Pada zaman dahulu, ketika masyarakat belum beragama, maka mereka melakukan pemujaan kepada penguasa alam menggunakan berbagai cara. Untuk melakukan pemujaan mereka membuat sebuah rumah adat yang didirikan pada sebuah tiang (tiang tunggal), Rumah adat itu mereka namakan SEGENTU. Pada Segentu itulah mereka melakukan upacara-upacara adat pada peristiwa-peristiwa tertentu. Setiap kali mereka berpindah pemukiman, mereka pun mendirikan Segentu di tengah pemukiman, di sekitar maupun di luar pemukiman.
Dari sekian banyak mereka mendirikan Segentu, mungkin ada sebuah Segentu yang cukup kuat dan tahan lama, maka tempat mendirikan Segentu itu dinamakan juga Segentu, akhirnya pemukiman di sekitar Rumah adat itu juga dinamakan Segentu. Karena pengaruh bahasa (biasanya bahasa Melayu) maka penyebutan SEGENTU berubah menjadi SENGANTU. Karena letaknya dekat dengan sungai maka nama Segentu pun berubah menjadi SUNGAI ANTU
|