Indikatif

Nama Komunitas Menyumbung
Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/Kota KETAPANG
Kecamatan AIR BESAR
Desa Menyumbung
Peta Lokasi Wilayah Adat Perbesaran dengan Mousescroll

Kewilayah Adat

Luas 12.854 Ha
Satuan Menyumbung
Kondisi Fisik Dataran
Batas Barat Desa Pendamar Indah Kecamatan Sandai
Batas Selatan Dayak Krio di desa Benua Krio
Batas Timur Dayak Bihak di desa Cinta Manis
Batas Utara Dayak Mahap di desa Senduruhan

Kependudukan

Jumlah KK 639
Jumlah Laki-laki 1711
Jumlah Perempuan 1547
Mata Pencaharian utama Petani, peladang, penoreh (karet)

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Sejarah Perpindahan Kampung Menyumbung

1.Laman Kacopukng (Laman Ramatakng)
Laman Kacopukng terkenal dengan tokohnya Jaya Pati. Laman Kacopukng kemudian disebut Laman Ramatakng, yang makin lama makin ramai pula penduduknya. Keadaan ini menyebabkan rumah penduduk Laman Ramatakng menyatu dengan rumah penduduk Laman Mimukng. Lalu disepakati kedua Laman menjadi satu yang lebih dikenal dengan Laman Mimukng.

2.Laman Mimukng
Laman Mimukng pada mulanya adalah sebuah pemukiman dari Laman Maribukng. Namun, karena Laman Maribukng diserang sampar akibat masyarakat bermain bukukng, banyak yang meninggal dunia. Bagi yang masih hidup memilih lari ke pemukiman yang terletak di bagian hulu Nanga Sunge Mimukng.
Tokoh pendiri Laman Mimukng adalah Canaga Antutn dan isterinya Karikap. Semula tempat perladangan/prio di Nanga Mimukng pada saat kejadian di Laman Maribukng mereka sedang menginap di Prio nanga Mimukng. Berdirinya Laman Mimukng diperkirakan pada awal abad ke 19 M yang pada waktu itu rumah penduduk hanya ada sebuah rumah botakng panyakng yang terdiri dari 9 lawakng, yaitu “Botakng Lawakng Kolapm Samalapm” namun lama kelamaan semakin bertambah, selain penduduk Mimukng sendiri bertambah juga ada pendatang dari daerah Sekadau, Sintang dan dari daerah lain.

3.Laman Maribukng
Masyarakat diLaman Maribukng merupakan pindahan dari Laman Petobakng yang dahulunya berasal dari Laman Pupuk Tagua, masyarakatnya hidup rukun dan penuh kedamaian, didearah itu ada terdapat “bungkukng akar sangkubak bulatn dan kencor jerango hantu” yang menyebabkan mereka tidak pandai mati. Masyarakat diLaman Maribukng sadar bahwa mereka merupakan bagian dari masyarakat Laman Pupuk Tagua yang kemudian menyebar ke berbagai daerah, namun pada suatu waktu mereka saling kunjung – mengunjungi antarawarga yang satu dengan warga yang lainnya dan demikian juga yang terjadi pada masyarakat dari Laman Maribukng mereka mengunjungi sanak saudaranya didaerah Sunge Bihak, ketika mereka sampai di sana bertepatan pula dengan salah seorang warga diLaman itu meninggal dunia, sesuai dengan adat orang Suku Bihak, jika ada orang meninggal dunia/mati harus mengadakan adat Bukung. Bukung itu adalah manusia yang wajahnya diberi topeng yang terbuat dari kayu pelaik, badannya dibalut dengan kaitn dan perlengkapan lainnya, sedangkan orang lain batipak (membunyikan gong dan gendang) lalu bukung tadi bermain-main di sekitar mayat sehingga dilihat maupun didengar cukup meriah. Melihat keadaan yang begitu meriah, maka orang dari Laman Meribukng tadi membeli mayat orang Bihak. Hal itu dilakukan karena bagi orang di daerah Sunge Krio tidak mengenal manusia mati, sedangkan mayat yang sudah dibeli tadi dibawa pulang ke Laman Meribukng dan setibanya di Laman Meribukng merekapun mengadakan gawai untuk memeriahkan mayat tadi lalu membuat bukukng sebagaimana yang telah mereka pelajari dari orang di daerah Sunge Bihak.
Dengan pesta membukukng tadi orang lupa dengan pekerjaannya, sampai mayat yang dibukukngkan itu hancur luluh itupun belum puas hingga mengambil lesung lalu dibungkus seperti mayat benaran untuk ditipak bukukng. Pada saat masyarakat lupa diri dengan kegiatannya tiba-tiba jatuhlah seekor anak burung raya yang baru mulai terbang labuh ditengah halaman rumah tempat orang gawai. Orang banyak yang sedang bersukaria bermain bukukng pun terkejut melihat seekor anak burung raya yang jatuh ditengah halaman itu. Melihat anak burung yang tidak berdaya tadi, maka kata mereka: “oh ambil itu, kerjakan untuk tabas kita minum, kebetulan kita pun sudah habis tabas minum tuak”. Beberapa orang mengambil anak burung tadi lalu dipasah, dibersihkan, dipotong-potong, dimasak dan setelah masak orang banyak istirahat bermain lalu makan bersama-sama. Akibat makan anak burung “Raya”, setiap orang yang makan keracunan tidak dapat diobat lagi lalu mati; melihat kejadian demikian bagi orang yang belum makan daging anak burung raya dan selamat melarikan diri ke Laman Sangkuakng dan ada yang melarikan diri ke pedukuhan Nanga Sunge Mimukng (Laman Mimukng sekarang).

Desa Menyumbung diambil berdasarkan nama Sungai Mimukng.

Catatan: belum ada informasi sejarah asal usul silsilah keturunan dari orang yang membuka pemukiman pertama kali di wilayah Menyumbung.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Wilayah kehidupan penduduk kampung atau laman Menyumbung tersebut menyediakan manfaat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat adat Krio, di antaranya untuk tempat pemukiman penduduk, lahan ladang (lako), kebun karet, lahan kebun sayur-mayur, persawahan, gupukng (tembawang), hutan adat/hutan keramat, kuburan, dan lain-lain.

No. Tata Guna Lahan Luas/Ha
1 Hutan Adat 4.711,39 ha
2 Babas/Bawas 1.308,63 ha
3 Kobutn gota’/Karet 4.059,36 ha
4 Pemukiman Penduduk 29,88 ha
5 Abur/Sawah 189,89 ha
6 Tamawakng (Gupukng)/ Tembawang 713,32 ha
7 Kobutn Kopi 156,33 ha
Jumlah luas wilayah tanah adat 11.168,8 ha


Tempat Keramat
Selain kawasan pekuburan, tempat keramat lainnya merupakan kawasan di mana terdapat tempat keramat yang berupa batu dan pohon yang memang ada sejarahnya kenapa pohon atau batu serta pancur tersebut menjadi tempat keramat.
Namun dari sejarah keturunan masyarakat kampung Menyumbung memiliki situs sejarah yang berupa Keris dengan nama Bosi Kolikng Tngkat Rayat berada dikampung Sengkuang desa Benua Krio, benda pusaka ini selalu di pelihara dengan mengadakan gawai tahunan setiap tanggal 25 Juni nama gawai tersebut adalah Meruba

Kepercayaan Tehadap Kramat
Keramat adalah tempat yang suci dihuni oleh Dewata (Tuhan). Simbolnya berupa:
Pohon (kayu), Batu, Binatang dan benda lain dan sebagainya, yang berupa :
1.Kramat Dayakng Tontu (Pohon Tapakng di Nanga Empape Kanan, yang memang ditanam). Bukti bahwa pohon tapakng itu mempunyai Kramat adalah karena orang yang minta keselamatan, minta keberhasilan dikabulkan; pemengang warisan adalah Mahamat.
2.Kramat Raden Amit (Pohon Tapakng di hulu Sunge Rematakng). Bukti bahwa pohon tapakng itu mempunyai Kramat adalah karena orang yang minta keselamatan, minta keberhasilan dikabulkan; pemengang warisan adalah Remon (anak Junuk).
3.Kramat Tapakng Panolur (terdapat di Sunge Empape Kanan). Bukti bahwa pohon tapakng itu mempunyai Kramat adalah karena orang yang minta keselamatan, minta keberhasilan dikabulkan; pemengang warisan adalah Nio.
4.Kramat Hibul (jenis Nibukng).
5.Kramat Silikng Ntamma (Nio).
6.Kramat Tapakng Nate kumpakng.
7.Kramat Manuang Naga Jaburi.
8.Kramat Lange Lalukng (Tapakng).
9.Kramat Kinyil Pamali.
10.Kramat Tapakng Kakar.
11.Kramat Bosi Kolikng Tungkat Rayat ada, Kramat yang terbesar terdapat di Laman Sangkuakng.
12.Kramat kolapm badari, kompas Tujuh, Dara Tunggal, Pancur Kramat, Tamutn Naga Barua. terdapat di Laman Sangkuakng.
13.Kramat Botukng dan Nibukng terdapat di Laman Sapangakng.
14.Kramat Tabulitn Tanam terdapat di laman Demit.
15.Kramat Kompas dan Kramat Banuah terdapat di Laman Sapiri.

Keterangan:
- Setiap Kramat ada artinya,
- Kramat adalah sejenis pohon, batu, lokasi dan binatang
yang dianggap suci merupakan wakil Duwata (Tuhan).

Temawakng/Gupukng (tembawang)
Secara kolektif—dalam kebersamaan,masyarakat hukum adat kampung Menyumbung, desa Menyumbung kaya akan sumber pangan dan buah-buah lokal yang bisa diperoleh dari beberapa tembawang (Temawakng atau Gupukng: bahasa Krio). Beberapa tembawang

Pase (Kuburan)
Lokasi kuburan generasi tua yang merupakan generasi pendahulu Kampung Menyumbung, desa Menyumbung terdapat diseberang kampung yaitu Duritn Tajo, di hulu kampung Tampasi, Kuyap serta Nanga Empape Kibak
Kuburan atau Pase dalam bahasa Krio yang sampai sekarang masih digunakan adalah Pase Tiakng Jurukng ini tempat pemakaman umum kampung Menyumbung

Babas (bekas lako/Bekas Ladang)
Masyarakat kampung Menyumbung, desa Menyumbung mengenal “Babas” atau lahan bekas ladang. Apabila warga atau keluarga berencana ingin meladanginya kembali, maka lahan bekas ladang itu harus diistirahatkan terlebih dahulu selama beberapa tahun. Masa jeda atau masa bera ini penting agar lahan tersebut cukup waktu menampung unsur hara tanah yang dibutuhkan tanaman padi di ladang berikutnya. Namun untuk lahan bekas ladang yang tidak akan diladangi kembali, maka segera setelah panen padi, lahan bekas ladang tersebut langsung ditanami dengan tanaman keras seperti karet, tanaman buah-buahan, seperti durian, tengkawang, dll. “Babas” atau lahan bekas ladang biasa disebut juga sebagai “tampile atau rimpat” sebagai salah satu bukti penguasaan lahan di kalangan masyarakat .

Rotan dan Pohon Tengkawang
Rotan dan pohon tengkawang di wilayah kampung Menyumbung masih ada tetapi yang terbanyak ada di tempat masyarakat biasa bermalam untuk mengerjakan ladangnya tempat itu namanya Prio. Rotang yang tertentu jenisnya hanya ada di hutan primer juga masih cukup banyak.
 
(a) Pengelolaan Individu (Keluarga), hutan, tanah dan air serta sumber daya alam menjadi tumpuan penting bagi kehidupan mereka dari generasi ke generasi. Tanah tidak saja bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki nilai religio-spiritual, ekologis dan sosial-budaya. Orang kampung Menyumbung desa menyumbung mengenal bentuk-bentuk pengelolaan tanahdan lahan secara individu. Pengelolaan individu ini secara otomatis berlanjut pada keluarga yang memiliki garis keturunan langsung dari individu yang pertama kali membuka hutan atau lahan sebagai ladang atau Lako. Oleh karena tidak dikenal adanya transaksi jual-beli tanah antar-warga di kampung Menyumbung desa Menyumbung, maka sesungguhnya di desa Menyumbung ini tidak dikenal bentuk pengelolaan individu secara otonom atau murni, namun demikian pengelolaan individu mendasari hak pengelolaan oleh keluarga, meskipun siapa saja di antara anggota keluarga dapat mengelolanya asalkan yang bersangkutan berasal dari garis keturunan langsung dari individu yang mewariskan lahan atau tanah tertentu itu. Dengan kata lain, tanah yang hutannya sudah dirimba merupakan hak dari keluarga yang merimbanya. Karena sudah menjadi haknya, maka keluarga tersebut pun dapat mewariskan ke anak cucunya. Tanah yang dapat diwariskan pada umumnya adalah tanah berupa kebun karet atau kebun buah atau Babas yaitu bekas tanah yang yang diladangi dari hutan rimba mereka. Ini sangat berarti bagi kelangsungan hidup anak-cucu yang mewarisinya karena memang penghidupan mereka hanya dari tanah yang mereka kelola untuk menanam padi, buah-buahan dan sayur-sayuran.

(b) Bentuk Pengelolaan Bersama/komunal
Para pengurus kampung Menyumbung dan desa Menyumbung memberikan ke bebasan kepada masyarakatnya untuk membuka hutan primer pada daerah yang telah di tentukan sesuai dengan wilayah mereka masing-masing dalam pengelolaan kawasan atau lahannya. Namun dalam hal Hutan Adat yang telah ada kesepakatan adat yang telah di tentukan dan telah disepakati bersama seluruh kampung, maka wilayah atau kawasan itu tidak boleh di tebang atau di ladangi. Bagi masyarakat yang berani mengambil kayu di kawasan tersebut akan di hukum adat.

Tata Izin Rakyat
Mayarakat kampung Menyumbung desa Menyumbung mengenal praktik pertukaran (barter) barang, seperti tukar-menukar beras dengan sayur-mayur atau dengan ikan, ayam dengan beras, dan sebagainya. Praktik ini masih berlangsung hinggasekarang.Namun demikian, pertukaran ini tidak berlaku dalam konteks penguasaan tanah/lahan.
Selain itu, tata izin yang berlaku di masyarakat juga mengenal system pinjam atau make dalam bahasa Dayak Krio lahan. Warga atau sipeminjam lahan milik warga lainnya hanya diperkenankan membuka ladang di lahan yang dipinjam pakai tersebut, tapi dilarang menanaminya dengan tanaman keras. Sipeminjam wajib mengembalikan tanah dan membagi hasil panenannya kepada sipemilik lahan. Yang paling nyata biasa terjadi dalam hubungan sipemilik kebun karet dengan sipenoreh dimana kedua belah pihak sepakat besaran bagi hasil 7:3 yakni 7 untuk penoreh dan 3 untuk pemilik. Ini berlaku umum di antara warga kampung Menyumbung desa Menyumbung. Tata izin rakyat masih bersifat konvensional karena hanya berdasarkan kesepakatan lisan dan lebih mengandalkan hubungan saling percaya saja. 

Kelembagaan Adat

Nama Laman Mimunkng
Struktur Domong atau Mantir Induk, serta Wakil Domong yang terdiri dari empat orang yaitu: Mantir Laman, Mantir Duata, Mantir Buah dan Mantir Antu. Selain itu masih ada Lawakng Agukng yang terdiri dari 3 orang dan Tuha Tobus juga terdiri dari 3 orang. Di samping itu ada juga tokoh adat yang dipercayai menjalankan peran khusus dalam ritual-ritual adat yaitu tuha Tobus yang biasa disebut juga tukang bebiso bahibu.
Domong atau Mantir Induk merupakan pimpinan adat dengan urusan perkara adat di semua kampung dan itupun bila persoalan perkara adat dikampung tersebut tidak bisa diselesaikan oleh Mantir Laman, maka harus minta Mantir Induk untuk membantu penyelesaiannya. Lalu pimpinan adat di bawah Mantir Induk adalah Mantir Laman. Pimpinan adat dibawah Mantir Laman adalah Lawakng Agukng yang menjadi pimpinan warga dalam satuan pemukiman baik rumah panjang rumah Betang maupun di kampung di mana warga berdiam di rumah-rumah yang terpisah atau rumah tunggal. Dibawah Mantir Laman ada Tuha Tobus. Mantir Laman, Mantir Buah, Mantir Duata dan Mantir Antu serta Tuha Tobus terdapat di setiap kampung atau tempat pemukiman penduduk. Selanjutnya adalah Jampakng yang berfungsi salah seorang dari warga masyarakat yang ditunjuk sebagai penggerak, seperti halnya dalam urusan mengorganisir kegiatan-kegiatan bersama baik di kampungmaupun pada saat bekerja di ladang terutama pada saat kerja nugal ladang atau nugal lako .
Di samping itu ada juga tokoh adat yang dipercayai menjalankan peran khusus dalam ritual-ritual adat yaitu tuha Tobus yang biasa disebut juga tukang bebiso bahibu.
Para pimpinan adat ini adalah individu-individu yang dianggap mampu memberikan peran-peran dalam menata harmoni dan kehidupan bermasyarakat, baik dalam hubungan antar-sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan duata (Tuhan). 
Masyarakat Menyumbung sangat patuh dan taat kepada pemimpin kampung maupun pemimpin adat serta kalau ada persoalan adat dan perkara adat mereka mempercayakan penyelesaian persoalan baik persoalan perkara adat maupun persoalan adat, yang dihadapi kepada tokoh pimpinan adatnya.

Dalam sebuah perkara adat, terdapat ungkapan yang mengacu pada nilai-nilai kekeluargaan ataupun persaudaraan di antara mereka yaitu seperti Contoh : kitai tok tetak ai’nadai putus, yang berarti “meskipun kita saling bersengketa, kita ini masih bersaudara sehingga perselisihan di antara kita ini harus diselesaikan dengan adat dan dalam penyelesaian perkara atau perselisihan antar masyarakat harus selesai di dalam perkara adat ini.” Dan selama ini persoalan perselisihan ataupun perkelahian di dalam masyarakat belum pernah melibatkan aparat kepolisian.
 

Hukum Adat

Beberapa ritual adat orang kampung Menyumbung desa Menyumbung yang masih dipraktikkan, di antaranya adalah ritual adat yang diantaranya adalah “Sangkolatn Kamut”. Ritual adat ini berhubungan dengan peristiwa proses kegiatan berladang, acara ritual ini bertujuaan sengkolatn kamut biasanya dilakukan setelah selesai panen padi dengan tujuan membayar adat tanah, bunga tahutn kepada penguasanya.

VII.ADAT PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM (PSDA)

Adat pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan oleh masyarakat adat Krio dilaman Mimukng atau Menyumbung yang pada masa kini dengan beberapa jenis kegiatan.

A. ADAT PENGUASAAN TANAH

Adat membuat Batas Wilayah Tanah Adat, dengan Persyaratannya adalah:
a) 1 buah tempayan tuak
b) 1 ekor ayam,
c). 1 pangkat nulakng buat 16,
d). 2 buah ancak .
e). 2 buah ambung,
f). telur masak- mantak,
g). topukng tawar.

B. ADAT BALAKO BAHUMA
Adat Beladang.
Adat berladang yang biasa dilakukan dalam masyrakat adat Krio, yaitu dengan
cara dan persyaratan tertentu: Mencari lokasi, dengan lakau ketika melihat
serauh burung ceriak. Nyimak mangui: bunyi, mimpi, burung babuas, burung
pantis,
Peraga Adat Nyimak Mangui:
1.Kayu panggal 3 potong (kayu bagetah),
2.1 botol tuak,
3.1 pangkat nulakng.
4.Tampakng, yaitu: tebu ngkarukng, kase-sore, kaladi hitapm, susur badi, dautn hahidup, suka marimbutn.

Tahap-Tahap Kegiatan berladang, antara lain:
a. Mencari Lokasi Ladang atau Nyimak Mangui/Memeriksa Tanah.

Sebelum mulai menebas, harus memeriksa tanah dengan menggunakan alat berupa parang (bosi). Parang ditetak/dipantap ke tanah, lalu diangkat sebelah mana terdapat tanah yang melekat lebih banyak pada parang yang berarti disebelah itulah padi yang hidup lebih baik dan sebelah yang kurang tanah melekat berarti padipun kurang baik serta tanah yang melekat pada parang dicium. Kalau bau manis berarti tanah di sekitar itu baik untuk ladang (lako). Tetapi sebaliknya kalau bau busuk/buruk, tanah di sekitar itu tidak dapat dijadikan ladang. Namun demikian, jika masih nekat, peladang dapat membuat ladang di lokasi itu dengan memakai syarat dukun tanah. Dukun tanah akan membaca mantra untuk memberitahu ke Toto mame bapadah ka Duata; tanah sama diinjak, air sama mengambil (tanah sama nijak, aik sama encibuk)

b. Menebas Pertama
Pada hari pertama, masyarakat peladang bersama-sama menebas 3-5 tokap lalu beristirahat, makan dan minum. Setelah beristirahat, makan dan minum (kemantan Jumakng) mereka pulang ke rumah masing-masing. Untuk kegiatan menebas pada hari berikutnya mereka bebas menebas ladangnya: mau sekian tokap sehari, sesuai kemampuan masing-masing. Biasanya kegiatan menebas dilakukan dengan gotong-royong, yaitu kebiasaan bekerjasama menebas lahan ladang sampai selesai bagi tiap orang/keluarga yang terlibat dalam gotong-royong tersebut.

c. Nobang Lako (Lako = Ladang)
1.Nobang Kayu Lako pertama (yang biasa disebut Nikap Tobakng)
Untuk nikap tobakng syaratnya harus ada nasi pulut yang dimasak di dalam buluh. Sedikit ujung bambu dipotong lalu ditempel pada kayu yang bergetah sambil membaca mantra (toto mame): “Pungur banyak bagantukng ular bisa...” Sedangkan untuk kegiatan menebang dilakukan dengan gotong royong seperti biasa sampai selesai.
2.Nobakng Palalo
Adat Nobakng Palalo, adalah:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam.
Biasanya upacara adat nobakng palalo dilakukan di atas tampara sambung 3 tampara balakng dan tampara ke 4 dibuat balai tempat minum tuak inas/sumpit, makan perlengkapan lainnya. Ada masyarakat yang mulai menebang lalo, tetapi belum ditumbangkan. Apabila tuak yang diminum sudah tawar, maka tempayan dan perlengkapan lain diturunkan ke tanah. Barulah salah seorang menumbangkan pohon palalo tadi. Nobakng palalo, hari persiapan membakar ladang/lako yaitu pakau/pako disiapkan, sebelum ladang dibakar, diadakan upacara adat (lako dimataiik) yang harus dilakukan pemimpin nyucul dengan kepala diikat kaitn merah. Setelah menebang palalo lalu dilanjutkan dengan adat menaburkan sesajian disertai dengan membaca mantra (buakng tibar totomamenya).

d. Nyucul Lako (Membakar Ladang)

Beberapa hari sebelum membakar ladang pemilik membuat jalan (ladak) kurang lebih 2-3 meter antara ladang dengan hutan di sekitarnya. Cara ini adalah upaya pencegahan merambatnya api di luar ladang seperti di hutan belantara. Juga menyiapkan bambu yang sudah kering yang dipukul-pukul supaya pecah-pecah untuk pako (membawa api dari tempat yang satu ke tempat yang lain). Sebelum membakar ladang, perlu menyiapkan pako dari bambu mati, 1 botol tuak dan daunt sabakng.
Pada hari hendak membakar ladang, disediakan dua buah capatn untuk tempat membuat bayangan/gambar manusia, yang satu laki-laki dan yang lain perempuan yang disebut laki-bini. Lalu digantung yang dinamakan capatn berangukng yang ditanam di atas pasir dibubuh pansiukng serta kulit tengkuyukng untuk memanggil angin kutikng beliukng dilanjutkan minpe Bujakng Kajanyakng tujuh (7) meyadikng disertai dengan adat maumpatn burukng atau ngumpatn roba dengan menaburkan sesajian membacakan mantra (buakng tibar totomamenya) Tujuannya untuk memberitahukan kepada puaka, gana yang juga dikenal dengan Bujakng Kajanyakng Tujuh (7) Menydikng: “Agar menyisihkan buta jarana timpakng tungkut dengan mintak tulukng bantuk, mintak pampalkan tungul bujakng mintak gulingkan batakng dan mintak butakan api golaknya ngarare ka batakng, nyarorok ka daunt, babas balukar, kampokng buah dan tanam tujak IYANG laitn”. Setelah upacara adat selesai langsung menghidupkan api pada pako untuk membakar ladang.

e. Adat Nugal
Adat Nugal:1 pangkat nulakng ditumpa sebilah pisau dan sebontuk cincin, 1 botol tuak,1 ekor ayam dan babiso.

f. Mataiik Tanah
Harus mulah empalakng mangala untuk tempat mangala, Mangala harus datutup jongan kaitn putih lalu dabiso dahibu supaya tanah bujur lurus. Kalau tanah kacukuhan harus diadakan adat dengan babi disembelih di tengah ladang waktu pagi subuh sebelum orang datang. Patua atau tujuannya supaya ladang tidak sakit. Selain dua hal di atas, di tengah ladang ditanami susur badi, karibakng, tobu, sumarimutn, kase sore dan lainnya. Susur badi untuk nyusur takut ngamadi nganawak, karibakng untuk tali perahu, kase berawa dalam tanah, sore hulutn banyak, tobu engkarukng untuk galah, sumarimutn kegembiraan. Nyumbat habis Nugal dengan adat: 1 botol tuak, 1 ekor ayam.

g. Marumput Lako (Merumput Ladang)
Merumput ladang juga dilakukan dengan gotong royong atau ari bare. Berarti, satu kelompok yang ikut bekerjasama bergantian/bergiliran merumput dari hari pertama dan seterusnya dengan suka rela bersama-sama merumput ladang milik satu orang/keluarga dan diteruskan dengan orang/keluarga yang lain hingga setiap orang/keluarga peladang secara adil mendapatkan ladangnya selesai dirumput.

Sedangkan acara adat dalam kegiatan merumput, antara lain:
1) Nyumat Biasa
Biasanya untuk nyumat biasa yang cukup dilakukan oleh pemilik ladang, dengan adatnya: 1 botol tuak,1 ekor ayam. Pemilik ladang cukup mensyaratkan ladangnya sendiri.
2) Nyumat Nangkalak
Dilakukan pada waktu merumput pertama. Adat nyumat nangkalak adalah: Membuat takalak di tengah ladang, diisi bahan persembahan, yaitu: 2 buah tempayan tuak, 2 pangkat nulakng, rante tali nyawa, topukng-pulut,1 ekor ayam.
Di tengah ladang ditanami tampaokng seperti: susur badi, karibakng, tobu, sumarimutn, kase sore dan lainnya. Susur badi untuk nyusur takut ngamadi nganawak, karibakng untuk tali perahu, kase berawa dalam tanah, sore hulutn banyak, tobu engkarukng untuk galah, sumarimutn kegembiraan oleh dukutn yang disertai toto mame. Selesai upacara, dilanjutkan dengan makan serta minum tuak.

h. Adat Nabur Aik Boras
Asapm kolat, bambu yang digoyakng patah,daunt sabakng, Daun thahidup dan mayang pinang. Batatobustakut padi kena hama penyakit (golak padi kapakngbubuk, karo hulat/ sangkolatn bakul setiap tanggal 25November)

1) Panen Padi.
Matah Hantu Matah hantu adalah adat untuk pertama kali panen padi ladang kecil (rimpat) yang sudah kuning oleh pemilik ladang sendiri. Apabila memang tidak ada tuak untuk persiapan, maka cukup dengan mengambil satu tangkai padi pulut dan satu tangkai padi biasa, lalu dipanaskan (duhuyu) di atas api untuk dicempalitkan (pusak-palek) pada setiap anggota keluarganya. Jika sudah selesai, tangkai padi tadi disisipkan pada atap rumah di atas pintu. Selesai kegiatan pertama ini, panen dimulai.

2) Maharu
Adat maharu dilakukan dengan persyaratan: 1 buah tempayan tuak dan 1 ekor ayam.
Biasanya adat maharu dilakukan apabila padi ladang besar sudah mulai kuning (masak). Dengan demikian, pihak yang bersangkutan membawa beberapa orang tetangga untuk panen padi pulut satu Narak( satu takin besar) dan padi biasa satu Narak ( satu takin besar). Padi pulut dironakng (gonseng), dan jika sudah masak dimasukkan ke dalam lesung untuk ditumbuk menjadi Bahapm (emping). Sedangkan padi biasa dijomak (dimasak, dikukus) yang setelah didinginkan, dimasukkan ke dalam lesung untuk siap ditumbuk menjadi beras yang dinamakan beras (ladang) baru. Beras baru ini dimasak dalam bambu dan apabila emping dan nasi sudah masak siap untuk disantap, Pada saat ini dilakukan upacara adat, dukun membuat sesajian dari sedikit emping, nasi baru, tuak dan sedikit daging ayam untuk babuakng batibar bagi Duata/ Gana tanah, Gana Air dan kemudian memberi makan perkakas pertanian, seperti batu asah, beliukng, kapak, parang dll yang sebelumnya memang sudah disiapkan dalam sebuah capan/nyiruk. Apabila setelah selesai upacara adat barulah orang banyak dapat makan makanan dan minuman yang ada. Apabila sudah ada bantang tiga hari tiga barulah dilanjutkan panen yang biasanya dilakukan dengan gotong royong setiap hari hingga panenan selesai.

3).Maharu Masak Matak (lako baantama): 2 buah tempayan tuak, 2 ekor ayam, 2 pangkat
nulakng, golakng –baliukng, 1 ruas hahagat (paha manuk, hati, angkalak manuk, labu, timun kalakng), 1 ruas nasi pulut, dan 1 ruas nasi korikng.

i. Upacara adat naik Jurukng:
Padi naik ke jurung biasanya dilakukan dengan mengadakan upacara adat Mukak Jurukng. Upacaranya biasanya dilakukan dengan mengadakan prosesi adat disertai pembacaan mantra (bisohibu): “mamakng alakng tuha tobus batobus”. Upacara ini dilakukan sambil minum tuak dalam jurukng ini acara biasa dan tontik sangayukng. Maramak, mukak jurukng ada dua macam:
1. Mukak jurukng biasa yang dilakukan dengan adat 1ekor ayam, 1 botol tuak, sangkolatn.
2. Mukak Jurukng mansak dengan adat: 1 ekor ayam, 1 buah tempayan tuak, sangkolatn.
topukng - pulut, batontik (sangayukng). Biasanya “mukak jurukng masak” ini mengundang
orang banyak. Maka selain adat tuan rumah juga munuh babi, mengeluarkan tuak ancur
makan minum seadanya.

Melame Samangat Padi, Adat yang dilakukan secara umum, yaitu Sangkolatn Kamut setiap tanggal 20 Mei. Karena sehabis panen masyarakat memberikan sumakngan berupa beras kepada pengurus adat untuk mengadakanupacara adat penyerahan hasil bunga kepada Dayakng Putukng sebagai pemilik tanah.

KOBUN TAMPAS, BUAH PALALO

1. Kebun Karet
Karet merupakan mata pencaharian nomor dua di Mimukng, Kecamatan Hulu Sungai karena mata pencaharian yang utama adalah Bertani ladang serta mengerjakan kayu belian (tabulitn). Menanam karet atau kebun getah adalah tradisi yang berlaku umum di masyarakat ini. Biasanya bibit kkaret ditanam di ladang pada musim merumput, tetapi ada juga yang ditanam pada lokasi tertentu yang memang sudah dipersiapkan untuk perkebunan karet. Perkebunan karet menurut masyarakat Suku Dayak Krio, seperti pengalaman Pak Kabul dan Pak Tampul, sebagai berikut: “Mengenai menanam getah, terutama yang ditanam adalah anaknya yang masih kecil (umur 1-1,5 tahun) lalu dibuang akar serabutnya dan akar tunggangnya dipotong sedikit pada bagian yang agak kecil (perkiraan saja); apabila sudah dibuang akarnya, barulah pokok anak getah tadi direndam di sungai atau danau kurang lebih dua minggu sampai tumbuh tunas akarnya dan daun asal mulai gugur. Tunas baru ini menentukan bibit karet siap untuk ditanam pada lokasi yang sudah disiapkan sebelumnya.

Cara Pemeliharaannya Kalau bibit karet yang ditanam di ladang, pekerjaannya dilakukan dengan membersihkan lahan pada saat selesai panen yang biasanya dengan menginjak-injakkan kaki pada tumbuhan yang ada disekeliling pohon karet dan penyiangan berikutnya setelah 3–6 bulan berikutnya, itupun tidak boleh dekat dengan pucuk karet. Yang ditebang hanyalah pokok pohon yang melindungi karet saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari daun karet jangan sampai dimakan binatang, seperti rusa atau kijang.
Sedangkan umur karet, jika lokasinya subur baru dapat disadap jika umurnya antara 8 sampai 10 tahun. Sedangkan luas kebun karet biasanya antara 2 sampai dengan 5 hektar.

2. Kobutn Durin ( Durian, Pekawai, Terotokng, Tamaranang)
Mengenai berkebun durian, sebenarnya belum pernah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Masalahnya banyak pohon durian tumbuh alami di hutan. Biasanya untuk pembibitan durian diambil dari bijinya, karena untuk mencari bibit yang baik dapat dipilih dari buah yang bagus, yakni sudah masak dan dagingnya tebal. Penanaman durian ini hanya dilakukan pada musim tertentu sesuai dengan musim durian berbuah saja. Kebiasaan biji durian ditanam pada sekitar tempat pemukiman saja, tetapi ada juga yang ditanam di ladang dengan jarak antara sekitar 3-5 meter, yaitu ditanam di sela-sela tumbuhan hutan.
Kebiasaan masyarakat dayak krio ketika buah-buahan mulai berbunga diadakan upacara adat tadah buah dengan tujuan agar buah yang akan dihasilkan dari bunga menjadi buah yang baik. Setelah buah-buahan hampir habis diadakan lagi upacara Mulakng Buah. Acara tersebut adalah sebagai ucapan syukur telah dilimpahi buah yang banyak serta sebagai tolak bala.

Adapun adat kedua upacara tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tadah Buah:
• tatobus samaroga 7, polas buah ( babantatn):
• 1 ekor kuduk,
• 1 ekor ayam,
• 7 buah tempayan tuak,
• nulakng ditumpa 7 biji telur ayam,
• 10 poku adat,
• baliukng dan golakng,
• mangkuk posampu,
• 6 buah ancak ,
• 1 buah capatn,
• tontik sangayukng,
• gamal,
• bolitn barayah(sikuk sigik)
b.Mulakng Buah:
❖1 buah tempayan tuak,
❖Beberapa kulit buah dilayahkan bersama rakit(garukng) yang isinya:
❖1 ekor anak ayam,
❖galah – pangayuh,
❖api tanyuh dari damar,
❖isi upih
Topas Laman
Samaroga 7: bolitn laman.

Cara pemeliharaannya :
Pemeliharaan pohon durian biasanya dilakukan dua kali yaitu dengan penyiangan lahan sekitar pohon saat berumur sekitar antara 3-6 bulan dan ketika pohon durian mulai berbuah antara 9–10 tahun.

c. Nyano (Memungut Buah)
Apabila buah durian jatuh, yang berarti sudah masak boleh dipungut siapapun. Buah durian yang sudah masak tidak boleh dipungut dengan dipanjat selain dilakukan oleh pemiliknya sendiri. Pada jaman dahulu setiap orang yang memanjat buah harus memberi mantir.

3. Kobutn Enkabakng (Kebun Tengakwang)
Seperti halnya tanaman durian, kebun tengkawang belum/tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, banyak pohon tengkawang hidup alami di dalam hutan. Biasanya untuk pembibitan tengkawang diambil dari bijinya, karena untuk mencari bibit yang baik dapat dipilih dari buah yang bagus, dan sudah masak. Penanaman tengkawang ini hanya dilakukan pada musim tertentu sesuai dengan musim tengkawang berbuah saja. Kebiasaan biji tengkawang ditanam pada sekitar tempat pemukiman saja, tetapi ada juga yang ditanam ditengah ladang dengan jarak antara 3-5 meter, yaitu ditanam di sela-sela tumbuhan hutan lain.

Cara pemeliharaannya
Pemeliharaan pokok tengkawang dilakukan penyiangannya antara 3-6 bulan dan pokok tengkawang mulai berbuah antara 10–12 tahun.

4. Kobutn Kopi
Untuk membuat kebun kopi, biasanya harus disiapkan lahannya terlebih dahulu. Yang cocok untuk lokasi kebun kopi adalah dataran rendah, karena tanahnya dingin banyak mengandung air dan apabila lahannya sudah siap barulah mencari bibit dari anak kopi yang bagus, daun mudanya masih kuncup yang umurnya 3– bulan dan ditanam dengan jarak antara 2-3 meter dengan batangnya agak condong.
Cara Pemeliharaannya Kebun kopi perlu pemeliharaan baik dan rutin, tanpa ada jarak waktu, Sedangkan umur pohon kopi dari penanaman sampai berbuah diperkirakan antara 3-4 tahun.
Musuh kopi akan terjadi pada musim buah sedang masak karena isi buahnya rasa manis. Tandan buahnya dipotong oleh binatang sejenis tupai, dimakan musang dan binatang lainnya.

5. Kobutn Damar
Jenis kayunya adalah Banuah/Bengkirai, majak/ Meranti putih. Mengambil hasilnya setahun sekali, alat yang digunakan adalah kalokor, takitn, beliukng dan 2 buah ambukng.

1.Kobutn Uwi (Rotan)
Bibit diambil dari anaknya dan mengambil hasilnya 10 tahun sekali.

7. Kobutn Pisang
Untuk membuat kebun pisang biasanya memilih lahan pada lokasi dataran rendah yang banyak mengandung air, seperti tanjung atau pinggir sungai yang harus dipersiapkan terlebih dahulu. Bibit pisang yang baik adalah bibit dari pokok pohon pisang (bungkung/kulaknya), Jenis pisang yang biasa ditanam antara lain pisang emas, pisang rotan, pisang nipah, dan pisang raya. Begitu bibit diambil langsung ditanamkan pada lahan yang sudah disediakan tadi dengan jarah antara 3– 4 meter.

Cara Pemeliharaannya
Kebun pisang perlu pemeliharaan baik dan rutin, tanpa ada jarak waktu, sedangkan umur pohon pisang dari penanaman sampai berbuah diperkirakan antara 6 bulan sampai dengan 1 tahun. Musuhannya Kebun pohon pisang biasanya harus dipagar karena batangnya dapat dimakan babi atau binatang lainl serta buahnya jika sudah masak dimakan tupai dan berbagai jenis burung.

MENGABIL HASIL HUTAN
1. Nuba
Nuba adalah kebiasaan mencari ikan di sungai dengan tanaman tuba. Dipercaya ada nuba adat yang dipimpin oleh seorang pahawakng/kepala tuba,dengan bahan sebagai berikut:
1. 1 buah tempayan tuak,
2. 1 ekor ayam,
3. ancak ambokng secukupnya,
4. telur ayam masak-mantak.
Tujuan nuba adat adalah untuk nuba kapakng bubuk, karo, hulat, dan penyakit pemodih. Kebiasaan nuba menurut masyarakat adat Krio ada syarat syaratnya, misalnya sebelum nuba harus melakukan dibantatn dengan mencampurkan bahan sesajiannya berupa telur, tuak dan nasi. Bantatn ini dilakukan dengan membaca mantera oleh seorang Tukang Mantera.
Saat pelaksanaan nuba, setelah melabuhkan air tuba, maka tukang mantera yang pertama mengambil satu ekor ikan lalu dipotong dua bagian. Bagian yang satu dibuang ke darat dan bagian yang lain dibuang ke air dengan disertai dengan membaca mantera dan setelah itu barulah orang banyak ramai-ramai menangkap ikan yang sudah timbul akibat keracunan air tuba tadi.

2. Mengambil Madu (Muar Nyampu)
Masyarakat adat Krio bersahabat dan sangat mencintai alam karena mereka sungguh menyadari kehidupan mereka sangat bergantung pada alam di sekitarnya. Kita mengetahui bahwa hidup dan matinya masyarakat adat ditentukan oleh keadaan alam di lingkungannya, maka apabila mereka mau mengambil hasil alam harus minta kepada Pulang Gana penunggu dan penjaga alam tersebut. Hal mengambil madu lebah alam (muanyik), masyarakat adat ini serat dengan berbagai ketentuan atau persyaratan, terutama larangan-larangan yang berhubungan dengan perilaku dan perbuatan sehari-hari, misalnya:
●Tidak boleh nampi padi,
●Tidak boleh makan cabik, jahe/liak supaya gigitan lebah tidak bisa,
●Tidak boleh menceritakan perempuan, karena lebah bisa cemburu,
●Tidak boleh menyebut nama orang peserta, tetapi dipanggil aji muda atau aji tua,
●Tidak boleh menyebut pencarik, tetapi disebut bonang,
●Tidak boleh menyebut tangur, tetapi disebut karaya,
●Tidak boleh menyebut jatak, tetapi disebut bosi,
●Tidak boleh menyebut catok, tetapi disebut engkubukng,
●Tidak boleh menyebut pahat, tetapi disebut bosi kolikng,
●Tidak boleh menyebut tebauk, tetapi disebut ripukng,
●Tidak boleh menyebut tronong, tetapi disebut tajo,
●Tidak boleh menyebut bara api, tetapi disebut omas,
●Tidak boleh menyebut naik, tetapi disebut mudik,
●Tidak boleh menyebut turutn,
●Todak boleh berminyak,
●Isteri tinggal dirumah tidak boleh meraja .

Cara Mengambil Madu Lebah Sebelum mengambil madu, terlebih dahulu mengerjakan atau melengkapi bahan, seperti mencari tangur dan tebauk, membuat bagan/pondok, membuat jatak.

Bahan untuk kayu tangur harus dipilih jenis kayu yang liat dan ringan dengan panjang 5-7 meter. Untuk bahan jatak harus dipilih Bambu Pering, alat untuk nyatak Catuk dan Pahat.
Apabila semua bahan sudah dipersiapkan barulah beberapa orang mulai nampun jatak lalu mengikat tangur hingga sampai ujung yang perlu. Sedangkan dahan lalau/tapakng dibuat pasak terobakng supaya dapat mengambil madu lebah yang dimaksud. Bila semua jatak sudah dipasang, maka salah seorang turun mengambil taronung dan yang lain membawa tebauk yang dibuat dari akar yang sudah dikeringkan serta koret api. Kepala rombongan naik pertama dengan membawa katutikng api sambil mengucapkan mantra-mantra, lalu melemparkan katutikng api tadi yang disertai dengan kata-kata.
Selesai mengucapkan mantra barulah mereka naik jatak sambil barayah. Setelah semua peserta tiba dekat sarang lebah, maka kepala rombongan yang paling atas mulai membubus dan kemudian disusul mereka yang menunggu di bawah. Saat semua pekerjaan selesai, mereka bersama-sama turun dengan membawa madu dan anak lebah

E. BERTERNAK
1. Ternak Babi Memelihara babi di kampung harus dikandang, tetapi dilepaskan kalau
memelihara babi di parion. Umpan babi adalah ubi, sokapm, salimpat, batakng pisakng dan
aik gogo. Kegunaannya adalah untuk lauk, untuk adat.

2. Beternak Ayam/Manuk Teknis harus ada kandang/robatn Kegunaannya adalah untuk lauk,
untuk adat. Makanannya adalah padi, boras, ubi, jagukng, dll. Masa produksinya 6 bulan.

3. Beternak Kuduk/ Anjing
Makanannya adalah nasi, ubi. Pemeliharaannya dilepas.
Kegunaannya adalah untuk berburu mencari binatang liar dihutan, untuk adat mati dan adat hidup.

F. MENANGKAP BINATANG .
1. Baburu (Berburu)
Pesertanya 3 sampai 10 orang atau lebih. Tempat tertentu yang diyakini ada binatangnya.
Melepaskan Kuduk atau anjing. Ada orang penyuruh rampak. Ada orang penghipak
Atau penungguk.

2. Ngudu’ Peserta 2 sampai 3 orang.Tempat tertentu yang diyakini ada binatangnya.
Orang cukup melepaskan Kuduk.

3. Mongkal Nanyuuk
Peserta 2 orang atau lebih. Tempat tertentu di daerah lain yg diyakini ada binatangnya. Bermalam 2 sampai beberapa hari. Bagoyap Biasanya dilakukan oleh satu orang. Tempat terten tu/buah pohon tertentu.
Cara Pembagian Daging Binatang Hasil Buruan Biasanya dalam pembagian daging hasil tangkapan semua peserta mendapat bagian yang sama, tetapi beberapa orang yang mendapat bagian lebih sesuai dengan jasanya, sbb:
a. Pembagian Hasil Berburu Penyuruk rampak mendapat 2 bagian/ 2 porsi.Tuan Kuduk
mendapat 2 bagian/ 2 porsi. Penungguk mendapat 2 bagian/ 2 porsi. Penembak ke 2 dan berhasil membunuh binatang mendapat sebelah kepala. dan 1 porsi Penembak ke 1 tak berhasil membunuh binatang mendapat sebelah kepala dan rahangnya. Serta mendapat 1 porsi. Peserta lain mendapat 1 bagian.
b. Ngudu’
Sama dengan bagian berburu orang berburu kecuali jika mendapat ular maka penembak mendapat 1 saota dan 1 bagian.
c. Mongkal
Sama dengan bagian orang yang berburu.
d. Bagoyap atau Ngimpak Buah
Orang bagoyap mendapat 2 buah paha, kepala dan 1 bagian. Sedangkan orang Lama

VIII.ADAT – ISTIADAT DAN BUDAYA

A. Adat Mencari Lokasi Rumah Dan Adat Menempati Rumah Baru
Masyarakat adat Suku Dayak Krio di kampung Mimukng / Menyumbung memerlukan rumah sebagai tempat tinggal, tempat berteduh, tempat berkumpul dan tempat membina serta mendidik anak-anak, dan sebagainya. Mengingat rumah merupakan tempat yang paling utama bagi mereka, dan demi kesejahteraan dan keselamatan yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Adat Mendirikan Rumah
Adapun adat yang harus dikeluarkan oleh pihak yang bersangkutan: -topukng tawar,
-1 ekor ayam untuk nyangkolatn tanah,
-1 buah buah tempayan tuak,
-sepangkat nulakng ditumpa satu buah paha ayam.

Untuk mendirikan sebuah rumah perlu kiranya mengikuti adat-istiadat yang berlaku, yaitu:
a. Untuk mencari lokasi rumah harus mengambil seorang dukun supaya dapat menunjukkan
tempat yang bagus dan sebelum dukun datang, maka pihak yang akan mendirikan rumah tadi
harus menggambarkan lokasi rumahnya dan biasanya dukun dapat mencari arahnya.
b. Apabila lokasi dan arahnya sudah cocok barulah menggali lubang tiang, kalau luang tiang
sudah siap untuk dimasuki tiang, maka terlebih dahulu dibubuhi 1 batang paku, 1 biji keminting, beras selaki bini (sejomput), garam, air tuak dan tiangnya dipurusi dengan topukng tawar barulah dimasukkan kedalam lubang yang sudah disiapkan tadi.
c. Biasanya setelah memanamkan tiang rumah dan lain sebagainya pada sore harinya baru
makan dan minum tuak bersama-sama, sedangkan untuk penyelesaian rumah selanjutnya
hanya dikerjakan seperti biasa saja.

2. Adat Pindah Rumah/Naik Rumah Baru Adat pindah rumah dilakukan dengan persyaratan
sebagai berikut: 1 pangkat nulakng,1 ekor ayam,1 buah tempayan tuak,1 bontuk cincin,1
bilah pisau/parang.
Apabila tuan rumah sudah menyiapkan adat dan dukunnyapun sudah hadir, maka dukun
babiso rumah untuk memburu roh jahat supaya tidak mengganggu orang yang menempati
rumah itu.
3.Adat Naik Rumah Baru (Kopal Buakng)
Untuk naik rumah baru lalu disertai dengan Babiso (dopur) adatnya sebagai berikut: 3 buah tempayan tuak, 2 ekor ayam, 3 pangkat nulakng, 1 bilah pisau/parang,1 bontuk cincin.
Untuk naik rumah baru lalu disertai dengan tingkatan “samaroga” (mahubas) sebagai berikut: Sikuk sigik, Samaroga tiga, Samaroga lima, Samaroga tujuh(terbesar). 4. Adat Mahubas. Mahubas ada dua macam, yaitu:
Mahubas Bait/ biasa: 5 buah tempayan tuak, 4 ekor ayam, 1ekor Kuduk, 5 pangkat nulakng, tobu tatampakng, tobu engkarukng, kaladi hitapm, sore, kase, daunt patah kamudi/ sukamarumutn, susur badi dan bahan khusus dari dukun.
Mahubas Jahat, misalnya rumah dimasuki burukng tuha, dimasuki Kuduk/kudu’ kawin maka Kuduk kawin itulah yang dibunuh untuk adatnya.
Apabila tuan rumah sudah menyiapkan adat dan dukunnyapun sudah hadir, maka dukun babiso rumah untuk memburu roh jahat supaya tidak mengganggu orang yang menempati rumah itu.
Menaik Rumah masak Untuk duduk gae dengan adatnya sikuk sigik (1 buah tempayan tuak tajo,1 ekor ayam) kegunaannya adalah untuk mengumpul orang banyak. Adat gae, sebagai berikut: - Bapapah/ baokol, - 7 buah tempayan tuak, - 6 ekor ayam, - 1ekor Kuduk, - 1 ekor babi ( harus dipotong di atas popah), - 7 pangkat nulakng, - 1 buah gelang, - 1 bilah beliukng, - selasa rante tali nyawa, - ngarikng tongang tambe,
- titik umpatn jalipatn.
Babiso
Bulu manuk dan boras dagugur ka kapala
Diapm nyonyak tiduk nyaman kata konak saruk bait nsia banyak urakng tobal. Lawakng bayak hulutn nyiuh komakng tuah pucuk baringin tali. Jabe bonang kur samangat hompukng bulu manuk hompukng O sak, duak, tiga, ompat, limak, komakng tuah. Jabe bonang “kur samangat” (3 X). Rumah tangak tompat arukng.

onam, tujuh, lapatn samilatn, sapuloh, sabolas lopas, malopaskan burukng jahat, mimpi jahat rubakng ronso rangkak raus radakng panas miang risirotatn puguk huwi hompakng kayu pungkal, kayu malale.Bantakng bulatn ari mali langkah salah burukng jahat mimpim sonapm igo ana kalibat salah burukng tiduk malapm salah mimpi.

Murih manuk
Begini Bahasa Pamangnya:
Biso kukuk kata karutuk munguk barigakng tingang lomakng garahtajak lobak totai ruai natai tapatn pidatn lontatn. Kukuk kata karutuk munguk sayakng pucuk rampuk tapatn pidatn lontatn toluk mati ncarayatn totai ruai natai toluk ngabis buncai. Baringak tingang lomakng sayakng pucuk tapakng mahorapan pucuk kaladatn mompah pucuk rosak. Jatuk ka mpince cadak basah, jatuk ka tolur cadak pocah, mosak tingang , mosak tajak cadak ku amik bisau cadak ku amik biau cadak ku amik pantak cadak ku amik sangkolatn.

Inya amik bisau amik biau amik pantak amik sangkolatn; iak am kata ulih ngatuh ulih ngoluh bulih mpince bulih ntarakng mansil nyolik dalapm taronyakng, mansil jawak dalapm ntibakng kocit kata marak kunsit dodak marak ngamaak bulih ngumpatn bulih nguan makatn mukut hujukng capat. Mantuk aik bunga hujatn mansil cope biak makan.

Nyadi kata pance cadak pance, nyadi manuk lansi sangiyang dari manuk sabuk sangiakng dukukng, manuk burik sangiyang soniak, manuk inuk sangiyang toluk, anak manuk sangiyang ayapm. Cadak bala kata tingang barangukng pantuk kala kaci jawa mata kaca torus kalinakng mansik puhutn cadak baradukng timah lampukng ngkalak buluh abakng kadik intatn sigik. Hati omas nyala porut barumukng jala bulu kalabu pati.

Sayap payukng anak rajapaha kata payarukng guntikng langkakng gararik manii mansak jamii nyaropakng tiga. Silu baraikng omas agik sampah babah rumah karosik kaki tangak agik tabiso agik kobo. Tisak pulak langkah salah burukng jahatrotatn puguk huii hompukng kayu pungkal, kayu malale bantakng bulatn ari mali rubakng ronso rangkang raus.

Manuk ku biso kata katapakng cadak baholakng ka rampuk cadak ba munsakng dapa cadak bahunakng muntik cadak balubakng buluh cadak miang hutatn cadak pansak aik cadak jojak hutatn cadak tuba aik cadak huma.

Konam ku misau konam ku miau konam ku nipah konam ku miah manok biso kata rangkakng ugak – ugak kalapak mayang solak pisakng sabakng tobu jaronang pisakng buah dalapm tanah bomatn duri dalapm aik. Konam kata aku muakng torap, muakng tiba buakng sumpah buakng sarapa buakng buyuk mati nyawa golak arok golak apok golak apai golak imaii golak hantu kata banyak nuju bayak banyak mintak.

Manuk ku biso matahari butak langit tamak, matahari padapm langit tangolapm, matahari mati langit losi pake malosi langkah salah burukng jahat. Pake sugih kaya dampu bisik suka nimakng omas kaya nobus hulutn dagakng untukng jual monang diapm nyonyak duduk nyaman.

O sak, duak, tiga, ompat, limak, onam, tujuh, lapatn pangamik urakng marakng jangkak kami marakng danan urakng biso kibak, kami biso kanan nganankan nyaman somuh bait langu panyakng umur bait darah sakit cak mati, lapar cak rangkah. O sak, duak, tiga, ompat. Burukng pahat-pahat hingap pampakng pauh jongi, bakng kamone langkah salah burukng jahat, buakng ka pamadapm matahari pampakng pauh jongi ....... Puha!

1. Gawai Meruba
Bosi Kolikng Tungkat Rakyat dipercayai oleh banyak suku, terutama Suku Dayak. Setiap tahun banyak masyarakat yang berajat- beniat ke Bosi Kolikng Tungkat Rakyat untuk minta keselamatan, minta kekuatan, minta kesembuhan dari sakit, minta kekayaan, minta berladang mendapat hasil yang berlimpah ruah dsb. Untuk itulah masyarakat setiap tahun mengadakan mulang ajat/mulang niat yang lebih dikenal dengan istilah Suku dayak Krio dengan sebutan “Mahuba”.

Bagi pihak yang memegang Bosi Kolikng Tungkat Rakyat bisa tahu akan pedoman(cuaca) dengan meraba piring pedoman yang ada bersama Bosi Kolikng Tungkat Rakyat, apabila piring tersebut kering (tanpa air) berarti menandakan pada bulan itu sedang musim kemarau dan sebaliknya apabila pada saat meraba piring itu terdapat air berarti pada bulan itu musim hujan. Bosi Kolikng Tungkat Rakyat tersebut di atas harus selalu diminyak, tetapi tidak boleh dilihat dengan mata dan bila dilihat dengan mata maka mata orang yang melihat menjadi buta hal ini mungkin berkaitan dengan cerita pada waktu Batakng Kolikng mencari Bosi pada waktu malam gelap gilita ditengah hutan dengan tanpa api.
Hari perayaan yang selalu dilakukan oleh Kerajaan Hulu Aik adalah pesta Upacara Mahuba yang ditetapkan setiap tanggal 6 bulan Juni dan pada tahun 2000, pesta upacara mahuba ditetapkan setiap tanggal 25 bulan Juni dengan tujuannya orang banyak ataupun orang kampung mulang ajat/niat atas terkabulnya permintaan yang dilakukan pada waktu (sepanjang tahun) sebelumnya, seperti minta niat orang kampung bebas dari penyakit, orang sakit dapat sembuh kembali, orang selamat dalam perjalanan, orang berladang dapat padi banyak dsb.
16.Gawai Nyumat;
Gae Nyumat biasanya dilakukan pada musim ngamongakng, supaya dapat ngonikng, ngopuk, ngajak, nikar, mahui-mahunak, Manama, babahatn batibak, adapun adatnya:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam,
- 1 ruas nasi korikng dan 1 ruas nasi pulut,
- 1 pangkat nulakng.
Setelah dikeluarkan adat tadi maka dilakukan sangkolatn palit oleh pahawakng/dukutn.

3. Gawai Nyangkolatn Poti.
Gae kolatn poti biasanya dilakukan pada musim merumput ladang, tujuannya untuk membuang sampar samparatn, baro bahut, adapun adatnya:
â–ª 5 matak,
â–ª 5 buah tempayan tuak,
â–ª 4 ekor ayam,
â–ª 1 ekor Kuduk,
▪ tobus turus tompa nasi’.
▪ Patukng pangu’,
â–ª Topukng tawar,
â–ª mamali,
▪ masa’ - mata’,
â–ª ronakng,
▪ nasi’ colap-habu colap,
â–ª sanga,
â–ª mata kase,
â–ª gigi garapm,
▪ tulakng bila’,
â–ª 5 pangkat nulakng,
â–ª tatabar,
â–ª kumpakng,
▪ plai’ik, ▪empahukng,
â–ªupih pinang,
â–ªkepala kuduk,
â–ªporut manuk dan bulunya,
â–ªCapatn,
â–ªbakul panyamangat,
▪tongang sangkuba’,
â–ªlantikng garukng pancala,
▪lante munti’ bulat,
â–ªlante palontar hatap,
â–ªkajakng,
▪sasa’ buluh,
▪4 buah anca’,
â–ª1 buah capatn,
▪pisu’,
â–ªcincitn,
▪tupakng panu’.
â–ªparumpas padi.
▪rara’,

4. Gawai Ngamaru
Gwai ngamaru atau maharu ini biasanya dilakukan pada awal padi baru/ padi muda’, adatnya:
●1 buahtempayan tuak,
●1 ekor ayam
●2 pangkat nulakng( 1 pangkat boras korikng dan 1 pangkat boras pulut),
●golakng – baliukng,
●hahangatan seruas korikng dan seruas pulut.

5. Gawai Maramak;
Gae maramak dilakukan setelah ngotapm padi baharu yang dimasukkan ke dalam jurukng dan kemudian diambil untuk dijemur yang kemudian dipakai untuk konsumsi, adatnya: Sikuk-sigik.

6. Gawai Sengkolatn Kamut;
Gae sengkolatn kamut biasanya dilakukan setelah selesai panen padi dengan tujuan membayar adat tanah, bunga tahutn kepada penguasanya.
 
a.ADAT PERKAWINAN

1.Minta Noda (nyatu’ Bobatn)
Setelah seorang pemuda mengenal seorang gadis, ia mencari dua orang perantara/penghubung untuk minta dengan sebuah gelang perak dan sehelai kaitn batik. Dua perantara tadi datang ke rumah orang tua gadis yang dimaksud untuk menyampaikan barang berupa sebuah gelang dan sehelai kaitn batik. Jika barang diterima lalu perantara diberi minum tuak sebagai tanda setuju atau lamaran dari pihak laki-laki diterima oleh pihak perempuan, yang selanjutnya orang tua perempuan datang ke rumah orang tua laki-laki untuk bermusyawarah dalam menentukan tindakan berikutnya, yaitu pertunangan.
1.Tunangan
Tunangan adalah menerangkan barang (hantaran) silaki– laki yang diberikan kepada perempuan kepada khalayak ramai bahwa si A (bujang) dan si B (dara) ini sudah ada calon pasangan hidupnya. Adapun adat tunangan, sebagai berikut:
- 16 poku Adat,
- Sebuah gelang,
- Sehelai kaitn batik,
- 2 pangkat Nulakng,
- 2 buah tempayan Tuak,
- 2 ekor Ayam,
Semua adat tersebut di atas diletakkan dihadapan para Tetua Laman, untuk menyaksikannya dan perlu dibicarakan siapa tahu ada barang berupa photo, pakaian dan sebagainya dari pihak lain; kalau calon pengantin laki-laki tadi dari ceweknya dan kalau dari calon pengantin perempuan tadi dari cowoknya Apabila ada barang dari pihak lain supaya dipulangkan kepihak yang bersangkutan atau diterangkan dihadapan orang banyak agar semua orang tahu, hal ini dilakukan supaya dikemudian hari tidak ada persoalan lagi bagi kedua calon pengantin yang bersangkutan. Lamanya masa pertunangan pada umumnya 3 bulan kemudian kedua belah pihak bermusyawarah untuk menentukan waktu napuk belabuh
(bikin tuak) dan milih hariyang baik untuk pelaksanaan pesta perkawinanserta menentukan hari untuk mengundang orang banyak untuk menghadiri pesta perkawinan.

3. Tunangan ada 3 tingkat, yaitu:
a. Tunangan seperti biasa,
● b. Tunangan piagapm, yaitu tunangan dalam Kandungan (kalau perempuan jadi isteri
dan kalau laki-laki jadi saudara),
●Tunangan sopit, yaitu: hari itu tunangan, hari itu juga sunatan dan langsung perkawinan.


4.Jenis Perkawinan
Mengenai adat istiadat dan budaya masyarakat setempat bahwa perkawinan dapat
dilakukan sesuai dengan kemampuan perekonomian para pihak yang terdiri dari beberapa
jenis:

5.Tak Pajadi Ka Iyang Banyak
Dalam perkawinan yang disebut Tak Pajadi ka Iyang Banyak, karena keluarga kedua pihak calon pengantin ekonominya kurang mampu, maka adatnya sebagai berikut:
1)1 pangkat nulakng perjanjian
2)2 pangkat nulakng sangkolatn ( 1 dari perempuan dan 1 dari laki-laki),
3)6 buah tempayan tuak ( 3 laki-laki dan 3 perempuan),
4)7 ekor ayam( 4 dari perempuan dan 3 dari laki-laki),
5)8 helai kaitn pasalitn,
6)3 pangkat nulakng ( 1 dari perempuan dan 2 dari laki - laki),
7)1 ekor babi ( dari laki-laki),
8)1 buah tempayan Tajo harga tubuh.

Minta kawinkan orang banyak, maka pihak yang bersangkutan ngomong minta diratakan dengan orang banyak. Kata Orang tua pihak mempelai: “ntak pajadi pasuntukng tak gae kan jadi kamuhkan suntukng anak kita auk bagah jongan iyang nan tak pajadi ngan iyang banyak. Kalok pajadi banyak, kita bilakng tiapnya si memang caknya kita ba ukupm soyakng ba adat sikuk ak kita bilakng tiap tapi numuuk nya numuuk kapalak desa jongan mantir adat”.
6.Mintak Pajadi Ka’ Mantir
Tak pajadi ka Mantir artinya pihak yang bersankutan minta belas kasihan, minta cari kawan tambah, minta cari pasangan hidup kepada Mantir. Pajadi mantir adalah pasangan yang dijodohkan oleh mantir dengan istilah kayu saborakng paut saborakng, Adatnya sebagai berikut:
6 buah tempayan tuak pajadi ( 3 buah laki-laki dan 3 buah perempuan)
16 poku buat ba’agah,
6 ekor ayam ( 3 laki-laki dan 3 perempuan),
1 ekor babi dari laki-laki,
8 lasa pasalitn,
16 poku panaitn (kalau masih murni),
8 helai kaitn pesalin (kalau masih murni), yaitu: 1 helai untuk pasalin kakek-nenek(jika masih hidup),1 helai untuk pasalin ipar tua (jika ada), 3 helai untuk isteri dan 3 helai untuk pasalin mertua,
1 buah tempayan Tajo untuk penampak,
1 buah mangkuk pajanji,
4 pangkat nulakng pajadi ( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan ), setiap pangkat ditumpa paha ayam.

7.Sangkolatn:
1)1 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
2)1 bilah pisau,
3)1 ekor ayam,
4)1 buah tempayan tuak

8.Pajadi Mantir
Dalam perkawinan yang disebut pajadi Mantir dengan adat sebagai berikut:
â–ª4 ekor ayam ( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan),
▪16 poku buat ba’agah,
â–ª4 buah tempayan tuak( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan),
â–ª2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
â–ª2 helai kaitn pasalin.

9. Bajadi Banyak (Perkawinan Orang Banyak)
Adat perkawinan orang banyak, sebagai berikut:
Pihak laki-laki:
â–ª4 buah tempayan tuak,
â–ª3 ekor ayam,
â–ª1 ekor babi,
â–ª2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam. Minta Suruhun narik runtut ba adat bahukupm, pasalitnronatn buntat, dengan dengan :
â–ª8 Lasa adat Pasalitn,
â–ª8 Poku mangkuk adat palokak golakng,
â–ª1 buah tempayan Tajo roga tubuh,
▪8 poku buat paloka’ golakng,
â–ª16 poku buat penait.
Pihak Perempuan:
â–ª4 buah tempayan tuak,
â–ª2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
â–ª4 ekor ayam,
â–ª1 buah tuak untuk meletak perjanjian. Adat untuk membunyikan gamal harus ada:
â–ª1 ekor ayam,
â–ªtopokng tawar sekadarnya.

Adat ini digunakan untuk nyangkolatn ogokng gamal, golak pocah bolah. Nulakng sapangkat, untuk ngangkat sutaragi milik orang penari memeriahkan pesta perkawinan. Adat Sangkolatn:
â–ª1 buah tuak,
â–ª1 ekor ayam,
â–ª1 bilah pisau,
â–ª1 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
â–ª1 buah cawatn darah ayam diisi daun sirih dan beras,
▪Susu’ sangkolatn cincin permata,
â–ªMangkuk perjanji di isi beras.
Setelah adatnya disiapkan barulah tukakng perjanji mengucapkan perjanji “Sidak bujakng - dara bajadi basuntukng”.

Adat Perkawinan Ditunda (Burukng bangke)
Perkawinan ditunda karena ada kematian seseorang dari salah satu dari pihak keluarga:
1.Babiso bahibu yang disebut madapm burukng,
2.1 buah tempayatn tuak,
3.1 ekor ayam,
4.16 buat rante.

HUBUNGAN PERKAWINAN MENURUT ADAT:
1.Saudara tidak boleh kawin dengan anak saudaranya dan sepupu sumbakng duata, jika terjadi hukumannya lantikng pisakng bubu laras artinya kedua mempelai diikat pada lantikng batakng pisakng lalu dihanyutkan ke Sunge.
2.Anak saudara laki-laki boleh kawin dengan anak saudara laki-laki( misalnya Dua orang bersaudara A dan B sama laki-laki. Kemudian A kawin mendapat anak laki-laki diberi nama G dan demikian juga B kawin mendapat anak perempuan diberi nama H, maka G boleh kawin dengan H).
3.Anak saudari perempuan boleh kawin dengan anak saudari perempuannya( misalnya Dua orang bersaudara C dan D sama laki-laki. Kemudian C kawin mendapat anak laki-laki diberi nama F dan demikian juga D kawin mendapat anak perempuan diberi nama L, maka F boleh kawin dengan L).
4.Anak saudara laki-laki tidak boleh kawin dengan anak saudara perempuan, jika terjadi harus babale topas laman.
HUBUNGAN PERKAWINAN MENURUT GEREJA:
1.Anak dengan anak (saudara kandung) tidak boleh kawin,
Sepupu pertama tidak boleh,
2.Anak saudara tidak boleh,
3.Sepupu 2 x boleh kawin tetapi bersyarat,
4.Cucu dengan Iyut boleh kawin tetapi bersyarat,
5.Cucu dengan Cicit boleh kawin tetapi bersyarat,
6.Cucu dengan buyut boleh kawin tetapi bersyarat,
Hubungan garis lurus( horizontal dan vertical) tidak boleh kawin.

b.ADAT KELAHIRAN
1. Adat Kehamilan ( Makatn Ansapm)
Adat makatn Ansapm adalah:
●2 buah tempayan tuak( I untuk perjanjian dan I untuk sangkolatn),
●2 ekor ayam,
●1 buah piring tempat ansapm,
●1 bilah parang,
●8 poku buat samatu ansapm.
Apabila hamil sebelum nikah, maka dikenai hokum adat (lihat di bab
hukum adat).

2. Adat Melahirkan (Mahagar) Adat mahagar adalah:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam.

3. Adat Memberi Nama Bayi (adat muyas)
Adat muyas atau memberi nama bayi adalah:
a. Adat Muyas biasa:
- 2 buah tempayan tuak,
- 2 ekor ayam,
- 16 buat,
- 1 kabukng kaitn,
- 1 bilah parang,
- 1 pangkat nulakng ditumpa 1 buah paha ayam.
b. Adat Muyas Sangkulakng Tali maupun Turutn tangga:
- 2 buat tempayan tuak,
- 2 ekor ayam,
- 1 ekor babi,
- 16 buat,
- 1 kabukng kaitn,
- 1 bilah parang,
- 1 pangkat nulakng ditumpa 1 buah paha babi, 1 buah paha ayam.

ADAT PENGANGKATAN ANAK

Adat Pengtangkatan Anak
1. Pengangkatan anak kecil:
●1 buah tempayan tuak,
●1 ekor ayam,
●16 buat,
●1 pangkat nulakng,
●1 helai kaitn,
2. Pengangkatan orang dewasa:
●1 buah tempayan tuak,
●1 ekor ayam,
●16 buat,
●1 pangkat buat nulakng,
●1 buah tempayatn atau 4 ingkeq pingatn.

3. Bolitn Kampukng/Porut Ngamiq Uyud Bolitn porut ngamiq uyud pada waktu muyas nyurukng adatnya:
●1 buah tuak,
●1 ekor ayam,
●1 ekor babi,
●buat selawi.
Maksud dan tujuan pengangkatan anak sesuai dengan tingkatannya adalah:
●membuat hubungan keluarga, karena anak tersebut sering sakit-sakitan, maka ada mimpi menunjukkan orang tua angkatnya ( lewat sendiri atau orang lain),
●karena anak tersebut sudah tidak punya orang tua,
●orang tua yang mengangkatnya tidak punya anak,
●karena tertarik akan harta kekayaan atau pangkat dari sang anak angkat tersebut,
●karena anaknya sendiri meninggal dunia, maka mertua mengangkat menantu untuk mengganti anaknya atau sebagai ganti silih,
●mengangkat anak orang lain sebagai ganti silih karena salah satu anaknya meninggal dunia,
●karena orang tua angkat memiliki suatu kelebihan( harta dsb).

ADAT BASUNAT
Adat Sunat Batapas Mansak yang biasa dilakukan sebagai berikut:
●babiso bahibu,
●1 ekor ayam,
●2 buah tempayan tuak(sabuah pangonak sopit,
●kaitn sakabukng untuk tungko bajalatn,
●1 buah lunyu untuk tungkat bajalatn,
●1 buah hapangkng/ mando untuk ditangkitn bajalan,
●buat 16 (rante),
●1 pangkat nulakng.

Kalau sopit sudah lepas dari kemalu untuk pamangkas cile adatnya sebagai berikut:
●1 ekor ayam,
●1 buah tempayan tuak,
●buat 16 (rante).

Bagi pihak yang mau disunat harus di sangkolatn dengan darah ayam sebelum disunat.

ADAT PERCERAIAN

Adat Perceraian Karena Habis Jodoh karoma, sebagai berikut:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam,
- 2 x 16 atau buat selawi.
Bagi pihak yang membawa cerai tidak mendapat bagian harta kekayaan.

ADAT KEMATIAN
Bila orang yang meninggal dunia adalah orang dewasa setelah ia narik nafas terakhir, maka orang melihat harus membunyikan ketawak tanda pemutus nyawa sebanyak 3 kali, pukulan yang ke tiga agak lamban, selanjutnya badannya harus dibersihkan lalu diberi pakaian (celana, baju dan sebagainya yang rapi) dan kemudian pengurus adat bapomang (membaca mantra) atau babait-bajahat baru dilanjutkan dengan menguraikan silsilah/tintikng purih mulai dari kakek-nenek, bapak-ibu sampai pada orang yang meninggal dunia tadi; untuk itu keluarga yang berduka mengeluarkan adat sebuah pingatn, mangkuk dan sebilah parang yang dinamakan adat Pangarangatn.

Pada waktu menguraikan silsilah yang akhirnya menyebutkan nama orang yang meninggal dunia, maka adat tadi dipecahkan dengan parang tadi dan jenazah diangkatkan ketengah rumah, diletakkan membujur tulang bubukng, besi adat tadi diletak membujur tulang belakang jenazah, kepala menuju ke dapur dan kaki menuju ke pintu depan baru badan disaput balut, wajah tidak ditutup, mata ditutupi dengan uang logam rupiah/suku, mulut ditutup dengan uang ringgit.
Kalau meninggal dunia sore hari atau malam, maka penguburannya harus hari besoknya, membuat pamonut pakai rotan 5 atau 7; 5 artinya juaratn 5 hari dan tujuh artinya juaratn 7 hari(juaratn artinya pantangan), pameo lalat 5 atau 7 helai lalu digantungkan di atas dada – kaki jenazah lalu diikatkan ke lantai yang artinya kalau 5 helai bantang juaratnnya 5 hari atau 7 helai= pamonut bilak buluh dan kapuak, membuat yang membuat papote adalah perempuan tua yang sudah tidak beranak lagi atau sudah janda. Setelah bantang juaratnnya 7 hari baru dilanjutkan dengan musyawarah-mufakat mengenai upacara penguburan(pahapm pokat dakarintu, batipak balabuh) kalau berbukung 5, maka disediakan 15 helai kaitn panjang dan tuak lauknya.
Adat penguburan seekor babi dan seekor ayam untuk menyengkolatn kayu yang dipakai untuk lancankng/petimati sebuah tempayan tuak dan se ekor ayam untuk papote, 2 buah tempayan tuak untuk parantu(penguburan) untuk , tiga buah tempayan tuak dan se ekor ayam untuk parapat, empat buah tuak untuk cukaak. Jadi Penguburan biasa adatnya 4 buah tempayan tuak, se ekor babi dan 3 ekor ayam. Kalau orang yang meninggal dunia sore hari atai malam keluarga duka harus mengeluarkan sebuah tuak dan nasi pulut yang disebut rompah dan kakocok.

Adat menggali lubang kuburan:
Seekor Kuduk (anjing) untuk pengiring jalan, seekor ayam, rompah secukupnya dan parang sebilah. Apabila sudah menggali lubang barulah ada orang yang diutuskan ke rumah dengan membawa kayu jenis buah untuk memikul jenazah(tampiur).

Turun ke kuburan:
bagian Kaki poti, ada ayam pengobat kaki,
- Kepala rante, tali donatan,
- Rotan sekaratn di pucuk lancakng, semua keluarga duka memegang bujuk rotan, rotan dipotong baru lancang diberangkatkan yang artinya dipisahkan antara orang yang masih hidup dengan orang yan meninggal dunia. Ditanah ada ruas nasi namanya nasi palopas, dimasak ditengah haLaman rumah disilakngkan; orang yang masak nasi adalah orang yang membuat papote . lalu lancakng tadi berkeliling 3, 5 atau 7 kali lalu semua keluarga duka harus melewati bawah lancakng tadi, setiap putaran harus sekali melewatinya dan pada putaran terakhir orang mengangkat kaki, mancokng nasi palopas. Beras ditaburkan ke jalan baru kaki berjalan dan setelah jenazah ditimbun lalu umpan pemakan diletakkan dengan memanggil nama orang yang meninggal tadi disuruh makan, majuh, mampal baru basalobar menyuruh orang yang melayat ngaung ngunsi ke rumah untuk makan.
Upacara adat di rumah
Setelah makan, mengeluar tiga buah tempayan tuak, yaitu: sebuah tempayan tuak untuk babiso, sebuah tempayan tuak untuk cuka, sebuah tempayan tuak untuk jora, seekor ayam untuk babiso, mangkuk boras komakng minyak boli(mangkuk tanah) sebuah diisi beras, kase entomu(lawak), sebakuk , tongang sekobat dan nulakng sepangkat. Sangkolatn jora pakai kutikng baliukng, cincin sebentuk, ngobat tongang tali nyawa. Bercerita antar keluarga tentang orang sakit sampai meninggal dunia.
Memindahkan Kuburan/ Pase Lamat:
a. Adat Pembukaan:
●2 buah tempayatn tuak,
●2 ekor ayam,
●1 ekor babi,
●2 x 16 buat rante,
●topukng + pulut secukupnya,
●50 kg beras biasa,

b. Adat Kelapatan Kampukng:
●2 buah tempayatn tuak,
●2 ekor ayam,
●1 ekor babi,
●3 x 16 buat rante,
●8 ingkeq piring putih,
●1 buah tempayatn tajo.

c. Adat Penggalian Pase Lamat:
●1 buah tempayatn tuak,
●2 ekor ayam,
●1 ekor Kuduk.

d. Adat Panudukng Baro bahut kampokng laman:
●5 buah tempayatn tuak,
●4 ekor ayam,
●1 ekor Kuduk,
●16 buat rante,
●4 ingkeq piring putih,
●1 buah tempayatn,
●1 kabukng kaitn,
●1 buah golakng baliukng,
●1 bilah piso raut

e. Adat menggalikan Lubang Pase Baru:
●2 buah tempayatn tuak,
●1 ekor ayam,
●1 ekor babi,
●3 x 16 buat rante,
●12 ingkeq piring putih,
●1 buah tempayatn tajo.

Proses penyandukngan (sandukng) dari pembakaran samaroga 7 :
7 ekor burung pipit, jawa, nyoli, karibakng, kacakng, pulut hitam, telur masak, mantak, gorekng, kumpakng - pali, tatabar – manis, paku tobakng, sagulakng, tukas, tingkas, morikng, bombatn, katimbakng raya.

PELANGGARAN HUKUM ADAT

1.Hukum Adat Kampakng Pinang
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang sudah tunangan tidak boleh berhubungan intim sebelum dilangsungkan perkawinan dan bila sebelum perkawinan sudah hamil, maka kedua calon mempelai disebut Kampakng pinang,maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
a) pihak laki-laki: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 1
ekor ayam dan 1 ekor babi,
b) pihak perempuan: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 2 ekor ayam. dan kalau ditomar orang lain, maka sebuahtempayan untuk adat penomar.

2. Hukum Adat Seorang suami Beristeri Dua
Apabila seorang laki-laki kawin dua orang isteri, maka dia dikenai hukuman/sanksi sebagai berikut:
2.7 Lasa buat dari pingatn dan buat ini dibagikan ke para pemuka Laman,
3.8 buah tempayan tuak, yaitu: 3 buah tempayan tuak untuk penyabukng maduk dan 5 buah tempayan tuak untuk kawin,
4.3 ekor ayam,
5.3 ekor babi (1 ekor babi untuk penyabukng maduk, 1 ekor babi untuk kawin dan 1 ekor babi untuk penyaman hati orang banyak,
6.7 buah tempayan Tajo, yaitu: 1 buah untuk pamampuh, 1 buah untuk panyabukng maduk, - 2 buah untuk Laman Mimukng (dusun I dan II),1 buah untuk Laman Sapangakng, 1 buah untuk Laman Sangkuakng, dan 1 buah untuk Laman marangin.

3. Hukum Adat Dusa Mala/ Dusa Sama balaakng (suami orang berselingkuk dengan isteri orang lain)
Apabila terjadi perselingkuhan antara suami orang berselingkuk dengan isteri orang lain maka dikenai hukum adat sebagai berikut:
a. Dusamala Suami Orang:
●3 x selawi dari pihak laki-laki,
●3 buah tempayan tuak,
●12 singkar pingatn putih,
●3 ekor ayam,
●1 ekor babi.
b. Danda padusa
●1buah tempayan tajo,
●buat ranre selawi,
●8 singkar pingatn,
●1 buah tempayan tuak,
●1 ekor ayam,
●1 ekor babi,

c. Dusamala Istri Orang:
●buat 3 x selawi dari perempuan,
●3 buah tempayan tuak,
●12 singkar pingatn putih,
●3 ekor ayam,
●1 ekor babi,
●1 buah tempayan tajo penyaman hati,
●8 singkar pingatn putih.

4. Hukum Adat Karangkat (kalau suami orang mengambil isteri orang lain).
Suami dibuang Isteri:
●1 buah tempayan Tuak baniang,
●5 ronti babi,
●1 buah talapm,
●buat Selawi,
●1 buah talapm bakaki, kalau dari suami mempertahankan isteri
●3 buah tempayan tuak,
●3 ekor ayam,
●3 ronti babi( kurang ditambah ayam), hukum adat

Karangkatnya (langsung kawin)
●1 buah tempayan Tajo,
●1 buah Ketawak,
●1 potong rante,
●1 buah katawak
●1 kupukng rante (buntutnya untuk orang banyak),
●12 Lasa.
Hukum adat ini di luar adat perkawinan.

5. Hukum Adat Kampakng
a. Hukum Adat Kampakng Tidak kawin
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan suami- istri melakukan hubungan intim hingga akibatnya si perempuan tadi hamil, maka kedua pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:

1) Pihak laki-laki, dikenai hukum adat:
- 3 Lasa,
- 2 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam,
- 1 ekor babi,

2) Pihak perempuan:
- hukum adat 3 Lasa,
- 2 buah tempayan tuak,
- 2 ekor ayam,
- 10 poku buat pocah, untuk pelobur bintang petahutn rakyat banyak yang biasa dinamakan bintang petahutn adalah “Bakul kamut lawakng hidup” dibagi kesemua rakyat banyak. Hukum Adat tersebut di atas kalau pihak perempuan menyerahkan diri untuk di hukum adatkan tuha banyak, tetapi jika dipomarkan orang lain maka ditambah lagi sebuah tempayan untuk adat pemomar kampakng.

b. Hukum Adat Kampakng Langsung Kawin
1.Pihak laki-laki.
Pihak Laki – laki dikenai hukum adat 8 lasa atau 8 helei kain batik panjang untuk pasalitn (untuk mempelai perempuan 3 helai, orang tua perempuan 3 helai, saudara tertua/tua dari mempelai perempuan 1 helai dan untuk kakek/nenek 1 hilai) untuk pasalitn, Buat rante (rante perak/tembaga) 1 kali slawi sekali 16 (poku) = 48 poku mangkuk adat, Penait 16 poku, Buat pocah 10 poku(dapat diganti ½ lusin mangkuk porselin), 1 buah Tempayan Tajo (tuha/antik) untuk roga/harga tubuh, 8 poku untuk Paloka golakng, Nulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras), 4 buah tempayan tuak(diganti tuak air), 3 buah piring putih untuk adat perjanji, 2 ekor babi @ 25 – 30 kg ( 1 ekor babi kampakng dan 1 ekor babi kampung), Cucuk Somat (lemak dan daging babi dipotong dibuat seperti sate lalu diletakkan diatas nulakng untuk buis, 8 kaki/tangan (tunyikng), kepala dibelah dua, kangkapm babi + kaki, sayap dan kepala ayam), 1 buah piring, 1 buah mangkuk, 1 tukuk garam, sebilah bosi, luncu/lunju sebatakng tikar dan bantal serta selimut(tikar dan selimut diganti dengan seperangkat tempat tidur).

2.Pihak Perempuan:
â–ªBuat rante 1 x slawi, sekali 16 poku = 48 poku,
â–ª4 buah tempayan tuak(diganti tuak air),
â–ª4 ekor ayam,
â–ªNulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras),
▪Buat pocah 10 poku atau ½ lusin mangkuk porselin.

6. Hukum Adat Perkawinan Sumbakng
Perkawinan Sumbang kapat/ Sumakng Ponuh Apabila ada perkawinan sumbangk kapat( saudara kakek, saudara nenek, saudara bapak atau saudara ibu kawin dengan cucu atau keponakan, walaupun kedua mempelai sama-sama bujang -dara) sebenarnya tidak boleh jadi sama sekali, karena masalah itu tidak dapat di cegah, maka satu-satu jalan keluarnya adalah para pihak yang bersangkutan dikenai hukuman adat, sebagai berikut:
1) Hukum adat dari pihak mempelai laki-laki :
- 4 ekor babi,
- 3 x 16 ditambah 10 poku,
2) Hukum adat dari pihak mempelai perempuan:
- 3 ekor babi,
- 3 x 16 ditambah 10 poku.

Ada bale/balai di tanah (darat) dan bale/balai di air. Babi dipotong ditempara lalu kedua calon mempelai mandi darah babi sambil turun ke Sunge dan setelah sampai di Sunge harus mandi darah babi yang dipotong diatas bale disertai dengan tato yang disampaikan oleh mantir laman dengan bunyi sebagai berikut: “Sambut ria rokakng patih majo (tabutn naga) IYANG kampaakng sumakng ge nyamut juluk rasilopas luput dari malapetaka nyak, golak rasa kami cadak ba adat bajalatn, balome pantiti, jadi ini samut darah babi inin( kedua mempelai sedang mandi darah babi di sebelah hilir bale tempat orang motong babi). Kemudian pengantin pulang kerumah ganti pakaian lalu duduk lagi di tempat yang sudah disediakan dan selanjutnya pengantin di diburu seperti muru ( ngusir) disertai dengan kata-kata” hai babi, kucikng, kuduk turutn makatn ke balangku’ ditanah nan”. Keddua mempelai harus turun makan masidan sayur yang sudah disediakan didalam belangku’ babi yang dialas dengan daun pisang mas. Acara selanjutnya pengantin mengadakan ucapara pembuangan sial kawin sumbang, dengan mengambil sembilu bambu botukng (yang memang sudah disediakan) lalu disayat/didedelkan(hanya persyaratan) ke buku lalik dengan disertai tato: ‘han, keluar darah nin kaluar gak sumakng pamali, jadi cak mali ak kami jadi”.

7. Adat Pajadi ( Adat Kawin) :
- 9 Lasa ( dengan buat),
- 9 poku (dengan mangkuk),
- 9 buah tempayan tuak,
- 9 ekor manuk,
- 4 ekor babi (babi pajadi, babi panyumakng, babi topas
laman, babi caboh aik).
Setelah Cabuh air barulah orang menguraikan silsilah adat sumbang (patintikng kan summakng). Mulai dari kora pandai berkata.Taramunang taramuning menjadi orang yang mendongen kannya (nsangannya) sakaratn, setelah itu mendongengkan(nsangan) lagi duakaratnnya dongeng (nsangan) dahalatn.
Persyaratan bagi kedua mempelai kawin sumbang kapat, bahwa setelah kawin setiap tahun harus mengadakan “topas laman” berturut-turut selama tiga tahun dengan hukum adat, sebagai berikut:
â–ªhukum adat selawi,
â–ªsebuah tempayan tajo untuk kepala adat,
â–ªsebuah tempayan Baniang berisi tuak,
â–ªseekor babi.
8. Hukum Adat Sumakng Anak Sanak Tuha adalah :
â–ªbuah Tempayan Tajo untuk Kepalanya (dari laki-laki),
â–ª1 buah Talapm Buntunya Talapm (dari perempuan)
â–ª12 Lasa ( dengan buat), 12 poku (dengan mangkuk),
â–ª3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air),
â–ª1 ruas nasi,
â–ª6 ekor ayam(1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
â–ª6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),
â–ª8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4 sumakng),
â–ªBabuakng batibar,
â–ªTintikng sumakng nya dan tujuh karatn nsangan nyan.Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan (bajadi).

9. Hukum Adat Bajadi Anak Sanak Inik
●1 buah Tempayan Beniang untuk Kepalanya.
●1 buah Tempayan Manuuh/ Tapsi.
●7 Lasa (dengan buat), 7 poku (dengan mangkuk)
●3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air),
●1 ruas nasi,
●6 ekor ayam (1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
●6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),
●8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4 sumakng),
●Babuakng batibar,
●Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya tujuh karatn Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan.

10. Hukum Adat Anak Sanak Iyang :
Terhadap pelanggaran adat perkawinan, maka bagi mereka yang melakukan perkawinan anak sanak IYANG dikenai hukuman adat sebagai berikut:
●1 buah Tempayan Kampar Kepalanya,
●4 buah piring untuk Buntutnya
●5 Lasa(dengan buat), 5 poku (dengan mangkuk),
●3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air),
●1 ruas nasi,
●6 ekor ayam (1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
●6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),
●8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4 sumakng),
●Babuakng batibar,
●Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya lima karatn
Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan (bajadi).

11. Hukum Adat Berzinah (Badusa besar)
Berzinah (Badusa besar), maka ada istilah adat: “Ha Dusanya Bosar Donaa Malakng Kopih Kobo Damanyan”. Hukum Adatnya sebagai berikut:
●10 buah tempayan tuak,
●10 ekor ayam,
●2 ekor babi,
●2 buah tempayan Tajo,

Mengenai hukum adat Sakoti Lima Donaa Malakng kopih kobo soyakng.
Sakoti lima, hukum adatnya:
●3X 16 Lasa ( masing-masing dibayar dengan rante)
●5 X selawi ( dengan mangkuk/pingatn).

Sedangkan donaa malakng kopih kobo jatuk ka donaa malakng. Hukum Badusa dengan sanak inik
Donaa malakng cuma sakali saja Berzinah (badusan) dengan isteri orang lain, maka hukum adatnya:
●2 buah tempayan Tajo(1 dari laki-laki dan 1 dari
perempuan).
●6 X selawi ( dengan buat),
●40 singkar pingatn putih,
●6 buah tempayan tuak( 3 dari isteri orang dan 3 dari
laki-laki),
●6 ekor ayam ( 3 dari isteri orang dan 3 dari laki-laki)
●2 ekor babi

Hukum Adat Nyumakng:
●1 buah tempayan Tajo,
●1 ekor babi,
●1 ekor ayam, dan 8 singkar pingant putih

HUKUM ADAT MELANGGAR TATA KRAMA
1. Hukum Adat Siku-Siku
Pengertian hukum adat siku-siku adalah merupakan hukuman/sanksi yang dijatuhkan kepada seorang laki-laki yang dengan sengaja berjalan bersama isteri orang tanpa diketahui suaminya atau memberi sesuatu pada isteri orang lain tanpa diketahui suaminya, tetapi yang sebenarnya tidak berbuat sesuatu(hubungan intim), maka pihak laki-laki dikenai hukum adat sebagai berikut:
1 buah Tuak,
1 ekor ayam,
16 poku mangkuk adat untuk siku-siku.
2. Hukum Adat Kecukuhan
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan adalah adat yang dikenakan kepada orang yang punya ladang apabila setelah membakar ladangnya sampai selesai panen padi ada diantara keluarganya sendiri yang meninggal dunia atau bisa jadi kalau orang yang berladang minjam tanah milik orang dan setelah ia membakar ladang sampai selesai panen padi diantara pihak keluarga orang yang punya tanah meninggal dunia, maka orang yang minjam tanah untuk berladang tadi harus dikenai hukum adat.

a. Hukum Adat Kecukuhan Dabu
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dabu adalah orang yang meninggal dunia sebelum pihak keluarganya membuka jurung (Lumbung Padi), sedangkan adatnya cukup mengambil darah ayam lalu disangkolan palit.

1.Hukum Adat Kecukuhan Dalapm
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dalapm adalah orang yang meninggal pada waktu musim padi mulai menguning, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Orang meninggal sebelum malit bangala, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
a.buat rantai 1 x 16,
b.satu buah tempayan tuak,
c.nulakng satu pangkat,
d. ayam satu ekor untuk babiso bahibu.

Kalau ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat
3. Hukum Adat Karobahan
Yang dimaksud dengan adat Karobahan adalah orang yang meninggal pada waktu musim menebang ladang, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1x selawi atau 2x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Tetapi kalau di ladang orang lain; kalau hanya cacat/luka bakal cukup mengeluarkan mangkuk boras komakng.

4. Hukum Adat Kajomuran
Yang dimaksud dengan adat kajomuran adalah orang yang meninggal pada waktu musim arak roba, maka pihak keluarganya harus dikenai hokum adat:
- buat rantai 4 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
5. Hukum Adat Titi Buah
Yang dimaksud dengan adat titi buah adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu, sedangkan tenaman tersebut sudah berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.

6. Hukum Adat Cucuk Panggang
Yang dimaksud dengan adat cucuk panggang adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut masih kecil yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
Buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16 dan ditanah 1 x 16, satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng, satu ekor ayam untuk babiso bahibu.

Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
7. Hukum Adat Gantukng jala
Yang dimaksud dengan hukum adat gantukng jala adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut tak berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
8. Hukum Adat Tapak Bosi
Apabila ada orang menebang pohon buah milik orang lain yang sudah berbuah dan bila ditebang untuk ladang, maka orang yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 2 x 16/ selawi,, ( adat tapak bosi),
- satu buah tempayan tuak, dua pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tersebut di atas, Apabila ada orang membuat ladang, sedangkan ditengah ladangnya terdapat pohon buah milik orang lain lalu pohon ituditebang atau dibiarkan panta minta izin pada pemiliknya, pada waktu membakar ladang pohon tadi layu atau mati, maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
9. Hukum Adat Kampukng Buah(Kebun buah)
Apabila ada orang membakar ladang, apinya menjalar/merambat ke kampukng buah daunnya layu lalu gugur. Kampukng yang sebenarnya jauh dari ladang, maka pihak yang bersangkutan dikenai:
- hukum adat rantai 1 x 8 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng,
- ayam satu ekor untuk babiso bahibu.

10. Hukum Adat Mencuri Manjat Buah Orang lain:
Kalau orang yang bersangkutan menyerahkan diri, hukum adatnya: Sikuk Sigik. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah ikut tetangga, hukumnya : Saekuk Saegik, buah dibagi. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah milik orang lain dituntut pemiliknya, hukum adatnya:
●3 x Selawi,
●12 buah piring,
●1 ekor babi,
●2 ekor ayam
●2 buah tempayan tuak, buah diganti/dibayar.
11.Hukum Adat Pati
a. Hukum Adat Pati Baniang Penuh (Membunuh Orang Lain
Dengan Sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain dengan sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang penuh dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
●Hukum adat beniang 3 x Selawi,
●Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
●Ikuk adat sebuah Talapm,
●3 ekor babi,
●10 ekor ayam,
●12 buah tempayan tuak,
●Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
●Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
●Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
●Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
●24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
●Seutas jala, untuk mengganti rambut,
●Dua buah talapm, untuk mengganti telinga,
●Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
●Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
●Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
●20 saingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
●Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
●Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
●Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
●Sebuah tepak tembaga, untuk mengganti emaluan betinak/perempuan
●6 pangkat nulakng atau 3x 2 pangkat nulakng,
●Semua biaya kematian hingga nanam bangka ditanggung pihak pembunuh.

b.Hukum Adat Pati Baniang Setengah (membunuh orang lain tidak sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain dengan tidak sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang tetengah dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
1.Hukum adat beniang 1 1/2 x Selawi,
2.Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
3.Ikuk adat sebuah Talapm
4.2 ekor babi,
5.5 ekor ayam,
6.6 buah tempayan tuak,
7.Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
8.Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
9.Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
10.Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
11.24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
12.Seutas jala, untuk mengganti rambut,
13.buah talapm, untuk mengganti telinga,
14.Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
15.Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
16.Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
17.20 ingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
18.Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
19.Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
20.Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
21.Sebuah popak tembaga, untuk mengganti kemaluan betinak/perempuan,
22.Biaya kematian hingga nanam bangka separah daru sipembunuh.

 
Kalau orang yang bersangkutan menyerahkan diri, hukum adatnya: Sikuk Sigik. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah ikut tetangga, hukumnya : Saekuk Saegik, buah dibagi. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah milik orang lain dituntut pemiliknya, hukum adatnya:
3 x Selawi,
12 buah piring,
1 ekor babi,
2 ekor ayam
2 buah tempayan tuak, buah diganti/dibayar. 

Keanekaragaman Hayati

Jenis Ekosistem
Ekosistem Darat Alami
Ekosistem Perairan
Sumber  
Sumber Pangan
Sumber Kesehatan & Kecantikan
Papan dan Bahan Infrastruktur Belian atau kayu Ulin, Menranti, Bengkirai, Keladan, Kapur, Jelutung, Rosak
Sumber Sandang
Sumber Rempah-rempah & Bumbu
Sumber Pendapatan Ekonomi Penghasilan penduduk berikutnya adalah karet. Penduduk rata-rata memiliki kebun karet. Hasil yang diperoleh dari menurih gotak (menoreh) karet saat ini terbilang cukup banyak namun karena harga karet melorot tajam. Pada November 2017 harga karet per kilogram antara rp.4.000 hingga rp.6.000 saja perkgnya. Masyarakat yang menorah karet dikampung ini setiap orang penghasilan menorah karetnya ada yang mendapatkan 20 – 25 kg perhari, namun ada juga yang hanya dapat menoreh getah karet 10 - 15 kilogram per harinya. Harga karet tidak dapat ditetapkan sendiri oleh masyarakat. Masyarakat menjual getah karetnya ke pedagang pengumpul di kampung Menyumbung maupun ke pedagang yang datang dan berani membeli karet dengan harga agak tinggi . Harga karet golongan A di kampung saat ini berkisarRp 5.500 – 7.000 per kg. Sedangkan harga karet golongan B hanya Rp 4.500 - 5.000 per kg.Pada Februari 2017, harga karet yang kualitas sedang di kampung Menymbung bisa mencapai Rp 15.000 per kg. Sejak awal 2017, harga karet di hampir seluruh Kalbar mengalami kenaikan. Tampaknya permintaan dunia atas kebutuhan karet alam sedang meningkat. Namun kenaikan itu hanya beberapa bulan saja, kini harga karet anjlok kembali. Sumber penghasilan lain yang cukup menjanjikan bagi penduduk desa Menyumbung adalah mendulang emas, yang dikenal dengan sebutan Peti (tambang emas tanpa ijin. Serta penghasilan lainnya yaitu kerja kayu kubik yang terus menerus masyarakat lakukan sehingga semakin hari kayu-kayu semakin berkurang bahkan hampir langka, namun peti ini sangat merusak lingkungan terutama tanah dan air sungai yang sampai saat ini tidak bisa lagi untuk di minum karena air sungai tersebut sudah seperti air limbah tanah kuning. Selain kerja peti dan kerja kayu kubik, sumber penghasilan lain masyarakat kampung Menyumbung adalah gaharu dan buah jengkol, dimana harga jengkol lebih mahal dari harga karet. Penduduk Menyumbung biasa mencari jengkol di bawas tua dan tembawang. jengkol yang dikumpulkan dibeli rp.8.000.- 10.000 per kilogram oleh pengumpul. Ada juga penghasilan yang bersifat musiman namun cukup membantu untuk menambah pendapatan keluarga yaitu buah lokal musiman seperti durian dan buah-buahan lainnya. Prospek dari kebun jengkol memang sangat baik untuk kedepannya karena semakin tahun harga buah jengkol semakin tinggi. Maka dari itu masyarakat kampung Menyumbung mulai pada tahun 2017 sudah menanam jengkol di bekas ladang atau bawas mereka.

Kebijakan

No Judul/Title Nomor Tentang Kategori Tipe Kategori Dokumen
1 Perda Kabupaten Ketapang No 8 Tahun 2020 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Ketapang 8 Tahun 2020 Perda Kabupaten Ketapang No 8 Tahun 2020 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Ketapang Perda Kabupaten/Kota Daerah  Dokumen
2 SK Bupati Ketapang No 589/DISPMPD-B/2021 ttg Panitia MHA 589/DISPMPD-B/2021 SK Bupati Ketapang No 589/DISPMPD-B/2021 ttg Panitia MHA SK Bupati/Kepala Daerah Daerah  Dokumen


Sudah punya akun ?

Jika belum silahkan mendaftar di tombol ini