Masyarakat Hukum Adat Dayak Tamambaloh Banua Tamao adalah salah satu komunitas adat Dayak Tamambaloh yang berdiam di Aliran sungai Tamao anak sungai Tamambaloh merupakan salah satu komunitas adat yang masih menerapkan hukum adat dan sistem pengelolaan sumber daya alam (hutan) berdasarkan sistem kearifan lokal secara turun temurun. Komunitas Masyarakat adat ini bermukim di Dusun Karangkang dan Dusun Toalang Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Etnis dominan di komunitas adat ini adalah Dayak Tamambaloh, bahasa pengantar yang digunakan di komunitas ini adalah bahasa Dayak Tamambaloh.
Dayak Tamambaloh hidup dengan tatanan nilai-nilai sosial dan budaya serta kelembagaan sosial yang dipatuhi secara turun temurun. Kehidupan mereka beradaptasi dengan SDA dan kondisi lingkungan sekitarnya serta berorientasi ramah lingkungan dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara akomodatif sesuai dengan kondisi yang ada di sekitarnya.
Tamao dulunya merupakan kampung yang sangat terisolir, yang hanya dikelilingi hutan belantara. Masyarakat yang mendiami kampung ini adalah suku Dayak Tambaloh dan mereka yang pertama kali memasuki Sungai Tamao hanya 8 Kepala Keluarga atau dalam bahasa Tamambaloh 8 Kaian. Tamao dalam bahasa Saranangis “Bolong aanak Toalang, dai danum arugun, sunge muangan kiitung, muangan kiitung tuunggal†yang artinya “Masyarakat yang pertama kali memasuki Sungai Kecil Tamao adalah Masyarakat biasa atau dari golongan Suangsao, Sungai yang bersejarah daerah yang dipertahankan oleh para Pemberaniâ€
Seiring dengan perubahan dan perkembangan dizamannya, Suku Dayak Tamambaloh juga ada pemimpinnya yaitu dari Golongan Bangsawan atau Samagat. Pada waktu itu juga ada dari Keluarga Samagat (Indu Banua) yang berdasarkan kesepakatan atau Kombong Indu Banua, ada beberapa keluarga Samagat yang pulang ke Tamao.
Pada zaman itu masih sering terjadi perang antar suku atau Pangayo dan Tamao pada masa itu sudah dipimpin oleh Samagat atau ada “Sao langke datailanang Samagatâ€.
Tamao dalam bahasa Saranangis : “ Dai Bolong Toalang, dai danum arugun, dai sunge akeke’ sunge dapit loan, dapit karaboran, sunge kongkong tamburak, sunge lapi’ buuk banang, sunge reangan jabang, reangan jabang surat, sunge muangan baro, muangan baro rani†Yang artinya adalah “ Masyarakat Suku Dayak Tamambaloh yang mendiami anak Sungai Tamao mempunyai keturunan Samagat (Bangsawan). Sungai kecil yang berliku-liku, kiri kanan ditumbuhi pepohonan yang rindang, pada waktu perang suku masyarakat Dayak Tamabaloh yang berada di sungai Tamao merupakan perisai dan benteng pertahanan, masyarakat yang gagah berani untuk mempertahankan wilayah Tamao. Perbedaan Tamao dalam sejarah Saranangis adalah Dangin atau Kiasan yaitu: “Sunge muangan kiitung,
muangan kiitung tunggal“ dan “Sunge muangan baro, muangan baro rani “Yang artinya waktu dipimpin oleh Suangsao menggunakan kiasan “Kituung tunggal†dan pada saat dipimpin oleh Samagat menggunakan kiasan “Baro raniâ€. Kiasan tersebut dibuktikan dengan sejarah bahwa di Tamao ada Sao Langke datailanang Suangsao atau Rumah betang yang dipimpin oleh masyarakat biasa dan juga ada Sao Langke datailanang Samagat atau Rumah Betang yang dipimpin oleh Bangsawan. Mereka ini bermukim secara berpindah-pindah sesuai dengan peradaban masyarakat pada saat itu, tetapi masih tetap di sekitar Sungai Tamao.
Migrasi Komunitas Dayak Tamambaloh Banua Tamao
Setelah beberapa generasi dan penduduk semakin banyak, barulah ada dari golongan Samagat atau Bangsawan yang datang ke Tamao dan mereka mulai menetap dan membuat Rumah Betang atau Sao Langke yaitu :
1.Sao Langke Pao’a I Piit adalah Sao Langke Datailanang Samagat dan Pemimpinnya adalah Ma Remaang.
2.Sao Langke Ma Kojang adalah Sao Langke Datailanang Suang Sao dan Pemimpinnya adalah Ma Kojang. Lokasinya secara administratif di Dusun Karangkang.
3.Sao Langke Tambing Batu, Sao dua Babandung, Saona Saliman Ma Tampipi’ dan Saona Randungan ini adalah Sao Langke Datailanang Samagat. Ketika masyarakat Tamao mendiami Sao Langke Tambing Batu juga masih terjadi perang antar suku dan juga disini masyarakat diganggu oleh Siluman Harimau atau Baro yang menurut cerita tempatnya ada di Ukit Karangkang lokasi Kuburan sekarang. Lokasi sekarang di Dusun Karangkang.
4.Sao Tandung Kasue adalah Sao Langke dien Samagat, Baki Bau Ma Lasa berdasarkan cerita dari orang tua dan keturunan dari Baki’ Bau Ma Lasa, setelah Samagat yang ada di Tamao pada waktu itu ada yang pulang kembali ke Tamambaloh maka Samagat di Tamao tidak ada tetapi hak waris mereka tidak diganggu atau diambil oleh masyarakat Tamao.
Setelah datangnya Baki’ Bau Ma Lasa masyarakat Tamao kembali membuat Sao Langke di Tandung Kasue, setelah menetap beberapa lama Sao Langke ini ada musibah yaitu kebakaran. Lokasi sekarang secara administratif ada di Dusun Toalang.
5.Sao Langke di Nanga Tamao adalah Sao Langke Datailanang Samagat masa itu pemimpinnya masih Baki’ Suka Ma Ligong setelah dihuni cukup lama Sao Langke ini pun juga ada Musibah kebakaran, lalu masyarakat Tamao pindah dan berusaha membuat Sao Langke.
6.Sao Langke di Nanga Liu adalah Sao Langke Datailanang samagat masa itu pemimpinnya Baki’ Lasa , disini juga kena musibah Kebakaran.
7.Sao Langke di Belean Durung tidak begitu lama dihuni oleh masyarakat Tamao, pemimpinnya Baki’ Balujung , disini juga kena musibah kebakaran.
8.Sao Langke di Nanga Longkoang diperkirakan ± tahun 1922 - 1950 masyarakat pindah karena ada musibah penyakit Kolera dan lokasi rumah betang Sao Longkoang diantara Sungai Tamao dan Sungai Longkoang menurut kepercayaan masyarakat zaman dahulu tidak baik. Pemimpinnya masih Baki’ Balujung dan Baki’ Kubal.
9.Sao Langke Buntana dan Sao Paring ± tahun 1951-1957. Pemimpinnya Baki’ Balujung.
10.Sao Langke Nyonyo Katan ± tahun1958 -1961, Di pimpin oleh Baki Balujung
11.Sao Langke Karangkang 1962- 1969. Dipimpin oleh Baki Toli Dampa’ di Nanga Liu’ 1964- 1969.
12.Pembubaran Betang Karangkang 1970 – 1991 Dipimpin oleh Baki Tambe di Nanga Liu’ deretan Akim – Abu 1970-1990.
13.Karangkang Jln.Lintas Utara 1992- sekarang Dipimpin oleh Bapak Damianus. Nanga Liu’ Jln Dsn.Toalang 1991- sekarang.
14.Pemekaran Desa 21 April 2007 – 2019 dipimpin oleh Bapak Hermanus Ruman sebagai Kepala Desa, Kepala Dusun Karangkang Bapak Lambertus Pange dan Kepala Dusun Toalang dipimpin oleh Bapak Herkulanus Akim.
15.Tahun 2020 – Sekarang dipimpin oleh Bapak Hermanus Ruman sebagai Kepala Desa, Kepala Dusun Karangang Sekundinus Tarifin dan Kepala Dusun Toalang ibu Maria Magdalena |