Laman Bunyau berasal dari nama bukit yang di sekitarnya ditumbuhi Pohon Kayu yang disebut mereka dengan Kayu Bunyau. Masyarakat Adat yang mendiami Laman Bunyau sekarang mengidentifikasi diri mereka sebagai Masyarakat Adat Limbai Kelaet.
Asal mula kehadiran Masyarakat Adat Limbai Kelaet yang bermukim di wilayah adat Laman Bunyau sekarang tidak terlepas dari adanya proses migrasi secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang mereka. Mereka berasal dari daerah Hulu Sungai Keruap (Kabupaten Melawi sekarang) dan anak Sungai Kayan (Kabupaten Sintang). Masyarakat Adat Limbai terbagi dalam empat sub kelompok yakni Limbai Kelaet, Limbai Pantai, Limbai Belamor, dan Limbai Kayan. Tidak diketahui secara jelas tahun berapa proses migrasi berlangsung, yang pasti proses migrasi tersebut sejak zaman mengayau. Migragsi yang mereka lakukan selain untuk mencari tanah yang luas, subur untuk lahan bercocok tanam, juga menghindari serangan dari kelompok (suku) lain yang kuat pada Zaman Ngayau.
orang pertama yang berjasa membawa mereka pindah bernama Atok Cubok (dengan gelar Jaya Krama) dan Temuai (gelarnya Paku Mreti), Rayung, Merangka, dan Gumpol. Mereka ini berasal dari dalam Sungai Maan sebelah kiri mudik Sungai Melawi (Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi). Disana mereka membuka hutan sebagai tempat bercocok tanam (be-umo/ladang), berkebun gotah/karet dan bercocok tanam lainnya. Bukti sejarah keberadaan mereka di Sungai Maan adalah Gupung Laman Datar yang ditumbuhi jenis tanaman durian, tengkawang, kemayau, kemantan, mawang, kayu tapang, ulin/belian dan kuburan tua.
Dari Sungai Maan, mereka pindah lagi ke wilayah Tebodak Kotik jalur Sungai Keruap (sekarang Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi). Bukti peninggalan mereka di tempat ini adalah tanaman buah-buahan, kayu tapang, kayu belian/ulin dan kuburan tua. Dari Tebodak Kotik tadi, mereka pindah ke Pelaik Keruap (Desa Pelaik Keruap, Kecamatan Menukung sekarang). Bukti peninggalan mereka di daerah ini berupa kuburan, tumbuhan buah-buahan, gupukng, tengkawang, durian dan temadu. Dengan alasan wilayah sudah sempit dan tidak subur lagi, mereka pindah lagi ke wilayah Burai Landai, tepatnya di Nanga Sungai Ella Hulu sebelah kiri mudik Sungai Melawi. Di wilayah ini mereka mendirikan tratak (pondok) sebagai tempat tinggal dan tempat menyimpan padi. Bukti peninggalan mereka di wilayah ini berupa kuburan, tanaman buah-buahan, kayu tengkawang, kayu belian/ulin dan temadu.
Pada zaman Belanda (VOC 1750-an-1945), mereka pindah lagi ke wilayah Nanga Puot atau dikenal dengan nama Nanga Plangkah sekarang sebelah kiri mudik Sungai Melawi. Pada zaman ini, mereka sudah mengenal dan menggunakan mata uang perak dan sen (1943-1945). Di wilayah ini Atok Cubok sering melakukan hal-hal aneh yaitu sering menghanyutkan diri ke Teluk Osak dengan sebatang pohon pisang. Di Teluk Osak, Atok Cubok sering ditelan oleh pusaran teluk osak selama 5 – 6 hari lamanya. Bukti keberadaan mereka di daerah Nanga Pelangkah sekarang masih bisa dijumpai gupukng buah-buahan, kebun karet, bekas kuburan, pohon tengakawang, kayu ulin dan pohon lainnya.
Dari Laman Nanga Plangkah (masih di zaman Belanda), mereka pindah dengan cara berpencar. Sebagian pindah ke wilayah Laman Bondau sebelah kiri mudik Sungai Melawi, dan sebagian lagi pindah ke wilayah Laman Landau Pemungkar sebelah kanan mudik Sungai Ella Hulu. Mereka yang pindah dan menetap di Laman Landau Pemungkar dipimpin oleh Paku Agung yang cukup terkenal karena keberanian yang luar biasa. Paku Agung inilah yang menjadi Raja Suku Limbai yang ada di Sungai Ella Hulu. Di sini mereka memiliki tempat khusus berladang yaitu di wilayah Buluh Minyak dan Natai Marau tepatnya kiri mudik Sungai Ella Hulu.
Masyarakat Adat Limbai Kelaet yang bermukim di Laman Bondau, kemudian pindah ke Laman Sungai Langer, tepatnya di Gupukng Kolik, dipimpin oleh Pangpirak. Kemudian mereka pindah ke Laman Compa (sekarang dikenal sebagai Gupukng Compa), tepatnya di dalam Sungai Keruap. Dari Laman Gupukng Compa, mereka pindah ke Laman Gupukng Temenggung. Mereka pindah lagi ke Laman Gupukng Teluk Osak, tepatnya di hilir Kampung Bondau (sekarang). Dari Laman Teluk Osak, mereka berpencar, ada yang pindah ke Laman Gupukng Antet, ada yang ke Laman Gupukng Bunyau, dan ada yang pindah ke Laman Gupuk Mati Banyak. Dari Laman Mati Banyak, mereka pindah lagi ke Laman Bondau. Dibawah kepemimpinan Gompul, sebagian mereka pindah ke Laman Oyah Nului (sekarang dikenal dengan nama Gupung Oyah Nului). Dari Laman Gupung Oyah Nului, mereka pindah ke Laman Melaban (masuk wilayah adat Laman Bunyau sekarang).
Di Laman Melaban inilah (1940-an) Masyarakat Adat Limbai Kelaet di Laman Bunyau mulai membentuk sistem Pemerintahan Kampukng yang terdiri dari Kepala Kampukng dan Kebayan (wakil Kepala Kampukng). Kepala kampung sekaligus merupakan Kepala adat. Kepala Kampukng dan Kebayan, selain bertugas mengurus administrasi pemerintahan formal, gotong royong, juga terlibat dalam kepengurusan adat istiadat dan hukum adat yang ada di tiap-tiap kampukng. Sementara Kebayan bertugas menggantikan tugas Kepala Kampukng bila Kepala Kampukng berhalangan.
Mayoritas Masyarakat Adat Limbai Kelaet di Laman Bunyau beragama Khatolik. Masuknya Agama Khatolik ke Laman Bunyau sejak tahun 1974, dipelopori oleh Pastor Groos dari Negara Prancis. Walaupun demikian ritual-ritual adat masih tetap mereka laksanakan, seperti ritual adat be-umo- betaun, beniat, perkawinan, adat penyambutan tamu, adat penyembuhan orang sakit.
Tahun 1987 terjadi kebakaran di Tratak Kenobak (pondok di ladang) menghanguskan 30 pondok kepala keluarga, sehingga mereka dipindahkan ke Laman Bunyau. Mereka yang tinggal di Tratak Kenobak berasal dari beberapa Laman/kampukng, seperti Laman Bunyau, Bondau, Oyah, dan Bodong. Tratak Kenobak sendiri merupakan wilayah adat Orang Bunyau yang dimanfaatkan oleh warga dari kampung-kampung luar untuk berusaha, bercocok tanam, seperti be-umo, sawah, berkebun karet, berkebun sayur-sayuran dan lainnya. Kalaupun hadir orang-orang dari laman/kampukng lain ke Tratak Kenobak, itu karena kemurahan hati orang Laman Bunyau untuk memberikan tanah sebagai keluarga/saudara.
Kepala Kampukng di Laman Bunyau pertama bernama Rangkut tinggal di Laman Melaban (sekarang bernama Tapal Bunyau) dengan Kebayannya bernama Rayung tinggal di Laman Bunyau, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten melawi. Mereka berdua memimpin sebelum kemerdekaan Indonesia hingga Indonesia merdeka tahun 1945. Tahun 1945 – 1950 Kepala Kampukng di Laman Bunyau dijabat oleh Pikul dengan Kebayannya bernama Luntut. Pada masa ini, terbentuk Kecamatan Menukung. Sebelumnya bergabung dengan Kecamatan Ella. Pada 1970-an Kebayan digantikan oleh Tedo (karena faktor usia), sedangkan Kepala Kampukng masih dijabat oleh Pikul. Tahun 1973 – 1979 Kepala Kampukng di Laman Bunyau dijabat oleh Tedo dan Kebayannya dijabat oleh Silai. Tahun 1980 - 1985 Kepala Kampukng di Laman Bunyau dijabat Pak Kudat, sedangkan Kebayannya masih Pak Silai. Tahun 1985 – 1987 Pak Kudat digantikan oleh Pak Silai sebagai Kepala Kampukng Bunyau dengan Kebayan Pak Aswan. Tahun 1987 – 1990, Pak Aswan menjabat sebagai Kepala Kampukng dan Kebayan Pak Rahun. Pada masa ini, terjadi perubahan sistem Pemerintahan Kampukng menjadi menjadi Dusun. Sehingga, Laman/Kampukng Bunyau berubah menjadi Dusun Bunyau dengan Kepala Dusun dijabat oleh Pak Aswan. Tahun 1990 – 1995, Pak Aswan berhenti sebagai Kepala Dusun, digantikan oleh Pak Ujang. Tahun 1995 – 1997, Dusun Bunyau dipimpin oleh Pak Ujang. Tahun 1997 – 1998, Pak Ujang digantikan oleh pak Jampun. Tahun 1998 – 2000, Dusun Bunyau dipimpin oleh Pak Udoi Andi. Tahun 2000 – 2002, Kepala Dusun Bunyau dijabat oleh Pak Mohtar. Tahun 2002 – 2006, Kepala Dusun Bunyau dijabat oleh Pak Pariyanto. Tahun 2006-2009 Kepala dusun bunyau dijabat oleh Pak Antonius Pariyanto. Pada 2009 – 2012, Pak Antang sebagai Kepala Dusun Bunyau. Tahun 2013 – sekarang Anton Tumijan menjabat sebagai Kepala Dusun Bunyau.
|