayuran lokal, ubi, dan jagung). Kegiatan perladangan adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak untuk dijual dengan siklus sekali setahun panen dan rata-rata hasil yang di peroleh adalah 600-900 ton.
Perkebunan karet (alam/lokal dan unggul) digunakan untuk pendapatan tunai (cash) dengan rata-rata pendapatan 10-20 kg/hari/kk dalam satu bulan rata-rata 20 hari kerja. Sistem pemukiman masyarakat adat kujau tidak lagi menempati rumah panyai (betang) sejak tahun 1980-an kini mereka telah menggunakan sistem rumah tunggal (rumah pribadi) yang berderet yang mengikuti pola jalan kampung. Kondisi sosial masyarakat Kujau masih sangat kental dengan rasa kekeluargaan, kebersamaan dan solidaritas. Aktivias sehari-hari dilakukan dengan sistem begawai/ ruyung (gotong royong). Kegiatan dilakukan secara bersama-sama, terlihat dari aktivitas berladang, mendirikan bangunan rumah pribadi maupun fasilitas umum, pesta perkawinan, upacara adat, mendirikan pipaniasi (air bersih), mendirikan PLTMH dan kegiatan lainnya.
Di kampung Kujau sendiri terdapat beberapa bangunan fasilitas umum, yaitu Sekolah Dasar Negeri 20 Kujau yang berdiri pada tahun 1983, Gedung PAUD satu unit yang berdiri pada tahun 2012 satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sungai Kujau yang berdiri pada tahun 2013 yang mana sekarang di manfaatkan masyarakat untuk penerangan dan sebagai media hiburan. Terdapat juga pipanisasi air bersih yang dibangun pada tahun 2004. Kampung Kujau juga sudah memiliki sarana kesehatan seperti Posyandu dan Puskesmas terdapat di Dusun Jengkuat Desa Kupan Jaya Kecamatan Tempunak dengan jarak tempuh ±20 km.
|