Sejarah Masyarakat Adat Dayak Suruk
Secara turun temurun diceritakan bahwa pada mulanya Suku Dayak Suruk berasal dari dua Kampung yaitu Kampung Jojang Sungai Busang Hulu Melawi yang dipimpin oleh Patih Anum, dan Kampung Hulu Ola Sungai Melawi yang dipimpin oleh Temenggung Bulit. Seiring berjalannya waktu sebagian dari masyarakat tersebut merantau/pindah ke Paha Lokon Sagu’, mereka menetap kurang lebih beberapa generasi yang salah satunya diketahui ada yang bernama Nyaring dan Dilang. Di Paha Lokon Sagu’ terdapat Kuta (rumah panjang) yang dipimpin oleh Temenggung Bulit, Kuta tersebut hanya berpagar selapis, selama menetap diwilayah Paha Lokon Sagu’ pada saat itu sangat tidak aman karena masih sering diserang oleh Bala (musuh yang berjumlah banyak) sehingga menyebabkan masyarakat Suku Dayak Suruk yang ada di Paha Lokon Sagu’ sepakat mencari tempat yang lebih aman yaitu di Mungguk Sunan (Bukit Sunan). Untuk mengetahui jalan dan kondisi di Mungguk Sunan (Bukit Sunan) atas kepemerintahan Temenggung Bulit dibantu oleh dua orang yaitu Jangut dan Entang. Pada saat Jangut dan Entang sedang naik untuk pertama kali ke Mungguk Sunan dengan cara memahat batu (Ampe) supaya menjadi tangga, batu tersebut di namakan (soyok kaki tangga’) dan hanya bisa dipahat sebanyak 7 gigi tangga. Setelah itu mereka turun lagi ke Paha Lokon Sagu’ dan menyampaikan informasi kepada masyarakat . Setelah disampaikan kepada Masyarakat, Suku Dayak Suruk yang ada di Paha Lokon Sagu’ kemudian di bantu oleh seekor Burung Tingang dan Burung Kukuk, karena Jangut dan Entang bisa berkomunikasi langsung dengan berbagai jenis binatang. Maka sesuai perintah dari pada Temenggung Bulit, mereka berangkat hanya dengan berbekal Buluh Betung dan Buluh Embak yang dituntun oleh seekor Burung Tinggang dan Burung Kukuk. Setelah sampai di Mungguk Sunan, mereka menanam Buluh Betung dan Buluh Embak, buluh Betung ditaman oleh Jangut dan Buluh Embak di Tanaman Entang, Buluh Betung dan Buluh Embak tersebut adalah sebagai bukti bahwa mereka berdua telah sampai di Mungguk Sunan. Setelah itu Jangut dan Entang turun dari Mungguk Sunan (Bukit Sunan) dan menyampaikan kepada warga Suku Dayak Suruk di Paha Lokon Sagu’ bahwa telah ditemukan jalan. Selanjutnya Temenggung Bulit mengadakan musyawarah (bepokat) dengan masyarakat yang ada di Paha Lokon Sagu dan sepakat untuk pindah ke Mungguk Sunan (Bukit Sunan) namun tidak menetap yang dikarenakan tidak adanya lahan untuk behuma (berladang), sehingga masih dilakukan aktivitas turun naik dari Mungguk Sunan (Bukit Sunan) dan Paha Lokon Sagu’ untuk behuma (berladang) dan mencari lauk pauk.
Pada masa masyarakat Suku Dayak Suruk menetap di tampuk mungguk (Bukit Sunan) sekitar 2-3 generasi yang dikarenakan kebutuhan pangan sangat terbatas sehingga menyebabkan kelaparan (Kebelo), maka dari itu masyarakat Suku Suruk yang berada di Mungguk Sunan (Bukit Sunan) masih bolak balik dari Mungguk Sunan (Bukit Sunan) ke Paha Lokon Sagu’ untuk behuma (berladang) dan mencari lauk pauk. Namun seiring berjalannya waktu masyarakat yang ada di Mungguk Sunan (Bukit Sunan) juga sering diganggu oleh Bala (musuh) sehingga timbulah ide dari Temenggung Bulit dan dibantu warga Suku Dayak Suruk yang ada untuk membuat Peleet, Pehembat dan Petik guna menjaga masyarakat yang ada di Mungguk Sunan (Bukit Sunan).
Setelah dari Paha Lokon Sagu’ dan Mungguk Sunan (Bukit Sunan) turun ke wilayah Ulak Tunuk yang berada diketahui diwilayah Desa Nanga Danau, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas, Hulu Provinsi Kalimantan Barat yang dipimpin oleh Temenggung Bulit dengan dua tujuan untuk mencari sumber pangan dan mengantar Nyaring. Berdasarkan cerita turun temurun bahwa telah terjadi pertikaian dua saudara antara Dilang dan Nyaring, karena sandera yang didapatkan oleh Dilang telah dibunuh oleh Nyaring. Sandera tersebut ditemukan oleh Dilang ketika saat berburu dan sandera tersebut dibawa pulang oleh Dilang. Pada suatu ketika Dilang sedang berburu jadi diketahuilah oleh Nyaring bahwa sanderanya merupakan orang yang membunuh Ibu dari kedua saudara tersebut yang dikarenakan sandera itu menyampaikan kepada Nyaring bahwa dia pernah membunuh seseorang ibu. Maka dari itu Nyaring menyadari bahwa sandera tersebut adalah orang yang telah membunuh ibunya. Setelah diketahui tanpa berpikir panjang sandera tersebut dibunuh oleh Nyaring. Setibanya Dilang pulang berburu dan diketahui bahwa sandera yang didapatkan telah dibunuh oleh Nyaring terjadilah pertikaian antara kedua tersebut. Dikarenakan ada permasalahan antara kedua saudara tersebut, disinilah terjadilah penyebaran wilayah, pada saat itu diputuskan bahwa Nyaring berada diwilayah hilir (Hile). Sedangkan Dilang diwilayah perhuluan (Hulu). Setelah itu berangkatlah mereka dari Ulak Tunuk untuk melakukan penyebaran wilayah dengan maksud mencari tempat untuk bisa dijadikan sebagai pemukiman yang baik dan tempat sumber pangan dan sekaligus mengantarkan Nyaring yang menjadi pemimpin Suku Dayak Kalis. Diketahui bahwa tempat singgah pertama adalah Pase Linan. selanjutnya mudik singgah di Keangan Hara yang dipimpin oleh Singa Iya, Kenualan Mungguk yang dipimpin oleh Bayung, Ulak Kenualan dipimpin oleh Patan dan pada saat itu dibuatlah terlebih dahulu tempat permukiman tersebut dengan membangun Bansan. Setelah menetapi wilayah tersebut dan sudah ada Bansan, dilakukan musyawarah untuk menentukan tempat untuk membuat Kuta dan disepakati tempat yang strategis untuk membuat Kuta yaitu di Kenualan Mungguk, Kuta tersebut dibuat dengan 3 lapis pagar serta terdapat Peleet dua sebelah. Kuta pada saat itu dibangun sebagai tempat perlindungan bagi warga yang menetap di Bansan Keangan Hara, Bansan Kenualan Mungguk dan juga Bansan Ulak Kenualan ketika ada peristiwa yang membuat warga merasa tidak aman. Ketua Kuta Kenualan Mungguk dipimpin oleh Kombung, masyarakat yang menempati Kuta Bansan Kenualan Mungguk, Bansan Ulak Kenualan dan Bansan Keangan Hara mulai bisa berkembang untuk mencari nafkah seperti behuma (berladang) dan mencari lauk pauk. Hingga saat ini diketahui bahwa pada wilayah Bansan Ulak Kenualan yang dipimpin oleh Patan membangun Mpatung Maung sebagai tanda Bedii Tubung bahwa ada keluarga inti dari Patan ada yang meninggal dunia.
Setelah berkisar 2-3 generasi selanjutnya terjadilah penyebarluasan masyarakat yang ada di Kenualan Mungguk, Ulak Kenualan dan Keangan Hara untuk memperluas permukiman dan membuat Bansan lagi yang terpecah menjadi 5 (lima) bansan yaitu Bansan Sei Ensuai yang di pimpin oleh Julung, Bansan Lubang Tapah dipimpin oleh Ntika, Bansan Sei Denda dipimpin oleh Belang, Bansan Nanga Belaban dipimpin oleh Malik Belanda dan Bansan Nanga Tiga dipimpin oleh Ntian.
Wilayah Bansan Sei Denda yang dipimpin oleh Belang, bersama dengan Helang dan Mendung membangun tiga Teeh (pilar dengan ukiran, terbuat dari kayu Belian) sebagai tanda Nyandung (mengangkat tulang) keluarga inti mereka. Teeh berbentuk Tiang tinggi berkisar 20-30 meter dan diatasnya terdapat ukiran pedang dan burung. Bansan Lubang Tapah yang dipimpin oleh Ntika membangun Teeh juga sebagai tanda Nyandung (mengangkat tulang) keluarga inti tersebut. Bansan Nanga Tiga yang dipimpin oleh Ntian yang hingga saat ini masih ada bukti sejarahnya yaitu Peantu’ yang terletak di daerah Sungai Iya.
Pada saat di masa Bansan sudah memasuki zaman penjajahan Jepang dan munculah lapangan pekerjaan di wilayah Petikah, dan banyak warga Suku Dayak Suruk kerja di Petikah namun tidak mampu bertahan karena kerja keras secara paksa hingga mati.
Seiring berjalannya waktu, Sei Denda diperbarui dan dibakukan menjadi Ulak Kenualan, Sungai Ensuai menjadi Sei Kensurai, Nanga Tiga masih tetap dan Selimbau, Tempurau, semenjak diperbarui dan dikepalai oleh satu Kepala Kampung yaitu Mateus Oban, sebelum menjadi Desa khusus untuk kampung separuh dari Nanga Tiga, Lubang Tapah, Sei Denda dan Sei Ensuai menjadi Dusun Sei Denda, untuk Riam Selimbau tetap menjadi Dusun Riam Selimbau dan Dusun Tempurau. Seiring menjabat menjadi Kepala Kampung berubahlah aturan menjadi Kepala Desa dan terbentuklah Desa Kensuray.
Peristiwa Tiang Perdamaian (Betemu Bunuh)
Situasi saat itu memang sudah begitu aman, kelompok-kelompok suku sudah tidak mengayau lagi, sehingga masyarakat merasa tenang dan aman, pada suatu hari orang tua yang bernama Jugah, mengumpulkan semua kaum kerabat, untuk meyakini diri bahwa ia dapat dan mampu membawa sebuah perdamaian, bahwa kita sudah merdeka. setelah kemudian Jugah menggumpulkan kaum kerabatnya lagi guna untuk menyampaikan bahwa Betemu Bunuh itu dilaksanakan pada saat Behuma dalam arti bukan secara kekerasan tetapi dengan cara adat istiadat Suku Dayak Suruk Hulu dilaksanakan di Sarai Panco Buluh dan Tanjung Binto seperti melakukan kegiatan adat yang mana kedua belah pihak duel meminum beram serta mengundang beberapa Suku untuk acara adat makan minun menandakan bahwa adanya kesepakatan perdamain antar Suku.
Sejarah Masyarakat Adat Dayak Kalis
Sejarah Migrasi Dayak Kalis Riam Selimbau
Dalam cerita secara turun temurun orang Kalis, dikisahkan bahwa Dayak Kalis awalnya bernama Ruk. Nama Kalis sendiri diambil dari kata Sungai Kalis, karena mereka mendiami Sungai Kalis maka suku Ruk berubah nama disebut suku Dayak Kalis.
Diceritakan menurut pemaparan para tetua sebelumnya , suku Dayak Kalis yang berada di Dusun Riam Selimbau ini berasal dari sebuah wilayah pemukiman Banua Poten yang sekarang berada di desa Rantau Kalis , Dayak Kalis yang berada di Desa Kensuray Dusun Riam Selimbau ini murupakan pecahan dari sebuah rumah panjang yang disebut dengan SAO JOLOEN yang di pimpin oleh APU’ Nyaring. APU’ NYARING ini memiliki beberapa anak salah satunya adalah APU MALI BALANDA yang kemudian diberikan mandat untuk menguasai wilayah yang disebut NANGA BALAWAN berada disebelah kiri mudik sungai kalis. sehingga beberapa masyarakat yang tidak tau pasti jumlahnya berpindah ke hulu sungai Kalis, dan membuat SAO yang pertama kali dan tidak diketahui namanya. pada suatu ketika suku Dayak Kalis mendapat musibah penyakit secara besar-besaran maka di ambil sebuah keputusan oleh pemimpin SAO’ oleh APU’ MALI BALANDA untuk pindah muara sungai Panadek membuat membangun SAO’ MAMANDUN, kata mamandung itu sendiri berasal dari nama sebuah ritual adat dalam rangka pembersihan segala penyakit. Nanga Balawan itu sendiri berasal dari nama sebuah pohon yang berada di tepi sungai dan dianggap keramat apabila ada seseorang manyapa (memotong menggunakan pisau) masyarakat setempat meyakini bisa mendatangan penyakit seketika itu juga seperti deman. pohon Balawan itu umumnya digunakan suku dayak kalis untuk tempat mengikat tali parau (sampan) karena pohon Balawan itu besar dan kuat, selain itu, kulit kayu Balawan itu digunakan untuk panyam’pu (pencegah hama penyakit) uma (ladang). Tidak diketahui secara pasti cerita nama sungai tersebut bernama Nanga Sungai Panadek yang artinya tempat pembuangan ale’k (tikar) yang sudah tidak layak digunakan. Diceritakan bahwa ada seorang beberapa tahun kemudian ada seorang pedagang yang menjual ikan asin, salai jenis makanan lainnya dengan membawa perahu yang pertama kali yang dan berukuran yang besar terkena bencana yaitu tenggelam di riam yang berada dekat dengan pemukiman suku dayak kalis, sejak saat itu masyarakat menyepakati tempat itu diberi nama Riam Salimbau, yang kemudian pada saat ini berubah nama menjadi Dusun Riam Selimbau sampai sekarang masyarakat Dayak Kalis mendiami wilayah itu yang berada di Dusun Riam Selimbau Desa Kensuray kecamatan kalis kabupaten Kapuas Hulu. Di Dusun Riam Selimbau saat Ini di tempati oleh dua suku yaitu suku Dayak Kalis dan Suku Dayak suruk , dicerikatan bahwa mengapa suku dayak kalis dan suruk ini bisa bersama ataupun bisa hidup berdampingan berasal dari sebuah perjanjian Batamu Bunok (perdamaian)pemimpin SAO Joloen yang dipimpin oleh APU Nyaring dan pemimpin dari wilayah Keanggan Haya yang dipimpin oleh inik Siga IYA yang menyepakati bahwa suku dayak suruk tidak boleh ngayau ke suku dayak kalis begitu pula suku dayak kalis tidak boleh ngayau ke suku dayak suruk yang bertempat perjanjian Batamu Bunok di riam Paselinan. |