Indikatif

Nama Komunitas Dayak Barai Kampung Terongin Ketemenggungan Barai Hulu
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota SINTANG
Kecamatan Kayan Hilir
Desa Engkarangan
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 644 Ha
Satuan Kampokng Terongin
Kondisi Fisik Perbukitan,Dataran
Batas Barat Berbatasan dengan Natai Marau Desa Engkarangan, Kecamatan Kayan Hilir
Batas Selatan Berbatasan dengan Natai Mulan dan Natai Bunyau desa Engkarangan, Kecamatan Kayan Hilir
Batas Timur Berbatasan dengan Engkarangan desa Engkarangan, Kecamatan Kayan Hilir
Batas Utara Berbatasan dengan kampung Nunin dan Morat Desa Mentunai, Kecamatan Kayan Hilir

Kependudukan

Jumlah KK 49
Jumlah Laki-laki 90
Jumlah Perempuan 82
Mata Pencaharian utama Bertani & berkebun karet

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Nama Kampung Terongin asal mulannya bernama Nanga Terungin, karena letaknya di Nanga Sungai Terungin. Nama Nanga Terungin berubah menjadi terungin saat terjadi regruping desa tahun 1988.

Adapun orang pertama yang membuka dan tinggal di Terongin adalah saloh. Saloh sendiri awalnya berasal dari (1)Tingatn Serian ( Kalimantan Tengah), Dari Tingatn Serian pindah ke (2)Tempunak ( gunung Saran), Dari Tempunak Bukit pindah ke (3) Pagar Babi Mangko Matai Dari Pagar Babi Mangku Matai pindah ke Lumut Begantung ( daerah Dedai)(4) dari Lumut Begantung pindah Medang Belentau ( sekitar bukit segaloh ), dari Medang Belantau pindah ke Tugu Berajang ( daerah bukit tugu )Dari Tugu berajang pindah ke Ludatn Tanjung Tambak, dari Ludatn Tanjung Tambak pindah ke (6) Tanjung Barai ( Lidau), dari Tanjung Barai pindah ke (7) Laman Lalang (daerah natai Marau) Dari natai lalang pindah ke Nanga Terungin hingga sekarang,

Dari Saloh hingga Petrus Geo Aprian ada 8 keturunan, :

1. Saloh ( Perempuan)
2. Limpas ( Perempuan)
3. Jobo’ ( Perempuan)
4. Mayang ( Perempuan)
5. Jontang (Laki – laki)
6. Agan ( Laki - Laki)
7. Andi ( Laki – Laki)
8. Petrus Geo Aprian ( laki- laki )

Alasan pindah
1. Tingatn Serian ( 14 KK), 7 KK mendapat babi yang tak punya kaki, 7 KK yang makan babi tersebut berubah menjadi kelelawar, ular, kijamg dan berjenis-jenis binatang lainnya, makannya 7 KK yang tidak makan babi Menokng tersebut merasa terancam dan pindah.
Karena ada serangan Tamau ( sejenis cacing yg bisa jadi jadian yang bisa mengancam keselamatan, yang bisa disebut babi Menokng )

2. Kaki Bukit Saran
Karena wilayah ini angker banyak dihuni hantu.

3. Pagar Babi Mangko Matai
Lokasi tanah tidak subur,tanah merah hingga tanaman kerdil dan hasil panen kurang.

4. Lumut Begantung
Karena serangan kayau bala baju aso ( suku Jangkang), Pengayau yang makan orang yang dibunuhnya,

5. Medang Belentau
Masih ada serangan kayau dari bala baju aso

6. Tugu Berajang
Masih ada serangan kayau dari bala baju aso

7. Ludatn Tanjung Tambak
Takut serangan gompa ( sejenis ular maha besar ekor di langit dan mulut di bumi) yang selalu merusak padi. Ular ini dibunuh oleh Bujakng Pelimping dengan cara disumpit, darah gompa yg tercecer di tanah akan subur, natai panjang dan natai mulan

Dan Serangan kayau suku Undau, silat dan kebahan sehingga membakar botakng

8, Tanjung Barai
Karena Sagan ( panglima suku barai yang pilih tanding ) telah mati oleh Camang dari suku Linoh kedua panglima ini sama mati.
Takut diserang oleh suku2 lain yang dendam oleh sagan sebelumnya.

9, Laman Lalang ( antara natai Marau dan natai lesung)
Botakng panjang terbakar, karena lokasi pemukimannya banyak lalang yang setiap musim kemarau terbakar dan ada serangan dari kayau baju aso ( Suku jangkang) sehingga ada sungai jerengkang, sekarang menjadi tempat madi di kampung natai mulan.

10. Nanga Terungin
Bapak saloh dan Usoh, Dua keluarga ini yang tinggal di Nanga Terongin. Dalam perjalanan waktu keluarga Usoh pindah ke Natai Mulan, sedang Bapak Saloh dan keluarga bertahan di kampung Nanga Terungin.


Adapun pengurus adat yang pernah menjabat di Terongin dimulai dari Entayot sebagai Kepala kampung Hingga Pak Mateus Agan sebagai kepala Dusun, adapun urutannya seperti dibawah ini :
1. Entayot ( Kepala kampung) Zaman Belanda, sebelum tahun 1942
2. Samad ( Kepala Kampung), Zaman Jepang
3. Panji ( Kepala Kampung) thn tahun 60 an, orde lama
4. Kintit ( Kepala Kampung) thn 1970 an
5. Amit ( Kepala Kampung) 1980an
6. Anun ( Ketua RT) tahun 2001 an, masuk RT 06, Dusun Mentunai Desa Mentunai
7. Ketai ( Ketua RT) tahun 2008 an, masuk RT 06, Dusun Mentunai Desa Mentunai
8. Libon ( Kepala Dusun) --- RT 1 ( Sudin) dan RT 2 ( Ketai), pemekaran desa engkarangan thn 2008
9. Mateus Agan ( Kepala Dusun), tahun 2016
Bagaimana interaksi masyarakat adat dengan masyarakat lainnya ? ( penjajah, masyarakat pendatang )

Masyarakat suku barai tidak ada bentrok dengan penjajah baik belanda maupun jepang dan patuh kepada kerajaan Sintang
Menerima masuknya perusahaan INHUTANI III tahun 1996 menanam Pinus dan karet

Interaksi dgn kedatangan agama baru ?
Masuknya agama katolik oleh guru Sani Bule dan dilanjutkan oleh pastor Van Kuek ( orang belanda) dari sintang.
Dengan perdaganan, apahah sejak dulun sudah ada jual beli ?

Pak Sonte ( bapak dari Pak Atet) suku Cina dari Nanga pinoh. Jual beli barang yang di tukar dengan padi

Identitas budaya : mulai dr berladang, masuknya konsesi ?
Lahan tanah untuk berladang berkurang sehingga hasil panen berkurang berkurang 40 persen dan serangan jenis dan kuantitas hama meningkat

Apa ritual adat Utama ?
- Ritual adat beuma ( Manggul lokasi berladang, Adat nimpe kewawak, Nyengkoyan boneh, adat memasok/ mopat daun padi, Adat matah, adat ngobat padi/ ngumpatn ine’k, Adat nulak jerami, Adat ngumpan batu/ gawai adat.
- Adat penyembuhan orang sakit : Belokos ( cari penyebab penyaki), Ritual najo’ ( memberi penyembuhan., Ritual mempatokng – memberi penyembuhan orang yg terkena dan mimpi jahat ) dan Riutal adat Beliatn dilakukan oleh semanang. Dan berajat – beniat./ bejanji.

- Adat kematian : Ritual mpatung tengkelupa dgn daun lalang, Ritual juju ( selama 3 hari setelah dikubur0, Ritual ngogau – dilakukan malam hari, Ritual Nombo’ bulan, utk perempuan 2 bulan lebih, jaki laki2 selama 3 bulan,. Nombo’ dilakukan berbeda, perempauan 2 tahun lebih dan laki2 diatas 3 tahun)

- Ritual adat buag ( Nompa’ bunga buah --- supaya bunga buah menjadi buah) dan mulakng buah ; membuang kulit buah beserta hama dan penyakit baik diladang maupun di kampung ) dengan cara mempatokng . Mpatokng dihanyutkan. Khusus untuk mpetokng boras.

- Adat melahirkan ( ngulit asam ; mengambil asam dari pohonnya, ritual makan asam : ibu si bayi makan asam ( tepus/ asam songakng), Atar ponotak pusat – memberi nama si batyi), Ritual adat ngulit asam khusus anak pertama)
- Ritual ngumpan tolok : dilakukan musim kemarau saat nuba adat, minta keselamatan dari mala petaka baik kemanusia maupun tanaman diladang.

10. Bagaimana kondisi pada zaman kemerdekan ( dengan terbentuknnya sistem pemerintahan desa, Adannya UU Desa ?
- adat istiadat mulai luntur
- Beralihnya nama pimpinan di wilayah, dulu namannya kepala kampung sekarang menjadi Ketua RT.

11. Apakah ada konflik tenurial : misalnya soal pemberian Ijin konsesi ? FPIC
INHUTANI masuk melakukan sosialisasi yang tidak sepenunya, melihat segi keuntungan jika perusahaan masuk. Mereka hanya beralasan untuk reboisasi lahan yg seing terbakar, tentang tanah yg digunakan hanya untuk meminjam lahan tanpa konpensasi.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Penggunaan Lahan :
1.Kebun Karet : 525, 76 ha ( penambahan bawas , pinus dan karet )
Milik individu dan keluarga
Vegetasi di kebun karet : buah-an, engkabang, bambu, jengkol. Petai, tebudak

2, Pemukiman: menjadi 4 hektar dari 2,87
Milik kampung. Gereja katolik santo mateus, Rambar beton, Pamsimas – air bersih kondisi rusak, Sumor bor kondisi tidak berfungsi, Panel surya sebanyak 40 unit kondisi baik, 50 amphere, drainase 140 meter, jembatan sungaaor dan terongin.
Vegetasi : kelapa, pisang, kapas, mangga, rambutan, asam pelam, jambu, kedondong, petai, dll.

3. Rawa : 76,89 ha – 9,10 ha menjadi 67, 79 ha, 9,10 menjadi sawit di payak sungai lobak kerara dua dan rawa sungai tuwok.
Vegetasi : pakuk naik, kedungkin ( jenis keladi berduri), pelai, nyabo, purun, rumput madang, kajang, akar periuk, akar temilah, akar kelait.
Jenis ikan : lele, sipat, batuk, gabus, katak, ikan tempala, ular kunin, ular mutdolak, ulat mut mayan, dll
Burung : keruak, pipit, uwi buotn, Buotn semangka, buotn babi,

Kepemilikannya individu dan keluarga. Belum dibentuk sawah yang sempurna.

4. Rimba : 10,78 ha lokasinnya bernama Rimba Sungai Sibau. Jenis kayu : Jelutukng, Kelansau, Merobokng, Temau, Sempote, Engkajang, Kenyahai, ponok, terontakng. Kayu yang ada banyak di tebang oleh orang engkarangan dan terongin.
Binatang : Monyet, tupai, beruang, burung taok angkitn, pelanduk, musang, ular sawa, ular lantar hitam, burung punai, empulu, tekukur, elang, burung bangkah,
Rimba sungai sibau milik kampung

5. Tembawakng
Luas 1,12 ha Nanga lobak melayang, nanga laman balai dan laman buok
Kepemilikan : milik pribadi, Jika ambil buah, walaupun satu keluarga harus meminta ijin kepada keluarga yang telah diberi hak oleh orang tuanya,
Tanaman yang ada : durian, asam kemantan, asam pelam, tebodak, asam mawakng, asam paoh, rambutan, mentawa, kepuak, rambai, pihin, pudok, akar jita. Keranji, womak ( jenis rambutan), sibau

6 Tengkawang : 1,59 ha tersisa hanya 0,5 ha.
Tingal di sungau aor, sedang di paloh bosor habis di tebang untuk membuat lanting jek.
Kepemilikan : individu, pemberian orang tua.
Vegetasi : tengkawang , cerenak, belete, empahong, puduk, lempahong. Hasilnya tidak pernah dijual lagi. 
Di kalangan masyarakat adat Dayak Barai di kampung Terongin mengenal 2 sistem penguasaan dan pengelolaan yang didasarkan pada system kepemilikan yang diwariskan turun-temurun, yakni kepemilikan secara individu/pribadi dan secara kolektif/bersama.

1. Kepemilikan secara individu : Kebun karet dan ladang
2. Kepemilikan secara kolektif/bersama : Kuburan , keramat , hutan adat ( Rimba Sungai Sibau) dan tembawang

Identifikasi siapa yang memiliki peran paling besar dalam mengkontrol kepemilikan tanah dalam masyarakat adat ?
Tidak ada, tetapi tergantung kepada individu masing2

Apakah orang luar dari masyarakat adat dapat mengakses lahan ? jika bisa bagaimana mekanismenya ?
Bisa melalui jual beli 

Kelembagaan Adat

Nama Ketemenggungan Barai Hulu
Struktur Tamongokng , setara dengan kepala desa Tungkat Tamongokng ( wakil temenggung ), sekarang angki berkedudukan di Ubai di desa Mombai Kadat Desa, sekarang Tebuan Kepala Adat Tingkat dusun, berada di kampung terongin, sekarang Pak Jontang
Tamongokng, Tugas dan fungsinya :
- Memutuskan adat, jika tidak putus di tingkat kampung.

- Tungkat Tamongokng, Tugas dan fungsinya :
Membantu tamongokng Memutuskan adat di tingkat kampung.

- Kadat Desa memutuskan perkara ditingkat desa jika tidak putus di tingkat kampung
-
- Kepala adat , mutuskan adat tingkat kampung 
Musyawarah dan mufakat kampung, kemudian di putuskan oleh tamongokng. 

Hukum Adat

A. Adat Berladang
1. Manggul tanah ( Adat minta ijin kepada leluhur)
2. Nobas
3. Nobakng
4. Meladak
5. Nunu
6. Manok
7. Nugal
8. Mabau ( merumput
9. Memasok
10. Matah ( adat Buang penyakit padi)
11. Manyi
12. Nulak Jerami
13. Ngumpan Batu
B. Adat Buah
- Nompak bunga buah
- Mulakng buah
C. Adat di Sungai
- Ngumpan Talok ( dilaksanakan jika akan nuba adat)
D. Adat merusak usaha orang lain
- Membakar kuburan, dikenakan adat pemali. Satu kuburan 20 real
- Membakar tembawakng pengantung temunik, kena adat pemali dan pekoas 10 real.
- Mencuri menuba, kena adat basa , adatnya 20 real
- Ngulik/ mencuri, ken adat 20 real. (1 real = Rp 5.000.)

 
1. Adat mengandung/ Ngulit asapm, tujuannya agar di dalam persalinan lancar, adat ini dilakukan pada saat kehamilan anak pertama.
2. Adat Mopat Asapm. Adat dimana anak yang dilahirkan sudah boleh makan asam ( asam songkolan/ asam gerintakng) berlaku pada anak pertama.
3. 3. Adat Besilih, adat untuk anak ke 7.
4. Adat perkawinan
- Nonyak ( minang)
- Adat nikah --- Dengan adat Sengkolan
5. Adat kematian
- Kematian Normal---- hanya mengeluarkan ongkos makan – minum
- Mati dibunuh/ terbunuh :
a. Tidak Sengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa),
b. Disengaja = Kena adat 16 Tail ( pati nyawa)
Keterangan 1 tail = 16 real----- 16 buah ketawak 
Adat kematian
- Kematian Normal---- hanya mengeluarkan ongkos makan – minum
- Mati dibunuh/ terbunuh :
a. Tidak Sengaja = kena adat 16 Tail ( pati nyawa),
b. Disengaja = Kena adat 16 Tail ( pati nyawa)
Keterangan 1 tail = 16 real----- 16 buah ketawak 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Sumber  
Sumber Pangan 1. Sumber Karbohidrat Beras, ugi, jolek, pelak, keladi , abuk 2. Sumber protein hewani, Ikan sungai *(kolik), tapah, baong, kalui, jelawat, belidak Binatang buruan (kijang, pelandok, tupai, koak) ternak pelihara babi, ayam, bebek, 3. Sumber protein nabati: rotak, nyior, kenual/kepayang 4. Sayur – sayuran : daun ubi, pakuk naik, pakuk pantai, cendawan (kualat pasang, kulat golang, kulat tahun, kulat kerop, kulat buah, kulat kaki sengayan) 5. Buah – buahan : pisang, kelapa, kedondong, jambu, terung kayu (pepaya), durian, manggis, limau
Sumber Kesehatan & Kecantikan 1. Jenis Tanaman untuk Kecantikan dan Kasiatnya ? Daun segarang untuk menghaluskan wajah agar cantik, Daun bodak mia untuk mengencangkan kulit, Kulit langir untuk keramas rambut yang berfungsi melicinkankan rambut 2. Tanaman untuk Kesehatan dan Kasiatnya ? Kunyit, jahe, balanalu yang dipakai daun, pucuk ( obat patah tulang. Daun Keloban. Entomu kuning untuk memuluskan kulit Kasai (kunyit) untuk obat sakit kepala. Coko ountuk menghangatkan ibu yang baru melahirkan. Daun keloban untuk obat sakit perut kembung, kulit batang santek untu obat sakit mata, Daun pupuk tuak untuk obat demam, iyas pasakng (sejenis ulat) untuk obat sakit gigi. Bunga cina gui untuk obat bisul, kemalong ayam (empadal ayam) dimasak untuk mengobati kerjengkolan
Papan dan Bahan Infrastruktur Kayu untuk bahan bangunan : 1. Kenyahok untuk kasau dan tiang, papan 2. Cerendak untuk kasau, tiang jenang, galang lantai, papan 3. Kelansau untuk papan, jenang, kasau atap 4. tengkawang, majau untuk jendela 5. tomau, merobong, semputik untuk atap rumah tebelian sudah punah 6. Temau, majau, tengkawang, rosak untuk membuat perahu
Sumber Sandang Bahan untuk pakaian , apa : Kulit kayu kepoa untuk bahan sabok dan baju
Sumber Rempah-rempah & Bumbu Sumber rempah dan bumbu ? Daun Sengk)ubak pengganti micin, serai, kasai (kunyit), daun dan buah kandis, daun bungkang, sumpak asam (umbut dan bunga), laja ()lengkuas), lea, kunyit,
Sumber Pendapatan Ekonomi Karet, hasil ladang, sayur-sayuran (terung, kacang panjang, timun, sawi, kangkung, dll)

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Tentang Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Sintang 12 Tahun 2015 Pengakuan Dan Perlindungan Kelembagaan Adat Dan Masyarakat Hukum Adat Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Sintang Nomor 660/1795/KEP-DLH/2019 Tentang Pembentukan Panitia Verifikasi dan Validasi Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Sintang Nomor 660/1795/KEP-DLH/2019 SK Bupati Sintang Nomor 660/1795/KEP-DLH/2019 Tentang Pembentukan Panitia Verifikasi dan Validasi Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Sintang SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen


Sudah punya akun ?

Jika belum silahkan mendaftar di tombol ini