a.ADAT PERKAWINAN
1.Minta Noda (nyatu’ Bobatn)
Setelah seorang pemuda mengenal seorang gadis, ia mencari dua orang perantara/penghubung untuk minta dengan sebuah gelang perak dan sehelai kaitn batik. Dua perantara tadi datang ke rumah orang tua gadis yang dimaksud untuk menyampaikan barang berupa sebuah gelang dan sehelai kaitn batik. Jika barang diterima lalu perantara diberi minum tuak sebagai tanda setuju atau lamaran dari pihak laki-laki diterima oleh pihak perempuan, yang selanjutnya orang tua perempuan datang ke rumah orang tua laki-laki untuk bermusyawarah dalam menentukan tindakan berikutnya, yaitu pertunangan.
1.Tunangan
Tunangan adalah menerangkan barang (hantaran) silaki– laki yang diberikan kepada perempuan kepada khalayak ramai bahwa si A (bujang) dan si B (dara) ini sudah ada calon pasangan hidupnya. Adapun adat tunangan, sebagai berikut:
- 16 poku Adat,
- Sebuah gelang,
- Sehelai kaitn batik,
- 2 pangkat Nulakng,
- 2 buah tempayan Tuak,
- 2 ekor Ayam,
Semua adat tersebut di atas diletakkan dihadapan para Tetua Laman, untuk menyaksikannya dan perlu dibicarakan siapa tahu ada barang berupa photo, pakaian dan sebagainya dari pihak lain; kalau calon pengantin laki-laki tadi dari ceweknya dan kalau dari calon pengantin perempuan tadi dari cowoknya Apabila ada barang dari pihak lain supaya dipulangkan kepihak yang bersangkutan atau diterangkan dihadapan orang banyak agar semua orang tahu, hal ini dilakukan supaya dikemudian hari tidak ada persoalan lagi bagi kedua calon pengantin yang bersangkutan. Lamanya masa pertunangan pada umumnya 3 bulan kemudian kedua belah pihak bermusyawarah untuk menentukan waktu napuk belabuh
(bikin tuak) dan milih hariyang baik untuk pelaksanaan pesta perkawinanserta menentukan hari untuk mengundang orang banyak untuk menghadiri pesta perkawinan.
3. Tunangan ada 3 tingkat, yaitu:
a. Tunangan seperti biasa,
â— b. Tunangan piagapm, yaitu tunangan dalam Kandungan (kalau perempuan jadi isteri
dan kalau laki-laki jadi saudara),
â—Tunangan sopit, yaitu: hari itu tunangan, hari itu juga sunatan dan langsung perkawinan.
4.Jenis Perkawinan
Mengenai adat istiadat dan budaya masyarakat setempat bahwa perkawinan dapat
dilakukan sesuai dengan kemampuan perekonomian para pihak yang terdiri dari beberapa
jenis:
5.Tak Pajadi Ka Iyang Banyak
Dalam perkawinan yang disebut Tak Pajadi ka Iyang Banyak, karena keluarga kedua pihak calon pengantin ekonominya kurang mampu, maka adatnya sebagai berikut:
1)1 pangkat nulakng perjanjian
2)2 pangkat nulakng sangkolatn ( 1 dari perempuan dan 1 dari laki-laki),
3)6 buah tempayan tuak ( 3 laki-laki dan 3 perempuan),
4)7 ekor ayam( 4 dari perempuan dan 3 dari laki-laki),
5)8 helai kaitn pasalitn,
6)3 pangkat nulakng ( 1 dari perempuan dan 2 dari laki - laki),
7)1 ekor babi ( dari laki-laki),
8)1 buah tempayan Tajo harga tubuh.
Minta kawinkan orang banyak, maka pihak yang bersangkutan ngomong minta diratakan dengan orang banyak. Kata Orang tua pihak mempelai: “ntak pajadi pasuntukng tak gae kan jadi kamuhkan suntukng anak kita auk bagah jongan iyang nan tak pajadi ngan iyang banyak. Kalok pajadi banyak, kita bilakng tiapnya si memang caknya kita ba ukupm soyakng ba adat sikuk ak kita bilakng tiap tapi numuuk nya numuuk kapalak desa jongan mantir adatâ€.
6.Mintak Pajadi Ka’ Mantir
Tak pajadi ka Mantir artinya pihak yang bersankutan minta belas kasihan, minta cari kawan tambah, minta cari pasangan hidup kepada Mantir. Pajadi mantir adalah pasangan yang dijodohkan oleh mantir dengan istilah kayu saborakng paut saborakng, Adatnya sebagai berikut:
6 buah tempayan tuak pajadi ( 3 buah laki-laki dan 3 buah perempuan)
16 poku buat ba’agah,
6 ekor ayam ( 3 laki-laki dan 3 perempuan),
1 ekor babi dari laki-laki,
8 lasa pasalitn,
16 poku panaitn (kalau masih murni),
8 helai kaitn pesalin (kalau masih murni), yaitu: 1 helai untuk pasalin kakek-nenek(jika masih hidup),1 helai untuk pasalin ipar tua (jika ada), 3 helai untuk isteri dan 3 helai untuk pasalin mertua,
1 buah tempayan Tajo untuk penampak,
1 buah mangkuk pajanji,
4 pangkat nulakng pajadi ( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan ), setiap pangkat ditumpa paha ayam.
7.Sangkolatn:
1)1 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
2)1 bilah pisau,
3)1 ekor ayam,
4)1 buah tempayan tuak
8.Pajadi Mantir
Dalam perkawinan yang disebut pajadi Mantir dengan adat sebagai berikut:
â–ª4 ekor ayam ( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan),
▪16 poku buat ba’agah,
â–ª4 buah tempayan tuak( 2 dari laki-laki dan 2 dari perempuan),
â–ª2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
â–ª2 helai kaitn pasalin.
9. Bajadi Banyak (Perkawinan Orang Banyak)
Adat perkawinan orang banyak, sebagai berikut:
Pihak laki-laki:
â–ª4 buah tempayan tuak,
â–ª3 ekor ayam,
â–ª1 ekor babi,
â–ª2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam. Minta Suruhun narik runtut ba adat bahukupm, pasalitnronatn buntat, dengan dengan :
â–ª8 Lasa adat Pasalitn,
â–ª8 Poku mangkuk adat palokak golakng,
â–ª1 buah tempayan Tajo roga tubuh,
▪8 poku buat paloka’ golakng,
â–ª16 poku buat penait.
Pihak Perempuan:
â–ª4 buah tempayan tuak,
â–ª2 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
â–ª4 ekor ayam,
â–ª1 buah tuak untuk meletak perjanjian. Adat untuk membunyikan gamal harus ada:
â–ª1 ekor ayam,
â–ªtopokng tawar sekadarnya.
Adat ini digunakan untuk nyangkolatn ogokng gamal, golak pocah bolah. Nulakng sapangkat, untuk ngangkat sutaragi milik orang penari memeriahkan pesta perkawinan. Adat Sangkolatn:
â–ª1 buah tuak,
â–ª1 ekor ayam,
â–ª1 bilah pisau,
â–ª1 pangkat nulakng ditumpa paha ayam,
â–ª1 buah cawatn darah ayam diisi daun sirih dan beras,
▪Susu’ sangkolatn cincin permata,
â–ªMangkuk perjanji di isi beras.
Setelah adatnya disiapkan barulah tukakng perjanji mengucapkan perjanji “Sidak bujakng - dara bajadi basuntukngâ€.
Adat Perkawinan Ditunda (Burukng bangke)
Perkawinan ditunda karena ada kematian seseorang dari salah satu dari pihak keluarga:
1.Babiso bahibu yang disebut madapm burukng,
2.1 buah tempayatn tuak,
3.1 ekor ayam,
4.16 buat rante.
HUBUNGAN PERKAWINAN MENURUT ADAT:
1.Saudara tidak boleh kawin dengan anak saudaranya dan sepupu sumbakng duata, jika terjadi hukumannya lantikng pisakng bubu laras artinya kedua mempelai diikat pada lantikng batakng pisakng lalu dihanyutkan ke Sunge.
2.Anak saudara laki-laki boleh kawin dengan anak saudara laki-laki( misalnya Dua orang bersaudara A dan B sama laki-laki. Kemudian A kawin mendapat anak laki-laki diberi nama G dan demikian juga B kawin mendapat anak perempuan diberi nama H, maka G boleh kawin dengan H).
3.Anak saudari perempuan boleh kawin dengan anak saudari perempuannya( misalnya Dua orang bersaudara C dan D sama laki-laki. Kemudian C kawin mendapat anak laki-laki diberi nama F dan demikian juga D kawin mendapat anak perempuan diberi nama L, maka F boleh kawin dengan L).
4.Anak saudara laki-laki tidak boleh kawin dengan anak saudara perempuan, jika terjadi harus babale topas laman.
HUBUNGAN PERKAWINAN MENURUT GEREJA:
1.Anak dengan anak (saudara kandung) tidak boleh kawin,
Sepupu pertama tidak boleh,
2.Anak saudara tidak boleh,
3.Sepupu 2 x boleh kawin tetapi bersyarat,
4.Cucu dengan Iyut boleh kawin tetapi bersyarat,
5.Cucu dengan Cicit boleh kawin tetapi bersyarat,
6.Cucu dengan buyut boleh kawin tetapi bersyarat,
Hubungan garis lurus( horizontal dan vertical) tidak boleh kawin.
b.ADAT KELAHIRAN
1. Adat Kehamilan ( Makatn Ansapm)
Adat makatn Ansapm adalah:
â—2 buah tempayan tuak( I untuk perjanjian dan I untuk sangkolatn),
â—2 ekor ayam,
â—1 buah piring tempat ansapm,
â—1 bilah parang,
â—8 poku buat samatu ansapm.
Apabila hamil sebelum nikah, maka dikenai hokum adat (lihat di bab
hukum adat).
2. Adat Melahirkan (Mahagar) Adat mahagar adalah:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam.
3. Adat Memberi Nama Bayi (adat muyas)
Adat muyas atau memberi nama bayi adalah:
a. Adat Muyas biasa:
- 2 buah tempayan tuak,
- 2 ekor ayam,
- 16 buat,
- 1 kabukng kaitn,
- 1 bilah parang,
- 1 pangkat nulakng ditumpa 1 buah paha ayam.
b. Adat Muyas Sangkulakng Tali maupun Turutn tangga:
- 2 buat tempayan tuak,
- 2 ekor ayam,
- 1 ekor babi,
- 16 buat,
- 1 kabukng kaitn,
- 1 bilah parang,
- 1 pangkat nulakng ditumpa 1 buah paha babi, 1 buah paha ayam.
ADAT PENGANGKATAN ANAK
Adat Pengtangkatan Anak
1. Pengangkatan anak kecil:
â—1 buah tempayan tuak,
â—1 ekor ayam,
â—16 buat,
â—1 pangkat nulakng,
â—1 helai kaitn,
2. Pengangkatan orang dewasa:
â—1 buah tempayan tuak,
â—1 ekor ayam,
â—16 buat,
â—1 pangkat buat nulakng,
â—1 buah tempayatn atau 4 ingkeq pingatn.
3. Bolitn Kampukng/Porut Ngamiq Uyud Bolitn porut ngamiq uyud pada waktu muyas nyurukng adatnya:
â—1 buah tuak,
â—1 ekor ayam,
â—1 ekor babi,
â—buat selawi.
Maksud dan tujuan pengangkatan anak sesuai dengan tingkatannya adalah:
â—membuat hubungan keluarga, karena anak tersebut sering sakit-sakitan, maka ada mimpi menunjukkan orang tua angkatnya ( lewat sendiri atau orang lain),
â—karena anak tersebut sudah tidak punya orang tua,
â—orang tua yang mengangkatnya tidak punya anak,
â—karena tertarik akan harta kekayaan atau pangkat dari sang anak angkat tersebut,
â—karena anaknya sendiri meninggal dunia, maka mertua mengangkat menantu untuk mengganti anaknya atau sebagai ganti silih,
â—mengangkat anak orang lain sebagai ganti silih karena salah satu anaknya meninggal dunia,
â—karena orang tua angkat memiliki suatu kelebihan( harta dsb).
ADAT BASUNAT
Adat Sunat Batapas Mansak yang biasa dilakukan sebagai berikut:
â—babiso bahibu,
â—1 ekor ayam,
â—2 buah tempayan tuak(sabuah pangonak sopit,
â—kaitn sakabukng untuk tungko bajalatn,
â—1 buah lunyu untuk tungkat bajalatn,
â—1 buah hapangkng/ mando untuk ditangkitn bajalan,
â—buat 16 (rante),
â—1 pangkat nulakng.
Kalau sopit sudah lepas dari kemalu untuk pamangkas cile adatnya sebagai berikut:
â—1 ekor ayam,
â—1 buah tempayan tuak,
â—buat 16 (rante).
Bagi pihak yang mau disunat harus di sangkolatn dengan darah ayam sebelum disunat.
ADAT PERCERAIAN
Adat Perceraian Karena Habis Jodoh karoma, sebagai berikut:
- 1 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam,
- 2 x 16 atau buat selawi.
Bagi pihak yang membawa cerai tidak mendapat bagian harta kekayaan.
ADAT KEMATIAN
Bila orang yang meninggal dunia adalah orang dewasa setelah ia narik nafas terakhir, maka orang melihat harus membunyikan ketawak tanda pemutus nyawa sebanyak 3 kali, pukulan yang ke tiga agak lamban, selanjutnya badannya harus dibersihkan lalu diberi pakaian (celana, baju dan sebagainya yang rapi) dan kemudian pengurus adat bapomang (membaca mantra) atau babait-bajahat baru dilanjutkan dengan menguraikan silsilah/tintikng purih mulai dari kakek-nenek, bapak-ibu sampai pada orang yang meninggal dunia tadi; untuk itu keluarga yang berduka mengeluarkan adat sebuah pingatn, mangkuk dan sebilah parang yang dinamakan adat Pangarangatn.
Pada waktu menguraikan silsilah yang akhirnya menyebutkan nama orang yang meninggal dunia, maka adat tadi dipecahkan dengan parang tadi dan jenazah diangkatkan ketengah rumah, diletakkan membujur tulang bubukng, besi adat tadi diletak membujur tulang belakang jenazah, kepala menuju ke dapur dan kaki menuju ke pintu depan baru badan disaput balut, wajah tidak ditutup, mata ditutupi dengan uang logam rupiah/suku, mulut ditutup dengan uang ringgit.
Kalau meninggal dunia sore hari atau malam, maka penguburannya harus hari besoknya, membuat pamonut pakai rotan 5 atau 7; 5 artinya juaratn 5 hari dan tujuh artinya juaratn 7 hari(juaratn artinya pantangan), pameo lalat 5 atau 7 helai lalu digantungkan di atas dada – kaki jenazah lalu diikatkan ke lantai yang artinya kalau 5 helai bantang juaratnnya 5 hari atau 7 helai= pamonut bilak buluh dan kapuak, membuat yang membuat papote adalah perempuan tua yang sudah tidak beranak lagi atau sudah janda. Setelah bantang juaratnnya 7 hari baru dilanjutkan dengan musyawarah-mufakat mengenai upacara penguburan(pahapm pokat dakarintu, batipak balabuh) kalau berbukung 5, maka disediakan 15 helai kaitn panjang dan tuak lauknya.
Adat penguburan seekor babi dan seekor ayam untuk menyengkolatn kayu yang dipakai untuk lancankng/petimati sebuah tempayan tuak dan se ekor ayam untuk papote, 2 buah tempayan tuak untuk parantu(penguburan) untuk , tiga buah tempayan tuak dan se ekor ayam untuk parapat, empat buah tuak untuk cukaak. Jadi Penguburan biasa adatnya 4 buah tempayan tuak, se ekor babi dan 3 ekor ayam. Kalau orang yang meninggal dunia sore hari atai malam keluarga duka harus mengeluarkan sebuah tuak dan nasi pulut yang disebut rompah dan kakocok.
Adat menggali lubang kuburan:
Seekor Kuduk (anjing) untuk pengiring jalan, seekor ayam, rompah secukupnya dan parang sebilah. Apabila sudah menggali lubang barulah ada orang yang diutuskan ke rumah dengan membawa kayu jenis buah untuk memikul jenazah(tampiur).
Turun ke kuburan:
bagian Kaki poti, ada ayam pengobat kaki,
- Kepala rante, tali donatan,
- Rotan sekaratn di pucuk lancakng, semua keluarga duka memegang bujuk rotan, rotan dipotong baru lancang diberangkatkan yang artinya dipisahkan antara orang yang masih hidup dengan orang yan meninggal dunia. Ditanah ada ruas nasi namanya nasi palopas, dimasak ditengah haLaman rumah disilakngkan; orang yang masak nasi adalah orang yang membuat papote . lalu lancakng tadi berkeliling 3, 5 atau 7 kali lalu semua keluarga duka harus melewati bawah lancakng tadi, setiap putaran harus sekali melewatinya dan pada putaran terakhir orang mengangkat kaki, mancokng nasi palopas. Beras ditaburkan ke jalan baru kaki berjalan dan setelah jenazah ditimbun lalu umpan pemakan diletakkan dengan memanggil nama orang yang meninggal tadi disuruh makan, majuh, mampal baru basalobar menyuruh orang yang melayat ngaung ngunsi ke rumah untuk makan.
Upacara adat di rumah
Setelah makan, mengeluar tiga buah tempayan tuak, yaitu: sebuah tempayan tuak untuk babiso, sebuah tempayan tuak untuk cuka, sebuah tempayan tuak untuk jora, seekor ayam untuk babiso, mangkuk boras komakng minyak boli(mangkuk tanah) sebuah diisi beras, kase entomu(lawak), sebakuk , tongang sekobat dan nulakng sepangkat. Sangkolatn jora pakai kutikng baliukng, cincin sebentuk, ngobat tongang tali nyawa. Bercerita antar keluarga tentang orang sakit sampai meninggal dunia.
Memindahkan Kuburan/ Pase Lamat:
a. Adat Pembukaan:
â—2 buah tempayatn tuak,
â—2 ekor ayam,
â—1 ekor babi,
â—2 x 16 buat rante,
â—topukng + pulut secukupnya,
â—50 kg beras biasa,
b. Adat Kelapatan Kampukng:
â—2 buah tempayatn tuak,
â—2 ekor ayam,
â—1 ekor babi,
â—3 x 16 buat rante,
â—8 ingkeq piring putih,
â—1 buah tempayatn tajo.
c. Adat Penggalian Pase Lamat:
â—1 buah tempayatn tuak,
â—2 ekor ayam,
â—1 ekor Kuduk.
d. Adat Panudukng Baro bahut kampokng laman:
â—5 buah tempayatn tuak,
â—4 ekor ayam,
â—1 ekor Kuduk,
â—16 buat rante,
â—4 ingkeq piring putih,
â—1 buah tempayatn,
â—1 kabukng kaitn,
â—1 buah golakng baliukng,
â—1 bilah piso raut
e. Adat menggalikan Lubang Pase Baru:
â—2 buah tempayatn tuak,
â—1 ekor ayam,
â—1 ekor babi,
â—3 x 16 buat rante,
â—12 ingkeq piring putih,
â—1 buah tempayatn tajo.
Proses penyandukngan (sandukng) dari pembakaran samaroga 7 :
7 ekor burung pipit, jawa, nyoli, karibakng, kacakng, pulut hitam, telur masak, mantak, gorekng, kumpakng - pali, tatabar – manis, paku tobakng, sagulakng, tukas, tingkas, morikng, bombatn, katimbakng raya.
PELANGGARAN HUKUM ADAT
1.Hukum Adat Kampakng Pinang
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang sudah tunangan tidak boleh berhubungan intim sebelum dilangsungkan perkawinan dan bila sebelum perkawinan sudah hamil, maka kedua calon mempelai disebut Kampakng pinang,maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
a) pihak laki-laki: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 1
ekor ayam dan 1 ekor babi,
b) pihak perempuan: hukum adat selawi, 2 buah tempayan tuak, 2 ekor ayam. dan kalau ditomar orang lain, maka sebuahtempayan untuk adat penomar.
2. Hukum Adat Seorang suami Beristeri Dua
Apabila seorang laki-laki kawin dua orang isteri, maka dia dikenai hukuman/sanksi sebagai berikut:
2.7 Lasa buat dari pingatn dan buat ini dibagikan ke para pemuka Laman,
3.8 buah tempayan tuak, yaitu: 3 buah tempayan tuak untuk penyabukng maduk dan 5 buah tempayan tuak untuk kawin,
4.3 ekor ayam,
5.3 ekor babi (1 ekor babi untuk penyabukng maduk, 1 ekor babi untuk kawin dan 1 ekor babi untuk penyaman hati orang banyak,
6.7 buah tempayan Tajo, yaitu: 1 buah untuk pamampuh, 1 buah untuk panyabukng maduk, - 2 buah untuk Laman Mimukng (dusun I dan II),1 buah untuk Laman Sapangakng, 1 buah untuk Laman Sangkuakng, dan 1 buah untuk Laman marangin.
3. Hukum Adat Dusa Mala/ Dusa Sama balaakng (suami orang berselingkuk dengan isteri orang lain)
Apabila terjadi perselingkuhan antara suami orang berselingkuk dengan isteri orang lain maka dikenai hukum adat sebagai berikut:
a. Dusamala Suami Orang:
â—3 x selawi dari pihak laki-laki,
â—3 buah tempayan tuak,
â—12 singkar pingatn putih,
â—3 ekor ayam,
â—1 ekor babi.
b. Danda padusa
â—1buah tempayan tajo,
â—buat ranre selawi,
â—8 singkar pingatn,
â—1 buah tempayan tuak,
â—1 ekor ayam,
â—1 ekor babi,
c. Dusamala Istri Orang:
â—buat 3 x selawi dari perempuan,
â—3 buah tempayan tuak,
â—12 singkar pingatn putih,
â—3 ekor ayam,
â—1 ekor babi,
â—1 buah tempayan tajo penyaman hati,
â—8 singkar pingatn putih.
4. Hukum Adat Karangkat (kalau suami orang mengambil isteri orang lain).
Suami dibuang Isteri:
â—1 buah tempayan Tuak baniang,
â—5 ronti babi,
â—1 buah talapm,
â—buat Selawi,
â—1 buah talapm bakaki, kalau dari suami mempertahankan isteri
â—3 buah tempayan tuak,
â—3 ekor ayam,
â—3 ronti babi( kurang ditambah ayam), hukum adat
Karangkatnya (langsung kawin)
â—1 buah tempayan Tajo,
â—1 buah Ketawak,
â—1 potong rante,
â—1 buah katawak
â—1 kupukng rante (buntutnya untuk orang banyak),
â—12 Lasa.
Hukum adat ini di luar adat perkawinan.
5. Hukum Adat Kampakng
a. Hukum Adat Kampakng Tidak kawin
Seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan suami- istri melakukan hubungan intim hingga akibatnya si perempuan tadi hamil, maka kedua pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
1) Pihak laki-laki, dikenai hukum adat:
- 3 Lasa,
- 2 buah tempayan tuak,
- 1 ekor ayam,
- 1 ekor babi,
2) Pihak perempuan:
- hukum adat 3 Lasa,
- 2 buah tempayan tuak,
- 2 ekor ayam,
- 10 poku buat pocah, untuk pelobur bintang petahutn rakyat banyak yang biasa dinamakan bintang petahutn adalah “Bakul kamut lawakng hidup†dibagi kesemua rakyat banyak. Hukum Adat tersebut di atas kalau pihak perempuan menyerahkan diri untuk di hukum adatkan tuha banyak, tetapi jika dipomarkan orang lain maka ditambah lagi sebuah tempayan untuk adat pemomar kampakng.
b. Hukum Adat Kampakng Langsung Kawin
1.Pihak laki-laki.
Pihak Laki – laki dikenai hukum adat 8 lasa atau 8 helei kain batik panjang untuk pasalitn (untuk mempelai perempuan 3 helai, orang tua perempuan 3 helai, saudara tertua/tua dari mempelai perempuan 1 helai dan untuk kakek/nenek 1 hilai) untuk pasalitn, Buat rante (rante perak/tembaga) 1 kali slawi sekali 16 (poku) = 48 poku mangkuk adat, Penait 16 poku, Buat pocah 10 poku(dapat diganti ½ lusin mangkuk porselin), 1 buah Tempayan Tajo (tuha/antik) untuk roga/harga tubuh, 8 poku untuk Paloka golakng, Nulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras), 4 buah tempayan tuak(diganti tuak air), 3 buah piring putih untuk adat perjanji, 2 ekor babi @ 25 – 30 kg ( 1 ekor babi kampakng dan 1 ekor babi kampung), Cucuk Somat (lemak dan daging babi dipotong dibuat seperti sate lalu diletakkan diatas nulakng untuk buis, 8 kaki/tangan (tunyikng), kepala dibelah dua, kangkapm babi + kaki, sayap dan kepala ayam), 1 buah piring, 1 buah mangkuk, 1 tukuk garam, sebilah bosi, luncu/lunju sebatakng tikar dan bantal serta selimut(tikar dan selimut diganti dengan seperangkat tempat tidur).
2.Pihak Perempuan:
â–ªBuat rante 1 x slawi, sekali 16 poku = 48 poku,
â–ª4 buah tempayan tuak(diganti tuak air),
â–ª4 ekor ayam,
â–ªNulakng 4 pangkat(8 buah piring berisi beras),
▪Buat pocah 10 poku atau ½ lusin mangkuk porselin.
6. Hukum Adat Perkawinan Sumbakng
Perkawinan Sumbang kapat/ Sumakng Ponuh Apabila ada perkawinan sumbangk kapat( saudara kakek, saudara nenek, saudara bapak atau saudara ibu kawin dengan cucu atau keponakan, walaupun kedua mempelai sama-sama bujang -dara) sebenarnya tidak boleh jadi sama sekali, karena masalah itu tidak dapat di cegah, maka satu-satu jalan keluarnya adalah para pihak yang bersangkutan dikenai hukuman adat, sebagai berikut:
1) Hukum adat dari pihak mempelai laki-laki :
- 4 ekor babi,
- 3 x 16 ditambah 10 poku,
2) Hukum adat dari pihak mempelai perempuan:
- 3 ekor babi,
- 3 x 16 ditambah 10 poku.
Ada bale/balai di tanah (darat) dan bale/balai di air. Babi dipotong ditempara lalu kedua calon mempelai mandi darah babi sambil turun ke Sunge dan setelah sampai di Sunge harus mandi darah babi yang dipotong diatas bale disertai dengan tato yang disampaikan oleh mantir laman dengan bunyi sebagai berikut: “Sambut ria rokakng patih majo (tabutn naga) IYANG kampaakng sumakng ge nyamut juluk rasilopas luput dari malapetaka nyak, golak rasa kami cadak ba adat bajalatn, balome pantiti, jadi ini samut darah babi inin( kedua mempelai sedang mandi darah babi di sebelah hilir bale tempat orang motong babi). Kemudian pengantin pulang kerumah ganti pakaian lalu duduk lagi di tempat yang sudah disediakan dan selanjutnya pengantin di diburu seperti muru ( ngusir) disertai dengan kata-kata†hai babi, kucikng, kuduk turutn makatn ke balangku’ ditanah nanâ€. Keddua mempelai harus turun makan masidan sayur yang sudah disediakan didalam belangku’ babi yang dialas dengan daun pisang mas. Acara selanjutnya pengantin mengadakan ucapara pembuangan sial kawin sumbang, dengan mengambil sembilu bambu botukng (yang memang sudah disediakan) lalu disayat/didedelkan(hanya persyaratan) ke buku lalik dengan disertai tato: ‘han, keluar darah nin kaluar gak sumakng pamali, jadi cak mali ak kami jadiâ€.
7. Adat Pajadi ( Adat Kawin) :
- 9 Lasa ( dengan buat),
- 9 poku (dengan mangkuk),
- 9 buah tempayan tuak,
- 9 ekor manuk,
- 4 ekor babi (babi pajadi, babi panyumakng, babi topas
laman, babi caboh aik).
Setelah Cabuh air barulah orang menguraikan silsilah adat sumbang (patintikng kan summakng). Mulai dari kora pandai berkata.Taramunang taramuning menjadi orang yang mendongen kannya (nsangannya) sakaratn, setelah itu mendongengkan(nsangan) lagi duakaratnnya dongeng (nsangan) dahalatn.
Persyaratan bagi kedua mempelai kawin sumbang kapat, bahwa setelah kawin setiap tahun harus mengadakan “topas laman†berturut-turut selama tiga tahun dengan hukum adat, sebagai berikut:
â–ªhukum adat selawi,
â–ªsebuah tempayan tajo untuk kepala adat,
â–ªsebuah tempayan Baniang berisi tuak,
â–ªseekor babi.
8. Hukum Adat Sumakng Anak Sanak Tuha adalah :
â–ªbuah Tempayan Tajo untuk Kepalanya (dari laki-laki),
â–ª1 buah Talapm Buntunya Talapm (dari perempuan)
â–ª12 Lasa ( dengan buat), 12 poku (dengan mangkuk),
â–ª3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air),
â–ª1 ruas nasi,
â–ª6 ekor ayam(1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
â–ª6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),
â–ª8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4 sumakng),
â–ªBabuakng batibar,
â–ªTintikng sumakng nya dan tujuh karatn nsangan nyan.Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan (bajadi).
9. Hukum Adat Bajadi Anak Sanak Inik
â—1 buah Tempayan Beniang untuk Kepalanya.
â—1 buah Tempayan Manuuh/ Tapsi.
â—7 Lasa (dengan buat), 7 poku (dengan mangkuk)
â—3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air),
â—1 ruas nasi,
â—6 ekor ayam (1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
â—6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),
â—8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4 sumakng),
â—Babuakng batibar,
â—Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya tujuh karatn Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan.
10. Hukum Adat Anak Sanak Iyang :
Terhadap pelanggaran adat perkawinan, maka bagi mereka yang melakukan perkawinan anak sanak IYANG dikenai hukuman adat sebagai berikut:
â—1 buah Tempayan Kampar Kepalanya,
â—4 buah piring untuk Buntutnya
â—5 Lasa(dengan buat), 5 poku (dengan mangkuk),
â—3 ekor babi ( babi pamali, panyumakng dan babi cabuh air),
â—1 ruas nasi,
â—6 ekor ayam (1 baagah, 1 pamutak bale, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji)
â—6 buah tempayan tuak (1 baagah, 1 pamutak baler, 2 cabuh air, 1 sangkolatn, 1 pajanji),
â—8 pangkat nulakng (1 pamutak bale tumpa hati engkalak manuk , 3 cabuh air, 4 sumakng),
â—Babuakng batibar,
â—Tintikng sumakng nya dan Nsangan nya lima karatn
Biaya yang dimuatkan disini tidak termasuk biaya perkawinan (bajadi).
11. Hukum Adat Berzinah (Badusa besar)
Berzinah (Badusa besar), maka ada istilah adat: “Ha Dusanya Bosar Donaa Malakng Kopih Kobo Damanyanâ€. Hukum Adatnya sebagai berikut:
â—10 buah tempayan tuak,
â—10 ekor ayam,
â—2 ekor babi,
â—2 buah tempayan Tajo,
Mengenai hukum adat Sakoti Lima Donaa Malakng kopih kobo soyakng.
Sakoti lima, hukum adatnya:
â—3X 16 Lasa ( masing-masing dibayar dengan rante)
â—5 X selawi ( dengan mangkuk/pingatn).
Sedangkan donaa malakng kopih kobo jatuk ka donaa malakng. Hukum Badusa dengan sanak inik
Donaa malakng cuma sakali saja Berzinah (badusan) dengan isteri orang lain, maka hukum adatnya:
â—2 buah tempayan Tajo(1 dari laki-laki dan 1 dari
perempuan).
â—6 X selawi ( dengan buat),
â—40 singkar pingatn putih,
â—6 buah tempayan tuak( 3 dari isteri orang dan 3 dari
laki-laki),
â—6 ekor ayam ( 3 dari isteri orang dan 3 dari laki-laki)
â—2 ekor babi
Hukum Adat Nyumakng:
â—1 buah tempayan Tajo,
â—1 ekor babi,
â—1 ekor ayam, dan 8 singkar pingant putih
HUKUM ADAT MELANGGAR TATA KRAMA
1. Hukum Adat Siku-Siku
Pengertian hukum adat siku-siku adalah merupakan hukuman/sanksi yang dijatuhkan kepada seorang laki-laki yang dengan sengaja berjalan bersama isteri orang tanpa diketahui suaminya atau memberi sesuatu pada isteri orang lain tanpa diketahui suaminya, tetapi yang sebenarnya tidak berbuat sesuatu(hubungan intim), maka pihak laki-laki dikenai hukum adat sebagai berikut:
1 buah Tuak,
1 ekor ayam,
16 poku mangkuk adat untuk siku-siku.
2. Hukum Adat Kecukuhan
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan adalah adat yang dikenakan kepada orang yang punya ladang apabila setelah membakar ladangnya sampai selesai panen padi ada diantara keluarganya sendiri yang meninggal dunia atau bisa jadi kalau orang yang berladang minjam tanah milik orang dan setelah ia membakar ladang sampai selesai panen padi diantara pihak keluarga orang yang punya tanah meninggal dunia, maka orang yang minjam tanah untuk berladang tadi harus dikenai hukum adat.
a. Hukum Adat Kecukuhan Dabu
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dabu adalah orang yang meninggal dunia sebelum pihak keluarganya membuka jurung (Lumbung Padi), sedangkan adatnya cukup mengambil darah ayam lalu disangkolan palit.
1.Hukum Adat Kecukuhan Dalapm
Yang dimaksud dengan adat kecukuhan dalapm adalah orang yang meninggal pada waktu musim padi mulai menguning, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Orang meninggal sebelum malit bangala, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
a.buat rantai 1 x 16,
b.satu buah tempayan tuak,
c.nulakng satu pangkat,
d. ayam satu ekor untuk babiso bahibu.
Kalau ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat
3. Hukum Adat Karobahan
Yang dimaksud dengan adat Karobahan adalah orang yang meninggal pada waktu musim menebang ladang, maka pihak keluarganya harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1x selawi atau 2x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Tetapi kalau di ladang orang lain; kalau hanya cacat/luka bakal cukup mengeluarkan mangkuk boras komakng.
4. Hukum Adat Kajomuran
Yang dimaksud dengan adat kajomuran adalah orang yang meninggal pada waktu musim arak roba, maka pihak keluarganya harus dikenai hokum adat:
- buat rantai 4 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
5. Hukum Adat Titi Buah
Yang dimaksud dengan adat titi buah adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu, sedangkan tenaman tersebut sudah berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng ditumpa paha ayam + paha babi,
- satu ekor babi,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
6. Hukum Adat Cucuk Panggang
Yang dimaksud dengan adat cucuk panggang adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut masih kecil yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
Buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16 dan ditanah 1 x 16, satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng, satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
7. Hukum Adat Gantukng jala
Yang dimaksud dengan hukum adat gantukng jala adalah apabila ada orang yang membakar ladangnya lalu api tadi menjalar/merambat ke kebun-tanam orang lain dan tanaman itu layu. Dalam keadaan tanaman tersebut tak berbuah yang terdiri dari banyak jenis, maka pihak yang bersangkutan harus dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi, yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak, satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tsb di atas.
8. Hukum Adat Tapak Bosi
Apabila ada orang menebang pohon buah milik orang lain yang sudah berbuah dan bila ditebang untuk ladang, maka orang yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 2 x 16/ selawi,, ( adat tapak bosi),
- satu buah tempayan tuak, dua pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
Kalau sengaja ditebas/ditebang ada hukum adat tapak bosi, maka yang bersangkutan dikenai hukum adat 2 x lipat dari hukum tersebut di atas, Apabila ada orang membuat ladang, sedangkan ditengah ladangnya terdapat pohon buah milik orang lain lalu pohon ituditebang atau dibiarkan panta minta izin pada pemiliknya, pada waktu membakar ladang pohon tadi layu atau mati, maka pihak yang bersangkutan dikenai hukum adat:
- buat rantai 1 x selawi,
- yang biasa disebut 2 x 16,
- satu buah tempayan tuak,
- satu pangkat nulakng,
- satu ekor ayam untuk babiso bahibu.
9. Hukum Adat Kampukng Buah(Kebun buah)
Apabila ada orang membakar ladang, apinya menjalar/merambat ke kampukng buah daunnya layu lalu gugur. Kampukng yang sebenarnya jauh dari ladang, maka pihak yang bersangkutan dikenai:
- hukum adat rantai 1 x 8 poku,
- satu buah tempayan tuak,
- dua pangkat nulakng,
- ayam satu ekor untuk babiso bahibu.
10. Hukum Adat Mencuri Manjat Buah Orang lain:
Kalau orang yang bersangkutan menyerahkan diri, hukum adatnya: Sikuk Sigik. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah ikut tetangga, hukumnya : Saekuk Saegik, buah dibagi. Kalau orang yang mencuri manjat, pantuh, juluk buah milik orang lain dituntut pemiliknya, hukum adatnya:
â—3 x Selawi,
â—12 buah piring,
â—1 ekor babi,
â—2 ekor ayam
â—2 buah tempayan tuak, buah diganti/dibayar.
11.Hukum Adat Pati
a. Hukum Adat Pati Baniang Penuh (Membunuh Orang Lain
Dengan Sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain dengan sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang penuh dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
â—Hukum adat beniang 3 x Selawi,
â—Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
â—Ikuk adat sebuah Talapm,
â—3 ekor babi,
â—10 ekor ayam,
â—12 buah tempayan tuak,
â—Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
â—Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
â—Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
â—Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
â—24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
â—Seutas jala, untuk mengganti rambut,
â—Dua buah talapm, untuk mengganti telinga,
â—Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
â—Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
â—Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
â—20 saingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
â—Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
â—Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
â—Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
â—Sebuah tepak tembaga, untuk mengganti emaluan betinak/perempuan
â—6 pangkat nulakng atau 3x 2 pangkat nulakng,
â—Semua biaya kematian hingga nanam bangka ditanggung pihak pembunuh.
b.Hukum Adat Pati Baniang Setengah (membunuh orang lain tidak sengaja)
Apabila seseorang atau beberapa orang menghilangkan jiwa orang lain dengan tidak sengaja, maka mereka dikenai hukum adat pati baniang tetengah dan ganti anggota badan, sebagai berikut:
1.Hukum adat beniang 1 1/2 x Selawi,
2.Kepala adat sebuah Tempayan tajo,
3.Ikuk adat sebuah Talapm
4.2 ekor babi,
5.5 ekor ayam,
6.6 buah tempayan tuak,
7.Sebuah ketawak, untuk mengganti suara,
8.Sebuah Tempayan Tajo, untuk mengganti tubuh/badan,
9.Satu bungkal suasa/tembaga(bulat), untuk mengganti mata,
10.Sebilah Podakng/pedang, untuk mengganti lidah,
11.24 saingkek piring putih, untuk mengganti gigi,
12.Seutas jala, untuk mengganti rambut,
13.buah talapm, untuk mengganti telinga,
14.Sekayuk kaitn merah, untuk mengganti darah,
15.Sekayuk kaitn putih, untuk mengganti kulit,
16.Kawat selingkar punggung, untuk mengganti urat,
17.20 ingkek piring, untuk mengganti siluk/kuku,
18.Sekayuk waja, untuk mengganti tulang,
19.Sekupukng rantai, untuk mengganti karatn porut/usus,
20.Sebatang tombak, untuk mengganti kemaluan laki-laki,
21.Sebuah popak tembaga, untuk mengganti kemaluan betinak/perempuan,
22.Biaya kematian hingga nanam bangka separah daru sipembunuh.
|