Masyarakat Adat Suku Kalis merupakan orang-orang dari rumpun Suku Dayak yang pada mulanya dikenal sebagai “Suku Ruk†itu bermukim di hulu Sungai Kapuas (sekitar Nanga Balang, Putussibau Selatan saat ini) dan mencari makan dengan cara menangkap ikan di sungai dengan bubu, berladang padi dengan sistem gilir balik, berburu dan menjerat hewan di hutan. Dalam perkembangannya, orang-orang Suku Ruk itu mendirikan Sao (Rumah Betang) sebagaimana Suku Dayak pada umumnya. Mereka juga mengenal stratifikasi sosial di antara mereka yang berjumlah tiga yakni: Semagat Tuu yang berisikan Orang Kalis Asli dan/atau dari kalangan bangsawan, Semagat Pabiring adalah mereka yang berdarah Kalis campuran tetapi sudah mengikuti mekanisme tertentu, dan Semagat Raa adalah orang Kalis campuran.
Pada saat itu, terjadi dinamika antar suku-suku di hulu Sungai Kapuas. Mereka kemudian berpindah dengan mengikuti aliran ke arah hilir sungai hingga ke lokasi yang saat ini disebut dengan Lunsa yang kemudian berlanjut sampai ke Danau Ketutug yang berlokasi di antara Sungai Kapuas dan Sungai Manday. Mereka mendirikan Sao di tengah-tengah Danau Ketutug yang juga dekat dengan lokasi Danau Buak, di Kecamatan Bika saat ini.
Pasca Sao di Danau Ketutug terbakar akibat serangan musuh, para leluhur Suku Ruk saat itu berpindah ke hulu Batang Sungai Manday hingga bermukim di Segiam. Pemukiman Suku Ruk di Segiam berkembang di bawah enam orang pimpinan suku yakni Apu’ Arang Dano, Apu’ Iman Paninting, Apu’ Iman Ponyang, Apu’ Dakun Bulu Kara’ dan Apu’ Dakun Kasa’. Pada saat di Segiam, terjadi serangan oleh Bala Luju yang datang berduyun-duyun menggunakan perahu. Orang-orang Segiam saat itu berstrategi menghadapi mereka satu persatu secara bergiliran. Oleh karena kalah jumlah, orang-orang Segiam kalah dan melarikan diri dari kampungnya. Dua pimpinan kampung saat itu melarikan diri ke dua arah yaitu Apu’ Dakun Bulu Kara yang lari ke Hulu Taman Sungai Ikan Tapah (anak Sungai Segiam) dan berdiam di Bukit Begantung. Mereka kini diyakini sebagai “Orang Tapuk†yaitu orang yang hilang tetapi diyakini masih hidup di alamnya. Adapula Apo’ Suada yang melarikan diri ke Kerangas Lokon Pandi’.
Sementara itu, pasukan Bala Luju yang menang naik ke dalam Sao orang-orang Ruk untuk menjarah harta benda. Salah satunya adalah kangkuang yaitu sejenis alat musik pukul yang terbuat dari besi. Saat menuruni tangga, kangkuang yang dibawa orang Bala Luju itu tersangkut di ujung tangga dan menghasilkan bunyi nyaring. Bunyi kangkuang itu terdengar hingga ke telinga Ne’ Lagi Siding yaitu pimpinan Suku Urun Da’an dari Nanga Dan di hulu Sungai Manday. Ia memiliki perjanjian dengan orang-orang Ruk di Segiam untuk saling membantu apabila terjadi serangan dengan penanda pemanggil bantuan yaitu suara kangkuang. Dengan menggunakan sampan dari batang kayu durian dan kayu penyao’ pemberian orang tapuk (tidak tampak), Ne’ Lagi Siding menuju Segiam dengan kecepatan penuh. Sesampainya di Segiam, orang-orang Bala Luju sudah pergi menuju Sungai Kapuas sehingga hanya sedikit saja yang dapat terkejar. Mendapati sudah tidak ada lagi orang-orang Ruk di Segiam, ia kembali ke kampungnya.
Dari Segiam, mereka yang melarikan diri itu kemudian berpindah ke arah hulu Sungai Kalis hingga sampai antara Sungai Torak anak Sungai Kalis di sebelah kiri dan hulu Nanga Sungai Tubuk anak Sungai Kalis di sebelah kanan. Sejak saat itu, leluhur Suku Ruk ini dikenal luas sebagai orang-orang Kalis atau Suku Kalis. Lokasi tempat mereka mendirikan pemukiman itu dikenal dengan sebutan Banua Poten (Pot). Di Banua Poten, orang-orang Kalis mendirikan 6 (enam) Rumah Betang. Masing-masing 3 (tiga) buah sebelah kanan Sungai Kalis dan 3 (tiga) buah sebelah kiri Sungai Kalis. Posisi Rumah Betangnya melintang di atas Sungai Torak. Salah satu rumah panjang ditempat ini posisinya tinggi dari yang lainnya. Ketiga rumah panjang di Nanga Torak ini juga di kenal dengan sebutan Torak Aung Saoen atau Sao Palabiang karena tiang bangunannya lebih besar dan bangunannya lebih tinggi. Rumah Betang itu dipimpin oleh Apu’ Tai’ Nua. Nama Poten sendiri berasal dari kata Pot yang berarti rajin mengingat seluruh warganya sangat rajin memperbaiki rumah mereka jika terdapat kerusakan. Adapun nama-nama pemimpin Dayak Kalis di Banua Poten (Pot) berdasar pada Rumah Betang dan Stratifikasi Sosial:
• Saung Ponanen Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sungai Torak dari kelas Semagat.
• Saung Rando Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sungai Torak dari kelas Pabiring.
• Saung Muring Betang sebelah kanan mudik Sungai Kalis, seberang Sungai Torak dari kelas Ulun.
• Apu’ Dakun Kasa’ Betang Torak Aung Saoen di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis dari kelas Semagat.
• Apu’ Dakun Tandi’ Betang Torak Aung Saoen di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis dari kelas Semagat.
• Apu’ Tai Nua Betang Torak Aung Saoen atau Sao Palabiang di Nanga Torak, sebelah kiri mudik Sungai Kalis dari kelas Semagat.
Pada saat itu, hubungan antar orang-orang Kalis di Nanga Sungai Torak dengan mereka yang berada di seberangnya sangat baik. Tidak diketahui secara pasti berapa lama mereka bermukim di Nanga Sungai Torak, tetapi bekas pemukiman yang ditandai dengan tiang rumah panjang masih dapat dijumpai hingga kini.
Pada saat di Banua Poten, terjadi perkawinan antara gadis Suku Ruk dan jejaka Suku Punan. Dituturkan bahwa pemuda Dayak Punan memperoleh mimpi akan mengawini seorang perempuan dengan tanda rambut belang cokelat, merah, dan hitam hingga berulang tiga kali. Suatu hari saat pergi mengayau bersama rekan-rekannya, ia melihat gadis dengan ciri yang sama persis di tepi sungai. “Ternyata sungguh benarlah mimpi saya†ujarnya sambal kembali ke rombongannya untuk meminta mereka kembali ke kampung. Lalu ia berkata kepada rombongannya “Jika kalian datang untuk niat membunuh, maka kalian akan berhadapan dengan saya. Saya akan tinggal, menetap, dan menikah dengan gadis dari Banua Potan ini.†Pemuda Punan kemudian menanggalkan seluruh peralatan perangnya dan mendatangi sekelompok orang yang sedang berladang lalu menyatakan tujuannya. Ia kemudian dibawa ke kampung dan menyatakan bahwa ia siap menyerahkan dirinya untuk diterima, Bersatu, dan hidup bersama orang-orang Ruk di Banua Poten. Atas dasar niat baik Pemuda Punan dan persetujuan tetua serta orang tua gadis, perkawinan kemudian terjadi di antara keduanya.
Ada pula sekelompok orang-orang Kalis yang membuat pemukiman di Tandung Balawanen, di arah hulu aliran Sungai Kalis yang dipimpin oleh Apu’ Uling. Ia memiliki istri yang bernama Kabang dan dua anak bernama Nyaring dan Dailang. Saat pemukimannya diserang, istri Apu’ Uling menjadi korban. Ia kemudian bersama anak-anaknya dan beberapa warga lain lari menuju Sungai Suruk berdiam di tempat keluarga mereka sementara waktu. Apu’ Uling kemudian memilih berdiam di dalam gua di Bukit Bunung hingga ia meninggal dunia karena jatuh dari jurang. Gua itu kemudian dikenal sebagai Gua Apu’ Uling.
Dari Banua Poten, mereka pindah ke arah timur selatan hingga sampai ke lokasi yang disebut Bukit Sunan dan Bukit Lokan Sagu. Orang-orang Kalis kemudian mendirikan pemukiman di Bukit Sunan di bawah pimpinan Apu’ Sawang dibantu oleh Apu’ Sakat yang berasal dari Bukit Lokun Sagu. Demikian pula Nyaring, anak sulung Apu’ Uling juga mengikuti rombongan tersebut. Adapun pemimpin di Bukit Lokan Sagu bernama Apu’ Undan yang juga seorang balian (shaman) dan juga Apu’ Sakat. Dikisahkan, Apu’ Undan yang seorang manang atau orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan penyembuhan yang dipercaya dari leluhur. Ia ditantang oleh keluarganya untuk menghadirkan buah hutan sangalang dan langaja (diyakini sebagai buah hantu). Keduanya pantang untuk hadir saat seorang manang mengobati orang dan kemudian dilanggarlah pantangan itu. Mewabahlah penyakit yang menyebabkan warga meninggal. Oleh karena itu, Apu’ Undan dituduh sebagai penyebab kematian bagi warganya.
Oleh karena situasi wabah di Bukit Sunan dan Bukit Lokun Sagu. Orang-orang Ruk kemudian berpindah lagi kea rah hilir Sungai Kalis. Pada pemukiman baru ini, salah satu rumah panjang yang terkenal adalah rumah panjang Sao Joloen yang dipimpin oleh Apu’ Nyaring yang letak posisinya saat ini berada di kampung Rantau Kalis. Sejak saat itu, orang-orang Ruk dikenal juga sebagai orang-orang Kalis mengingat merekalah yang mendirikan pemukiman di sepanjang aliran sungai tersebut.
Pada masa bermukim di tepian Sungai Kalis, masih terjadi dinamika mengayau terutama oleh Suku Iban dari Nanga Gat di Sungai Batang Rajang, yang saat ini masuk ke wilayah Serawak, Malaysia. Pimpinan Sao Joloen yang bernama asli Tumbung dikisahkan bermimpi bahwa ia akan terkenal dan dan terdengar nyaring di man-mana. Atas ihwal mimpi itu, ia kemudian diberi gelar Apu’ Nyaring yang kemudian membawa 60 orang bersamanya berangkat membawa pesan perdamaian ke Suku Dayak Iban di Sungai Batang Rajang. Rombongan Suku Dayak Kalis yang membawa tempayan guci/keramik dan tengkorak kepala itu kemudian bertemu dengan pimpinan Suku Dayak Iban bernama Ko’ di sebuah karangan atau pulai pasir kecil di tengah sungai berbatuan. Pertemuan antara kedua pimpinan Dayak itu juga dihadiri oleh suku Dayak lainnya yang menyepakati sebuah kata perdamaian. Apu’ Nyaring menunjukkan ke tempayan guci dan tengkorak itu kemudian mengucap sumpah “Apabila orang Iban menyerang dan membunuh orang kalis, mereka akan habis menjadi tengkorak dan darahnya tersimpan di tempayan guci.†Temenggung Ko’ menyetujuinya kemudian mengutus 60 orang Iban di bawah pimpinan Lingkung Samuri yang juga seorang peramal mimpi untuk melakukan hal yang sama di pemukiman orang Kalis. Setibanya kedua rombongan di Sao Joloen, kedua tokoh itu naik ke rumah Apu’ Nyaring dan bersepakat lagi untuk kemudian mendirikan sebuah tiang besar dan tinggi dari pohon kayu belian sebagai tanda perdamaian kedua suku. Tiang perdamaian itu disebut Patamuan Buno’ yang terdapat lubang di dalamnya dan dimasukkan tengkorak yang dibawa oleh orang Iban kemudian dimasukkan tiang itu ke tanah dengan ujung runcingnya menghujam tanah. Pimpinan orang Iban kemudian bersumpah “Apabila orang kalis menyerang dan membunuh orang Iban, maka ia akan habis seperti tengkorak tersebut. Sehebat dan sekuat apapun orang Kalis, kekuatan mereka akan berbalik dan tidak berguna.†Tiang Patamuan Buno’ itu masih dapat ditemui di Banua Rantau Kalis.
Pemukiman orang-orang Kalis di Rantau Kalis atau yang disebut dengan Banua berkembang hingga kini berjumlah tujuh yaitu: i. Banua Buntut Pulau, ii. Banua Patung, iii. Banua Laban, iv. Banua Luna Patung, v. Banua Rantau Kalis, vi. Banua Rantau Batang, dan vii. Banua Sungai Tempurau.
Sebagain orang-orang Kalis di Banua-banua yang terdapat di Rantau Kalis berpindah ke arah hilir sampai ke Nanga (Muara) Sungai Kalis. Pada saat itu, muncul aliran baru dari Sungai Kalis sehingga menyisakan aliran lama yang membentuk cekungan seperti danau. Sebagian orang kalis yang berpindah itu kemudian mendirikan pemukiman-pemukiman di sekitar Danau dekat Nanga Sungai Kalis sehingga kemudian disebut sebagai Nanga Danau. Pemukiman orang-orang Kalis di Nanga Danau atau yang disebut dengan Banua berkembang hingga kini berjumlah tiga yaitu: i. Banua Nanga Danau, ii. Banua Batang Kauk, dan iii. Banua Nanga Buanan. Nama-nama Pemimpin yang pernah memerintah di Nanga Danau sebelum kemerdekaan hingga sekarang:
1. Lombok (Kepala Kampung)
2. Ngumbang (Kepala Kampung)
3. Ujang (Kepala Kampung)
4. Antis (Kepala Dusun)
5. Onyang U (Kepala Dusun)
6. Bujang R (Kepala Dusun)
7. Gondi (Kepala Dusun)
Selain mereka yang berpindah dan mendirikan pemukiman di Nanga Danau, ada juga Sebagian orang kalis yang berpindah ke arah hilir hingga bertemu Sungai Tubu yang masih anakan Sungai kalis. Mereka yang berpindah ke arah hilir itu kemudian mendirikan beberapa Banua di sepanjang pertemuan antara Sungai Kalis dan Sungai Tubuk sehingga disebut dengan daerah Nanga Tubu. Pemukiman orang-orang Kalis di Nanga Tubuk atau yang disebut dengan Banua berkembang hingga kini berjumlah dua yakni Banua Nanga Tubuk dan Banua Pulau Jambu.
|